Selasa, 12 Mei 2015

Batu Akik Motif Macan Asal Banyuwangi Ditawar Rp 30 Juta

KOMPAS.com/ IRA RACHMAWATI 
Batu asal Banyuwangi motif macan

Salah satu batu akik bermotif Leopard asal Kabupaten Banyuwangi ditawar puluhan juta rupiah. Hal tersebut diungkapkan oleh M Chotib (46), salah satu kolektor batu akik, saat ditemui Kompas.com, Rabu (4/3/2015).

"Ada yang ditawar sampai 30 juta. Semua batu ini saya temukan sendiri di wilayah Banyuwangi selatan. Selanjutnya, saya asah sendiri," kata Chotib yang mengaku mengoleksi batu akik sejak lajang.

Untuk mendapatkan batu dengan motif yang unik, dia keluar masuk hutan serta perbukitan dan juga menyusuri pinggiran pantai. Ia mengaku banyak menemukan batu-batu yang bermotif unik di Banyuwangi.

"Potensi batu akik di Banyuwangi cukup tinggi. Bukan hanya seperti motif Leopard atau macan seperti ini. Ada juga jenis Pyrite yang katanya hanya ada di dataran Afrika. Saya menemukannya di Banyuwangi," katanya dengan menunjukkan bongkahan-bongkahan batu miliknya.

Tidak semua batu yang ia temukan dibawa pulang. Biasanya, ia akan membawa sampel untuk diasah.

"Saya juga masih memikirkan kalau dibawa semuanya lalu orang lain juga mengambil secara besar-besaran, kasihan lingkungannya," katanya.

Ia juga sering mengirimkan beberapa jenis batu untuk dikirim ke luar pulau.

"Terakhir saya kirim batu jenis Chalcedony ke Kalimantan seberat 6 kilo," ungkapnya.

Sementara itu, Akbar Tanjung (28), Wakil Ketua Gamstone Banyuwangi, menjelaskan, Banyuwangi mempunyai semua jenis batu yang disukai oleh pasaran. Bahkan, menurut dia, yang membuat batu asal Banyuwangi lebih menarik ialah karena warna kontrasnya sangat terlihat.

"Ini contohnya, antara warna hijau dan coklatnya sangat kontras sehingga menimbulkan motif yang sangat bagus," kata Akbar sambil menunjukkan bongkahan-bongkahan batu di hadapannya.

Ia menjelaskan, saat diasah, akan ditemukan motif-motif unik dalam batu tersebut.

"Kalau punya saya ini, tulisan Allah dalam bahasa Arab dan ditawar 20 juta. Ada juga yang bergambar seperti perempuan berdoa," katanya sambil menunjukkan satu per satu koleksi milik komunitasnya.

Ia mengaku sebagai penggemar batu akik. Komunitas mempunyai fungsi untuk mengontrol harga batu serta sharing jenis jenis batu yang baru.

"Paling tidak, kami juga membantu mengenalkan Banyuwangi dengan potensi batunya," katanya.



Sumber :  http://regional.kompas.com

Akik Motif Naga Terbang Menyemburkan Api Ditawarkan Rp 1 Miliar

 
KOMPAS.com/Hendrik Yanto Halawa 
Seorang warga di Desa Fodo, Kecamatan Gunungsitoli Selatan, Kota Gunungsitoli, menawarkan batu akik bermotifkan naga yang sedang menyemburkan api dengan harga hingga Rp 1 miliar.

Seorang warga di Desa Fodo, Kecamatan Gunungsitoli Selatan, Kota Gunungsitoli, menawarkan batu akik bermotifkan naga yang sedang menyemburkan api dengan harga hingga Rp 1 miliar.

Desmon Zebua, pemilik batu tersebut, menjelaskan bahwa batu cincin bermotif naga itu didapat dari para pengumpul batu di Sungai Mida, Kecamatan Alasa, Kabupaten Nias Utara, saat dirinya sedang menelusuri sungai tersebut bersama rekannya.

Saat keluar dari sungai, Desmon mengaku mendapati sebongkah batu kecil berwarna acak bersama rekan-rekannya. Awalnya, Desmon mengaku tidak melihat ada motif naga pada batu tersebut.

Namun, setelah batu tersebut beberapa kali dipotong dan digosok, perlahan-lahan terlihat motif naga terbang sedang menyemburkan api penuh warna.

"Awalnya corak dalam batu itu hanya panca-warna. Hasil penghalusan, mulai muncul naga terbang sedang menyemburkan api. Mungkin ini batu fenomenal, terdapat warna merah, hitam, coklat, putih, perak, dan emas," ungkap Desmon, Kamis (12/3/2015).

Beberapa rekan yang melihat batu akik tersebut mulai melirik dan mencoba menanyakan harganya sambil bergurau. Sejumlah orang mulai menawar cincin itu.

"Mulai banyak yang melirik dan sudah menawar batu cincin bermotif naga terbang menyemburkan api ini senilai Rp 300 juta, tetapi belum saya lepas," kata Desmon di kediamannya.

Menurut Desmon, batu akik ini akan dilepasnya dengan harga Rp 1 miliar. Namun, dia membuka kemungkinan untuk negosiasi harga.

"Kan kita semua saudara, masa dimahal-mahalkan sih," ujarnya.

