Kamis, 20 September 2012

Kemenangan Jokowi-Ahok Menjadi Tes Capres Prabowo

JAKARTA, KOMPAS.com - Berdasarkan hasil sementara dari quick count yang dikeluarkan Lembaga Survei Indonesia (LSI), Jokowi-Ahok menempati urutan teratas dalam Pilkada DKI Jakarta.

Namun, Pilkada DKI ini tidak hanya menjadi ruang untuk pemilihan kepala daerah tetapi juga sebagai tolak ukur kekuatan pada Pilpres tahun 2014 mendatang.

Pemenangan Jokowi-Ahok ini dinilai adalah sebuah tes yang sedang dicoba Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra, Prabowo Subianto, yang akan maju sebagai calon Presiden 2014.

Demikian diungkapkan Direktur Utama LSI, Saiful Mujani, Rabu (11/7/2012), di kantor LSI, Menteng, Jakarta.

"Ini testing the water untuk Prabowo. Prabowo ngotot mencalonkan Ahok dengan Jokowi karena ada asumsi atau pendapat bahwa Prabowo termasuk orang yang kurang dekat dengan kalangan Tionghoa," ujar Saiful.

Menurut Saiful, langkah Prabowo dengan memajukan nama Ahok sebagai pendamping Jokowi adalah langkah politik yang cerdas.

Pasalnya, hal itu terbukti dengan basis dukungan yang didapat Jokowi-Ahok berhasil mendapat dukungan 100 persen dari warga Tiong Hoa.

"Meski langkah politik cerdas yang dilakukan Prabowo, tetapi komunitas Tionghoa ini mendukung Ahok karena sosoknya bukan karena Prabowo," pungkas Saiful.

Dari hasil quick count LSI, nama Jokowi-Ahok berada di tempat teratas dengan perolehan suara mencapai 42,74 persen suara. Dibawahnya menyusul Fauzi Bowo-Nachrowi Rai dengan 33,57 persen.

Sedangakan pasangan lainnya, Hidayat Nur Wahid-Didik J Rachbini 11,96 persen, Faisal Basri-Biem Benyamin 4,94 persen, Alex Noerdin-Nono Sampono 4,74 persen, dan Hendardji Soepandji-Riza Patria 2,05 persen.

Di dalam memproses perhitungan cepat itu, LSI menggunakan metode Stratified-Clustered Random Sampling dengan margin of error satu persen.

Sampel yang diambil adalah 410 Tempat Perhitungan Suara (TPS) dari total 15.059 TPS yang ada di Jakarta.


Editor :
Benny N Joewono

http://megapolitan.kompas.com/read/2012/07/11/2200296/Kemenangan.Jokowi-Ahok.Menjadi.Tes.Capres.Prabowo

Ini Rahasia Kemenangan Jokowi Ahok Meski Tanpa Politik Pencitraan

JAKARTA, KOMPAS.com - Di balik pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta yang bertarung pada putaran pertama Pilkada DKI Jakarta terdapat banyak konsultan politik yang bergerak. Mereka berperan menganalisis dan memberikan rekomendasi tentang strategi politik apa yang harus dilakukan para kandidat. Mereka pula yang memoles citra para kandidat itu dengan segala media sosialisasi dan program yang disiapkan.

Namun, politik pencitraan itu justru nyaris bukan menjadi salah satu pekerjaan utama konsultan politik dalam mengerjakan kampanye Jokowi-Ahok. Hal ini diungkapkan Direktur Eksekutif Cyrus Network, Hasan Nasbi, Jumat (13/7/2012), saat dihubungi wartawan. Adapun, Cyrus Network merupakan salah satu konsultan politik yang dipakai oleh Jokowi-Ahok.

"Jokowi-Ahok itu prinsipnya adalah barang bagus. Barang bagus itu lebih mudah dijual," ungkap Hasan. Hasan mengatakan, kekuatan utama kampanye Jokowi-Ahok ada pada sosok keduanya. Sisanya, baru adu strategi politik. "Tetapi, kalau strateginya sama canggih, tetapi kualitas barangnya lebih baik, maka barang yang lebih baik itu yang akan disukai," ucap Hasan beranalogi.

Dia melanjutkan, ada beberapa indikator yang membuat sosok keduanya disebut memiliki kualitas mumpuni. Pertama, Jokowi-Ahok dikenal memiliki track record memimpin daerahnya masing-masing yang baik. Jokowi merupakan Walikota Solo, sementara Ahok pernah menjabat sebagai Bupati Belitung Timur. Kedua, Jokowi-Ahok, diakui Hasan memiliki jejak yang bersih sebagai birokrat dan politisi. Mereka tidak pernah terlibat kasus apa pun.

"Keduanya juga punya terobosan. Sulit mencari pemimpin yang bersih tapi punya terobosan juga, ini langka," katanya.

