Rabu, 06 Agustus 2014

Perwira AS: F-35 Tidak Jauh Lebih Baik dari Pesawat Tempur Saat Ini

Perakitan F-35

Seorang analis militer mengatakan bahwa jet tempur siluman baru F-35 mungkin tidak jauh lebih baik dari pesawat tempur yang ada saat ini. Hal ini diungkapkan oleh seorang perwira senior Angkatan Udara AS, Kolonel Michael W. Pietrucha dalam analisanya di Air and Space Power Journal. Pietrucha mengatakan bahwa pengadaan jet tempur senilai USD 117 juta ini mungkin perlu dibatalkan karena kinerjanya yang tidak memuaskan.
F-35 Joint Strike Fighter (JSF) yang dibangun untuk pasukan AS dan sekutunya, pengembangannya masih berdasarkan ide-ide pertempuran udara yang sudah usang, klaim Pietrucha. F-35 bisa saja tidak mampu menghindari radar musuh dan apabila digunakan untuk kampanye jangka panjang maka biayanya terlalu mahal.
Kritik dalam jurnal Angkatan Udara AS tersebut bahkan menyimpulkan bahwa pesawat tempur baru ini (F-35) kemungkinan memiliki performa yang kurang, bahkan dari pesawat-pesawat tempur yang ada saat ini.

Militer AS berencana memesan lebih dari 2.400 unit F-35, Australia 100 unit dan Inggris 48 unit (sebelumnya Inggris berniat membeli 138 unit). Program senilai USD 396 miliar ini menjadi program pengembangan senjata termahal dalam sejarah, mirisnya ini bahkan terjadi saat AS dan negara-negara Eropa (yang turut dalam program) mengalami pemotongan anggaran pertahanan.
Dalam analisanya, Pietrucha menyebutkan bahwa: "Meskipun seandainya ada dana yang tidak terbatas, masih ada cukup alasan untuk mengakhiri program F-35."

F-35 belum tentu bisa diandalkan, sedangkan F-15 dan F-16 sudah semakin menua. Anggaran yang semakin tercurah untuk pengembangan F-35 juga telah mengambil jatah jam terbang dan upgrade pesawat-pesawat yang ada seperti F-15, F-16, F-18 dan F-22. Jam terbang untuk pilot-pilot tempur juga semakin sedikit, menempatkannya kurang dari jam terbang pilot China dan beberapa negara lain.

Disebutkan dalam jurnal: "Secara khusus, kinerjanya (F-35) belum memenuhi persyaratan awal, daya angkutnya kecil (untuk senjata, dll), jangkauan pendek, dan upaya spionase oleh Republik Rakyat China mungkin telah dilakukan sejak lama bahkan sebelum pesawat ini diperkenalkan yang mungkin akan membahayakan nantinya."
Selain itu, kemajuan pesat dalam sistem radar dan pertahanan udara Rusia dan China semakin memberi ketidakjelasan apakah teknologi siluman masih efektif atau tidak, Pietrucha mengingatkan. Dia juga mengatakan bahwa program F-35 harus ditunda dan Angkatan Udara AS sebaiknya menggunakan pesawat campuran di masa depan. Jika Amerika Serikat sendiri menarik diri dari program F-35, sudah tentu negara-negara lain akan mengikutinya, Pietrucha mengatakan.
Pietrucha mengatakan kepada The Sunday Telegraph bahwa: "Semua program pengembangan pesawat tempur memang mengalami kendala. Tapi yang satu ini sangat mengganggu, belum tentu karena secara inheren pesawat ini buruk, tetapi karena pesawat-pesawat ini sedang dibeli padahal mereka belum terbukti. Mereka belum diuji diluar uji simulasi komputer." Lebih lanjut dikatakan bahwa F-35 memang masih sulit untuk di-judge, karena potensinya belum teruji dan pernyataan-pernyataan cenderung hanya menyebutkan apa yang pesawat ini bisa lakukan meskipun tidak ada data uji operasional yang benar-benar memastikan bahwa pesawat itu memang bisa melakukannya.
Edward Hunt, seorang analis kedirgantaraan senior di IHS Jane, mengatakan kinerja F-35 menjadi subyek perdebatan luas di kalangan penerbangan militer.
Elizabeth Quintana, peneliti senior Air Power di Royal United Services Institute, mengatakan terjadi perdebatan tentang mana yang lebih bijaksana ketika harus menggantungkan kekuatan pada armada tempur high-end (seperti F-35) atau menggunakan campuran pesawat tempur high-end dengan pesawat yang lebih murah, pesawat serang ringan atau pesawat udara remote control. Yang mana yang akan memberikan lebih banyak pilihan atau keuntungan di medan perang di masa depan.

