Tampilkan postingan dengan label Gempa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gempa. Tampilkan semua postingan

Kamis, 09 Juni 2011

Apakah gempa itu ?

Gempa adalah pergeseran tiba-tiba dari lapisan tanah di bawah permukaan bumi. Ketika pergeseran ini terjadi, timbul getaran yang disebut gelombang seismik4. Gelombang ini menjalar menjauhi fokus3 gempa ke segala arah di dalam bumi. Ketika gelombang ini mencapai permukaan bumi, getarannya bisa merusak atau tidak tergantung pada kekuatan sumber dan jarak fokus, disamping itu juga mutu bangunan dan mutu tanah dimana bangungan berdiri.


Dimanakah gempa terjadi ?

Lapisan litosfir7 bumi terdiri atas lempeng-lempeng tektonik9 yang kaku dan terapung di atas batuan yang relatif tidak kaku. Daerah pertemuan dua lempeng atau lebih kita sebut sebagai plate margin atau batas lempeng, disebut juga sesar15. Gempa dapat terjadi dimanapun di bumi ini, tetapi umumnya gempa terjadi di sekitar batas lempeng dan banyak didapat sesar aktif disekitar batas lempeng. Titik tertentu di sepanjang sesar tempat dimulainya gempa disebut fokus3 atau hyposenter dan titik di permukaan bumi yang tepat di atasnya disebut episenter2.

Mengapa terjadi gempa ?
 Lapisan paling atas bumi, yaitu litosfir7, merupakan batuan yang relatif dingin dan bagian paling atas berada pada kondisi padat dan kaku. Di bawah lapisan ini terdapat batuan yang jauh lebih panas yang disebut mantel8. Lapisan ini sedemikian panasnya sehingga senantiasa dalam keadaan tidak kaku, sehingga dapat bergerak sesuai dengan proses pendistribusian panas yang kita kenal sebagai aliran konveksi. Lempeng tektonik9 yang merupakan bagian dari litosfir7 padat dan terapung di atas mantel ikut bergerak satu sama lainnya.Ada tiga kemungkinan pergerakan satu lempeng tektonik relatif terhadap lempeng lainnya, yaitu apabila kedua lempeng saling menjauhi (spreading), saling mendekati(collision) dan saling geser (transform).

Jika dua lempeng bertemu pada suatu sesar, keduanya dapat bergerak saling menjauhi, saling mendekati atau saling bergeser. Umumnya, gerakan ini berlangsung lambat dan tidak dapat dirasakan oleh manusia namun terukur sebesar 0-15cm pertahun. Kadang-kadang, gerakan lempeng ini macet dan saling mengunci, sehingga terjadi pengumpulan energi yang berlangsung terus sampai pada suatu saat batuan pada lempeng tektonik tersebut tidak lagi kuat menahan gerakan tersebut sehingga terjadi pelepasan mendadak yang kita kenal sebagai gempa bumi. 

Kapan gempa terjadi ?
Gempa dapat terjadi kapan saja, tanpa mengenal musim. Meskipun demikian, konsentrasi gempa cenderung terjadi di tempat-tempat tertentu saja, seperti pada batas Plat Pasifik. Tempat ini dikenal dengan Lingkaran Api karena banyaknya gunung berapi


Siapa yang mempelajari gempa ?

Seismologist12 adalah ilmuwan yang mempelajari sesar15 dan gempa. Mereka menggunakan peralatan yang disebut seismograf10 untuk mencatat gerakan tanah dan mengukur besarnya suatu gempa. Seismograf memantau gerakan-gerakan bumi mencatatnya dalam seismogram11. Gelombang seismik4, atau getaran, yang terjadi selama gempa tergambar sebagai garis bergelombang pada seismogram. Seismologist mengukur garis-garis ini dan menghitung besaran1 gempa. Seismologist menggunakan skala Richter14 untuk menggambarkan besaran1 gempa, dan skala Mercalli13 untuk menunjukkan intensitas5 gempa, atau pengaruh gempa terhadap tanah, gedung dan manusia.



KOSA KATA GEMPA BUMI

1 Magnitudo – banyaknya energi yang dilepas pada suatu gempa yang tergambar dalam besarnya gelombang seismik di episenter. Besarnya gelombang ini tercermin dalam besarnya garis bergelombang pada seismogram.