Oleh karena itu, dengan sosok Jokowi-Ahok yang unik itu, Hasan mengatakan pihaknya tidak terlalu sulit membuat citra bagi keduanya. "Politik pencitraan itu bahkan sama sekali tidak ada. Karena mereka tampil apa adanya. Jokowi yang suka garuk-garuk kepala, Jokowi yang ketawa kalau tidak bisa menjawab, yah memang apa adanya mereka begitu," imbuh Hasan.

Jokowi-Ahok juga memiliki naluri tersendiri untuk dekat dengan rakyat. Sehingga, hipotesa awal yang menyebutkan bahwa keduanya akan sulit menembus masyarakat kelas bawah yang dikuasai Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli justru terbantahkan.

"Jokowi itu dari awalnya memang nggak ada potongan jadi pejabat. Orang melihat dia sama seperti rakyat biasa. Dia lebih suka makan warteg dari pada restoran, lebih suka naik ojek saat macet ya memang demikian adanya. Kami tidak membuat-buat citra itu," papar Hasan.

Selain itu, Hasan mengaku pihaknya juga merasa terbantu dengan adanya momentum di mana masyarakat sudah mulai muak dan antipati dengan Pilkada DKI yang tidak menawarkan perubahan.

"Tiba-tiba muncul nama Jokowi, masyarakat melihat ada perubahan itu. Kami terbantu dengan momentum frustasi masyarakat yang sedemikian kuatnya menghendaki perubahan," imbuhnya.

Alhasil, Jokowi-Ahok pun berhasil menyodok posisi teratas peroleh suara, mengalahkan calon petahana Fauzi Bowo yang berduet dengan Nachrowi Ramli. Hasan menganggap bahwa seharusnya Jokowi-Ahok bisa menang satu putaran. Hal ini berdasarkan survei yang dilakukan pihaknya pada awal Juli 2012. Namun, pencapaian peringkat teratas ini, diakui Hasan, tetap harus disyukuri.

"Jokowi-Ahok baru muncul 4 bulan yang lalu tapi bisa langsung bisa mendapat hasil ini, memang terbilang memuaskan," pungkas Hasan.

Berdasarkan hasil hitung cepat Litbang Kompas, Pilkada DKI Jakarta dipastikan akan berlangsung dua putaran karena tidak ada calon yang berhasil meraih 50 persen+1 suara. Pada putaran pertama, dua pasangan calon yang lolos ke putaran berikutnya yakni Jokowi-Ahok dengan 42,59 persen suara dan Foke-Nara 34,32 persen suara. Perolehan suara selanjutnya diikuti Hidayat-Didik dengan 11,4 persen, Faisal-Biem 5,07 persen, Alex-Nono 4,74 persen, dan Hendardji-Riza 1,88 persen.


Editor :
Pepih Nugraha

http://megapolitan.kompas.com/read/2012/07/14/11413525/Ini.Rahasia.Kemenangan.Jokowi.Ahok.Meski.Tanpa.Politik.Pencitraan

"Pasukan Infanteri" di Balik Kemenangan Jokowi-Ahok

JAKARTA, KOMPAS.com — Tanpa diduga, pasangan calon gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta, Jokowi-Ahok, berhasil meraih suara terbanyak dalam putaran pertama Pemilihan Kepala Daerah DKI Jakarta 2012. Kemenangan Jokowi terbilang mengejutkan karena selama ini hasil survei selalu menempatkan kandidat nomor urut 3 itu di posisi kedua setelah Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli.

Apa rahasia di balik kesuksesan Jokowi-Ahok? Kedua kandidat dengan latar belakang berbeda itu sengaja menyewa jasa konsultan politik dalam menyiapkan strategi kampanye. Salah satunya adalah Cyrus Network.

Direktur Eksekutif Cyrus Network, Hasan Nasbi, mengatakan, kekuatan kampanye Jokowi-Ahok ada pada "serangan darat". Serangan darat merujuk pada taktik kampanye yang langsung bertemu dengan pemilih melalui jaringan-jaringan yang dimiliki Jokowi-Ahok. "Kami menamakan para pejuang di serangan darat ini sebagai pasukan infanteri. Sudah 15.000 relawan yang kami latih untuk menyosialisasikan program Jokowi-Ahok," kata Hasan, Jumat (13/7/2012), saat dihubungi wartawan.

Dia menjelaskan, sebanyak 15.000 relawan itu dilatih dalam mempresentasikan program-program Jokowi dengan cara yang lebih dekat kepada pemilih. Setiap relawan bertanggung jawab pada 100-150 rumah di setiap tempat pemungutan suara (TPS). Semua relawan di sebar ke setiap wilayah di Jakarta. "Tidak ada pengonsentrasian wilayah karena kami pikir Jakarta itu harus sapu bersih semua wilayah," ujar Hasan.

