Selasa, 21 April 2015

Begini Perjuangan para Penambang Akik Garut di Perbukitan di Bungbulang

Akik legendaris dari Garut ditambang dari perbukitan menjulang di Bungbulang, Garut Selatan. Di kemiringan 90 derajat mereka menggali lubang-lubang hingga kedalaman puluhan meter. Batu-batu indah seperti pancawarna hingga hijau Garut berharga jutaan rupiah ditemukan.




Batu itu berharga jutaan rupiah perkilogramnya. Tak mudah menambang batu itu. Menurut seorang praktisi akik Garut, Hilman Firmansyah, para penambang ini bahkan mesti berhari-hari menginap dan menggali.

Para penambang biasanya sudah ditunggu para tengkulak akik. Pancawarna dan hijau Garut super atau yang sudah kristal yang banyak dicari.

Lokasi tambang akik biasanya jauh dari jalan atau desa terdekat. Butuh berjam-jam untuk ke lokasi. Naik turun bukit juga mesti dilakoni hingga sampai di titik penambangan.

Para pencari akik ini biasanya bekerja pada pemilik lahan, atau ada juga yang menambang dengan sistem berbagi persen dari uang yang didapat dari penjualan.

Sumber :  http://news.detik.com

Ketika Batu Akik Menjadi Berkah Bagi Warga Bima, Tak Ada Lagi Tawuran

Fenomena batu akik di Indonesia menimbulkan banyak hal positif. Salah satunya adalah mengurangi tindakan negatif di masyarakat.


Di Kelurahan Dara, Kecamatan Asakota, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB), dampak positif dari maraknya batu akik sungguh terasa. Mereka yang biasanya tawuran dan berkelahi antar kampung, kini disibukkan dengan mencari dan mengasah batu akik.

"Sudah 2 bulan ini ndak ada lagi tawuran dan kelahi," kata Ketua RW 03, Kelurahan Dara, Zufrin di kediamannya, Kelurahan Dara, Bima, NTB, Kamis (9/4/2015).

Zufrin mengatakan, selama ini pemuda di Kampung Dara kerap berkelahi. Perkelahian biasanya dipicu oleh masalah sepele, seperti senggolan saat bertemu di jalan, dan keributan kecil. Namun setelah batu akik marak, mereka menghabiskan waktu luang untuk mencari batu akik.

"Sekarang mereka sibuk ke gunung cari batu. Mereka jual juga. Ya bagus jadi terarah ke hal positif," ujarnya.

Kabupaten Bima memang dipenuhi berbagai jenis batuan. Sebelum batu akik marak, mereka tidak mempedulikan keberadaan batu-batu itu. Di Bima, batu akik marak sejak sekitar 4 bulan yang lalu.

Saat ini batu yang tengah marak di Bima adalah batu akik naga sui. Batu jenis itu laris manis dan tinggi harganya.

"Kalau ada bongkahan 1 ton sekalipun, pasti laku semua," ujarnya.


Sumber :  http://news.detik.com

Senin, 20 April 2015

Video & Penjelasan Cara Mengetahui Batu Bacan Asli atau Palsu





Cara Mengetahui Batu Bacan Asli atau Palsu

Batu bacan saat ini menjadi salah satu jenis batu mulia favorit para kolektor. Awalnya, batu bacan dihasilkan di Pulau Kasiruta. Tetapi, batu ini lebih dikenal dengan sebutan batu bacan karena Pulau Bacan lah tempat batu ini diperdagangkan.

Karakteristik batu bacan sangat menarik. Sebab, serat batu yang banyak secara perlahan akan membuat batu bacan menjadi lebih bersih atau bening dan mengkristal dalam waktu yang cukup lama dengan sendirinya.

Bukan hanya itu, batu bacan pun mampu untuk menyerap senyawa lain di dekatnya. Misal, batu bacan dilekatkan dengan tali pengikat berbahan emas, maka lama kelamaan bahan emas tersebut akan diserap oleh batu bacan sehingga bagian dalam batu akan bintik-bintik emas.

