Senin, 08 September 2014

Australia akan Bangun Lebih Dari 20 Kapal Patroli untuk Negara-Negara di Kawasannya

Kapal patroli Kelas Armidale Australia

Sementara Amerika Serikat memutar haluan ke Asia Timur untuk fokus pada China, Jepang dan duo Korea, Australia mengalihkan perhatiannya ke Pasifik. Bersama negara-negara di kawasannya, Australia fokus ingin menciptakan stabilitas dan keamanan maritim di kawasannya. Sebuah proyek pengadaaan kapal patroli baru pun digulirkan.
Australia merencanakan proyek pengadaan kapal patrol baru yang akan ditawarkan ke negara-negara regional sebagai bagian dari upaya kerjasama keamanan maritim. Proyek yang disebut sebagai "Pacific Patrol Boat Program" ini merupakan proyek tindak lanjut dari pengadaan serupa pada era 1980-1990-an. Hal ini disampaikan oleh Menteri Luar Negeri Julie Bishop dan Menteri Pertahanan David Johnston pada 17 Juni lalu.

"Pacific Patrol Boat Program merupakan pilar penting dari komitmen Australia untuk bekerjasama dengan mitra regional dalam mengaktifkan kerjasama keamanan kohesif pada pengawasan maritim, termasuk perlindungan perikanan dan kejahatan trans-nasional," kata Bishop dilansir Space War.

"(Departemen) Pertahanan akan mengganti armada kapal patroli semua anggota PBB (di kawasan) saat ini, plus satu tambahan anggota baru, Timor Leste (Timor Timur), yang telah diundang untuk turut serta dalam program, sebagai bukti kerjasama pertahanan Australia yang terus meningkat dengan negara itu," kata Johnston dalam sebuah pernyataan.

Australia memulai program Pacific Patrol Boat Program berdasarkan konvensi PBB tahun 1982 yang menetapkan 200 mil laut (ZEE) Zona Ekonomi Eksklusif untuk negara-negara dengan garis pantai laut. Pada tahun 1985-1997 Australia melalui Australian Shipbuilding Industries (ASI) membangun 22 kapal patroli Kelas Pasifik untuk disumbangkan ke negara-negara di Pasifik Selatan. Negara-negara yang menerima adalah Papua Nugini (4), Tonga (3), Federasi Mikronesia (3), Fiji (3), Kepulauan Solomon (2), Tuvalu (1), Kiribati (1), Samoa (1), Palau (1), Vanuatu (1), Republik Kepulauan Marshall (1), dan Kepulauan Cook (1).

Kapal patroli Kelas Pasifik memiliki panjang 31,5 m, lebar 8,1 m, draft 1,8 m, dan displacement penuh 162 ton. Dilengkapi dua mesin diesel Caterpillar 3516TA, yang memberikan daya 2.820 hp dengan dua poros baling-baling. Kecepatan maksimumnya 20 knot (37 km/jam) dan memiliki jangkauan maksimum 2.500 mil laut (4.600 km) pada kecepatan 12 knot (22 km/jam), dan mampu bertahan selama 10 hari di laut. Persenjataan yang diusungnya bervariasi tergantung operasi masing-masing negara; bisa menggunakan senjata GAM-BO1 20mm, senapan mesin 7,62 mm atau 12,7 mm dan tidak terpasang secara permanen. Untuk sistem pencarian, kapal ini menggunakan radar pencarian permukaan Furuno 1011 yang beroperasi di I band.

Tujuan Australia melalui program pengadaan kapal patroli baru ini adalah untuk menggantikan 22 kapal tersebut yang sudah memasuki masa pensiun. Disebutkan 20 lebih kapal pengganti akan dibuat namun jumlah dan alokasi dana yang tepat masih akan dibahas dengan negara-negara anggota, dan kapal itu sendiri akan dibangun di bawah tender yang kompetitif. Mengingat program saat ini terdiri dari 22 kapal, maka perhitungan akhir (ditambah Timor Leste) bisa mencapai hingga 25 kapal patroli. Perkiraan biaya pembangunan adalah USD 600 juta dan ditambah biaya pengoperasiannya selama 30 tahun sekitar USD 1,46 miliar.
Para menteri Australia mengatakan akan segera mengeluarkan tender untuk pengadaan kapal-kapal baru tersebut. Pelatihan dan pemeliharaan juga termasuk sebagai ketentuan kontrak yang akan dikeluarkan. Tidak disebutkan jenis kapal patroli apa yang akan dibangun Australia namun analis memperkirakan kapal patroli yang akan dibangun akan mirip dengan kapal patroli Kelas Armidale Angkatan Laut Australia atau Kelas Protector Angkatan Laut Selandia Baru.

