Jumat, 21 Februari 2014

Di Balik Keheningan Kapal Selam

Sistem pendidikan awak KS merupakan faktor utama dalam kesiagaan sistem senjata.


Indonesia pernah merupakan Negara yang memiliki kekuatan angkatan laut terbesar kedua di Asia. Kekuatannya berintikan Kapal Penjelajah kelas Sverdlov, KRI Irian, yang berbobot 16.640 ton dan berawak 1.270 orang termasuk 60 perwira memiliki 12 meriam raksasa kaliber 6 inci.

Indonesia juga pernah memiliki 12 Kapal Selam (KS) kelas Whiskey, Kapal Tempur kelas Fregat. Sedangkan di udara hadir pembom torpedo Il-28T, heli Mi-4 Anti KS, serta AS 4 Gannet. Namun sayangnya, kondisi Alut Sista saat ini jauh dari kebutuhan untuk menjaga dan mempertahankan Negara.

Kekuatan TNI AL khususnya, kapal perang sebagai inti kekuatan laut saat ini memang menunjukkan jumlah yang cukup besar. Namun, menjadi pertanyaan apakah sudah memenuhi postur pertahanan Negara yang dibutuhkan?

Kapal Republik Indonesia (KRI) berjumlah 132 kapal, KRI, dengan kekuatan utama berupa kekuatan pemukul (Striking Force) terdiri dari 40 KRI yang memiliki persenjataan strategis. Utamanya dua KS jenis Cakra, sejumlah Fregat dan Korvet. 
 
Kapal pemukul TNI AL secara jumlah masih kurang memadai. Apalagi, pada umumnya merupakan kapal hasil refit dan rearm atau diganti mesin penggerak dan persenjataannya, kecuali 4 Korvet kelas SIGMA (Ship Integrated Geometrical Modularity Approach) yang dibeli dalam keadaan baru.   Ada juga beberapa Kapal Cepat Roket maupun Kapal Cepat Torpedo produksi dalam negeri yang kecil, dengan kelaikan laut terbatas.

Membangun Kembali Kekuatan TNI-AL

Pembangunan kekuatan pertahanan Negara perlu terus dilakukan untuk menghadapi hakikat ancaman dengan memperhatikan perkembangan lingkungan strategis, kondisi geografis serta tugas pokok. Pada akhirnya mengarah pada penggelaran dan pengerahan kekuatan untuk efek penangkalan serta pada saat diperlukan untuk memenangkan pertempuran dalam mempertahankan keutuhan serta menjaga keamanan Negara RI.

Salah satu isu yang mengemuka saat ini adalah tentang pembelian KS untuk memperkuat kemampuan tempur laut TNI. Pilihan terhadap penambahan KS cukup masuk akal. Ini mengingat kemampuannya sebagai senjata strategis yang memiliki daya tangkal yang memang sangat dibutuhkan di tengah sikap arogan Negara-negara sekitar kita saat ini.

KS merupakan alutsista yang memiliki kerahasiaan tinggi, khususnya terhadap misi yang dijalankan,  komposisi, disposisi, serta dalam aspektaktis, kesulitan lawan dalam menentukan posisi tepat KS untuk melakukan tindakan peperangan anti KS.

Ada beberapa tugas yang dapat dikerjakan oleh KS. Antara lain: pengendalian laut, anti KS dan kapalatas air, pengintaian, pendaratan pasukan khusus di pantai lawan, Search and Rescue, intelligence, surveillance, and reconnaissance, dukungan terhadap gugus tempur laut, peperangan ranjau, angkutan barang dan orang yang sangat berharga serta serangan terhadap sasaran di pantai lawan dengan menggunakan peluru kendali. 

Beberapa pilihan silih berganti muncul kepermukaan. Beberapa diantaranya adalah jenis Scorpen buatan Prancis, Kilo buatan Rusia, U-209/ 1400 buatan Jerman dan Changbogodari Korea Selatan.   Bahkan, tiga KS jenis Changbogodari Korea Selatan akan tiba mulai tahun 2014 atau 2015.

Menjadi pertanyaan, apa jenis dan berapa jumlah KS yang masih kita butuhkan untuk menambah kekuatan yang telah ada saat ini?