Dengan keistimeswaan tersebut, batu bacan sangat digandrungi banyak orang dan saat ini harganya terbilang sangat mahal, yaitu ada yang mencapai sekitar ratusan juta rupiah. Untuk itu, jika ingin membeli batu bacan, Anda harus berhati-hati. Jangan sampai batu bacan yang dibeli itu palsu. Lantas bagaimana cara mengetahui batu bacan palsu atau tidak?

Dikutip dari situs resmi pariwisata Indonesia, Indonesia Travel pada hari Rabu (10/12/2014), cara paling mudah untuk melihat apakah batu bacan yang sudah memproses secara alami akan terlihat mengkilat dan keras ketika sudah diasah. Selain itu, usahakan juga hindari batu bacan "mati", yaitu batu bacan yang telah dibentuk menjadi mata kalung atau mata cincin. Sebab, jika sudah dibentuk dikhawatirkan proses alami pada batu tidak lagi berjalan.

Selain itu, beberapa cara lain untuk mengetahui batu bacan asli atau palsu adalah sebagai berikut:
1. Gesekkan pada kaca. Batu bacan asli dapat menggores kaca ketika digesekkan.

2. Bakar. Saat dibakar, permukaan batu bacan asli akan terlihat seperti minyak dan akan hilang ketika dibersihkan. Sedangkan batu bacan palsu akan meninggalkan bekas yang tidak bisa dihilangkan.

3. Ditimbang. Timbang dua batu bacan dengan ukuran yang sama. Batu bacan yang lebih ringan kemungkinan besar adalah batu bacan palsu.

4. Disenter. Saat disenter, batu bacan yang terkena cahaya akan terlihat serat-serat khas yang tidak mungkin ada pada batu bacan palsu.

5. Perhatikan perubahan batu. Batu bacan yang asli lama kelamaan akan berubah warna. Dari hitam, batu bacan akan berubah menjadi hijau dan seterusnya hingga menjadi batu yang berwarna bening.

Batu Bacan: Batu Mulia Istimewa dari Maluku Utara


Dari sekian banyak kekayaan alam yang dihadirkan di Maluku Utara, adalah bacan sebuah nama pulau, nama kerajaan, sekaligus juga nama batu mulia yang telah melambungkan namanya ke mancanegara. Untuk yang terakhir itu, bacan sebagai nama jenis batu mulia telah tersohor hingga ke luar negeri bukan hanya di masa sekarang melainkan sejak abad pertengahan dimana kawasan ini menjadi pusat rempah-rempah dunia.

Meski pamor batu bacan menguat beberapa tahun belakangan di kalangan peminat batu mulia namun sebenarnya orang di kawasan empat kerajaan Maluku (Terante, Tidore, Jailolo, dan Bacan) sudah mengetahui jauh sebelumnya. Nama pulau penghasil batu bacan sendiri adalah Pulau Kasiruta. Akan tetapi, penisbahan nama bacan diawali dari tempat pertama kali batu itu diperdagangkan, yaitu Pulau Bacan yang tidak seberapa jauh jaraknya dari Pulau Kasiruta.

 

Batu bacan merupakan 'batu hidup' karena kemampuannya berproses menjadi lebih indah secara alami ataupun cukup dengan mengenakannya setiap hari dalam bentuk cincin, kalung, ataupun kepala sabuk. Batu bacan dengan inklusi atau serat batu yang banyak secara perlahan akan berubah menjadi lebih bersih (bening) dan mengkristal dalam waktu bertahun-tahun.

Sebagai contoh, batu bacan warna hitam secara bertahap mampu berubah menjadi hijau. Tidak cukup berproses sampai di situ, berikutnya batu ini masih bisa berubah lagi dalam proses 'pembersihan' sehingga menjadi hijau bening seperti air. Untuk mempercepat proses tersebut  biasanya pemilik batu bacan akan terus-menerus memakainya hingga berubah warnanya.