Relawan-relawan yang dimiliki Jokowi-Ahok juga terbilang kreatif karena diisi anak-anak muda. Mereka sendiri yang berniat bergabung untuk sekadar membantu penjualan baju kotak-kotak khas Jokowi hingga membantu media sosialisasi.

Hasan menilai, kampanye dalam bentuk serangan udara, seperti spanduk, baliho, hingga iklan di media massa, sebenarnya hanya untuk formalitas. Kekuatan utama dari Jokowi bukan terletak pada iklan-iklan tersebut. "Di iklan, Jokowi tidak bisa menampilkan program-programnya secara lengkap, tetapi melalui pasukan infanteri itu bisa disebarkan visi-misi secara lengkap," pungkas Hasan.

Berdasarkan hasil hitung cepat Litbang Kompas, Pilkada DKI Jakarta dipastikan akan berlangsung dua putaran karena tidak ada calon yang berhasil meraih 50 persen + 1 suara. Pada putaran pertama, dua pasangan calon yang lolos ke putaran berikutnya adalah Jokowi-Ahok dengan 42,59 persen suara dan Foke-Nara dengan 34,32 persen suara. Perolehan suara selanjutnya diikuti oleh Hidayat-Didik dengan 11,4 persen, Faisal-Biem 5,07 persen, Alex-Nono 4,74 persen, dan Hendardji-Riza 1,88 persen.


Editor :
Erlangga Djumena
 
http://megapolitan.kompas.com/read/2012/07/14/08423882/Pasukan.Infanteri.di.Balik.Kemenangan.JokowiAhok.

Joko Widodo


Berita & Cerita Terkini
Seperti yang kita ketahui ciri khas calon Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) adalah kemeja kotak-kotak. Namun dalam Pemilukada hari ini (20/09) jokowi Mengenakan kemeja panjang putih saat menemani Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri menuju tempat pemilihan suara (TPS).

"Iya, saya ganti saja kemeja putih pakai minyak kayu putih. Biar enggak rame, biar masyarakat yang memilih sendiri," ujar Jokowi, Kamis (20/9/2012) pagi.

Tidak hanya itu Ketua Forum Komunikasi Waria se-Indonesia, Yulianus Rettoblaut, mengatakan waria yang ada di DKI Jakarta siap mendukung pasangan Joko Widodo dan Basuki T Purnama dalam Pilkada putaran dua ini.

"Ada 8.000 waria di Jakarta dan siap mencoblos Jokowi - Ahok sekarang, kami dari dulu memang dukung Jokowi - Ahok," ujarnya di Jakarta, Kamis, saat ditemui tidak jauh dari lokasi TPS 031 Jalan Kebagusan IV, Jakarta Selatan.

TPS 031 Jalan Kebagusan IV adalah lokasi tempat Ketum DPP PDIP Megawati Soekarnoputri menggunakan hak suaranya didampingi Cagub DKI Jokowi.

(Sumber Kutipan: Antaranews.com & Kompas.com)
Info Tambahan
Ada cerita dibalik nama tenar Jokowi yang kini banyak dikenal orang. Nama aslinya adalah Joko Widodo, namun ketika masih aktif menangani bisnis mebel dan punya buyer asal Perancis, Mircl Romaknan. Buyer tersebut mengaku bingung, karena Mircl yang membeli mebel dari Jepara, Semarang dan Surabaya selalu bertemu dengan orang bernama Joko. Nah pas di Solo, Mircl bertemu dengannya yang juga disapa Joko. Dan untuk membedakan dengan Joko-Joko lainnya, buyer asal Perancis itu pun memanggilnya dengan nama Jokowi.

Sejak saat itulah, nama Jokowi tetap dipakainya sampai saat ia mencalonkan diri menjadi walikota Solo. Awalnya menjadi walikota bukanlah cita-citanya, karena keinginan menjadi walikota datang dari teman-temannya di Asosiasi Industri Mebel Indonesia (Asmindo) yang anggotanya adalah para pengrajin kayu. Dimana Jokowi sendiri adalah ketua Asmindo saat itu dan mereka jugalah yang menyemplungkan Jokowi ke dunia politik.

Tak seperti calon walikota pada umumnya, Jokowi lebih suka menggunakan kampanye door to door ke warganya. Ia dan wakilnya FX Hadi Rudyatmo mendatangi sendiri warga dari RT ke RT. Hampir setiap hari mereka melakukan hal tersebut. Dari puntu ke pintu mereka menyodorkan visi misinya menjadi walikota. Bahkan ketika bertemu dengan sekelompok masyarakat, ia mengajak bicara mereka . Nah dari situ pulalah Jokowi dapat mengukur apakah warga mendukungnya atau tidak.