Gambar: Saberwyn 
http://www.artileri.org

Australia, Impor dan Produksi Senjata, dan Asia

HMAS Rankin (Kelas Collins)
Asia kini memimpin dunia dalam urusan pertumbuhan belanja militer, total 47 persen dari seluruh perdagangan senjata dunia berasal dari Asia dan Oseania. Sementara belanja militer negara-negara di sekitar Laut China Selatan seperti India dan Pakistan sering menjadi headline di berbagai media, Australia juga meningkatkan belanja militernya.

Angka-angka baru dari Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI) menunjukkan bahwa impor alutsista Australia sejak 2009 hingga 2013 telah meningkat sebesar 83 persen. Australia pun kini menjadi negera importir senjata terbesar ketujuh di dunia, meskipun dari segi anggaran pertahanan Australia masih menempati posisi 12 dunia (data SIPRI 2013).

Meskipun banyak terjadi pemotongan anggaran di beberapa departemen, Perdana Menteri Tony Abbott masih sanggup mengalokasikan 6% peningkatan anggaran militer sebesar USD 1,4 miliar. Abbott juga mengumumkan rencana Australia yang akan membeli tambahan 58 unit pesawat tempur siluman F-35 buatan Lockheed Martin.

Sebagian besar impor senjata Australia berasal dari Amerika Serikat, dan Australia kini menjadi pengimpor terbesar senjata buatan Amerika Serikat dengan persentase sebesar 10 persen dari seluruh ekspor senjata Amerika Serikat. Selain membeli F-35, dari Amerika Serikat Australia juga memesan delapan pesawat pengintai Poseidon, dua kapal serbu amfibi, dan tujuh drone surveilans Triton.
Sementara menambah anggaran impor senjata, Australia juga berupaya meningkatkan produksi senjatanya dalam negeri. Saat ini, sekitar USD 40 miliar akan Australia habiskan untuk pembangunan tiga kapal air warfare destroyers (AWD), serta untuk produksi 12 kapal selam diesel listrik. Proyek pembangunan kapal selam tersebut dijadwalkan akan rampung pada 2030, dan pengembangannya berdasarkan kapal selam Kelas Collins yang saat ini digunakan Angkatan Laut Australia (RAN).

Dalam urusan ekspor senjata, Australia baru menandatangani kesepakatan penjualan 4 unit kendaraan Bushmaster buatannya ke Jepang. Bushmaster digunakan secara massif oleh militer Australia di Irak dan Afghanistan, lebih dari 1000 unit telah diproduksi dan dijual. Belanda dan Jamaika menjadi satu-satunya negara lain yang membeli kendaraan ini.

Secara historis, Australia sejak dulu dan kini juga sudah memproduksi sebagian besar senjata kecil untuk militernya, terutama Lithgow Arms, yang diprivatisasi pada tahun 2006.
Pada akhirnya, meskipun Australia memiliki kapasitas dalam membangun alutsista, dan pemerintah mereka terus menggenjot pembangunan alutsista dalam negeri, namun hal ini tidak serta merta menjadikannya sebagai produsen utama persenjataan untuk kawasan.
http://www.artileri.org

Hingga Akhir 2014, AL Rusia Akan Terima 50 Lebih Kapal Baru

Novorossiysk, kapal selam dari Project 636
Sebelum akhir tahun ini, Angkatan Laut Rusia akan menerima lebih dari 50 kapal baru, Komandan Angkatan Laut Rusia Laksamana Viktor Chirkov mengatakan pada hari Sabtu.

Salah satunya adalah dari Project 636, yaitu proyek kapal selam diesel listrik yang akan diluncurkan minggu depan. "Pada tanggal 26 juni, kapal selam diesel listrik Rostov-on-Don akan diluncurkan di Dermaga Admiralty untuk Armada Laut Hitam," kata Chirkov. Chirkov menambahkan bahwa semua armada Angkatan Laut Rusia total akan menerima enam kapal selam dari Project 636. Angkatan Laut Rusia juga akan menerima paket pelatihan awak kapal selam di masa mendatang.

Pada tanggal 27 Juni, pasukan penyapu ranjau juga akan menerima kapal penyapu ranjau baru dari Project 12700, kapal yang dikembangkan oleh biro desain Almaz.

