Jumat, 29 April 2011

7 rahasia di balik sebuah tangisan


1. tahukah anda bahwa menangis dapat membantu penglihatan kita.
2. tahukah anda bahwa setiap tetesan air mata itu dapat meningkatkan mood seseorang yang sedang depresi.
3. tahukah anda jika menangis itu dapat membunuh 90-95 persen bakteri di mata. jadi ga perlu pakai obat tetes.
4. tahukah anda jika menangis karena emosional itu bisa mengeluarkan racun yang ada di dalam tubuh.,
5. tahukah anda jika menngis itu dapat menurunkan hormon stees yang ada di dalam tubuh kita. karena hormon endorphin leuchin yang meyebabkan stress terbawa oleh air mata.
6. tahukah anda jika menangis itu bisa menurunkan penyakit tekanan darah tinggi.
7. tahukah anda jika menangis itu bisa melegakan perasaan kita yang sedang didera banyak masalah.

tapi ya terlalu banyak menangis juga menyebabkan mata merah dan bengkak.

Bubi Chen

Bubi Chen memang pantas kalau disebut “satu-satunya” di Indonesia, karena sebagai seorang pianis jazz, dalam rentang waktu sekian puluh tahun perjalanan musik jazz di Indonesia, Bubi belum ada tandingannya. Kiprah dan ketenaran nama Bubi memang sudah menggaung sampai luar negeri. Majalah musik “Down Beat” menempatkan Bubi sebagai 10 besar pianis jazz dunia. Sebuah predikat yang belum pernah diterima musisi jazz mana pun di Indonesia.


Pianis kelahiran Surabaya ini juga pernah mendapatkan penghargaan “Life Achivement Award” dari Gubernur Jawa Timur karena melalui prestasinya nama kota Surabaya menjadi dikenal di dunia internasional dan juga sebagai penghargaan untuk seniman dengan pengabdian sepanjang hidup. Penganugerahan penghargaan itu akan dilaksanakan berbarengan dengan konser WISMILAK THE LEGEND OF JAZZ , Sabtu, 13 Maret 2010 di Gramedia Expo, Surabaya yang akan menampilkan performanya bersama para musisi jazz generasi berikutnya.

Konser jazz tersebut akan dimeriahkan dengan hadirnya para musisi jazz kenamaan seperti Ermy Kullit (vokal), Ananda Mates (bas), Sandy Winarta (drum), Rio Sidik (trumpet), Yoyok (saksofon), Agam Hamzah (gitar) serta penampilan para musisi yang tergabung dalam Surabaya Jazzers. Mereka adalah para musisi Surabaya yang pernah bergabung dengan Bubi Chen di tahun 80 dan 90 an. Di antaranya Totok Afiat, Iwan, Tri, FX Boy dan Corina. Serta beberapa musisi muda lainnya dari Surabaya, yang merupakan murid-murid dari Bubi Chen. WISMILAK THE LEGEND OF JAZZ diselenggarakan oleh Surabaya Jazz Lovers (SJL) yang bekerja sama dengan Semarang Jazz Lovers (SJL). Ini adalah pentas jazz yang diharapkan dapat mempertemukan beberapa generasi musisi jazz di Indonesia hingga kini “Penganugerahan award bagi seorang Bubi Chen bukan yang kali pertama. Sebelumnya Bubi Chen pernah menerima penghargaan berupa Satya Lencana pengabdian seni dari Presiden Megawati Soekarno Putri (2004) dan penghargaan sebagai musisi jazz Living Legend dari Peter F. Gontha saat acara Java Jazz Festival (2005), ungkap Rita Noya, penggagas acara ini. Di usianya yang ke 72 (lahir di Surabaya, 9 Februari 1938), Bubi Chen tak pernah berhenti berkarya. Album Bubi Chen terbaru yang dirilis November 2009 lalu, adalah The Many Collors of Bubi Chen. Album ini dikerjakan bersama beberapa musisi jazz lintas generasi, diantaranya Oele Pattiselanno, Yance Manusama, Oty Jamalus, Arief Setyadi dan Sandy Winarta. Di album ini Bubi Chen memainkan lagu-lagu klasik rock tahun 87, 80-an, di antaranya “Soldier of Fortune” (Deep Purple), “Stairway to Heaven”(Led Zepellin),” Holiday” (Scorpion) atau “Dust In The Wind” (Kansas)


http://www.legendamusik.com/index.php?option=com_content&view=article&id=140:bubi-chen&catid=34:legenda-musik-indonesia-1&Itemid=53

Sekilas Musik Jazz Indonesia…

Adalah sebagai khittah dari “musik pinggiran”, semangat dan aktifitas bergairah terus dari pelaku dan penggemarnyalah yang membuat “musik pinggiran” terus bernafas, walau keringat terus meleleh. Begitupun adanya dengan jazz di tanah air kita. Ini cerita mengenai jazz pada awal pergerakannya di Nusantara….