Tidak hanya mampu 'hidup' berubah warna secara alami, batu bacan juga untuk beberapa jenis dapat menyerap senyawa lain dari bahan yang melekatinya. Seperti sebutir batu bacan hijau doko yang dilekatkan dengan tali pengikat berbahan emas mampu menyerap bahan emas tersebut sehingga bagian dalam batunya muncul bintik-bintik emas.
Kemampuan batu bacan yang berubah warna secara alami dan mencerap bahan melekatinya itulah yang membuat pecinta batu mulia di luar negeri dari China, Arab, dan Eropa tercengang dan kagum terhadapnya. Selain itu, batu bacan juga memiliki tingkat kekerasan batu 7,5 skala Mohs seperti batu jamrud dan melebihi batu giok. Dengan keistimewaan dan keunggulan batu bacan itulah banyak pecinta batu mulia dari luar negeri memburunya sejak tahun 1994. Di Indonesia sendiri batu ini baru popular belakangan sejak 2005 dimana sekarang harganya sangat mahal serta kurang logis bagi orang awam.
Batu bacan  
Penambangan batu bacan sendiri di Pulau Kasiruta tidaklah mudah karena perlu penggalian tanah hingga lebih dari 10 meter. Penambang batunya perlu mencari di tanah terdalam demi mencari urat-urat galur batu bacan. Meski lebih identik dengan warna hijau, batu bacan sebenarnya memiliki ragam warna lain seperti kuning tua, kuning muda, merah, putih bening, putih susu, coklat kemerahan, keunguan, coklat, bahkan juga beragam warna lainnya hingga 9 macam.
Batu bacan diketahui telah menjadi perhiasan hampir setiap warga sejak masa empat kesultanan (Ternate, Tidore, Jailolo, dan Bacan) di Maluku Utara, baik itu oleh pria maupun wanita. Bahkan, batu bacan terbaik menjadi penghias mahkota para sultan yang masih ada hingga saat ini seperti pada mahkota Kesultanan Ternate. Sering pula batu ini menjadi hadiah bagi tamu yang menyambangi pulau-pulau di Maluku. Tahun 1960 saat Presiden Soekarno berkunjung ke Pulau Bacan dihadiahi warga di sana berupa batu bacan. Presiden SBY juga sempat menghadiahi Presiden Amerika Serikat, yaitu Barrack Obama berupa cincin batu bacan saat berkunjung ke Indonesia.
Apabila Anda menyambangi Ternate, Tidore, Jailolo, atau pun Pulau Bacan maka pastikan mendapatkannya untuk sebuah cenderamata. Akan tetapi, perlu kecermatan memilih atau mintalah saran orang yang memahaminya terkait keasliannya. Hindari pula membeli batu bacan 'mati' yang dibentuk jadi mata kalung atau mata cincin dimana terkadang batu tersebut tidak akan proses lagi.
Batu bacan
Sebagai panduan singkat bahwa jenis batu bacan berkualitas yang umum dikenal dan beredar di pasaran ada dua, yaitu bacan doko dan bacan palamea. Bacan doko kebanyakan berwarna hijau tua sedangkan bacan Palamea berwarna hijau muda kebiruan. Nama palamea dan doko sendiri diambil dari nama desa di Pulau Kasiruta. Kedua desa tersebut memiliki deposit batu bacan cukup banyak selain di desa Imbu Imbu dan Desa Besori. Batu bacan sendiri merupakan jenis batu krisokola yang kebanyakan berwarna hijau kebiruan. Kekerasan awal batu ini berkisar antara 3-4 pada skala Mohs. Batu Bacan berkualitas adalah yang telah mengalami proses silisifikasi sehingga kekerasannya mencapai 7 pada skala Mohs. Batu bacan yang sudah memproses alami akan terlihat mengkilat dan keras ketika sudah diasah. (Him | www.indonesia.travel)

Kota-kota penghasil batu cincin di Indonesia

Akhir-akhir ini, popularitas batu akik alias batu cincin memang sedang melejit tinggi. Bahkan beberapa media elektronik dan internet pernah meliput batu akik yang harganya sampai milyaran rupiah. Buat yang masih awam dengan batu alam pasti tercengang ya. Tapi buat kolektor, mereka tak akan berpikir panjang untuk membeli kalau memang bentuk, tekstur dan pola warna yang terpancar ekslusif, unik, langka, dan spesial.

Biar tambah informasi, yuk ikuti liputan dari Pegipegi untuk menelusuri kota-kota penghasil batu cincin berwarna-warni tersebut

Tanjung Bintang, Lampung Selatan


foto: masgiri.com

Ada kabar yang mengatakan kalau batu akik bungur Tanjung Bintang merupaan batu mulia berkualitas nomer wahid di dunia. Kenyataan ini pun membuat banyak kolektor berburu hingga ke pedalaman. Warnanya yang menarik, yaitu ungu bening menjadikannya sebagai primadona. Batu yang kemudian familiar dengan sebuatan Kecubung Bungur ini pun harganya selangit, mulai dari Rp250.000 hingga 1 milyar.