Dengan cara-cara itulah akhirnya Jokowi mampu meraih kursi sebagai walikota Solo. Berkat gaya kepemimpinannya yang aspiratif, ia menang telak dari pesaingnya Eddy Wirabhumi-Supradi Kertamenawi pada pemilukada 2010. Dirinya pun kembali menjabat sebagai walikota Solo periode 2010 – 2015.

Saat menjadi walikota, ada beberapa gebrakan yang membuat namanya terangkat dan banyak dikenal oleh masyarakat Indonesia. Salah satunya saat ia menjadi duta mobil Esemka yang dibuat oleh siswa-siswa SMK di Solo. Bahkan Jokowi dan wakilnya menggunakan mobil Esemka menjadi mobil dinasnya. Sejak saat itulah berita soal mobil Esemka pun menyebar dan menghiasi pemberitaan di sejumlah media.

Meski sudah menjadi orang nomer satu di Solo, kecintaannya terhadap musik rock tetap melekat hingga sekarang. Hobi tersebut muncul ketika Jokowi masih duduk dibangku SMA. Grup musik rock yang disukainya adalah Sepultura, Led Zeplin, Deep Purple, Metallica, Palm Desert, Linkin Park dan Lamb Of God.
Biografi Singkat
Joko Widodo lahir dari keluarga miskin yang tinggal di daerah bantaran kali yang kumuh di Surakarta, Jawa Tengah. Anak pertama dari empat bersaudara ini lahir dari keluarga penjual kayu, pasangan Noto Mihardjo dan Sujiatmi . Semasa kecil ia bersekolah di SD 111 Tirtoyoso Solo, dan melanjutkan ke SMP N 1 di kota yang sama. Selepas SMP, Jokowi bersekolah di SMA 6 Solo.

Sebagai keluarga penjual kayu, Joko kecil tumbuh sebagai anak yang terbiasa hidup susah. Kadang sulit makan dan membayar sekolah adalah salah satunya. Meski begitu ia dikenal sebagai anak yang tidak nakal, walau begitu ia sangat suka main seperti anak-anak lain pada umumnya.

Kegiatan yang sering ia lakukan semasa kecil adalah memancing ikan, main layang-layang, dan bermain sepakbola. Ada cerita unik yang dilakukannya ketika kecil yaitu dirinya suka sekali mandi di sungai di belakang rumahynya sambil mencari telur bebek di dekat sungai.

Joko Widodo adalah anak laki-laki pertama di dalam keluarga, tak heran bila ia menjadi penjaga bagi tiga adik perempuannya. Karena paling besar, ia sering membantu sang ibu mengasuh adik-adiknya. Kadang mengantar mereka ke sekolah, atau membantu para adik membereskan pekerjaan rumah. Bahkan ketika adik-adiknya beranjak besar, saat ada masalah dengan pacarnya, dirinya turut membantu menyelesaikan masalah tersebut.

Meski begitu, pria asli Solo ini tetap memiliki prestasi luar biasa di kelasnya. Padahal ia sendiri mengaku tak begitu rajin belajar, karena dahulu ia sering membantu orangtuanya seperti menagih pembayaran kepada pelanggan kayu atau menaikkan kayu yang sudah dibeli orang ke atas gerobak atau becak.

Lulus SMA, Joko hijrah ke Yogyakarta untuk meneruskan pendidikannya ke jenjang sarjana. Universitas Gajah mada (UGM) jurusan Teknologi Kayu menjadi pilihannya untuk belajar. Jurusan itu ia ambil karena ingin mewujudkan cita-citanya menjadi tukang kayu. Selama kuliah, ia ngekos di Yogya. Seminggu atau sebulan sekali ia pulang ke Solo naik bus.

Meski baru tingkat satu, Joko telah menemukan tambatan hati. Gadis cantik nan sederhana yang bernama Iriana menjadi kekasihnya. Dia adalah teman adiknya yang sering main ke rumahnya. Bahkan sejak kenal dengan gadis itu, Joko tak pernah pindah ke lain hati sampai memutuskan menikah pada 24 Desember 1986.

Setelah selesai kuliah, Joko bekerja di sebuah BUMN di Aceh. Tak berapa lama tepatnya hanya 1,5 tahun, ia memutuskan untuk kembali ke Solo merintis bisnis mebel dengan modal minus. Jatuh bangun dalam mengembangkan bisnis mebelnya menjadi cerita tersendiri bagi Joko Widodo. Dan mebel pertama yang dibuatnya adalah bedroom set. Dulu ia hanya menjualnya di daerah Solo saja, tapi setelah tiga tahun ia mampu menjualnya hingga ke luar negeri.