Dilihat dari kondisi hidrografi, Indonesia bagian barat berupa perairan dangkal, sedangkan wilayah timur merupakan perairan dalam. Dengan demikian, KS yang dibutuhkan adalah jenis sedang, yang mampu beroperasi di perairan pantai. Di saat sama, juga mampu beroperasi di laut dalam pada wilayah yang cukup jauh dari pangkalan, sekitar 200 mil sampai Zona Ekonomi Eksklusif.

Terdapat 51 negara di dunia yang memiliki KS.  Di Asia Tenggara sendiri ada Singapura (Challenger dan Archer), Malaysia (Scorpen), dan untuk kawasan Asia lainnya ada RRC, Jepang, India (Foxtrot, U-209, Kilo, Scorpen, Akula, dan sedang mengembangkan Arihant yang merupakan KS berpeluru kendali dengan tenaga pendorong nuklir).

Kini, ada juga tawaran hibah dari Rusia, yakni dua buah KS jenis Kilo, yang merupakan KS disel listrik. Rencananya, angkatan laut Federasi Rusia akan menggantikan KS kelas Kilo dengan KS Kelas Lada, namun proyek ini ditunda karena ditemukan banyak kelemahan.  Menurut buku “Jane’s Fighting Ships 2011-2012”, sebanyak 18 KS Kelas Kilo masuk dalam jajaran kekuatan angkatan laut Federasi Rusia, mulai tahun 1981 sampai 1994. 

Artinya, KS kelas Kilo yang paling baru pun sudah dipakai selama sekitar 20 tahun. Dan, kita tidak pernah tahu bagaimana kondisinya saat ini mengingat KS sangat dirahasiakan keadaan dan keberadaannya.

Masih menurut publikasi tersebut, desain badan kapal kelas Kilo walaupun sudah lebih baik dibandingkan kelas Tango yang sudah tidak dipakai lagi oleh Rusia sejak tahun 2010, namun masih ketinggalan (fairly basic) dibandingkan dengan KS desain Barat.   Selain itu, diingatkan juga dalam publikasi di atas mengenai baterai kelas Kilo yang telah menjadi sumber masalah dalam operasi di perairan hangat seperti di Negara-negara Asia. Ekspor terbanyak KS kelas Kilo adalah ke India yaitu, sebanyak 10 buah.

Senjata yang Diawaki

Sistem senjata angkatan laut memiliki keunikan, yaitu bukan manusia yang dipersenjatai, melainkan senjata yang diawaki. Dengan demikian, pendidikan awak kapal baik untuk operator maupun mekanik selalu panjang, bertahap, berjenjang dan berlanjut untuk memperkuat kemampuan individu dan terutama mengasah kerjasama tim. Pendidikan calon awak kapal selam lebih lama dibandingkan kapal atas air mengingat faktor kesulitan pengoperasian dan pemeliharaannya.

Di sisi lain, sudah sejak tahun 1970 TNI AL tidak lagi menggunakan KS kelas Whiskey dari Rusia. Dan, sejak tahun 1981 mulai menggunakan KS kelas U 209/ 1300 buatan Jerman.   Sistem pendidikan awak KS  merupakan faktor utama dalam kesiagaan sistem senjata, dan   sudah sejak tahun 1980-an didesain untuk mengawaki KS Negara Barat. 
 
Hibah dua buah KS kelas Kilo rasanya tidak akan menjadikannya sebagai tulang punggung kekuatan kapal selam TNI AL sehingga pendidikan awaknya pun akan mengalami kesulitan.  Belum lagi kendala bahasa bagi para awak kapal yang lebih terbiasa dengan bahasa Inggris.

Kemampuan awak kapal merupakan ukuran kesiapan atau readiness, selain tentunya kesiapan teknis. Ditambah dengan kemampuan taktik dan  kemampuan alat deteksi dan tingkat modernisasi persenjataan akan merupakan ukuran efektifitas, bahkan efisiensi kekuatan laut.  Dengan demikian, selain masalah pelatihan, kesiapan teknis KS Kilo nantinya akan menjadi pertanyaan besar mengingat usia kapal yang rata-rata sudah di atas 20 tahun. 

