Sabtu, 07 Februari 2015

India Kandangkan Seluruh Sukhoi Pasca Kecelakaan

Su-30MKI
Seluruh pesawat tempur Sukhoi Su-30MKI Angkatan Udara India saat ini dikandangkan sementara menunggu hasil pemeriksaan skala besar.

Dikandangkannya seluruh Su-30MKI Angkatan Udara India ini menyusul insiden kecelakaan pada tanggal 14 Oktober lalu, dimana SU-30MKI jatuh di dekat Stasiun Angkatan Udara Pune Lohegaon saat latihan penerbangan rutin. Kecelakaan ini merupakan kecelakaan terbaru dari serangkaian kecelakaan Su-30MKI Angkatan Udara India.

Sang pilot, Wing Commander Sidharth V. Munje dan Flying Officer Anup Kumar berhasil selamat dan tim penyelidik telah dibentuk guna mencari penyebab kecelakaan.

Antara tahun 2009 hingga 2013, telah ada empat kecelakaan Su-30MKI Angkatan Udara India. Dan kecelakaan terbaru ini adalah kecelakaan kelima Su-30MKI Angkatan Udara India dalam lima tahun terakhir. Yang menarik, Wing Commander Sidharth V. Munje adalah juga merupakan pilot Su-30MKI pada kecelakaan Su-30MKI pertama tahun 2009.

"Armada (Su-30MKI) telah dikandangkan dan tengah menjalani pemeriksaan teknis terkait kecelakaan terbaru di Pune," ujar perwakilan Angkatan Udara India Wing Commander Simranpal Singh Birdi. "(Armada) akan kembali mengudara setelah selesai pemeriksaan menyeluruh."

Su-30MKI adalah varian ekspor dari Su-30 yang hanya digunakan oleh India. Pengiriman dimulai pada tahun 2002. Hingga bulan Agustus lalu, jumlah Su-30MKI yang dioperasikan Angkatan Udara India telah mencapai 200 unit, sementara 70 unit lainnya masih dalam order.

Mengusung dua mesin Lyulka AL-31FP thrust-vectoring turbofan, yang masing-masing menghasilkan daya dorong 27.500 pon, Su-30MKI mampu mencapai kecepatan Mach 2,35 (2.878 km per jam) dan jangkauan maksimum 3.000 kilometer. Persenjataannya terdiri dari kanon GSH-30-1 tunggal, rudal udara ke udara, rudal udara ke permukaan, dan berbagai jenis bom.

Su-30MKI, yang dikenal oleh NATO sebagai "Flanker H" ini dikembangkan oleh Rusia melalui Sukhoi Aviation Corporation. Di bawah lisensi, India memproduksi sendiri pesawat tempur ini melalui perusahaan dirgantara Hindustan Aeronautics. Saat ini, Su-30MKI menjadi petempur udara garis depan Angkatan Udara India disamping MiG-29 dan Mirage 2000.

Dengan dikandangkannya seluruh Su-30MKI, jumlah skuadron tempur operasional Angkatan Udara India berkurang menjadi 34 skuadron, sementara sebelumnya 44 skuadron. "Pengandangan armada (Su-30MKI) dilakukan karena penyebab kecelakaan belum diketahui," mengutip pernyataan mantan Kepala Staf Angkatan Udara India Air Chief Marshal Fali Major dalam komentarnya yang dikutip laman Hindustan Times. "Ini serius," Major menambahkan.


 http://www.artileri.org

Senin, 02 Februari 2015

Brasil Beli 36 Gripen Next Generation

Gripen E
Brasil telah menandatangani kontrak pembelian 36 pesawat tempur Gripen E/F (Next Generation) senilai USD 5,4 miliar, pihak SAAB Swedia mengumumkan di laman resminya pada 27 Oktober 2014.

Kontrak ditandatangani oleh Kementerian Pertahanan Brasil melalui Command Aeronautics (COMAER), menindaklanjuti keputusan Angkatan Udara Brasil (Força Aérea Brasileira-FAB) yang memilih untuk menggunakan pesawat tempur buatan Swedia ini karena memenuhi persyaratan program modernisasi Angkatan Udara Brasil.

Pengiriman Gripen ke Angkatan Udara Brasil akan dimulai pada tahun 2019 hingga tahun 2024 dengan rincian 28 pesawat tempur Gripen E kursi tunggal dan delapan Gripen F kursi ganda.