Ketika jazz mulai dikenal di awal 1900an, jazz yang kental dengan unsur march, ragtime, dance-hall music di seputaran New Orleans, maka di tanah air jazz juga dikabarkan masuk di waktu yang sama. Pada tahun 1920, tercatat ada band di bawah pimpinan seorang musikus yang nasionalis, Wage Rudolf Supratman, Black & White. Band tersebut terbentuk dan bermain di kota Makasar.

Pada seputaran tahun tersebut, jazz di Indonesia pada jaman sebelum kemerdekaan memang dimainkan oleh musisi Indonesia juga Belanda. Pergerakan lain juga terjadi dalam skala kecil di beberapa kota besar di Jawa, semisal di Jakarta dengan terbentuknya Melody Makers yang ditokohi Jacob Sigarlaki. Waktu itu Jacob didukung musisi lain seperti Bootje Pesolima, Hein Turangan, Nico Sigarlaki hingga Tjok Sinsu.

Melody Makers berdiri di era 1930an, sementara di tahun 1940an Hein Turangan kemudian juga membentuk grup sendiri bernama Jolly Strings di Jakarta. Di era 40an tersebut sudah muncul pula seorang kritikus jazz bernama Harry Liem, yang aktif menulis di Jazz Wereld. Setelah selesainya Perang Dunia kedua, Harry Liem pindah ke Amerika dan tetap meneruskan karir penulisan jazznya di sana.


Catatan sejarah jazz di Indonesia lebih lengkap memang akhirnya lebih dideteksi selepas Indonesia merdeka. Setelah muncul nama-nama seperti Nick Mamahit, Bart Risakotta, Freddy Montong, Didi Pattirane, Said Kelana, Mus Mualim, Bubi Chen, Jopie Chen, Jim Espehana, Jack Lemmers (yang kemudian lebih dikenal sebagai Jack Lesmana) hingga kemudian juga Didi Tjia, Benny Mustapha, Benny Likumahuwa, Maryono, Bill “Amirsyah” Saragih, Lodi Item, Eddy Karamoy sampai Hasbullah, Kiboud Maulana dan Ireng Maulana.

Nick Mamahit di pertengahan 1950an sempat merilis album Sarinande, yang mana Nick pada piano didukung Bart Risakotta (drums) dan Jim Espehana (bass). Album tersebut dianggap sebagai tonggak rekaman musik jazz di tanah air.

Di tahun 1967, Indonesia All Stars sempat muncul mengagetkan di ajang Berlin Jazz Festival. Saat itu grup tersebut, yang konon berlatih susah payah dengan segala bentuk keterbatasan saat itu, terdiri dari Bubi Chen (piano), Jopie Chen (bass), Jack Lesmana (gitar), Benny Mustapha Van Diest (drums) dan Maryono (saxophone). Mereka menyodorkan “jazz Indonesia” seperti komposisi ‘Djanger Bali’ dan ‘Ku Lama Menanti’ (disingkat KLM, menjadi “ucapan penghargaan dan terima kasih” bagi dukungan perusahaan penerbangan Belanda, KLM untuk keberangkatan grup tersebut)

Dalam kesempatan itu, Bubi Chen mendapatkan respon sangat positif dari para penulis jazz internasional. Ia lantas disebut sebagai pianis jazz terbaik di Asia, selain digelari sebagai “Art Tatum of Asia”. Namun penampilan grup Indonesia All Stars juga mendapatkan sambutan sangat hangat dari penonton.

Perlu diketahui Art Tatum bisa disebut salah satu pianis jazz terbesar yang pernah ada. Pianis yang karena gangguan katarak sejak kecil, hingga nyaris buta kedua matanya, tercatat sempat menghasilkan sekitar 13 album solo. Ia dikenal luas lewat trionya bersama Tiny Grimes (guitar) dan Slam Stewart (bass) di tahun 1943. Tatum yang meninggal dunia di tahun 1956, pernah membuat Charlie Parker yang masih remaja mau menjadi tukang cuci piring di clubs dimana Tatum bermain, untuk bisa terus menyaksikan dan mendengar permainan Tatum.

Kemudian di tahun 1970 dalam kesempatan Expo’70 di Jepang, tampil pula kolaborasi pianis Mus Mualim dan violis Idris Sardi. Mereka mencengangkan pula penonton saat itu lewat sodoran konsep “jazz timur”nya pula, antara lain dengan memainkan ‘Es Lilin’.