(Sumber : tabloidnova.com)

Biografi Jokowi (Joko Widodo)

JokowiJokowi adalah tokoh pemimpin terpuji Walikota Solo dan berperan memperomosikan Mobil ESEMKA. Ir. Joko Widodo (Jokowi) adalah walikota Kota Surakarta (Solo) untuk dua kali masa bhakti 2005-2015. Wakil walikotanya adalah F.X. Hadi Rudyatmo. Jokowi lahir di Surakarta pada 21 Juni 1961. Agama Jokowi adalah Islam.

Biografi Jokowi (Joko Widodo)

Jokowi meraih gelar insinyur dari Fakultas Kehutanan UGM pada tahun 1985. Ketika mencalonkan diri sebagai walikota Solo, banyak yang meragukan kemampuan pria yang berprofesi sebagai pedagang mebel rumah dan taman ini; bahkan hingga saat ia terpilih. Namun setahun setelah ia memimpin, banyak gebrakan progresif dilakukan olehnya. Ia banyak mengambil contoh pengembangan kota-kota di Eropa yang sering ia kunjungi dalam rangka perjalanan bisnisnya.


Di bawah kepemimpinannya, Solo mengalami perubahan yang pesat. Branding untuk kota Solo dilakukan dengan menyetujui moto “Solo: The Spirit of Java“. Langkah yang dilakukannya cukup progresif untuk ukuran kota-kota di Jawa: ia mampu merelokasi pedagang barang bekas di Taman Banjarsari hampir tanpa gejolak untuk merevitalisasi fungsi lahan hijau terbuka, memberi syarat pada investor untuk mau memikirkan kepentingan publik, melakukan komunikasi langsung rutin dan terbuka (disiarkan oleh televisi lokal) dengan masyarakat. Taman Balekambang, yang terlantar semenjak ditinggalkan oleh pengelolanya, dijadikannya taman. Jokowi juga tak segan menampik investor yang tidak setuju dengan prinsip kepemimpinannya. Sebagai tindak lanjut branding ia mengajukan Surakarta untuk menjadi anggota Organisasi Kota-kota Warisan Dunia dan diterima pada tahun 2006. Langkahnya berlanjut dengan keberhasilan Surakarta menjadi tuan rumah Konferensi organisasi tersebut pada bulan Oktober 2008 ini. Pada tahun 2007 Surakarta juga telah menjadi tuan rumah Festival Musik Dunia (FMD) yang diadakan di kompleks Benteng Vastenburg yang terancam digusur untuk dijadikan pusat bisnis dan perbelanjaan. FMD pada tahun 2008 diselenggarakan di komplek Istana Mangkunegaran.
Berkat prestasi tersebut, Jokowi terpilih menjadi salah satu dari “10 Tokoh 2008″ oleh Majalah Tempo.

Asal Nama Julukan Jokowi

“Jokowi itu pemberian nama dari buyer saya dari Prancis,” begitu kata Wali Kota Solo, Joko Widodo, saat ditanya dari mana muncul nama Jokowi. Kata dia, begitu banyak nama dengan nama depan Joko yang jadi eksportir mebel kayu. Pembeli dari luar bingung untuk membedakan, Joko yang ini apa Joko yang itu. Makanya, dia terus diberi nama khusus, ‘Jokowi’. Panggilan itu kemudian melekat sampai sekarang. Di kartu nama yang dia berikan tertulis, Jokowi, Wali Kota Solo. Belakangan dia mengecek, di Solo yang namanya persis Joko Widodo ada 16 orang.
Saat ini, Jokowi menjabat untuk periode kedua. Kemenangan mutlak diperoleh saat pemilihan wali kota tahun lalu. Nama Jokowi kini tidak hanya populer, tapi kepribadiannya juga disukai masyarakat. Setidaknya, ketika pergi ke pasar-pasar, para pedagang beramai-ramai memanggilnya, atau paling tidak berbisik pada orang sebelahnya, “Eh..itu Pak Joko.”
Bagaimana ceritanya sehingga dia bisa dicintai masyarakat Solo? Kebijakan apa saja yang telah membuat rakyatnya senang? Mengapa pula dia harus menginjak pegawainya? Berikut wawancara wartawan Republika, Ditto Pappilanda, dengan Jokowi dalam kebersamaannya sepanjang setengah hari di seputaran Solo.