Kita perlu memperhitungkan kesediaan suku cadang yang diperkirakan akan langka dalam hitungan beberapa tahun serta bengkel dan teknis pemeliharaan kapal yang tentunya membutuhkan peralatan dan keahlian tersendiri serta kemungkinan modernisasi mesin pendorong, alat deteksi dan persenjataan, yang walaupun masih memungkinkan secara teknologi diperkirakan akan lebih mahal daripada membeli baru.

Dengan pemikiran di atas, kiranya pemerintah perlu mempertimbangkan kembali pengadaan KS kelas Kilo, yang walaupun merupakan hibah tentunya untuk perbaikan dan modernisasi sensor dan persenjataannya akan menggunakan APBN.

Mungkin program U-209/ 1400 buatan Jerman atau Changbogo Class dari Korea Selatan lebih feasible dalam jangka panjang, terutama bila mesin penggerak dan  pendorongnya dikembangkan untuk menggunakan air-independent propulsion(AIP) serta dengan mengupayakan adanya transfer teknologi dalam pemberdayaan indutri kapal nasional.

Dengan pengadaan 12 KS yang relatif sejenis, maka masalah logistik akan menjadi lebih mudah dan murah, serta menjadi kekuatan penangkal yang diperhitungkan.

* Penulis adalah Laksamana Muda TNI (Purn), Gubernur Sumsel 1998-2013, President United in Diversity Forum, anggota Institute for Maritime Studies danAdvisory Board Member Conservation International Indonesia.
(Sinar Harapan)

Senin, 10 Februari 2014

Pesawat Jet Yak-130 sanggup keluar dari pusaran badai

Tahun ini, Sekolah Tinggi Penerbangan Militer di Borisoglebsk telah meluluskan angkatan pertama pilot yang dilatih dengan pesawat tempur latih Rusia yang baru, Yak-130. Para murid menegaskan bahwa mesinnya sederhana untuk dioperasikan maupun dipelihara dan mudah untuk dikuasai.
“Para ahli telah melakukan banyak percobaan dan berhasil membuat pesawat yang ditujukan untuk kepentingan pendidikan. Di angkasa, pesawat ini sangat ringan dan dapat "mentolerir" banyak kesalahan. Lain hal dengan apa yang kita alami saat masih menjadi murid dulu. Saat itu, kalau terkena sial dan kehilangan kecepatan, maka pesawat akan segera jatuh dalam pusaran yang menyebabkan pesawat sangat sulit untuk dikendalikan,” kata Panglima Angkatan Udara Rusia Letnan Jenderal Viktor Bondarev.
Situasinya sangat berbeda dengan Yak-130. Pesawat ini, sebaliknya, sangat sulit untuk masuk dalam pusaran badai. Tetapi jika karena alasan tertentu pesawat masuk dalam pusaran maka cukup dengan melepaskan alat kemudi dan pesawat akan keluar sendiri dan melanjutkan penerbangan dengan aman.
Pada Pertunjukan Udara Internasional di Le Bourget, Yak-130 buatan Rusia diakui oleh para ahli internasional sebagai contoh terbaik dari teknik tempur latih. Ke dalam pesawat ini, seperangkat sistem avionik canggih untuk navigasi, pengendalian maupun tempur digital dirancang, diproduksi, dan diintegrasikan. Perangkat digital terbaru ini menjadikan Yak-130 mirip dalam hal sistem informasi dan kontrol kabin, juga memiliki sistem tempur yang tak kalah dengan pesawat tempur generasi keempat dan kelima terbaru.
Sistem penerbangan simulasi dengan penggunaan modus tempur yang terintegrasi dengan satu set pengontrol senjata SUO-130, memungkinkan pelatihan pilot tanpa menggunakan bom dan rudal asli, sambil mempertahankan keaslian tampilan saat pertempuran.
Namun, di samping untuk pelatihan, Yak-130 dilengkapi juga dengan varian tempur ringan. Menurut beberapa sumber, Yak-130 dapat dipasang dengan stasiun radar “Bars-130”, sistem tempur radio-elektronik, dan sistem pembidik. Selain sistem lapis baja ringan, pesawat bisa ditambah dengan sistem pengisian bahan bakar di udara. Selain itu, diklaim juga bahwa pesawat dapat digunakan dalam kondisi cuaca buruk dan mampu mendarat di tempat-tempat sulit.
Bukan hanya Angkatan Udara Rusia yang mengakui semua keunggulan dari pesawat baru ini. Pesawat ini juga menarik perhatian dari Amerika Latin, Asia Tenggara, kawasan Asia-Pasifik serta dari negara-negara organisasi Persemakmuran Negara-negara Merdeka. Pembeli asing pertama Yak-130 adalah Aljazair, yang puas dengan pembelian 16 pesawat dan mengungkapkan minatnya untuk membeli lagi. Dilaporkan juga bahwa 24 pesawat Yak-130 akan dibeli oleh Bangladesh. Kontrak pasokan juga sudah disetujui dengan Suriah dan Libya, namun karena situasi politik terakhir, maka transaksi dibatalkan. Menurut Direktur Pusat Teknik “Irkut” Konstantin Popovich, sekarang permintaan atas Yak-130 datang dari berbagai belahan dunia.
http://militaryanalysisonline.blogspot.com