Di sekitar saat Indonesia All Stars bermain di Berlin, sempat juga diedarkan album Djanger Bali yang dimainkan lewat kolaborasi Indonesia All Stars bersama pemusik jazz Amerika, Tony Scott. Ada beberapa repertoar yang mengandung unsur musik tradisi Nusantara dalam album tersebut, tapi mereka tidak memainkannya dengan menyertakan peralatan musik tradisi. Karena bebunyian musik tradisi diwakili oleh petikan gitar Jack Lesmana atau pola tiupan saxophone Maryono yang mengadaptasi pola glissando musik karawitan sunda.

Masih di seputaran dekade 60-an, jazz Indonesia juga meramaikan tempat-tempat hiburan malam seperti bar atau kafe. Dari lingkungan tersebut ikut muncul multi-instrumentalis, Bill Saragih, yang kemudian melakukan perjalanan ke beberapa negara di Asia hingga Amerika, setelah itu memilih menetap di Australia untuk belasan tahun lamanya. Bill antara lain dikenal lewat kelompok The Jazz Riders. Grup ini pada awalnya dibentuk oleh Didi Pattirane, namun setelah Didi Pattirane pindah ke New York, diteruskan oleh Didi Tjia dan tetap bersama Bill Saragih.

Memasuki dekade 70-an, kehidupan jazz Indonesia dilanjutkan dengan aktifitas di beberapa kota besar. Misalnya di Jakarta dengan Jack Lesmana didukung penuh sang istri, Nien Lesmana. Mereka aktif menggelar jazz di panggung, terutama di areal Taman Ismail Marzuki dan juga di layar kaca, TVRI. Tontonan rutin digelar, walau seringkali minim penonton, konon pernah terjadi satu acara jazz di TIM hanya disaksikan tiga orang penonton saja!

Pada tahun 1976, dalam acara bertajuk Jazz Masa Dulu dan Kini, 30-31 Mei 1976 muncullah musisi belia. Dia bermain piano masih di atas pangkuan Broery Marantika, dengan kaki belum dapat menyentuh pedal. Dialah musikus masa depan, Indra Lesmana. Di waktu itu pula, Jack Lesmana memperkenalkan kakak-beradik yang disebut musisi jazz sangat berbakat yang datang dari Surabaya, Oele dan Perry Pattiselanno.

Pementasan Jazz Masa Lalu dan Kini itu kemudian direkam dan dirilis ke publik. Merupakan rekaman live pertama di tanah air saat itu. Dalam rekaman tersebut, seperti juga dalam pementasannya, tampil para musisi papan atas seperti Bubi Chen, Benny Likumahuwa, Didi Tjia, Benny Mustapha, Abadi Soesman, Margie Segers, Rien Djamain, Broery Marantika. Termasuk pula Indra Lesmana dan kakak-beradik, Oele dan Perry Pattiselanno.

Di Bandung kegiatan jazz digalang antara lain oleh para penikmat jazz dan termasuk Hasbullah bersama Sonata 47. Hasbullah adalah ayah kandung musisi kakak-beradik, Elfa Secioria dan Hentriessa Yulmeda, yang pada waktu kemudian lantas menjadi motor pergerakan lanjutan di Bandung. Di Surabaya terdapat tokoh-tokoh seperti Bubi Chen dan Maryono.

Menyangkut rekaman, di tahun 70-an, Jack Lesmana juga kerap menghasilkan album rekaman jazz. Selain album solo, juga album dari beberapa penyanyi seperti Margie Segers, Rien Djamain, Broery Marantika. Dan saat itu terdapat label rekaman Hidayat, sebagai label indie yang aktif memproduksi rekaman-rekaman jazz. Hidayat kemudian ditemani label lain, Pramaqua.

Pramaqua antara lain merilis album Jopie Item Combo & Idris Sardi di tahun 1977, yang antara lain didukung pula musisi kawakan seperti Karim Suweilleh (drums), Abadi Soesman (drums) dan Wempy Tanasale (bass). Album ini mengetengahkan duet permainan biola Idris Sardi dan raungan gitar Jopie Item.

Jopie Item sejak pertengahan 1970an muncul sebagai generasi lanjutan jazz Indonesia yang lumayan aktif bermain di pentas clubs dan TVRI. Grupnya waktu itu yang terkenal adalah Jopie Item Combo antara lain dengan Karim Suweilleh, bassist funky pertama, Wempy Tanasale. Dengan kibordisnya Alex Faraknimella, kerap juga Jopie bermain dengan Rully Johan atau Abadi Soesman.

Sementara Abadi Soesman sendiri juga memiliki proyek jazz rocknya yang lain, dengan kelompok The Eternals, yang juga bermain di clubs. Abadi Soesman dikenal saat itu dengan penyanyinya, Mira Soesman.

Mulai juga berkelana di clubs ataupun bar dan kafe di era 80-an beberapa nama jazzer lain, seperti Ireng Maulana dan Kiboud Maulana. Kemudian lainnya adalah gitaris kawakan Victor Rompas, yang muncul di kafe-kafe milik pasangan artis Frans Tumbuan dan Rima Melati.