Sikap apa yang Anda bawa dalam menjalankan karier sebagai birokrat?
Secara prinsip, saya hanya bekerja untuk rakyat. Hanya itu, simpel. Saya enggak berpikir macam-macam, wong enggak bisa apa-apa. Mau dinilai tidak baik, silakan, mau dinilai baik, ya silakan. Saya kan tugasnya hanya bekerja. Enggak ada kemauan macam-macam. Enggak punya target apa-apa. Bekerja. Begitu saja.
Bener, saya tidak muluk-muluk dan sebenarnya yang kita jalankan pun semua orang bisa ngerjain. Hanya, mau enggak. Punya niat enggak. Itu saja. Enggak usah tinggi-tinggi. Sederhana sekali.
Contoh, lima tahun yang lalu, pelayanan KTP kita di kecamatan semrawut. KTP bisa dua minggu, bisa tiga minggu selesai. Tidak ada waktu yang jelas. Bergantung pada yang meminta, seminggu bisa, dua minggu bisa. Tapi, dengan memperbaiki sistem, apa pun akan bisa berubah. Menyiapkan sistem, kemudian melaksanakan sistem itu, dan kalau ada yang enggak mau melaksanakan sistem, ya, saya injak.
Awalnya reaksi internal bagaimana?
Ya biasa, resistensi setahun di depan, tapi setelah itu, ya, biasa saja. Semuanya kalau sudah biasa, ya semuanya senang. Ya, kita mengerti itu masalah kue, ternyata ya juga bisa dilakukan.
Untuk mengubah sistem proses KTP itu, tiga lurah saya copot, satu camat saya copot. Saat itu, ketika rapat diikuti 51 lurah, ada tiga lurah yang kelihatan tidak niat. Enggak mungkin satu jam, pak, paling tiga hari, kata mereka. Besoknya lurah itu tidak menjabat. Kalau saya, gitu saja. Rapat lima camat lagi, ada satu camat, sulit pak, karena harus entri data. Wah ini sama, lah. Ya, sudah.
Nyatanya, setelah mereka hilang, sistemnya bisa jalan. Seluruh kecamatan sekarang sudah seperti bank. Tidak ada lagi sekat antara masyarakat dan pegawai, terbuka semua. Satu jam juga sudah jadi. Rupiah yang harus dibayar sesuai perda, Rp 5.000.
Anda juga punya pengalaman menarik dalam penanganan Pedagang Kaki Lima (PKL) yang kemudian banyak menjadi rujukan?
Iya. Sekarang banyak daerah-daerah ke sini, mau mengubah mindset. Oh ternyata penanganan (PKL) bisa tanpa berantem. Memang tidak mudah. Pengalaman kami waktu itu adalah memindahkan PKL di Kecamatan Banjarsari yang sudah dijadikan tempat jualan bahkan juga tempat tinggal selama lebih dari 20 tahun. Kawasan itu sebetulnya kawasan elite, tapi karena menjadi tempat dagang sekaligus tempat tinggal, yang terlihat adalah kekumuhan.
Lima tahun yang lalu, mereka saya undang makan di sini (ruang rapat rumah dinas wali kota). Saya ajak makan siang, saya ajak makan malam. Saya ajak bicara. Sampai 54 kali, saya ajak makan siang, makan malam, seperti ini. Tujuh bulan seperti ini. Akhirnya, mereka mau pindah. Enggak usah di-gebukin.


Mengapa butuh tujuh bulan, mengapa tidak di tiga bulan pertama?
Kita melihat-melihat angin, lah. Kalau Anda lihat, pertama kali mereka saya ajak ke sini, mereka semuanya langsung pasang spanduk. Pokoknya kalau dipindah, akan berjuang sampai titik darah penghabisan, nyiapin bambu runcing. Bahkan, ada yang mengancam membakar balai kota.
Situasi panas itu sampai pertemuan ke berapa?
Masih sampai pertemuan ke-30. Pertemuan 30-50 baru kita berbicara. Mereka butuh apa, mereka ingin apa, mereka khawatir mengenai apa. Dulu, mereka minta sembilan trayek angkot untuk menuju wilayah baru. Kita beri tiga angkutan umum. Jalannya yang sempit, kita perlebar.
Yang sulit itu, mereka meminta jaminan omzet di tempat yang baru sama seperti di tempat yang lama. Wah, bagaimana wali kota disuruh menjamin seperti itu. Jawaban saya, rezeki yang atur di atas, tapi nanti selama empat bulan akan saya iklankan di televisi lokal, di koran lokal, saya pasang spanduk di seluruh penjuru kota. Akhirnya, mereka mau pindah.
Pindahnya mereka saya siapkan 45 truk, saya tunggui dua hari, mereka pindah sendiri-sendiri. Pindahnya mereka dari tempat lama ke tempat baru saya kirab dengan prajurit keraton. Ini yang enggak ada di dunia mana pun. Mereka bawa tumpeng satu per satu sebagai simbol kemakmuran. Artinya, pindahnya senang. Tempat yang lama sudah jadi ruang terbuka hijau kembali.
Omzetnya di tempat yang baru?
Bisa empat kali. Bisa tanya ke sana, jangan tanya saya. Tapi, ya kira-kira ada yang sepuluh kali, ada yang empat kali. Rata-rata empat kali. Ada yang sebulan Rp 300 juta. Itu sudah bukan PKL lagi, geleng-geleng saya.
Bagaimana dengan PKL yang lain?
Setelah yang eks-PKL Banjarsari pindah, tidak sulit meyakinkan yang lain. Cukup pertemuan tiga sampai tujuh kali pertemuan selesai. Sampai saat ini, kita sudah pindahkan 23 titik PKL, tidak ada masalah.
Lha yang repot sekarang ini malah pedagang PKL itu minta direlokasi. Kita yang nggak punya duit. Sampai sekarang ini, masih 38 persen PKL yang belum direlokasi. Jadi, kalau masih melihat PKL di jalan atau trotoar, itu bagian dari 38 persen tadi.