Sebagai bagian dari kesepakatan, pihak SAAB dan COMAER juga menandatangani perjanjian 10 tahun untuk proyek-proyek kerjasama industri, termasuk transfer teknologi ke industri pertahanan Brasil. Sebagai satu-satunya pelanggan internasional yang membeli Gripen F sejauh ini, pihak Brasil akan sangat dilibatkan dalam pengembangan dan tanggung jawab untuk proses produksinya.

Menurut pihak SAAB, komitmen Brasil memilih Gripen E/F setidaknya akan mengamankan operasional pesawat jenis ini hingga tahun 2050. Namun meskipun begitu, walaupun tanpa pembelian Brasil, program Gripen E tetap pada jalur yang aman mengingat saat ini Angkatan Udara Swedia sendiri telah memesan 60 unit Gripen E (kemungkinan akan menambah 10 unit lagi).
Sebelumnya dalam referendum nasional pada bulan Mei, Swiss yang digadang-gadang menjadi pembeli yang paling potensial telah menolak membeli Gripen Next Generation, sehingga apabila SAAB gagal mengamankan kontrak dari Brasil maka akan sangat memalukan.
Gripen saat ini digunakan oleh dengan Swedia, Ceko, Hungaria, Afrika Selatan, Thailand, dan Inggris.
Selain menandatangani kontrak internasional pertama SAAB untuk Gripen Next Generation (NG), kontrak dengan Brasil juga termasuk dua hal utama yaitu pengembangan lebih jauh Gripen F kursi ganda dan prospek pengembangan Gripen F varian angkatan laut atau Gripen M (Marine) yang nantinya dapat dioperasikan dari kapal induk São Paulo Brasil.

Gripen NG merupakan pesawat tempur canggih dan fleksibel. Dibanding varian sebelumnya, Gripen NG memiliki daya dorong yang lebih besar, jangkauan lebih jauh dan daya tahan yang lebih baik. Selain itu, kapasitas senjata telah ditingkatkan, penambahan sensor baru termasuk radar AESA canggih, sistem peperangan elektronik yang sangat efektif dan sistem komunikasi multi-fungsi. 

Meskipun lebih mahal untuk dioperasikan dan diproduksi, pesawat kursi ganda telah semakin populer karena memungkinkan pilot di dalam kokpit berbagi beban kerja yang saat ini semakin kompleks. Hal ini juga ditunjukkan oleh Angkatan Laut AS dalam keputusannya untuk menyeimbangkan kembali armadanya dengan membeli pesawat tempur Super Hornet kursi ganda (F/A-18F) daripada satu kursi (FA-18E).




 http://www.artileri.org

Eurofighter Typhoon Cacat Produksi, Jerman Hentikan Pembelian

Eurofighter Typhoon

Angkatan Udara Kerajaan Inggris (RAF) telah mendeteksi cacat produksi pada pesawat tempur Eurofighter Typhoon, yang menyebabkan Jerman menghentikan pembelian pesawat ini hingga masalah diselesaikan. Berita ini menjadi pukulan berat bagi Eurofighter setelah sebelumnya didera masalah harga.
Kecacatan produksi ditemukan pada sejumlah lubang bor baut pada bagian belakang pesawat, yang mana perusahaan terbesar di Eropa BAE Systems yang bertanggung jawab dalam pengerjaan komponen ini. Tepi lubang bor tidak dirapikan atau dihaluskan sesuai dengan proses produksi standar.
Meskipun belum jelas apakah cacat produksi ini akan berdampak pada umur, fungsi atau dapat membahayakan pilot, namun laman Spiegel Online melaporkan bahwa dalam kasus terburuk, kecacatan ini dapat menyebabkan lambung pesawat menjadi tidak stabil. Sebagai dampaknya, Jerman menolak mengakuisisi Typhoon baru, termasuk 6 unit pada tahun ini.
Terkait masalah ini, baik Angkatan Udara Inggris dan Jerman juga telah menurunkan jam terbang yang direkomendasikan untuk Typhoon, yaitu dari 3.000 jam menjadi 1.500 jam per tahun dengan harapan meminimalisir overstres pada Typhoon.
Menurut seorang juru bicara Eurofighter, masalah ini sebenarnya telah teridentifikasi sejak awal tahun lalu. Yang mana ditemukan saat pengecekan dalam program untuk meningkatkan kualitas pada komponen utama produksi Typhoon. 
Produksi Typhoon dijalankan oleh Eurofighter Jagdflugzeug GmbH, sebuah perusahaan patungan yang berbasis di Jerman yang juga dimiliki oleh BAE Systems, Airbus, dan perusahaan Italia Alenia Aermacchi. Lebih dari 10.000 karyawan dari 400 perusahaan subkontrak di seluruh Eropa dilibatkan dalam setiap produksi Typhoon.
Alberto Gutierrez, CEO Eurofighter GmbH mengatakan pada 2 Oktober bahwa perusahaannya sadar dan aktif menangani masalah kualitas baru-baru ini yang ditemukan pada bagian belakang badan pesawat Typhoon.