Wonogiri, Jawa Tengah


foto: nogososro-sabukinten.blogspot.com

Fire opal atau disebut juga dengan batu akik barjad api merupakan produk batu mulia khas Wonogiri. Dengan dimasukannya dalam batu akik berkualitas, para penambang pun rela naik ke perbukitan untuk mencarinya. Ciri khas yang bisa ditemukan tentu saja kemampuannya memantulkan dan membiaskan cahaya berwarna merah yang terlihat seperti kobaran api. Unik sekali ‘kan?

Bireuen, Aceh




foto: batugiokaceh.com

Bicara batu akik tidak akan lepas dari Bireuen. Tempat ini sudah dikenal selama puluhan tahun sebagai penghasil batu akik dari Sumatra. Giok Aceh menjadi jenis batu mulia yang paling fenomenal karena terlihat begitu unik. Tidak heran kalau banyak pecinta batu giok yang rela melanglangbuana ke Negeri Serambi Mekkah untuk mendapatkannya secara langsung.

Purbalingga, Jawa Tengah



foto: lalaku.tk

Sejak diwajibkannya para pegawai memakai batu akik, geliat industri kecil seputaran batu mulia makin bergairah. Jenis yang paling banyak dijumpai di Purbalingga adalah batuan jenis Nogo Sui dengan bentuknya yang unik. Kini, semakin banyak masyarakat yang tertarik mengoleksi, memakai, dan menambang batu mulia ini sehingga industri kecil pun semakin berkembang.

Solok Selatan, Sumatra Barat


foto: jenisbatuakik.clairblog.com

Bahan mentah batu cincin yang paling populer di Solok Selatan berwarna hijau terang dengan motif totol lumut pada bagian dalam batuan. Batu ini juga dikenal dengan sebutan idocrase yang banyak ditemukan di Sungai Dareh. Gaungnya makin populer ketika tersiar kabar kalau Presiden Barack Obama juga memakainya. Tidak heran kalau banyak orang makin penasaran dan berburu kesana.

Pacitan, Jawa Timur




foto: batusakti.com

Sejak ditemukan batu kalsedon, Pacitan diserbu penambang yang tertarik mendapatkannya karena batu ini dikategorikan punya kualitas sangat baik. Dengan warna cukup beragam, mulai dari hijau, jingga, putih, abu-abu, biru keabu-abuan, coklat tua, coklat muda, kuning, biru, dan merah membuat kota Pacitan banyak dipadati pendatang dari luar kota yang ingin mengadu nasih mendapatkan batu mulia ini.

Kasiruta, Maluku Utara


foto: bukalapak.com

Siapa sih yang belum pernah mendengar batu bacan? Harganya bahkan membuat mata tercengang karena bisa sampai jutaan rupiah. Warnanya yang hijau, biru, dan kemerahan. Harganya pun sangat fantastis. Satu kilogram saja bisa dihargai puluhan hingga ratusan juta rupiah. Biarpun harganya cukup mahal, ini tidak menyurutkan kolektor untuk terus memburunya.

Garut, Jawa Barat

Jenis Pancawarna khas Garut juga menjadi buruan kolektor batu akik. Perpaduan 5 warna yang tersimpan dalam batuan, yaitu putih, biru, coklat, hijau, dan merah menjadikannya terlihat begitu istimewa. Tidak heran kalau banyak orang yang tertarik untuk memilikinya. Bahkan, konon batu ini banyak diincar oleh bangsawan di kerajaan jaman dulu untuk meningkatkan kharisma agar disegani masyarakat luas.

Well, saat masih dalam bentuk batuan, mungkin teksturnya tidak beraturan dan terihat biasa saja ya. Namun saat sudah dihaluskan, dipoles dan disematkan dalam sebuah cincin, keindahannya pun langsung terpancar. Bagaimana? Kalian tertarik juga untuk mengoleksi batu cantik ini?

Sumber :  http://www.pegipegi.com