Tampaknya, pemberdayaan pasar menjadi perhatian Anda?
Oiya. Kita sudah merenovasi 34 pasar dan membangun pasar yang baru di tujuh lokasi. Jika dikelola dengan baik, pasar ini mendatangkan pendapatan daerah yang besar.
Dulu, ketika saya masuk, pendapatan dari pasar hanya Rp 7,8 miliar, sekarang Rp 19,2 miliar. Hotel hanya Rp 10 miliar, restoran Rp 5 miliar, parkir Rp 1,8 miliar, advertising Rp 4 miliar. Hasil Rp 19,2 miliar itu hanya dari retribusi harian Rp 2.600. Pedagangnya banyak sekali, kok. Ini yang harus dilihat. Asal manajemennya bagus, enggak rugi kita bangun-bangun pasar. Masyarakat-pedagang terlayani, kita dapat income seperti itu.
Sementara kalau mal, enggak tahu saya, paling bayar IMB saja, kita mau tarik apa? Makanya, mal juga kita batasi. Begitu juga hypermarket kita batasi. Bahkan, minimarket juga saya stop izinnya. Rencananya dulu akan ada 60-80 yang buka, tapi tidak saya izinkan. Sekarang hanya ada belasan.
Tapi, sepertinya Pasar Klewer belum tersentuh ya, kondisinya masih kurang nyaman?
Klewer itu, waduh. Duitnya gede sekali. Kemarin, dihitung investor, Rp 400 miliar. Duit dari mana? Anggaran berapa puluh tahun, kita mau cari jurus apa belum ketemu. Anggaran belanja Solo Rp 780 miliar, tahun ini Rp 1,26 triliun. Tidak mampu kita. Pedagang di Klewer lebih banyak, 3.000-an pedagang, pasarnya juga besar sekali. Di situ, yang Solo banyak, Sukoharjo banyak, Sragen banyak, Jepara ada, Pekalongan ada, Tegal ada. Batik dari mana-mana. Tapi, saya yakin ada jurusnya, hanya belum ketemu aja.
Soal pendidikan, di beberapa daerah sudah banyak dilakukan pendidikan gratis, apakah di Solo juga begitu?
Kita beda. Di sini, kita menerbitkan kartu untuk siswa, ada platinum, gold, dan silver. Mereka yang paling miskin itu memperoleh kartu platinum. Mereka ini gratis semuanya, mulai dari uang pangkal sampai kebutuhan sekolah dan juga biaya operasional. Kemudian, yang gold itu mendapat fasilitas, tapi tak sebanyak platinum. Begitu juga yang silver, hanya dibayari pemkot untuk kebutuhan tertentu.
Itu juga yang diberlakukan untuk kesehatan?
Iya, ada kartu seperti itu, ada gold dan silver. Gold ini untuk mereka yang masuk golongan sangat miskin. Semua gratis, perawatan rawat inap, bahkan cuci darah pun untuk yang gold ini gratis.