Su-35S telah melampaui F-22 Amerika dalam hal ‘kecerdasan’

Praktis seluruh ideologi pesawat tempur generasi kelima telah diejawantahkan dalam wujud Su-35S. Hal ini memberi Rusia potensi untuk memulai upaya menciptakan pesawat tempur generasi kelima dengan mendahului semua negara lainnya.

Kompleks aviasi canggih garis depan PAF FA (T-50) dalam proses menyelesaikan fase tes wajibnya dengan sukses. Pesawat tempur generasi kelima hasil produksi tersebut diharapkan mulai dapat digunakan oleh militer pada tahun 2017. Namun demikian di saat yang sama, unit garis depan sudah dilengkapi dengan produk imbangan yang hampir serupa dengan pesawat ini – pesawat tempur multiperan Su-35S.
Pendeknya, bersamaan dengan pembuatan konsep virtual pesawat tempur generasi kelima – sedari awal pesawat ini didesain dalam wujud digital saja – komponen yang siap digunakan untuk pesawat tempur masa depan ini diimplementasikan dan dikembangkan pada platform Su-35S. Maka Su-35S generasi 4++ pun praktis menjadi setara dengan pesawat tempur generasi kelima di semua karakteristiknya kecuali apa yang disebut teknologi siluman, sampai jenis ini masuk produksi massal.
Su-35S mampu mencapai kecepatan hingga 2.400 km/jam dan memiliki jangkauan jarak hingga 3.600 km. Pesawat ini mumpuni baik sebagai pesawat tempur, interseptor jarak jauh, maupun pembom pembawa misil
Lebih lanjut lagi dalam hal karakteristik tertentu, Su-35S sudah melampaui satu-satunya pesawat tempur generasi kelima yang telah digunakan hingga sekarang, yaitu F-22 Raptor buatan Amerika.  Oleh karena itu, sistem kendali radar ‘Irbis’ yang dipasang di Su-35S mampu mendeteksi sasaran di udara pada jarak hingga 400 km yang merupakan rekor saat ini, dan melacak hingga 30 sasaran serta menyerang 8 di antaranya secara simultan. Sistem radar di F-22 lebih lemah: jangkauan deteksi maksimumnya hanya 300 km. Di samping itu, ‘Irbis’ memungkinkan pendeteksian dan pelacakan aktif terhadap hingga empat sasaran di darat secara simultan. Su-35S juga dilengkapi dengan sistem navigasi yang mampu menunjukkan lokasinya sendiri dan parameter pergerakannya secara mandiri tanpa harus melalui navigasi satelit atau komunikasi dengan stasiun di darat. Dengan kata lain, jika GPS atau GLONASS dimatikan, pesawat ini tidak akan menjadi ‘buta’.
Angkatan Udara Rusia dijadwalkan menerima 48 pesawat Su-35S sebelum akhir 2015. Itu praktis sama dengan 50 buah pesawat generasi kelima karena Su35S hampir identik dengan PAK FA dalam hal perangkat elektronik onboard, sistem kendali, dan persenjataan. Oleh sebab itu, tidak akan sulit bagi pilot untuk beralih ke pesawat tempur generasi kelima dengan teknologi silumannya yang niscaya: setiap pilot yang telah mahir mengendalikan Su-35S dapat dengan mudah beralih ke T-50. Artinya peralihan ke pesawat tempur generasi kelima tidak akan dimulai pada tahun 2017 – proses itu sudah berlangsung saat ini di Angkatan Udara Rusia.
Ideologi pesawat yang akan mendominasi langit di paruh kedua abad ke-21 sedang ditentukan saat ini. Apakah ini akan berupa robot terbang atau pesawat tempur klasik berawak dengan perangkat elektronik yang semakin mutakhir dan persenjataan yang baru tidak begitu penting. Yang utama adalah industri pesawat Rusia telah memulai terlebih dahulu pengembangan pesawat generasi keenam. Semakin cepat Su-35S mulai digunakan dalam unit garis depan dan semakin besar jumlahnya, usaha menciptakan pesawat tempur generasi baru akan semakin sukses.
http://militaryanalysisonline.blogspot.com