"Kami ingin memperjelas masalah, bahwa tidak akan mempengaruhi keselamatan penerbangan, juga tidak berdampak pada armada Typhoon yang saat ini sedang menjalankan operasi," ujar Gutierrez.
Typhoon digambarkan oleh Angkatan Udara Inggris sebagai pesawat tempur multiperan yang sangat lincah. Sebagai produksi bersama, pesawat ini digunakan oleh beberapa negara Eropa yaitu Inggris, Jerman, Italia, dan Spanyol. Baik Jerman dan Inggris telah menempatkan pesanan awal masing-masing 250 unit, dan hingga kini keduanya telah memiliki lebih dari 100 Typhoon di angkatan udaranya. Kemudian Austria, Arab Saudi, dan Oman juga tertarik dan selanjutnya memesan pesawat ini.
Pihak BAE Systems mengatakan bahwa pihaknya akan terus mengirimkan pesawat sesuai dengan kontrak dan jadwal pengiriman yang ditentukan oleh Angkatan Udara Inggris dan Angkatan Udara Arab Saudi. Kementerian Pertahanan Inggris sendiri telah menyatakan bahwa mereka akan terus menerima pesawat dan mengatakan bahwa masalah cacat produksi tersebut tidak berdampak pada pengoperasian Typhoon. 

Menurut seorang juru bicara Eurofighter, pengiriman ke Typhoon ke Spanyol yang tertahan saat ini tidak terkait dengan masalah ini namun terkait masalah komersial. Dalam waktu dekat dialog akan dilakukan lagi untuk memungkinkan pengiriman kembali. Sedangkan pihak Italia, melalui juru bicara pengadaan Kementerian Pertahanan, menyatakan bahwa pesawat-pesawat mereka dalam kondisi yang aman. Pengurangan jam terbang hanya masalah biasa, dan pihak Eurofighter akan menyiapkan solusinya, menurut juru bicara tersebut.

Di lain tempat, di Austria, Peter Pilz, seorang anggota parlemen dari Partai Hijau (Green Party) telah meminta pemerintahnya membatalkan kontrak pembelian Typhoon, dilansir laman The Local. Ia sangat marah karena Austria mengetahui cacat produksi tersebut hanya dari pemberitaan pers, bukan dari perusahaan langsung. Padahal Austria saat ini sudah mengoperasikan 15 Typhoon.
http://www.artileri.org

PLA akan Beli 700 Pesawat Tempur Siluman

J-20
Angkatan Udara dan pasukan udara Angkatan Laut Tentara Pembebasan Rakyat China (PLA) berkeinginan untuk membeli 700 pesawat tempur siluman baru, menurut Edward Hunt, seorang konsultan pertahanan senior di IHS Aerospace, Defense & Security dalam sebuah artikel yang ditulisnya untuk mingguan pertahanan Jane yang berbasis di Inggris.

Amerika Serikat sendiri akan membeli 2.616 pesawat tempur generasi kelima siluman, termasuk F-22 Raptor dan F-35 JSF yang dirancang dan diproduksi oleh Lockheed Martin, menurut artikel tersebut. Negara-negara anggota NATO lainnya, seperti Inggris, Belanda, Denmark, Italia, Turki dan Kanada berencana untuk membeli total 600 pesawat tempur F-35. Sedangkan untuk wilayah Pasifik, Jepang dan Korea Selatan dan Australia akan membeli total 300 F-35.