Di akhir 1970-an, tepatnya di 1978, berdirilah kafe yang lantas menjadi salah satu tempat trendy terpenting pergerakan jazz di era 80an, Green Pub, di gedung Djakarta Theatre di pusat kota Jakarta. Waktu itu yang tampil dalam grup yang memakai nama Gold Guys sebagai formasi perdana adalah Armand (kibor), Djoko Waluyo Haryono (gitar), Dicky Prawoto (bass), Karim Suweilleh (drums) dan Embong Rahardjo yang kerap digantikan Maryono (saxophone). Vokalisnya waktu itu adalah Jackie Bahasoean, vokalis jazz yang datang dari Surabaya.

Pada jaman 70-an tersebut, jazz Indonesia juga didukung oleh beberapa penulis yang adalah penggemar jazz setia seperti Soedibyo PR dari Bandung selain Tim Kantoso DM yang keduanya selain menulis juga membawakan acara jazz di radio. Ada pula mantan bassist Jim Espehana, yang lantas menjadi penulis dan kritikus jazz di Bandung,.Selain Indra Malaon SH, yang di tahun 1980an kemudian mendirikan Perhimpunan Jazz Indonesia. Indra Malaon kerap siaran jazz di radio bareng Tim Kantoso.

Perlu diingat pula, di akhir 70-an tersebut mulai terdeteksi pergerakan jazz di lingkungan kampus. Yang paling menonjol adalah Universitas Indonesia lewat para mahasiswa Fakultas Ekonominya. Pada waktu itu muncul Chandra Darusman dengan kelompok vokalnya bernama Chaseiro yang antara lain didukung teman-teman sekampusnya seperti kakak beradik Helmie dan Rizali Indrakesuma, Edi Hudioro, Norman Sonisontani atau Omen, selain anak fakultas kedokteran, Aswin Sastrowardoyo.

Kelompok ini di rekaman maupun di atas pentas kerap didukung musisi berbakat dari lingkungan SMA antara lain dari SMA di kawasan Bulungan, Jakarta Selatan. Yang kerap mendukung adalah adik kandung Edi Hudioro yaitu drummer Uce Haryono selain peniup klarinet, Rezky Ratulangi Ichwan.

Selain Chaseiro yang sejatinya pada rekamannya lebih ke bentuk pop dengan sedikit aroma jazz, muncul pula musisi muda lain Fariz Rustam Munaf. Fariz merilis album yang lumayan tebal unsur jazz rocknya yaitu Sakura di tahun 1978. Fariz adalah wakil figur muda dari lingkungan SMA selain Uce dan Rezky di atas, yang tampil ke permukaan meramaikan pergerakan jazz Indonesia. Walau pada waktu itu, Fariz lebih dipandang sebagai musisi dan penyanyi pop. Fariz disusul kelak oleh Addie MS juga Raidy Noor.

Di akhir periode 70-an tersebut, juga kian banyak penyanyi-penyanyi yang aktif di lingkungan kafe, menyanyikan lagu-lagu bertema jazz, jazz-pop seperti Hemi Pesolima, Henry Manuputty, Utha Likumahuwa, Ria Likumahuwa, Aska Daulika hingga Vicky Vendi.

Kelak pada periode berikutnya, di tahun 1980-an, nama-nama seperti Chandra Darusman, Chaseiro, Fariz RM hingga Jopie Item, Ireng Maulana, Utha Likumahuwa dan termasuk Elfa Secioria dan Indra Lesmana menjadi lebih besar dan menjadi motor utama penerus kehidupan jazz di tanah air.


http://suaranada.wordpress.com/2010/05/25/sekilas-musik-jazz-indonesia/

Jejak Langkah Jazz di Indonesia

Menelusuri sejarah jazz di Indonesia memang agak sulit. Sebab, selain terdapat banyak pendapat yang berbeda tentang siapa, kapan, dan di mana musik jenis ini muncul di Indonesia, pelaku-pelaku langsungnya sendiri yang bisa dijadikan sebagai narasumber juga sudah tidak ada. 