Russia Arms Expo 2013: lima produk baru terbaik Rusia

BMPT-72 adalah versi baru tank pendukung tempur yang basisnya
mengambil tank T-72 yang tersohor.
Sumber: Tatyana Andreeva / RG
Pameran produk perlengkapan militer, senjata dan amunisi ini berlangsung mulai 25 hingga 28 September di Nizhny Tagil. Inilah lima produk terbaru dan terbaik Rusia yang memukau para pengunjung.
Terminator 2, tank pendukung tempur
BMPT-72 adalah versi baru tank pendukung tempur yang basisnya mengambil tank T-72 yang tersohor. Kemunculannya dalam RAE 2013 adalah yang pertama kalinya.
Tank ini tidak hanya punya daya tembak yang dahsyat, namun juga mampu melindungi tank dari musuh yang bersenjata peluncur granat dalam situasi perang perkotaan. Selain itu bisa beroperasi secara mandiri sebagai bagian dari unit infanteri bermotor.
Keutamaan BMPT-72 dan model Terminator sebelumnya adalah sistem kendali tembakan yang lebih baik, perlindungan bagi peluncur peluru kendalinya terhadap pecahan meriam dan senjata api kecil. Kapasitas awak juga dapat dikurangi dari lima menjadi tiga orang saja tapi tetap efektif. Berat kendaraan dengan senjata lengkap berkurang dari 48 ton menjadi 44 ton tanpa mengorbankan kemampuan proteksinya.
Terminator 2 akan sangat diminati oleh negara yang ingin menggantikan armada tank T-72. Di sisi lain T-72 yang sudah tua sekali pun  tetap sangat handal. Cukup meremajakan sistemnya sudah mampu membuatnya menjadi pasukan tempur supermodern yang cepat dan biaya minimal. Itu dapat dicapai tanpa harus membeli unit kendaraan yang baru.
ATOM, kendaraan infanteri berat
Konsep proyek ATOM menjadi salah satu sensasi utama RAE 2013. ATOM adalah kendaraan tempur infanteri produksi bersama para ahli dari Perancis dan Rusia.
Kendaraan beroda dengan empat gardan seberat 30 ton ini dipersenjatai meriam 57 mm yang mampu menghancurkan sasaran pada siang maupun malam hari. Tembakan dapat dilakukannya dalam keadaan diam maupun bergerak. Kendaraan ini memiliki jangkauan tembakan 6 km dan dapat menembak dengan kecepatan 140 putaran per menit.
ATOM, kendaraan infanteri berat. Sumber: Tatyana Andreeva / RG
ATOM, kendaraan infanteri berat. Sumber: Tatyana Andreeva / RG
Meski berat, ATOM adalah kendaraan amfibi dan dapat mengangkut delapan pasukan bersenjata lengkap. Kendaraan ini memiliki perlindungan yang mumpuni terhadap peluru berkaliber besar dan ranjau.
Menurut produsennya, tingkat perlindungan ini dapat disesuaikan. Demikian juga dengan daya tembaknya, dapat ditingkatkan maupun diturunkan sesuai kebutuhan.