Selama ini, F-35 dikatakan sebagai pesawat tempur paling canggih di dunia dengan fitur siluman serta sensor dan senjata canggih yang belum pernah ada sebelumnya. Pesawat ini juga secara khusus didesain agar terus relevan dalam menghadapi jenis-jenis ancaman baru di masa mendatang.
Gambar: Perakitan F-35 (Lockheed Martin)
http://www.artileri.org

PT DI Peroleh ToT CN-295 dari Airbus Military

C-295/CN-295

Airbus Military akan mentransfer teknologi pembangunan pesawat angkut medium CN-295 kepada PT DI dengan pembangunan bersama di Bandung. Pesawat yang akan dibangun ini merupakan pesawat ke-8 dari total 9 unit yang dipesan Kementerian Pertahanan (Kemhan) dari Airbus Military. Selanjutnya, Kemhan berencana mengadakan 7 pesawat CN-295 lagi untuk melengkapi menjadi satu skuadron pesawat CN-295. Sebelumnya telah datang 6 pesawat CN-295 dari Spanyol dan pesawat ke-7 akan datang dalam waktu dekat.

Hal itu diungkapkan Menhan Purnomo Yusgiantoro, saat menerima kunjungan kehormatan HE Mr Francisco Jose Viquera Niel, Duta Besar Spanyol untuk Indonesia, di kantor Kemhan, Jakarta, Jumat, 16 Mei 2014. Yang penting menurut Menhan adalah selain mendapatkan Transfer of Technology (ToT) dalam pembuatan pesawat CN-295, dibangunnya pesawat ke-8 dan ke-9 di PT DI Bandung ini diharapkan dapat memberikan efek positif bagi pergerakan ekonomi di dalam negeri.

Pesawat CN-295 sangat cocok dengan geografis kawasan Asia, karena itulah, diharapkan kemampuan PT DI untuk membangun pesawat ini akan diikuti dengan ketertarikan negara-negara tetangga untuk kemudian memesan pesawat ini. 

Untuk mewujudkan ToT ini, Dubes Spanyol menekankan perlu adanya dokumen bersama tentang persetujuan pertukaran informasi. Hal itu menjadi syarat bagi ToT karena pembangunan pesawat CN-295 ini juga melibatkan beberapa industri pertahanan Spanyol lainnya di luar Airbus Military. Akan datang 50 insinyur dari Spanyol yang akan bekerja bersama insinyur-insinyur di PT DI untuk membangun pesawat CN-295 ini. (DMC/Gambar:modocharlie)
 http://www.artileri.org

UAV Tempur China Pun Kini Terbang di Langit Arab Saudi

Wing Loong

Tidak bisa mendapatkan UAV tempur Predator dari Amerika Serikat, Arab Saudi berpaling ke China dengan membeli sejumlah UAV Wing Loong. Jumlah pastinya tidak dipublikasikan namun masing-masing UAV dilengkapi dengan dua rudal BA-7 laser guided (mirip dengan rudal Hellfire) atau dua bom 60 kg GPS Guided (mirip bom SDB Amerika Serikat).

Sejak tahun 2008 korporasi industri penerbangan China AVIC telah memamerkan foto dan video dari prototipe Wing Loong yang dalam pengertian bahasa China adalah Pterodactyl, dinosaurus terbang pada zaman Jurassic. Wing Loong disebut-sebut sebagai tiruan dari UAV MQ-1 Predator Amerika Serikat.
Pada tahun 2012, untuk pertama kalinya media melihat UAV ini terbang, di wilayah Uzbekistan, yang mana bersama dengan Uni Emirat Arab (UEA) merupakan pelanggan ekspor pertama untuk UAV ini (dari laporan media). Pernyataan AVIC pada tahun lalu hanya menyatakan bahwa Wing Loong sudah dijual ke empat negara asing dan salah satunya negara di Asia Tengah tanpa menyebutkan namanya.
Wing Loong mulai dikembangkan pada tahun 2005, terbang perdana pada tahun 2007 dan Tentara Pembebasan Rakyat China baru memperolehnya pada tahun 2008 untuk pengujian lebih lanjut. Dari bentuknya, Wing Loong yang juga dikenal sebagai Yìlóng-1 ini mirip dengan UAV besar MQ-9 Reaper Amerika Serikat, namun dari ukurannya lebih identik dengan MQ-1 Predator 1,2 ton. Wing Loong berbobot 1,1 ton, panjang 9 meter dan rentang sayap kurang lebih 14 meter. Wing Loong mampu beroperasi di ketinggian 5.300 meter dan terbang selama 20 jam. Muatan yang bisa dibawanya sebesar 200 kg.
Wing Loong

Dari gambar-gambar promosinya, Wing Loong terlihat membawa dua rudal Blue Arrow (BA) 7. Sejak tahun 2012 China telah menawarkan rudal udara ke permukaan ini untuk ekspor. Rudal BA-7 sangat mirip dengan rudal Hellfire Amerika Serikat. Blue Arrow 7 berbobot 47 kg dan pada dasarnya adalah rudal anti tank laser guided dengan jangkauan maksimal 7.000 meter. Soal harga, China menawarkannya sepertiga lebih murah dari rudal Hellfire yang sebesar USD 70.000 dan harga masih bisa dinegosiasikan. "Priced to sell".