2 Episenter – titik di permukaan bumi tepat di atas fokus atau sumber gempa, dinyatakan dalam lintang dan bujut, Hyposenter=parameter sumber gempa bumi yang dinyatakan dalam waktu terjadinya gempa, lintang, bujur dan kedalaman sumber)

3 Fokus – sumber gempa di dalam bumi, tempat batuan pertama patah.

4 Gelombang seismik – getaran gempa yang menjalar di dalam dan dipermukaan bumi dengan cara longitudinal dan transfersal.

5 Intensitas – besarnya goncangan dan jenis kerusakan ditempat pengamatan akibat gempa. Intensitas tergantung dari jarak tempat tersebut dari hyposenter.

6. Kerak bumi – lapisan atas bumi yang terdiri dari batuan padat. Baik tanah di daratan maupun di dasar laut termasuk kerak bumi.

7. Litosfir – lapisan paling atas bumi yang hampir seluruhnya terdiri dari batuan padat. Lapisan ini termasuk kerak bumi dan (sebagian) mantel atas

8 Mantel – Lapisan di bawah kerak bumi yang tediri dari mantel atas dan mantel bawah.

9 Lempeng Tektonik - bagian dari litosfir bumi yang padat atau rigid. Lempeng-lempeng tektonik ini senantiasa bergerak dengan lambat, terapung diatas mantel.

10 Seismograf – peralatan yang menggambarkan gelombang gempa yang datang di stasiun pengamat.

11 Seismogram – catatan tertulis dari getaran bumi yang dihasilkan oleh seismograf.

12 Seismologist – ilmuwan yang mempelajari gempa

13 Skala Mercalli – suatu ukuran subyektif kekuatan gempa dikaitkan dengan intensitas-nya

14 Skala Richter – suatu ukuran obyektif kekuatan gempa dikaitan dengan magnitudo-nya

15 Sesar – patahan atau pemisahan batuan, umumnya di antara dua atau lebih plat tektonik


Saduran dan modifikasi dari SqiQuest
Courtesy DR. Pariatmono (BPPT)

Potensi Gempa Selat Sunda

Sentilan atau malah disebut cletukan Andi Arief, Staff Khusus Presiden bidang kebencanaan dan bantuan sosial beberapa waktu lalu tentunya mengagetkan. Lah gimana tidak wong di koran dan media disebutkan salah satunya di detik Potensi bahaya gempa sebesar 8.7 SR di Jakarta“. Karuan saja masyarakat se Jakarta kebingungan. bagaimana tidak Jogja yang digoyang 6.2 SR saja sudah membuat porak poranda. Lah ini 8,7 berarti 10 Kalilipat lebih !

“Pakdhe, Ini cuman pengalihan issue ya ?”
“mmmpfhh !”

Memang semua sudah mengerti tentang plate tectonic, sudah banyak yang ngeh soal patahan, sudah banyak yang sadar bahwa gempa itu penting dan bahkan sudah mengerti kalau bangunan itulah yang membunuh. Tetapi seperti apa sih potensi gempa yang di Selat Sunda ini ?

Gempa yang merembet.

Bahwa gempa itu memicu gempa lainnya tentunya mudah dimnegerti seperti kita menggoyang meja yang berdampingan akan menggeser meja sebelahnya. Seperti itu juga gempa itu mirip seperti itu, hanya saja tidak semudah itu urutannya. Bisa loncat, bolak balik seperti yang pernah dibuat dalam presentasi ditulisan Mengapa Gempa Sulit Diramalkan . Tentusaja model sederhana inipun bukan model yang tepat untuk sebuah rentetan gempa, tetapi mudah dimengerti mengapa meramalkan gempa itu tidak mudah.

Gambar disebelah ini menggambarkan bagaimana rembetan gempa Sumatera 2004 yang dilanjutkan gempa-gempa sebelah selatannya.

Tahun 2004 segment paling utara bergetar hingga melepaskan kekuatan sebesar 9.2 SR pada tanggal Dec 2004. Dilanjutkan pada bulan Juli 2005 dan February 2008, lokasinya semakin keselatan. Dan bahkan tahun 2009 terjadi gempa Padang yang belum tergambarkan dalam peta disebelah ini.

