Senin, 08 September 2014

Australia, Impor dan Produksi Senjata, dan Asia

HMAS Rankin (Kelas Collins)
Asia kini memimpin dunia dalam urusan pertumbuhan belanja militer, total 47 persen dari seluruh perdagangan senjata dunia berasal dari Asia dan Oseania. Sementara belanja militer negara-negara di sekitar Laut China Selatan seperti India dan Pakistan sering menjadi headline di berbagai media, Australia juga meningkatkan belanja militernya.

Angka-angka baru dari Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI) menunjukkan bahwa impor alutsista Australia sejak 2009 hingga 2013 telah meningkat sebesar 83 persen. Australia pun kini menjadi negera importir senjata terbesar ketujuh di dunia, meskipun dari segi anggaran pertahanan Australia masih menempati posisi 12 dunia (data SIPRI 2013).

Meskipun banyak terjadi pemotongan anggaran di beberapa departemen, Perdana Menteri Tony Abbott masih sanggup mengalokasikan 6% peningkatan anggaran militer sebesar USD 1,4 miliar. Abbott juga mengumumkan rencana Australia yang akan membeli tambahan 58 unit pesawat tempur siluman F-35 buatan Lockheed Martin.

Sebagian besar impor senjata Australia berasal dari Amerika Serikat, dan Australia kini menjadi pengimpor terbesar senjata buatan Amerika Serikat dengan persentase sebesar 10 persen dari seluruh ekspor senjata Amerika Serikat. Selain membeli F-35, dari Amerika Serikat Australia juga memesan delapan pesawat pengintai Poseidon, dua kapal serbu amfibi, dan tujuh drone surveilans Triton.
Sementara menambah anggaran impor senjata, Australia juga berupaya meningkatkan produksi senjatanya dalam negeri. Saat ini, sekitar USD 40 miliar akan Australia habiskan untuk pembangunan tiga kapal air warfare destroyers (AWD), serta untuk produksi 12 kapal selam diesel listrik. Proyek pembangunan kapal selam tersebut dijadwalkan akan rampung pada 2030, dan pengembangannya berdasarkan kapal selam Kelas Collins yang saat ini digunakan Angkatan Laut Australia (RAN).

Dalam urusan ekspor senjata, Australia baru menandatangani kesepakatan penjualan 4 unit kendaraan Bushmaster buatannya ke Jepang. Bushmaster digunakan secara massif oleh militer Australia di Irak dan Afghanistan, lebih dari 1000 unit telah diproduksi dan dijual. Belanda dan Jamaika menjadi satu-satunya negara lain yang membeli kendaraan ini.

Secara historis, Australia sejak dulu dan kini juga sudah memproduksi sebagian besar senjata kecil untuk militernya, terutama Lithgow Arms, yang diprivatisasi pada tahun 2006.
Pada akhirnya, meskipun Australia memiliki kapasitas dalam membangun alutsista, dan pemerintah mereka terus menggenjot pembangunan alutsista dalam negeri, namun hal ini tidak serta merta menjadikannya sebagai produsen utama persenjataan untuk kawasan.
http://www.artileri.org

Hingga Akhir 2014, AL Rusia Akan Terima 50 Lebih Kapal Baru

Novorossiysk, kapal selam dari Project 636
Sebelum akhir tahun ini, Angkatan Laut Rusia akan menerima lebih dari 50 kapal baru, Komandan Angkatan Laut Rusia Laksamana Viktor Chirkov mengatakan pada hari Sabtu.

Salah satunya adalah dari Project 636, yaitu proyek kapal selam diesel listrik yang akan diluncurkan minggu depan. "Pada tanggal 26 juni, kapal selam diesel listrik Rostov-on-Don akan diluncurkan di Dermaga Admiralty untuk Armada Laut Hitam," kata Chirkov. Chirkov menambahkan bahwa semua armada Angkatan Laut Rusia total akan menerima enam kapal selam dari Project 636. Angkatan Laut Rusia juga akan menerima paket pelatihan awak kapal selam di masa mendatang.

Pada tanggal 27 Juni, pasukan penyapu ranjau juga akan menerima kapal penyapu ranjau baru dari Project 12700, kapal yang dikembangkan oleh biro desain Almaz.