Tampaknya, sekarang masyarakat sudah percaya pada Anda, padahal di awal terpilih, banyak yang sangsi?
Yah, satu tahun, lah. Namanya belum dikenal, saya kan bukan potongan wali kota, kurus, jelek. Saya juga enggak pernah muncul di Solo, apalagi bisnis saya 100 persen ekspor. Ada yang sangsi, ya biar saja, sampai sekarang enggak apa-apa. Mau sangsi, mau menilai jelek, terserah orang.
Dulu, apa niat awalnya jadi wali kota?
Enggak ada niat, kecelakaan. Ndak tahu itu. Dulu, pilkada pertama, kita dapat suara 37 persen, menang tipis. Wong saya bukan orang terkenal, kok. Yang lain terkenal semuanya kan, saya enggak. Tapi, kelihatannya masyarakat sudah malas dengan orang terkenal. Mau coba yang enggak terkenal. Coba-coba, jadi saya bilang kecelakaan tadi itu memang betul.
Hal apa yang paling mengesankan selama Anda menjadi wali kota?
Paling mengesankan? Paling mengesankan itu, kalau dulu, kan, wali kota mesti meresmikan hal yang gede-gede. Meresmikan mal terbesar besar misalnya. Tapi, sekarang, gapura, pos ronda, semuanya saya yang buka, kok. Pos ronda minta dibuka wali kota, gapura dibuka wali kota, ya gimana rakyat yang minta, buka aja. Ya, kadang-kadang lucu juga. Tapi kita nikmati.
Apa kesulitan yang paling pertama Anda temui saat menjabat sebagai wali kota?
Masalah aturan. Betul. Kita, kalau di usaha, mencari yang se-simpel mungkin, seefisien mungkin. Tapi, kita di pemerintahan enggak bisa, ada tahapan aturan. Meskipun anggaran ada, aturannya enggak terpenuhi, enggak bisa jalani. Harusnya, bisa kita kerjain dua minggu, harus menunggu dua tahun. Banyak aturan-aturan yang justru membelenggu kita sendiri, terlalu prosedural. Kita ini jadi negara prosedur.
Apa pertimbangannya saat Anda mencalonkan untuk kali kedua?
Sebetulnya, saya enggak mau. Mau balik lagi ke habitat tukang kayu. Saat itu, setiap hari datang berbondong-bondong berbagai kelompok yang mendorong saya maju lagi. Mereka katakan, ini suara rakyat. Saya berpikir, ini benar ndak, apa hanya rekayasa politik. Dua minggu saya cuti, pusing saya mikir itu. Saya pulang, okelah saya survei saja. Saya survei pertama, dapatnya 87 persen. Enggak percaya, saya survei lagi, dapatnya 87 persen lagi.


Setelah survei itu, saya melihat, benar-benar ada keinginan masyarakat. Jadi, yang datang ke saya itu benar. Dan ternyata memang saya dapat hampir 91 persen. Saya lihat ada harapan dan ekspektasi yang terlalu besar. Perhitungan saya 65-70 persen. Hitungan di atas kertas 65:35, atau 60:40, kira-kira.
Ada kekhwatiran tidak, ketika lepas jabatan, semua yang Anda bangun tetap terjaga?
Pertama ada blueprint, ada concept plan kota. Paling tidak, pemimpin baru nanti enggak usah pakai 100 persen, seenggaknya 70 persen. Jangan sampai, sudah SMP, kembali lagi ke TK. Saya punya kewajiban juga untuk menyiapkan dan memberi tahu apa yang harus dilakukan nantinya.

Biodata Joko Widodo

Nama : Joko Widodo
Tempat Tanggal Lahir: Surakarta, 21 Juni 1961
Agama : Islam
Pekerjaan : Pengusaha
Agama : Islam
Profil Facebook : jokowi
Akun twitter : jokowi_do2
Email: jokowi@indo.net.id
Alamat Kantor : Jl. Jend. Sudirman No. 2 Telp. 644644, 642020, Psw 400, Fax. 646303
Alamat Rumah Dinas : Rumah Dinas Loji Gandrung Jl. Slamet Riyadi No. 261 Telp. 712004
HP. 0817441111
Pendidikan:
  • SDN 111 Tirtoyoso Solo
  • SMPN 1 Solo
  • SMAN 6 Solo
  • Fakultas Kehutanan UGM Yogyakarta lulusan 1985
Karir:
  • Pendiri Koperasi Pengembangan Industri Kecil Solo (1990)
  • Ketua Bidang Pertambangan & Energi Kamar Dagang dan Industri Surakarta (1992-1996)
  • Ketua Asosiasi Permebelan dan Industri Kerajinan Indonesia Surakarta (2002-2007)
Penghargaan:
  • Joko Widodo terpilih menjadi salah satu dari “10 Tokoh 2008″
  • Menjadi walikota terbaik tahun 2009
  • Pak Joko Widodo jg meraih penghargaan Bung Hatta Award, atas kepemimpinan dan kinerja beliau selama membangun dan memimpin kota Solo.
  • Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS) Award
Selain itu, berkat kepemimpinan beliau (dan tentunya semua pihak yg membantu), kota Solo jg banyak meraih penghargaan, di antaranya
  • Kota Pro-Investasi dari Badan Penanaman Modal Daerah Jawa Tengah
  • Kota Layak Anak dari Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan
  • Wahana Nugraha dari Departemen Perhubungan
  • Sanitasi dan Penataan Permukiman Kumuh dari Departemen Pekerjaan Umum
  • Kota dengan Tata Ruang Terbaik ke-2 di Indonesia
Banyak yang bilang gaya kepemimpinan Pak Jokowi mirip dengan Presiden Soekarno. Mari Kita dukung Pak Jokowi jadi presiden RI.

http://biografi.rumus.web.id/biografi-jokowi-joko-widodo/