Rudal AGM-114 (Hellfire II) menggunakan hulu ledak armor-piercing (penetrasi lapis baja) atau hulu ledak fragmentasi (untuk sasaran non lapis baja). Namun hulu ledak yang selama ini ditembakkan adalah hulu ledak fragmentasi. Hellfire II berbobot 48,2 kg, dengan 9 kg hulu ledak, dan memiliki jangkauan 8.000 meter. Setidaknya Hellfire telah digunakan selama tiga dekade.

Wing Loong bukanlah satu-satunya UAV yang tersedia di pasar yang bisa dibeli Arab Saudi. Israel adalah pemimpin dalam hal mendesain UAV meskipun untuk urusan produksi masih kalah dari AS. Membeli peralatan militer dari Israel tidak dapat diterima secara politik bagi negara-negara di kawasan Teluk, apa kata dunia nantiya?. Yang pasti satu lagi negara di Teluk sudah percaya dan membeli Wing Loong dan yang lain mungkin akan menyusul.
Gambar: SCMP & Chinese Military Review 
http://www.artileri.org

Senin, 04 Agustus 2014

Pininfarina Sergio, Konsep Roadster Sangar Bercita Rasa Ferrari!

Sebuah roadster dengan model sedikit asing muncul di Berkeley Hotel Ferrari showrom kota London, Senin (14/07). Model sangar kental dengan corak merah seperti halnya model-model Ferrari tersebut, rupanya memang membawa DNA sang kuda jingkrak.


Namanya adalah Pininfarina Sergio. Panggilan tersebut sebenarnya diambil dari nama Sergio Pininfarina yang memiliki kontribusi besar dalam bersatunya Ferrari dengan Pininfarina. Karena berkat kerjasama itulah, lahir bermacam varian seperti Ferrari 360, 328 dan sang legenda Ferrari F40.


Sergio meninggal di usianya yang 85 tahun, tepatnya pada 2013 lalu. Mobil Konsep inilah yang sebenarnya diciptakan khusus untuk mengenang jasa-jasa Sergio.


Kemampuan yang dimilikinya, merupakan paduan kekuatan mesin V8 4.5 liter milik Ferrari 458 Italia. Dapur pacu tersebut sanggup menyemburkan tenaga hingga 570 hp. Menurut kabar yang dirilis gtspirit di hari yang sama saat peluncurannya, memberitakan bahwa tahun lalu model ini akan dilanjutkan pada tahap produksi. Namun untuk sekarang, memang masih menjadi misteri.


Penebas Medan Offroad Fiat Mengaspal Bulan September!

Mungil namun siap menjadi teman menjelajahi medan offroad, itulah yang menjadi landasan Fiat melahirkan varian evolusi dari Panda 4x4 ini. Ukurannya hanya sedikit lebih bongsor ketimbang city car namun menyembunyikan potensi ketangguhan yang amat besar.

Dari penampakan luar saja, Fiat Panda Cross terlihat begitu macho dengan bumper ala offroad miliknya yang terpadu apik dengan fog light baru. Selain itu, ada juga roof bar dan rear bumper yang disempurnakan oleh velg alloy 15 inch kiat mengentalkan nuansa maskulin mobil ini.


Sebagai bekal membantu penjelajahan di medan offroad, ia mewarisi fitur Torque-on-Demand (ToT) all-wheel drive system yang berfungsi mengatur alur torsi yang disesuaikan dengan kondisi mesin dan medannya. Tak hanya itu, untuk membantu mobil saat berjalan di area yang naik-turun ada fitur Hill Descent Control yang membantu stabilitas mobil kala melintasi turunan curam atau lintasan yang berkelok-kelok.


Jawara baru Fiat ini mengusung sistem penggerak roda All-Wheel Drive dengan standard electronic-locking differential. Sementara untuk dapur pacunya, Fiat mengandalkan dua varian mesin, yakni diesel empat silinder 1.3 liter bertenaga 80 hp dan mesin bensin dua silinder 900cc dengan turbocharger yang mampu menghasilkan tenaga hingga 90 hp.

Menurut warta yang disampaikan oleh autoevolution (15/07), Fiat Panda Cross akan segera unjuk gigi dalam persaingan di pasar otomotif dengan hadir di showroom-showroom Eropa mulai bulan September mendatang.




http://www.otosia.com