Menurut Sudibyo Pr, seorang pencinta jazz dan penulis buku tentang musik jazz, konon pemain musik jazz pribumi dari Indonesia pertama kali adalah orang Aceh. Ia juga mengatakan bahwa di negeri ini orang Indonesia yang pertama kali memainkan musik jazz adalah tentara. Para tentara itu biasanya dipanggil untuk menghibur pejabat-pejabat Belanda dan orang-orang Indonesia yang haknya disamakan oleh orang Belanda. Waktu itu, mereka bermain musik jazz di Societet. Padahal, tidak banyak orang Indonesia yang bisa memasuki gedung itu

Sementara itu, ada pula yang menyebut bahwa jazz masuk ke Indonesia pada waktu yang bersamaan dengan merebaknya jazz di New Orleans, Amerika, pada tahun 1900-an. Dan pada tahun 1920, tercatat ada band bernama Black & White di bawah pimpinan seorang musikus yang nasionalis, yakni Wage Rudolf Supratman. Band tersebut terbentuk dan bermain di Kota Makassar. Sedangkan di Jakarta, pada tahun 1930-an, juga ada sebuah grup bandberaliran jazz bernama Melody Makers yang dimotori oleh Jacob Sigarlaki. Waktu itu, Jacob didukung oleh musisi lain seperti Bootje Pesolima, Hein Turangan, Nico Sigarlaki, serta Tjok Sinsu.

Tapi ada juga yang mengatakan bahwa jazz pertama kali dimainkan di Indonesia pada tahun 1922. Sebab, di tahun tersebut, ada seorang pemain saksofon dari Belanda yang datang ke Indonesia dengan kawan-kawannya lalu membuat band. Waktu itu, band tersebut dianggap sebagai band jazz yang pertama di Indonesia. Hampir 80% personel band itu adalah orang Indo-Belanda, sedangkan yang pribumi sedikit sekali.

1940-an Hingga 1960-an

Lalu, di tahun 1940-an, Hein Turangan juga membentuk grup band jazz bernama Jolly Strings di Jakarta. Di era 1940-an itu, muncul pula seorang kritikus jazz bernama Harry Liem yang aktif menulis di koran Jazz Wereld. Tapi setelah selesai Perang Dunia II, Harry Liem pindah ke Amerika dan meneruskan karirnya sebagai penulis jazz di sana.

Pada pertengahan tahun 1950-an ada seorang pemain piano bernama Nick Mamahit yang merilis album “Sarinande”. Waktu itu Nick didukung oleh Bart Risakotta (drum) dan Jim Espehana (bass). Ada yang menyebut album “Sarinande” dianggap sebagai tonggak rekaman musik jazz di Tanah Air.

Di seputaran dekade 60-an, jazz Indonesia juga meramaikan tempat-tempat hiburan malam seperti bar atau kafe. Dari lingkungan tersebut, muncullah multi-instrumentalis, Bill Saragih, yang kemudian melakukan perjalanan ke beberapa negara di Asia hingga Amerika. Bill Saragih antara lain dikenal lewat kelompok The Jazz Riders. Grup ini pada awalnya dibentuk oleh Didi Pattirane. Tapi setelah Didi Pattirane pindah ke New York, grup ini diteruskan oleh Didi Tjia dan Bill Saragih.

Di tahun 1960-an pula terjadi pergolakan politik di dalam negeri dan hal itu sedikit banyak mempengaruhi perkembangan musik jazz di Indonesia. Pada tahun-tahun tersebut, jazz dimainkan secara sembunyi-sembunyi. Sebab, musisi jazz dan penggemarnya dihinggapi perasaan takut dituduh sebagai antek imperialis.

Meskipun tidak ada larangan secara tertulis (resmi), ancaman tuduhan tersebut membuat musisi dan penggemar jazz merasa ketar-ketir sehingga perkembangan musik jazz di era 1960-an bisa dibilang lambat. Tapi hak itu tidak berlangsung lama. Setelah melewati masa-masa susah, tepatnya pada tahun 1967-an, para musisi jazz mulai menapak lagi.

Gebrakan Indonesia All Stars

Di tahun 1967, grup jazz Indonesia All Stars membuat kaget para pencinta musik jazz dunia karena berhasil tampil di ajang “Berlin Jazz Festival”. Saat itu, Indonesia All Stars, yang konon berlatih susah payah dengan segala keterbatasan, terdiri dari Bubi Chen (piano), Jopie Chen (bass), Jack Lesmana (gitar), Benny Mustapha Van Diest (drum), dan Maryono (saksofon). Lagu-lagu yang mereka suguhkan sangat unik sehingga saat itu disebut sebagai “jazz ala Indonesia”. Mereka juga mampu mengaransemen lagu Djanger Bali dan Ku Lama Menantimenjadi “ucapan penghargaan dan terima kasih” atas dukungan perusahaan penerbangan Belanda, Koninklijke Luchtvaart Maatschappij (KLM), yang telah memfasilitasi keberangkatan Indonesia All Star.

Di ajang “Berlin Jazz Festival” tersebut, Bubi Chen mendapatkan respons sangat positif dari para penulis jazz internasional. Ia lantas disebut sebagai pianis jazz terbaik di Asia dan mendapat gelar sebagai “Art Tatum of Asia”. Art Tatum bisa disebut sebagai salah satu pianis jazz terbesar yang pernah ada yang telah meninggal dunia di tahun 1956.