"Tiga kapal tersebut segera akan dibangun untuk angkatan laut," kata Chirkov. Angkatan Laut Rusia juga akan menerima empat kapal patroli Raptor. Secara keseluruhan, Angkatan Laut Rusia akan menerima lebih dari 50 kapal perang dan logistik sebelum akhir 2014, ujar Chirkov. Juga termasuk 10 kapal damage control training sets "Kaspiy". (Voice of Russia)

Gambar: RIA Novosti/Igor Russak
 http://www.artileri.org

Senin, 01 September 2014

Jepang Pelajari Sistem Pertahanan Rudal Baru

Peluncuran THAAD
Kementerian Pertahanan Jepang akan melakukan penelitian skala penuh pada sistem pertahanan rudal baru yang nantinya akan melengkapi Jepang untuk mencegat rudal balistik Korea Utara, kata para pejabat Jepang dilansir Japan Times.

Kementerian Pertahanan Jepang sudah mulai berkonsultasi dengan Amerika Serikat untuk perkenalannya dengan sistem pertahanan rudal THAAD (Terminal High Altitude Area Defense) dan versi darat dari interseptor Standard Missile-3 (SM-3) yang dipasang pada kapal perang dengan sistem tempur Aegis, menurut para pejabat.

Saat ini, Pasukan Bela Diri Jepang menggunakan sistem perisai udara dua tahap dalam mencegat rudal balistik. Pada tahap pertama, kapal perang Aegis Jepang (Kelas Atago dan Kelas Kongō) meluncurkan rudal SM-3 untuk menghancurkan rudal atau puing-puing di luar angkasa yang diyakini ditujukan kepada Jepang. Jika itu gagal, sistem rudal Patriot Advance Capability-3 yang berada di darat akan meluncurkan rudal untuk mengintersepnya.

Penelitian oleh Kementerian Pertahanan Jepang saat ini terfokus pada tahapan pencegatan rudal di antara dua tahap ini.

THAAD, sistem pertahanan rudal baru Amerika Serikat, mampu mencegat rudal balistik yang mulai memasuki atmosfer dari luar angkasa. Dalam 11 kali uji coba yang dilakukan antara tahun 2006 hingga 2013, semua interseptor THAAD berhasil mengintersep rudal mock up. Militer AS kini mempertimbangkan penyebaran THAAD di Korea Selatan.

Adapun sistem rudal SM-3 yang berbasis darat, militer AS juga telah melakukan uji coba sebagai bagian dari program perisai pertahanan rudal di Eropa. Setelah uji coba yang terbilang sukses pada bulan Mei lalu, Amerika Serikat berencana untuk menyebarkan sistem rudal ini ke Rumania pada tahun 2015.

Sistem rudal ini memiliki respon yang cepat dalam menghadapi ancaman yang masuk dan unggul dalam kemampuan manuver ketimbang SM-3 yang berbasis laut dan penyebarannya tidak membutuhkan kapal perang dengan sistem tempur Aegis.

Untuk melindungi Jepang di masa mendatang, Kementerian Pertahanan Jepang menginginkan perisai anti rudal empat tahap dengan memanfaatkan THAAD dan sistem rudal SM-3 berbasis darat.

Dalam persiapan introduksi skala penuh, Kementerian Pertahanan Jepang akan mengumpulkan informasi dari Amerika Serikat terkait biaya, pelatihan personel dan tantangan operasional yang harus diatasi dalam mewujudkannya, kata para pejabat. Terkait hal ini, Kementerian Pertahanan Jepang juga akan mengajukan permintaan anggaran untuk tahun fiskal 2015.
 http://www.artileri.org

Jumlah Senjata Nuklir Dunia Menurun Lambat di Tahun Ini

Nuklir AS era Perang Dingin

Jumlah senjata nuklir dunia kembali turun di tahun 2014, namun penurunan kali ini masih lebih lambat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, laporan Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI), Senin, 16 Juni 2014.
Dalam lima tahun terakhir telah terjadi penurunan besar dalam jumlah total hulu ledak nuklir di dunia," menurut  SIPRI dalam laporan tahunannya tentang peta kekuatan nuklir dunia. Penurunan ini utamanya karena Rusia dan Amerika Serikat, yang total keduanya masih memegang 93 persen dari semua senjata nuklir dunia, mengurangi persediaan senjata nuklir strategis mereka di bawah perjanjian tentang Upaya Pengurangan dan Pembatasan Senjata Ofensif Strategis (New START) dan juga karena pengurangan sepihak karena alasan tertentu.
Jumlah hulu ledak nuklir di dunia saat ini telah turun menjadi 16.300 buah dibandingkan tahun 2013 yang 17.270 buah atau yang lebih jauh pada tahun 2010 yang sebanyak 22.600 hulu ledak nuklir. Namun SIPRI mengingatkan bahwa penurunan jumlah senjata nuklir ini bukan berarti menyiratkan komitmen nyata dari negara-negara dengan kekuatan nuklir untuk meninggalkan persenjataan nuklir mereka.