"Tiga kapal tersebut segera akan dibangun untuk angkatan laut," kata Chirkov. Angkatan Laut Rusia juga akan menerima empat kapal patroli Raptor. Secara keseluruhan, Angkatan Laut Rusia akan menerima lebih dari 50 kapal perang dan logistik sebelum akhir 2014, ujar Chirkov. Juga termasuk 10 kapal damage control training sets "Kaspiy". (Voice of Russia)

Gambar: RIA Novosti/Igor Russak
 http://www.artileri.org

Senin, 01 September 2014

Jepang Pelajari Sistem Pertahanan Rudal Baru

Peluncuran THAAD
Kementerian Pertahanan Jepang akan melakukan penelitian skala penuh pada sistem pertahanan rudal baru yang nantinya akan melengkapi Jepang untuk mencegat rudal balistik Korea Utara, kata para pejabat Jepang dilansir Japan Times.

Kementerian Pertahanan Jepang sudah mulai berkonsultasi dengan Amerika Serikat untuk perkenalannya dengan sistem pertahanan rudal THAAD (Terminal High Altitude Area Defense) dan versi darat dari interseptor Standard Missile-3 (SM-3) yang dipasang pada kapal perang dengan sistem tempur Aegis, menurut para pejabat.

Saat ini, Pasukan Bela Diri Jepang menggunakan sistem perisai udara dua tahap dalam mencegat rudal balistik. Pada tahap pertama, kapal perang Aegis Jepang (Kelas Atago dan Kelas Kongō) meluncurkan rudal SM-3 untuk menghancurkan rudal atau puing-puing di luar angkasa yang diyakini ditujukan kepada Jepang. Jika itu gagal, sistem rudal Patriot Advance Capability-3 yang berada di darat akan meluncurkan rudal untuk mengintersepnya.

Penelitian oleh Kementerian Pertahanan Jepang saat ini terfokus pada tahapan pencegatan rudal di antara dua tahap ini.

THAAD, sistem pertahanan rudal baru Amerika Serikat, mampu mencegat rudal balistik yang mulai memasuki atmosfer dari luar angkasa. Dalam 11 kali uji coba yang dilakukan antara tahun 2006 hingga 2013, semua interseptor THAAD berhasil mengintersep rudal mock up. Militer AS kini mempertimbangkan penyebaran THAAD di Korea Selatan.

Adapun sistem rudal SM-3 yang berbasis darat, militer AS juga telah melakukan uji coba sebagai bagian dari program perisai pertahanan rudal di Eropa. Setelah uji coba yang terbilang sukses pada bulan Mei lalu, Amerika Serikat berencana untuk menyebarkan sistem rudal ini ke Rumania pada tahun 2015.

Sistem rudal ini memiliki respon yang cepat dalam menghadapi ancaman yang masuk dan unggul dalam kemampuan manuver ketimbang SM-3 yang berbasis laut dan penyebarannya tidak membutuhkan kapal perang dengan sistem tempur Aegis.

Untuk melindungi Jepang di masa mendatang, Kementerian Pertahanan Jepang menginginkan perisai anti rudal empat tahap dengan memanfaatkan THAAD dan sistem rudal SM-3 berbasis darat.

Dalam persiapan introduksi skala penuh, Kementerian Pertahanan Jepang akan mengumpulkan informasi dari Amerika Serikat terkait biaya, pelatihan personel dan tantangan operasional yang harus diatasi dalam mewujudkannya, kata para pejabat. Terkait hal ini, Kementerian Pertahanan Jepang juga akan mengajukan permintaan anggaran untuk tahun fiskal 2015.
 http://www.artileri.org

Jumlah Senjata Nuklir Dunia Menurun Lambat di Tahun Ini

Nuklir AS era Perang Dingin

Jumlah senjata nuklir dunia kembali turun di tahun 2014, namun penurunan kali ini masih lebih lambat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, laporan Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI), Senin, 16 Juni 2014.
Dalam lima tahun terakhir telah terjadi penurunan besar dalam jumlah total hulu ledak nuklir di dunia," menurut  SIPRI dalam laporan tahunannya tentang peta kekuatan nuklir dunia. Penurunan ini utamanya karena Rusia dan Amerika Serikat, yang total keduanya masih memegang 93 persen dari semua senjata nuklir dunia, mengurangi persediaan senjata nuklir strategis mereka di bawah perjanjian tentang Upaya Pengurangan dan Pembatasan Senjata Ofensif Strategis (New START) dan juga karena pengurangan sepihak karena alasan tertentu.
Jumlah hulu ledak nuklir di dunia saat ini telah turun menjadi 16.300 buah dibandingkan tahun 2013 yang 17.270 buah atau yang lebih jauh pada tahun 2010 yang sebanyak 22.600 hulu ledak nuklir. Namun SIPRI mengingatkan bahwa penurunan jumlah senjata nuklir ini bukan berarti menyiratkan komitmen nyata dari negara-negara dengan kekuatan nuklir untuk meninggalkan persenjataan nuklir mereka.