Di kancah perjalanan musik Jazz tanah air, nama Margie Segers juga patut diperhitungkan. Dia seakan menjadi icon penyanyi jazz yang mewarnai industri musik Indonesia di era awal 70-an. Kepiawaiannya dalam membawakan lagu jazz patut dibanggakan, bahkan legenda musisi jazz Indonesia, Jack Lesmana, memuji suara Mergie yang bening dan berkarakter. Tak salah bila pada album “Siapa Bilang Sayang”, Jack Lesmana menggandeng Margie untuk melantunkan sejumlah tembang hasil karya beberapa musisi jazz Tanah Air, antara lain A. Ryanto, Charles Mercys, Bing Slamet, Narto Sabdo, dan Jack Lesmana sendiri.

Memasuki dekade 70-an, kehidupan jazz Indonesia makin marak dan tampak mulai terpusat di beberapa kota besar. Di Jakarta, Jack Lesmana yang didukung penuh oleh sang istri, Nien Lesmana, menggelar jazz di panggung-panggung, terutama di areal Taman Ismail Marzuki, serta di layar kaca TVRI.

Dari Indra Lesmana Hingga Chandra Darusman

Pada 30-31 Mei 1976, dalam acara bertajuk “Jazz Masa Dulu dan Kini”, muncullah musisi belia dan musikus masa depan: Indra Lesmana, putra Jack Lesmana. Waktu itu, Indra Lesmana bermain piano di atas pangkuan Broery Marantika karena kakinya belum bisa menyentuh pedal piano. Pementasan “Jazz Masa Lalu dan Kini” tersebut kemudian direkam dan dirilis ke publik lalu dianggap sebagai rekaman live pertama di Tanah Air saat itu. Dalam rekaman tersebut, seperti juga dalam pementasannya, tampil para musisi papan atas seperti Bubi Chen, Benny Likumahuwa, Didi Tjia, Benny Mustapha, Abadi Soesman, Margie Segers, Rien Djamain, Broery Marantika. Termasuk pula Indra Lesmana dan kakak-beradik, Oele dan Perry Pattiselanno.

Menyangkut rekaman, di tahun 70-an, Jack Lesmana juga kerap menghasilkan album rekaman jazz. Selain album solo, ia juga melahirkan album dari beberapa penyanyi seperti Margie Segers, Rien Djamain, Broery Marantika. Dan saat itu terdapat label rekaman Hidayat, sebagai label indie yang aktif memproduksi rekaman-rekaman jazz. Hidayat kemudian ditemani label lain bernama Pramaqua.

Pada tahun 1977, Pramaqua merilis album Jopie Item Combo & Idris Sardi, yang antara lain didukung pula oleh musisi kawakan seperti Karim Suweilleh (drums), Abadi Soesman (drum) dan Wempy Tanasale (bass). Album ini mengetengahkan duet permainan biola Idris Sardi dan raungan gitar Jopie Item.
Jopie Item sejak pertengahan 1970-an muncul sebagai generasi lanjutan jazz Indonesia yang lumayan aktif bermain di pentas clubs dan TVRI. Grupnya waktu itu yang terkenal adalah Jopie Item Combo. Jopie juga bermain dengan Rully Johan atau Abadi Soesman. Sementara Abadi Soesman sendiri juga memiliki proyek jazz rock-nya yang lain dengan kelompok The Eternals, yang juga bermain di clubs.

Di akhir 1970-an, tepatnya di 1978, berdirilah kafe bernama Green Pub di gedung Djakarta Theatre di pusat Kota Jakarta, yang lantas menjadi salah satu tempat trendy terpenting bagi pergerakan jazz di era 80-an. Waktu itu, yang tampil dalam grup yang memakai nama Gold Guys sebagai formasi perdana adalah Armand (keyboard), Djoko Waluyo Haryono (gitar), Dicky Prawoto (bass), Karim Suweilleh (drum), dan Embong Rahardjo yang kerap digantikan oleh Maryono (saksofon). Vokalisnya waktu itu adalah Jackie Bahasoean, vokalis jazz yang datang dari Surabaya.

Perlu diingat pula, di akhir 70-an tersebut mulai terdeteksi pergerakan jazz di lingkungan kampus. Yang paling menonjol adalah Universitas Indonesia lewat para mahasiswa Fakultas Ekonominya. Pada waktu itu muncul Chandra Darusman dengan kelompok vokalnya bernama Chaseiro yang antara lain didukung teman-teman sekampusnya seperti kakak beradik Helmie dan Rizali Indrakesuma, Edi Hudioro, Norman Sonisontani, atau Omen.