SPM, robot khusus pemadam kebakaran
SPM adalah kendaraan pemadam kebakaran terlacak dengan tingkat perlindungan lapis baja yang baik. SPM dibuat dari komponen tank T-72 dan T-80 dan dapat beroperasi dengan 3 orang awak atau sebagai robot yang dikendalikan jarak jauh.
Sejauh ini belum ada negara lain yang memproduksi kendaraan sehebat ini. Mampu memadamkan kebakaran ekstrim dengan kendali jarak jauh. Di dalam situasi darurat robot pemadam kebakaran semacam ini sangat dibutuhkan.
SPM, robot khusus pemadam kebakaran. Sumber: Tatyana Andreeva / RG
SPM, robot khusus pemadam kebakaran. Sumber: Tatyana Andreeva / RG
SPM dirancang untuk memadamkan pusat api di lokasi paling berbahaya – seperti gudang amunisi, tambangan minyak dan gas, dan di tempat-tempat yang sangat mungkin tercemar zat-zat yang berbahaya bagi manusia.
2S25 Sprut, artileri otomatis antitank
Uni Soviet pernah memproduksi tank amfibi PT-76, yang terjual luas di seluruh dunia. Pada waktu itu belum ada negara lain yang mampu  memproduksi tank amfibi. Sekarang PT-76 jelas ketinggalan zaman, dan 2S25 Sprut dapat dianggap sebagai generasi baru tank amfibi Rusia.
2S25 Sprut, artileri otomatis antitank. Sumber: Tatyana Andreeva / RG
2S25 Sprut, artileri otomatis antitank. Sumber: Tatyana Andreeva / RG
Sprut dapat berenang dengan kecepatan 9 kpj dan melaju 70 kpj di jalanan. 2S25 dirancang digunakan Angkatan Udara dan Laut, didesain untuk dioperasikan 3 orang awak.
Tank 2S25 memiliki lapisan baja antipeluru yang ringan dan meriam 125 mm yang hebat. Ini membuatnya mudah diangkut melalui udara, dan ketika dijatuhkan menggunakan parasut, keamanan awak yang ada di dalamnya pun terjamin.
Arena-E, sistem perlindungan aktif tank
Arena-E adalah sistem yang khusus dirancang untuk pasar ekspor. Rusia yang pertama mengembangkan sitem perlindungan jenis ini, yang dijamin mampu menghancurkan granat hollow-charge dan peluru kendali yang menuju tank.
Arena-E, sistem perlindungan aktif tank. Sumber: Tatyana Andreeva / RG
Arena-E, sistem perlindungan aktif tank. Sumber: Tatyana Andreeva / RG 
Arena-E yang baru ini memiliki tampilan yang baru: sistem perlindungannya di samping menara meriam, bukan di atas sebagaimana sebelumnya. Perwakilan dari Kantor Desain Rekayasa Kolomna tempat dikembangkannya sistem ini, mengatakan bahwa Arena-E saat merupakan produk dengan kinerja terbaik di dunia.
http://militaryanalysisonline.blogspot.com