Baca juga:  Nuklir Rusia Telah Menerangi Amerika
Pada awal tahun ini Amerika Serikat dan Rusia masing-masing masih memiliki 7.300 dan 8.000 buah hulu ledak nuklir, menurut SIPRI.

 Peta Kekuatan Nuklir Dunia, Januari 2014
Sumber:
SIPRI Yearbook 2014 (Oxford University Press: Oxford, 2014).


"Sekali lagi pada tahun ini, negara-negara yang memiliki senjata nuklir telah membuat langkah kecil untuk menunjukkan niatnya membongkar seluruh persenjataan nuklir mereka," Shannon Kile dan Phillip Patton Schell peneliti SIPRI mengatakan dalam sebuah pernyataan.
Namun, penyebaran dan penyimpanan senjata nuklir sejak lama oleh negara-negara ini menunjukkan pandangan mereka bahwa senjata nuklir akan tetap menjadi elemen penting dalam kalkulasi strategis mereka alias tidak bisa ditinggalkan.
Sementara dua kekuatan nuklir utama dunia mengurangi jumlah senjata nuklir mereka, jumlah nuklir beberapa negara lain tetap stabil seperti Inggris, Perancis dan Israel yang masing-masing tetap dalam jumlah 225 dan 300 dan 80 hulu ledak nuklir.
Peta kekuatan nuklir dunia, 2010–2014
Negara*
2010
2011
2012
2013
2014
AS
9.600
8.500
8.000
7.700
7.300
Rusia
12.000
11.000
10.000
8.500
8.000
Inggris
225
225
225
225
225
Perancis
300
300
300
300
300
China
240
240
240
250
250
India
60-80
80-100
80-100
90-110
90-110
Pakistan
70-90
90-110
90-110
100-120
100-120
Israel
80
80
80
80
80
Total
22.600
20.530
19.000
17.270
16.300
Sumber: SIPRI Yearbooks 2010–2014
*Berdasarkan informasi publik tentang aktivitas produksi plutonium Korea Utara, diperkirakan Korea Utara telah membangun 6-8 senjata nuklir.
Berbeda dengan negara lainnya, jumah senjata nuklir China, India dan Pakistan terus bertambah dalam beberapa tahun terakhir meskipun untuk awal tahun 2014 tidak terjadi peningkatan. Total China, India dan Pakistan pada tahun 2014 masing-masing memiliki 250, 90-110 dan 100-120 hulu ledak nuklir. Sementara nuklir Israel beberapa tahun belakangan tetap pada jumlahnya yang 80 buah, kemungkinan bisa bertambah mengingat situasi di Timur Tengah terutama terkait Iran. Sedangkan Iran sendiri oleh SIPRI tidak dilaporkan memiliki hulu ledak nuklir.
Korea Utara juga masuk ke dalam daftar nuklir 2014 dengan jumlah enam hingga delapan hulu ledak nuklir.
"Ada konsensus di komunitas ahli bahwa Korea Utara telah menghasilkan sejumlah kecil senjata nuklir, yang berbeda dari bahan peledak nuklir dasar", ujar SIPRI.
Namun, peneliti SIPRI mengatakan kepada AFP bahwa angka yang dimiliki Korea Utara ini didasarkan pada kapasitas produksi plutonium negara itu, bukan berdasarkan kemampuannya untuk secara efektif digunakan sebagai senjata.
.
"Ada kemungkinan (Korea Utara) cukup bahan untuk membuat enam sampai delapan senjata nuklir. Namun belum ada indikasi yang jelas yang menunjukkan mereka mampu menghasilkan hulu ledak nuklir, dan untuk menghasilkan sistem rudal terkait yang bisa mengirimkan hulu ledak ini," ujar SIPRI.
(Gambar: Nuklir AS era perang dingin/jonkeegan)
 http://www.artileri.org

10 Torpedo Mematikan di Dunia

Torpedo adalah senjata bawah air mematikan yang bisa diluncurkan dari kapal selam, kapal permukaan, pesawat dan helikopter. Berdasarkan karakteristik kinerja, seperti kecepatan, jangkauan dan kedalaman operasinya, berikut 10 torpedo terbaik di dunia saat ini.