Rusia, China dan India diperkirakan akan mendapatkan lebih dari 1.500 pesawat tempur generasi kelima siluman untuk melawan Amerika Serikat. Pesawat-pesawat tempur siluman ini ditujukan untuk menggantikan pesawat tempur tua generasi keempat dari ketiga negara tersebut, seperti Su-27, Su-30 dan MiG-29. Untuk mengatasi ancaman potensial F-35 dari pasukan AS dan sekutunya di Timur Jauh, China kemungkinan akan membeli hingga 300 unit pesawat tempur siluman J-20 dari Chengdu Aerospace Corporation dan 400 unit J-31 dari Shenyang Aircraft Corporation.

Dengan memiliki 700 pesawat tempur siluman, China diperkirakan akan mampu mengatasi pesawat tempur F-35 Jepang dan Korea Selatan dalam konflik terkait sengketa Laut China Timur. Sementara itu China mungkin juga akan berhadapan dengan F-35 Australia di Pasifik Selatan.

Pada tahun 2030 nanti, pesawat tempur siluman akan menjadi pesawat tempur standar  pasukan udara dunia. Pada saat itu, Jepang kemungkinan sudah memiliki armada Mitsubishi ATD-X untuk potensi pertempuran udara melawan China dalam sengketa Pulau Diaoyu atau Senkaku.



http://www.artileri.org

Sabtu, 31 Januari 2015

F-35A Pertama Australia Mulai Terbang ke Langit

F-35A pertama Australia

FORT WORTH, Texas - Pesawat tempur Lockheed Martin F-35A Lightning II Joint Strike Fighter pertama Australia memulai penerbangan perdananya pada 29 September 2014, dilaporkan laman Global Aviation Report. Ini sebagai tonggak bersejarah program F-35 Angkatan Udara Australia.
Kepala pilot tes F-35 Lockheed Martin, Alan Norman, menerbangkan pesawat tersebut dalam penerbangan sortie selama dua jam untuk memeriksa fungsi pesawat.
F-35 pertama Australia yang diberi kode sebagai AU-1 ini dijadwalkan akan dikirimkan ke Angkatan Udara Australia pada akhir tahun ini untuk ditugaskan di Pangkalan Angkatan Udara Luke di Arizona. Sebagaimana negara-negara mitra program F-35 lainnya, Australia juga akan menggunakan F-35A pertama ini sebagai pesawat pelatihan pilot.
F-35 Lightning II akan secara signifikan meningkatkan kemampuan tempur udara Angkatan Udara Australia, sekaligus memberikan manfaat besar bagi industri kedirgantaraan Australia. Yang mana diketahui, dalam program F-35 ini, industri kedirgantaraan Australia telah mendapatkan kontrak lebih dari USD 412 juta untuk menyuplai beberapa komponen F-35.
F-35 Lightning II dinilai sebagai pesawat tempur paling cerdas di planet ini, yang dirancang untuk menyerang musuh di udara dan di tanah tanpa terdeteksi oleh radar. Amerika Serikat dan sekutunya telah berinvestasi dan bekerjasama untuk mengembangkan pesawat tempur generasi kelima ini. Menurut AS, F-35 akan menjadi pesawat multiperan internasional sebagai landasan keamanan global di abad ke 21.
F-35A kedua Australia
F-35A kedua Australia saat acara peluncuran di fasilitas Lockheed Martin di Forth Worth, Texas, 24 Juli 2014. Pesawat kedua ini juga akan dikirimkan pada akhir tahun ini.
Seperti yang diketahui, Australia telah memesan 72 F-35A (varian konvensional) disamping rencana pesanan tambahan 28 unit lagi. Pesawat-pesawat siluman ini rencananya akan mulai dioperasikan secara penuh oleh Angkatan Udara Australia pada tahun 2020, menggantikan F/A-18 Super Hornet. 
Selain itu, pada Mei lalu, Perdana Menteri Tony Abbott juga menyatakan tengah mempertimbangkan pembelian F-35B yaitu varian lepas landas pendek dan mendarat vertikal. Jika jadi, F-35B yang harganya lebih mahal 20% dari F-35A ini akan dioperasikan oleh Angkatan Laut Australia pada kapal LHD Kelas Canberra yang akan bertugas pada 2016 nanti.
 http://www.artileri.org