Hubungan militer Rusia-Indonesia semakin kuat

Uni Soviet mulai menjual senjata kepada Indonesia segera setelah kedua negara menjalin hubungan diplomatik pada tahun 1950.
Pada tahun-tahun awal itu, personil angkatan laut dan udara Indonesia dikirim untuk belajar ke Uni Soviet. Namun demikian, hubungan ini memburuk pada pertengahan 1960-an karena alasan politik.
Kedua pihak berusaha untuk melanjutkan hubungan pada awal 1990-an, tetapi sejumlah faktor membuat mereka tidak dapat membangun kembali hubungan yang dekat hingga tahun 2000-an.
Sebagai contoh, telah dilakukan beberapa kali pembicaraan mengenai pengiriman pesawat tempur Rusia Sukhoi Su-30 ke Indonesia sejak 1997, tetapi unit-unit contoh pertama tipe ini baru berhasil dikirimkan tahun 2003.
Kehadiran Rusia dan AS di Indonesia
Berlanjut kembalinya hubungan militer Rusia-Indonesia sangat dipengaruhi oleh perpecahan antara Indonesia dan AS.
Washington memberlakukan embargo yang berlarut-larut terhadap penjualan senjata ke Jakarta, dengan menuduh Indonesia melakukan pelanggaran HAM di Timor Timur.
Larangan penuh penjualan senjata, termasuk suku cadang, berlangsung sejak 1999 hingga 2005.
AS kini telah memperbaiki hubungan dengan Indonesia, tetapi Jakarta sudah belajar untuk tidak menaruh semua telurnya dalam satu keranjang saja. Indonesia mendiversifikasi impor senjatanya, membeli baik dari AS maupun Rusia.
Pada 2011, AS setuju mengirimkan 24 jet tempur bekas Lockheed Martin F-16 C/D Block 25 ke Indonesia, secara gratis.
Pada akhir 2012, kedua negara membuka pembicaraan mengenai pengiriman helikopter utilitas Sikorsky UH-60 Black Hawk dan helikopter serbu Boeing AH-64D Apache.
Pendekatan pragmatik ini memungkinkan Jakarta untuk melindungi impornya, sambil menjaga kenetralanannya dalam urusan militer kawasan regional.
Penjualan senjata Rusia ke Indonesia
Rusia sudah mengirimkan 16 pesawat tempur Sukhoi ke Indonesia sejak 2003; masih ada empat pengiriman lagi yang ditangguhkan.
Moskow juga telah menjual kepada Jakarta helikopter Mil Mi-35 dan Mi-17, kendaraan tempur infantri BMP-3F, pengangkut personil berlapis baja BTR-80A, dan senapan serbu AK-102.
Sebuah komisi antarpemerintah untuk kerja sama teknis militer dibentuk pada 2005; pada 2007, Moskow memberikan pinjaman sebesar $1 miliar kepada Jakarta guna membeli berbagai peranti keras militer Rusia.
Dalam beberapa tahun terakhir, kerja sama militer antara Rusia dan Indonesia telah berkembang hingga ke luar perdagangan senjata.
Pada 2011, angkatan laut Rusia dan Indonesia berlatih tindakan pencegahan bajak laut dalam latihan bersama mereka yang pertama sepanjang sejarah.
Rusia dan Indonesia juga melanjutkan kerja sama multilateral dalam format ASEAN. Pada bulan Juli 2004, Rusia dan ASEAN menandatangani sebuah deklarasi tentang tindakan pencegahan bersama melawan terorisme.
Pertemuan Menteri-Menteri Pertahanan ASEAN Plus Latihan Kontraterorisme dilakukan di Indonesia pada tanggal 9-13 September.
ASEAN dan Rusia pun menyelenggarakan pertemuan tahunan dan sesi-sesi kelompok kerja menyangkut keamanan maritim, bantuan kemanusiaan dan bantuan bencana, obat-obatan militer, operasi penjagaan kedamaian, dan aksi ranjau kemanusiaan.
Potensi kerja sama
Dalam Indo Defence Expo & Forum yang diadakan di Indonesia pada 2012, Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro meminta agar Rusia melibatkan diri secara langsung dalam mengembangkan Angkatan Bersenjata Republik Indonesia.
Permohonan ini membuka lebih banyak kesempatan untuk bekerja sama. Moskow pun sudah menawari Jakarta bantuan untuk mengembangkan pertahanan udaranya.
Sekarang ini, pasukan pertahanan udara Indonesia hanya memiliki sistem misil surface-to-air (SAM) jarak dekat.
Viktor Komardin, wakil kepala eksportir senjata milik pemerintah Rusia, Rosoboronexport, berkata Moskow dapat menjual sistem SAM secara satuan kepada Jakarta maupun membantunya membangun jaringan pertahanan udara yang komprehensif.
Kata Edy Prasetyono, Wakil Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik di Universitas Indonesia: "Kerja sama militer Indonesia-Rusia belum mencapai kemajuan yang signifikan tidak hanya dalam penjualan militer, melainkan juga dalam bidang-bidang kerja sama militer lain seperti praktik, latihan, dan pendidikan militer. Terdapat banyak bidang yang dapat dikembangkan lebih lanjut oleh kedua negara: tindakan antiteror, operasi bantuan bencana, dan pertukaran personil. Kedua kedutaan di masing-masing ibukota perlu berinteraksi lebih intensif untuk menentukan tujuan bersama dan merumuskan kebijakan operasional untuk mencapainya. Indonesia kini memiliki anggaran industri pertahanan yang akan digunakan untuk mengembangkan industri pertahanan melalui kerja sama internasional. Maka dari itu, masih ada ruang bagi Rusia untuk bekerja sama dengan Indonesia terutama dalam mengembangkan platform senjata tertentu. Kedua negara perlu bernegosiasi tentang bidang yang satu ini."
http://militaryanalysisonline.blogspot.com