Fariz RM, Peter F. Gontha, dan Balawan

Di akhir 1970-an juga muncul musisi muda lain Fariz Rustam Munaf. Fariz merilis album yang unsur jazz rock-nya lumayan tebal yaitu “Sakura” di tahun 1978. Fariz adalah wakil figur muda dari lingkungan SMA yang tampil ke permukaan meramaikan pergerakan jazz Indonesia, walaupun waktu itu ia lebih dipandang sebagai musisi dan penyanyi pop. 

Perjalanan panjang jazz juga tak akan lengkap tanpa kehadiran klub-klub jazz yang sempat bertaburan di kota-kota besar seperti Jakarta dan Surabaya. Klub tersebut antara lain adalah Jamz milik pengusaha penggila jazz yakni Peter F. Gontha. Kiprah Peter F. Gontha tidak bisa dilepaskan dari sejarah kemajuan jazz di Tanah Air. Lewat koneksinya yang luas, ia mampu meyakinkan para musisi jazz kelas satu dunia untuk menggelar pertunjukan di Indonesia. Berkat jasanya pula, para musisi jazz Indonesia bisa bermain dievent-event jazz internasional.

Di era tahun 1980-an selain pergelaran jazz lokal macam “Jazz Goes To Campus” yang sekarang sudah menjadi agenda rutin setiap tahun dan digelar di kampus UI, pada tahun 1988 juga terselenggara sebuah event jazz yang terbesar yang pernah digelar oleh anak negeri, yakni Jakarta International Jazz Festival atau yang lebih dikenal dengan nama Jak Jazz, atas gagasan Ireng Maulana.

Perhelatan jazz akbar ini sungguh membanggakan karena diikuti oleh musisi jazz dunia, baik dari Amerika, Eropa, dan Asia. Tentu saja ratusan musisi jazz kita ikut bergumul sambil berkolaborasi satu panggung dengan musisi-musisi luar negeri. Musisi-musisi dari luar yang memeriahkan Jak Jazz pertama itu adalah Phil Perry, Lee Ritenour, Larry Corvell, Kazumi Watanabe, Frederick Noran Band, Igor Brill Ensemble.

Di era tahun 2000-an jazz di Indonesia makin berkembang dengan sangat pesat, lihat saja grup-grup baru yang mengusung format musik jazz yang juga sukses secara komersial seperti Bali Lounge, Maliq & D’Essentials, Park Drive, Rieka Roeslan, dan Sova. Dan yang tak boleh dilupakan adalah munculnya Balawan, gitaris asal Bali yang permainannya selalu mendapat pujian, baik dari dalam negeri maupun luar negeri.


Bonny Dwifriansyah
*dari berbagai sumber


Foto: indonesiajazzreview.blogspot.com

Jejak Emas Majalah Musik Aktuil


Legenda itu bernama Aktuil, sebuah majalah musik yang terbit di Bandung, Jawa Barat, mulai Juni 1967.BANDUNG-Legenda itu bernama Aktuil, sebuah majalah musik yang terbit di Bandung, Jawa Barat, mulai Juni 1967. Majalah yang dimotori almarhum Denny Sabri, Toto Rahardjo, dan kawan-kawan itu sempat menjadi candu kaum muda di jamannya.

Beroplah awal hanya 10 ribu eksemplar, di puncak keemasannya bisa melambung hingga lebih dari 150 ribu eksemplar. Kini, keberadaan majalah yang digarap di Jl. Lengkong Kecil, Bandung itu memang sudah masuk kubur. Meski begitu, keberhasilannya sebagai trend setter penggemar musik tetap aktual dibicarakan.

Adalah Erfan Agus Setiawan, 30 tahun, mahasiswa Fakultas Film dan Televisi, Institut Kesenian Jakarta, yang tertarik untuk membuat film dokumenter perjalanan Aktuil untuk tugas akhir. Untuk mewujudkan keinginannya, mahasiswa angkatan 2001 ini menghabiskan waktu hampir 2 tahun untuk melakukan riset. Setelah semua terkumpul, pengambilan gambar dilakukan. Waktu yang dibutuhkan terhitung singkat: hanya 10 hari. Setelah diedit sana-sini, tersajilah film berdurasi 43 menit bertajuk Untuk Kaum Muda. Ia memilih perjalanan Aktuil, "Karena hal itu bisa menyalurkan dua hobi saya, yakni musik dan film," katanya.

Karya Erfan itulah yang diputar dalam perhelatan sederhana di "Tobucil," di kawasan Jl. Kyai Gede Utama, Bandung, Senin (17/5) malam. Selain pemutaran film, juga digelar diskusi dengan sejumlah sumber yang pernah menangani Aktuil. Ada Remy Sylado, Toto Rahardjo, Yanto 'Diablo', Odang Danaatmadja, dan sebagainya. Buka-bukaan kecap dapur dibalur romantisme dari para pembicara membuat acara yang dihadiri sekitar 80-an anak muda itu berlangsung gayeng.