Baca juga:  Nuklir Rusia Telah Menerangi Amerika
Pada awal tahun ini Amerika Serikat dan Rusia masing-masing masih memiliki 7.300 dan 8.000 buah hulu ledak nuklir, menurut SIPRI.

 Peta Kekuatan Nuklir Dunia, Januari 2014
Sumber:
SIPRI Yearbook 2014 (Oxford University Press: Oxford, 2014).


"Sekali lagi pada tahun ini, negara-negara yang memiliki senjata nuklir telah membuat langkah kecil untuk menunjukkan niatnya membongkar seluruh persenjataan nuklir mereka," Shannon Kile dan Phillip Patton Schell peneliti SIPRI mengatakan dalam sebuah pernyataan.
Namun, penyebaran dan penyimpanan senjata nuklir sejak lama oleh negara-negara ini menunjukkan pandangan mereka bahwa senjata nuklir akan tetap menjadi elemen penting dalam kalkulasi strategis mereka alias tidak bisa ditinggalkan.
Sementara dua kekuatan nuklir utama dunia mengurangi jumlah senjata nuklir mereka, jumlah nuklir beberapa negara lain tetap stabil seperti Inggris, Perancis dan Israel yang masing-masing tetap dalam jumlah 225 dan 300 dan 80 hulu ledak nuklir.
Peta kekuatan nuklir dunia, 2010–2014
Negara*
2010
2011
2012
2013
2014
AS
9.600
8.500
8.000
7.700
7.300
Rusia
12.000
11.000
10.000
8.500
8.000
Inggris
225
225
225
225
225
Perancis
300
300
300
300
300
China
240
240
240
250
250
India
60-80
80-100
80-100
90-110
90-110
Pakistan
70-90
90-110
90-110
100-120
100-120
Israel
80
80
80
80
80
Total
22.600
20.530
19.000
17.270
16.300
Sumber: SIPRI Yearbooks 2010–2014
*Berdasarkan informasi publik tentang aktivitas produksi plutonium Korea Utara, diperkirakan Korea Utara telah membangun 6-8 senjata nuklir.
Berbeda dengan negara lainnya, jumah senjata nuklir China, India dan Pakistan terus bertambah dalam beberapa tahun terakhir meskipun untuk awal tahun 2014 tidak terjadi peningkatan. Total China, India dan Pakistan pada tahun 2014 masing-masing memiliki 250, 90-110 dan 100-120 hulu ledak nuklir. Sementara nuklir Israel beberapa tahun belakangan tetap pada jumlahnya yang 80 buah, kemungkinan bisa bertambah mengingat situasi di Timur Tengah terutama terkait Iran. Sedangkan Iran sendiri oleh SIPRI tidak dilaporkan memiliki hulu ledak nuklir.
Korea Utara juga masuk ke dalam daftar nuklir 2014 dengan jumlah enam hingga delapan hulu ledak nuklir.
"Ada konsensus di komunitas ahli bahwa Korea Utara telah menghasilkan sejumlah kecil senjata nuklir, yang berbeda dari bahan peledak nuklir dasar", ujar SIPRI.
Namun, peneliti SIPRI mengatakan kepada AFP bahwa angka yang dimiliki Korea Utara ini didasarkan pada kapasitas produksi plutonium negara itu, bukan berdasarkan kemampuannya untuk secara efektif digunakan sebagai senjata.
.
"Ada kemungkinan (Korea Utara) cukup bahan untuk membuat enam sampai delapan senjata nuklir. Namun belum ada indikasi yang jelas yang menunjukkan mereka mampu menghasilkan hulu ledak nuklir, dan untuk menghasilkan sistem rudal terkait yang bisa mengirimkan hulu ledak ini," ujar SIPRI.
(Gambar: Nuklir AS era perang dingin/jonkeegan)
 http://www.artileri.org