A244/S Mod 3

A244/S Mod 3 merupakan hasil pengembangan dari EuroTorp (konsorsium perusahaan pertahanan Italia dan Perancis), torpedo ringan anti kapal selam yang telah digunakan lebih dari 16 angkatan laut di dunia. Torpedo ini dirancang untuk mengatasi seluruh kapal selam konvensional dan nuklir dengan advanced anti-torpedo countermeasures.
A244/S Mod 3
A244/S Mod 3. Gambar via bemil.chosun.com.
A244/S Mod 3 berdimensi panjang 2,75m, diameter 324mm, bobot 254kg, dilengkapi dengan sophisticated acoustic seeker, advanced counter-measures capability dan hulu ledak tipe blast dan mampu beroperasi di kedalaman 600m dengan maksimum kedalaman peluncuran 30m.

Torpedo ini didukung oleh DC motor yang menggerakkan dua baling-baling counter-rotating, yang memastikan kecepatan tertingginya 36 knot dan jangkauan maksimum 13,5km dengan kecepatan rendah.
MK 54

MK 54 yang dikembangkan oleh Raytheon adalah torpedo ringan yang digunakan oleh Angkatan Laut AS dan Australia dan dikembangkan berdasarkan atas teknologi torpedo MK 50 dan MK 48. MK 54 efektif diluncurkan dari kapal permukaan, helikopter dan pesawat udara.
MK 54
USS Roosevelt meluncurkan torpedo MK 54 pada April 2014. Gambar: U.S. Navy.
Torpedo ini berdimensi panjang 2,72m, diameter 324mm, dan memiliki berat 276kg. Diintegrasikan dengan 44kg hulu ledak berdaya ledak tinggi dan AN/AQS-22 Airborne Low Frequency Sonar. Sistem propulsinya didukung oleh propelan cair yang memberikannya kecepatan maksimum 40 knot.
MU90/Impact

MU90/Impact, adalah torpedo ringan yang diproduksi oleh EuroTorp, konsorsium dari perusahaan pertahanan WASS, DCNS International dan Thales yang sepenuhnya menjadi torpedo standar NATO.
MU90/Impact
MU90/Impact. Gambar via airgroup2000.com.
MU90/Impact merupakan torpedo generasi ketiga, berdimensi panjang 2,85m, diameter 323,7mm, berbobot 304kg dan beroperasi pada kedalaman lebih dari 1.000m. Pengembangannya dimaksudkan untuk memenuhi persyaratan operasional kapal perang anti kapal selam di abad 21. Torpedo ini digunakan oleh Angkatan Laut Perancis, Italia, Jerman, Denmark, Polandia dan Australia.

Torpedo yang ber-propeler elektrik ini memiliki kecepatan maksimum 50 knot dan dengan kecepatan rendah mampu mencapai target di jarak 23km.
Mk48 ADCAP Mod 7 CBASS

Mk48 ADCAP Mod 7 Common Broadband Advanced Sonar System (CBASS) dikembangkan oleh Lockheed Martin dengan fitur active/passive homing, broadband sonar guidance dan advanced counter-countermeasures untuk mendeteksi, melacak dan mencapai target di perairan dalam dan dangkal. Ini merupakan torpedo kelas berat tercanggih yang digunakan armada kapal selam Angkatan Laut AS dan negara-negara sekutunya.
Mk48 ADCAP Mod 7 CBASS
Mk-48 CBASS. Ilustrasi gambar: Lockheed Martin
Torpedo ini berdimensi panjang 5,79m, diameter 533mm, bobot 1,676 ton, membawa 292,5kg hulu ledak dan didukung oleh mesin piston yang memanfaatkan monopropellant Otto Fuel II. Kecepatan maksimumnya adalah 55 knot dan jangkauan efektif 50km dengan kecepatan 40 knot.
Shkval-E

Shkval-E adalah torpedo berkecepatan tinggi yang diproduksi oleh Tactical Missiles Corporation JSC Rusia. Torpedo ini dapat diluncurkan dari kapal selam dan kapal permukaan pada level laut Sea State 4 dari kedalaman 30m. 
Shkval-E
Shkval-E. Gambar: Vitaly V. Kuzmin
Torpedo dengan panjang 8,2m, diameter 533mm dan bobot 2,7 ton ini membawa hulu ledak tinggi yang setara dengan 210 kg TNT.

Sistem propulsinya terdiri dari hydro-reactive jet dan solid-fuel rocket booster memberikannya kecepatan tertinggi hingga 200 knot.
DM2A4/SeaHake mod 4

DM2A4 Seehecht (sebutan ekspor: SeaHake mod 4) adalah torpedo utama dari kapal selam Type 212 Angkatan Laut Jerman. Torpedo kelas berat ini berdimensi panjang hingga 7m (tergantung jumlah baterai), diameter 533mm, bobot 1,37 ton, dan dapat diluncurkan dari kapal selam dan kapal permukaan.
DM2A4/SeaHake mod 4
SeaHake Mod 4 Gambar: Atlas Elektronik
Dikembangkan oleh Atlas Elektronik, torpedo SeaHake mod 4 membawa 255kg hulu ledak dan dipandu fibre optic wire untuk mencapai target kapal selam dan kapal permukaan.