"Kalau lu punya jiwa muda, tapi lu tidak baca Aktuil, itu kayaknya ketinggalan jaman. Ya, anak muda memang harus baca ini (Aktuil-Red.)," ujar Andi Julias, salah satu pecandu Aktuil dalam pengakuannya kepada Erfan. Puja-puji juga dilontarkan Ilham Alfan, pecandu yang lain. "Aktuil diakui menjadi trend setter anak muda. Kita menunggu-nunggu bila majalah itu diterbitkan, bahkan kita sempat mengoleksi," kata lelaki bercambang lebat, yang usianya hampir berkepala lima itu, serius.

Ada banyak faktor yang membuat majalah bermotto "Untuk Kaum Muda & Mereka jang Berhati Muda" itu disukai. Maklum, selain mendapat suguhan liputan musik, pembaca juga disodori "statemen" fashion lewat penampilan para penyanyi di dalamnya. Tak heran, model rambut, baju, celana, dan sebagainya yang muncul di Aktuil langsung diaktualisasikan oleh pembacanya. Di luar itu, hadirnya puisi-puisi mbeling dan cerita bersambung Orexas, alias Organisasi Sex Bebas tulisan Remy Silado semakin memperkuat jalinan Aktuil dengan pembacanya. Begitu eratnya hubungan itu, sampai-sampai fans club Aktuil bermunculan.

Mengusung Deep Purple
Terus meroketnya oplah Aktuil tentu sangat membahagiakan pengelolanya. Maklum, seperti diakui Toto, pendiri, pemodal --yang juga pemimpin umum/pemimpin redaksi, usaha penerbitan tersebut pada awalnya dilakukan dengan amatiran, praktis tak ada modal. Ayahnya punya percetakan, dan kalau butuh kertas bisa ngutang.

Keberuntungan tak hanya sampai di situ. Sebab, menurut Toto, sebenarnya Aktuil dibuat tanpa kesengajaan. Waktu itu, ada majalah Discorina di Yogyakarta yang isinya cuma lagu-lagu saja. Dari situlah, bersama Denny Sabri, kemudian terpikir untuk membuat majalah yang lebih khas mengarah kaum muda. Nama Aktuil muncul, dan disetujui. Tak disangka-sangka, setelah terbit, majalah itu laku keras. Catatan penting juga ditorehkan, yakni keberhasilan Aktuil bersama Buena Ventura menghadirkan grup musik kenamaan Deep Purple ke Jakarta, pada 4-5 Desember 1975.

Dalam perkembangannya, meski berhasil memikat hati penonton, konser itu sempat memunculkan rumor sebagai awal suramnya Aktuil. Maklum, saat itu, pementasan musik belum ada sponsor seperti sekarang. Tapi, sinyalemen itu dibantah Toto dan Yanto. Jika Toto menyebut konser itu masih menghasilkan untung, Yanto menilai redupnya Aktuil karena mereka tak punya tim riset dan pengembangan. Akibatnya, kemungkinan adanya pergantian trend di kalangan muda tak terpantau. "Jadi, bukan karena show Deep Purple," katanya.

Kesuraman Aktuil makin menjadi dengan hengkangnya Denny Sabri dan Remy Sylado. Bahkan, Remy sudah cabut pada awal 1975, sementara Denny diam-diam sudah ingin mundur menjelang Deep Purple datang ke Jakarta. Alasan yang muncul adalah manajemen tak begitu terbuka. Bisa jadi, hal itu disebabkan karena penerbit majalah tersebut adalah perusahaan keluarga. Dalam kondisi oplah yang tak menggembirakan, Aktuil boyongan ke Jakarta pada 1979. Menurut Remy, oplah terakhir diperkirakan hanya tinggal tiga ribuan.

Soal masa emas dan redupnya Aktuil, Odang punya kesan tersendiri. "Itu sejarah, tak bisa balik lagi," katanya. Setelah itu, dalam dokumentasi Erfan, Odang terlihat mengelap kedua matanya berulangkali dengan saputangan biru. Mata lelaki yang kini tinggal di kawasan Jl. Pasir Koja, Bandung itu sembab.

"Astaghfirullah," ujarnya, lirih.

Belakangan, ada sejumlah pihak yang ingin menbangkitkan kembali Aktuil dari kubur. Ada juga kalangan yang menerbitkan majalah musik ala Aktuil.

Mungkin, mereka terbayang pundi-pundi keuntungan yang bakal muncul dari oplahnya yang lebih dari 100 ribu eksemplar itu. Tapi, usaha-usaha tersebut tak berhasil. Jaman memang sudah berubah. Masuk akal jika Remy memilih untuk tak membangga-banggakan masa silam, termasuk saat dirinya berperan di Aktuil. "Saya tak mau terlibat untuk memuji-muji diri," katanya. dwi wiyana
http://mellowtone.multiply.com