Sebelumnya, di Kota Gunungsitoli, Sumatera Utara, sudah muncul batu akik lawas sigori lafau. Batu tersebut dibanderol Rp 15 miliar oleh pemiliknya.



Sumber : http://regional.kompas.com

Senin, 04 Mei 2015

Video Selebritis Pecinta Batu Cincin

Akik Sisik Naga Berlafaz Allah Milik Danramil Ditawar Rp 150 Juta

KOMPAS. Com / Suddin Syamsuddin 
Danramil Malusetasi 1405-03 Malusetasi, Kecamatan Bacukiki, kapten Bahtiar, saat menunjukkan Batu Akik jenis Sisik Naga, Lafadz Allah


Demam batu akik, terutama batu akik bermotif, membius para pencinta akik di Kota Parepare, Sulawesi Selatan. Bahkan, pejabat pun terbius dengan pesona batu akik itu.

Nah, di Kota Parepare, Sulawesi Selatan, Kapten Bahtiar, Komandan Komando Rayon Militer (Danramil) Koramil Malusetasi 1405-03, memiliki batu cincin bermotif lafaz Allah berjenis "sisik naga" (septarian noudels) yang ia temukan di hulu sungai di Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan.

"Bongkahan batunya hanya batu sisik naga biasa, tetapi saat dipoles oleh seorang perajin di Makassar, ditemukan tulisan Al Quran, mirip lafaz Allah. Wah alangkah girangnya saya," kata Bahtiar, saat menunjukkan batu cincin itu di Kantor Koramil Malusetai 1405-03, Jumat (20/3/2015).

Batu akik milik Bahtiar pun sudah ditawar oleh sejumlah kolektor. "Sejumlah kolektor batu akik dari Parepare atau Makassar sudah menawari dengan harga Rp 50 juta hingga Rp 100 juta. Namun, saya hanya akan melepas batu cincin saya ini seharga Rp 150 juta, soalnya langka dan unik," ujar Bahtiar.

Menurut Bahtiar, batu sisik naga bermotif pemandangan, kura-kura, dan bahkan bergambar manusia sudah banyak, tetapi yang berlafazkan Allah sangat jarang. "Saya sudah keliling di pusat batu akik Kota Parepare, belum ada yang memiliki batu sisik naga berlafazkan Allah," kata Bahtiar.

Batu ini pada sisi kanannya terlihat lafaz Allah. Di bagian atas dan sisik kiri, terdapat urat merah dan hitam, seperti sisik naga jenis lainnya. "Jadi, jika dikenakan, batu cincin yang saya ikat pakai perak ini harus dikenakan di jari manis sebelah kanan, lebih berwibawa begitu," canda Bahtiar.




Sumber : http://regional.kompas.com

Batu Akik Motif Gambar Ramai Diburu Warga Semarang


Euforia batu akik juga melanda warga Kota Semarang, Jawa Tengah. Batu akik bermotif gambar alam menjadi incaran utama warga Kota Lumpia ini.

Warga Semarang pun memburu batu akik itu di Festival Batu Akik yang digelar di Pusat Perbelanjaan hingga 1 Maret 2015.

Sekretaris Panitia Komunitas Semarang Gems Lover yang juga panitia festival, Markaban (61), batu akik yang bergambar alam diburu pembeli Semarang. Mereka membeli itu karena motifnya yang baik serta harga yang relatif terjangkau.

“Yang laris di Kota Semarang itu ada batu gambar, kecubung, pirus. Ada juga batu akik dari Garut dan Batu Klawing dari Purbalingga itu juga laris,” kata pria yang kerap dipanggil pak Kaban itu, Rabu (25/2/2015).

Kecenderungan memilih batu akik itu lantaran batu akik bergambar mempunyai keunikan tersendiri. Batu akik bergambar umumnya berupa gambar alam, pemandangan, sosok orang hingga berbentuk angka.

Di beberapa stand penjualan batu mulai di festival itu, batu ukuran kecil dipatok dari harga Rp 50 ribu hingga Rp 300 ribu. Jenis batu, beda warna dan ukuran besar-kecil juga membuat harga bisa berubah. Batu-batu mulia bergambar itupun yang akhirnya dipilih untuk lomba batu akik.

Warga umum di Kota Semarang dipersilahkan untuk mengikutsertakan batu akik bergambar yang dipunyainya untuk dilombakan dalam festival ini. Hadiah untuk batu akik ini, yakni piala dari wali Kota Semarang serta piagam penghargaan.

“Yang dilombakan itu hanya batu gambar atau batu yang ada gambarnya. Bisa huruf, pemandangan, orang, atau yang lainnya. Nanti sebelum lomba, batu harus lewat laboratorium dulu, apakah batunya asli atau tidak,” seru dia.

Sementara, batu akik jenis bacan yang relatif dijual dengan harga puluhan hingga ratusan juta tidak ikut dilombakan. Hal tersebut mengingat batu itu tidak dianggap sebagai tren atau buruan utama warga Kota Semarang dalam festival ini.

“Batu bacan itu tidak dilombakan. Diasumsikan, karena batu itu tidak banyak penggemarnya di Semarang,” cetusnya.


Sumber :  http://regional.kompas.com