Sistem propulsi yang terdiri atas high frequency permanent magnet motor dan silver zinc battery modules memberikannya kecepatan maksimum 50 knot dan jangkauan 50km.
Torpedo 62 (Torpedo 2000)

Torpedo 62 (versi ekspornya disebut Torpedo 2000) dari SAAB adalah torpedo dual-purpose kelas berat yang digunakan oleh armada kapal selam Angkatan Laut Kerajaan Swedia. Efektif untuk mengatasi ancaman terhadap semua jenis kapal selam dan kapal permukaan.
Torpedo 62 (Torpedo 2000)
Torpedo 62. Gambar via shephardmedia.
Torpedo 62 berdimensi panjang 6m, diameter 533mm, bobot 1,45 ton dan membawa hulu ledak tinggi. Torpedo ini mampu beroperasi di kedalaman 500m dan untuk mencapai target dipandu oleh active/passive homing system.

Torpedo 62 melaju dengan didorong sebuah mesin pump jet canggih dan dapat mencapai target yang jaraknya lebih dari 40km dengan kecepatan maksimum 40 knot.
Spearfish

Spearfish, torpedo kelas berat dari BAE Systems efektif terhadap ancaman kapal selam dan kapal permukaan baik di perairan laut maupun pesisir. Torpedo yang berdimensi panjang 7m, diameter 533mm dan bobot 1,85 ton ini digunakan oleh armada kapal selam Angkatan Laut Kerajaan Inggris. 
Spearfish
Spearfish. Gambar: Bae Systems.
Spearfish membwa 300kg hulu ledak Aluminised PBX dan mencapai target dengan guide wire system dan passive/active sonar.

Mesinnya terdiri dari mesin turbin gas yang menggunakan Otto Fuel sebagai monopropellant cair, serta Hydroxyl Ammonium Perchlorate (HAP) sebagai oksidan. Sistem propulsinya memungkinkan Spearfish melaju dengan kecepatan 80 knot dan efektif mengenai target yang jaraknya 54km dengan kecepatan rendah.
F21

Torpedo kelas berat F21 dari DCNS adalah torpedo dual-purpose yang efektif terhadap kapal selam dan kapal permukaan. F21 menggantikan torpedo F17 armada kapal selam Angkatan Laut Perancis.
F21
F21. Gambar: DCNS
Berdimensi panjang 6m, diameter 533mm dan berbobot 1,3 ton, F21 dapat diintegrasikan ke semua jenis kapal selam termasuk kapal selam rudal balistik (SSBN), kapal selam nuklir, serta kapal selam diesel listrik dengan mode peluncuran swim-out atau push-out.

F21 dapat dioperasikan mulai dari kedalaman 10m hingga 500m dan digerakkan oleh propulsi elektrik yang berbasis baterai primer silver oxide-aluminium (AgO-Al) yang memberikannya kecepatan hingga 50 knot, dengan jangkauan 50km dan daya tahan lebih dari satu jam.

Black Shark

Black Shark Advanced (BSA), torpedo kelas berat multi peran generasi baru ini diluncurkan dari kapal selam atau kapal permukaan, dan dirancang untuk mengatasi ancaman dari seluruh jenis kapal selam dan kapal permukaan. Black Shark dikembangkan untuk menggantikan torpedo kelas berat A-184 yang digunakan oleh Angkatan Laut Italia.
Black Shark
Black Shark. Gambar: Finmeccanica SpA.
Black Shark saat ini sedang diproduksi oleh Whitehead Alenia Sistemi Subacquei (WASS) untuk beberapa angkatan laut dunia dan telah dilengkapkan pada kapal selam Scorpene, U209, U214 dan U212.

Memanfaatkan wire guided dan self-homing, torpedo ini memiliki panjang 6,3m, diameter 533mm, dan mengintegrasikan ASTRA (Advanced Sonar Transmitting and Receiving Architecture) dan hulu ledak tinggi. Sistem propulsi yang terdiri atas baterai Al-AgO, contra-rotating brushless motor dan skewed propellers memastikannya memiliki kecepatan maksimum 50 knot dan jangkauan 50km.
 http://www.artileri.org