Terlihat gempa seolah merembet dari utara keselatan, namun tentusaja, sekali lagi, bahwa rembetannya tidak mudah diketahui berapa lama lagi dan tidak mudah dimengerti segmen mana yang akhirnya akan bergerak.

 Kalau melihat gambar diatas tentunya dengan mudah kita akan menerima kenyataan bahwa gempa di dekat Selat Sunda atau Sumataera Selatan akan tiba saatnya. Hanya saja kapan dimana lokasi episenter serta seberapa besar gempanya tentunya tidak akan diketahui dengan pasti.

Mirip datangnya ajal manusia. Kita harus selalu siap itu saja !!

“Tapi Pakdhe, kenapa dibilangnya Jakarta yg terancam ? Kalau yang ini hanya politis mengalihkan issue ya ?”
“Mmmpfft ..!”

Bahwa akan terjadi gempa sebenernya semua juga tahu. Bahwa Indonesia adalah langganan gempa itu juga sudah dimengerti. Hanya saja, apakah sudah dipersiapkan bila gempa itu datang ?

Yang dapat kita perkirakan tentunya bila gempa selat Sunda ini terjadi, maka kemungkinan besar yang akan terkena dampak lebih parah adalah yang ada didekatnya. Kota-kota sekeliling Selat Sunda lah yang harus lebih bersiap-siap. Kita tahu ada Cilegon dengan segala industrinya. Kita tahu ada pantai wisata disana. Kita juga mengerti adanya pelabuhan serta fasilitas-fasilitas ekonomi lainnya. Nah yang disini ini perlu juga diberikan pengertian kewaspadaan karena lebih dekat jaraknya dari lokasi yang berpotensi menjadi episenter gempa.

“Bentar to Pakdhe, kalau disini ada potensi gempa memang bener, tapi kok dibilangnya sekarang, ini pengalihan issue ya ?”
“Mmmpft .. !”
Potensi gempa itu memang ada

Nah dengan melihat peta diatas saja dapat mudah dimengerti bahwa potensi gempa itu ada. tetapi dalam bentuk prediksi yang sesuai dengan prediksi cuaca tentulah masih belum dimungkinkan. Besarnya potensi gempa ini harus dilihat lagi dengan penelitian. Namun yang perlu diketahui lebih lanjut adalah bahwa lokasinya sangat dimungkinkan berdekatan dengan daerah yang padat penduduknya. Inilah yang harus diperhatikan lebih dari sekedar penelitian. Tetapi juga peningkatan kewaspadaan.

Prediksi gempa yang dicita-citakan semestinya memiliki tiga hal yang harus diungkapkan. Ketiga aspek gempa yang ingin diketahui pada shorterm prediction itu adalah sebagai berikut :

Dimana tempatnya. Mencakup area yang cukup sempit.
Efek bencana sangat merusak sekitar radius 10-20 Km ( di Jogja, Padang). Ramalan yang diinginkan untuk resque (penyelamatan) tentusaja yang memiliki akurasi seperti ini.

Seberapa besar kekuatannya. Dalam skala gempa tertentu.
Saat ini yang diketahui besarnya “potensi” yang tersimpan dalam satu segmen. Berapa yang “bakalan” dilepaskan masih belum (susah) diketahui. Bisa sekali besar, bisa kecil-kecil banyak, atau bahkan slow quake (silent quake) ! Dan juga ada satu hal penting adalah berapa kedalaman gempanya.

Kapan terjadinya. Dalam rentang waktu yang memadai.
Periode waktu yang diinginkan tentusaja short term (jangka pendek). Lah kalau sekedar bilang besok akan gempa skala 7.0 di Indonesia, iya “besok” itu kapan ? setahun lagi, dua tahun lagi atau seratus tahun lagi, atau malah besok sore ? Perkiraan detil itu jelas masih bemum mungkin untuk saat ini.

Apakah amaran yang didengung-dengungkan diatas itu dipenuhi dalam predisksi atau hanya melakukan teriakan AWAS KEBAKARAN, padahal dirinya hanya tahu bahwa bahwa “Bensin itu mudah terbakar !! “Jadi bahwa gempa akan datang itu sangat dimungkinkan hanya saja besarnya kekuatan gempa perlu diteliti lebih lanjut. Yang tentunya lebih penting adalah kewaspadaan.

DOH !!
Mbok ya kalau memberitahukan sebuah amaran itu diberikan dengan cara yang mudah dimengerti dan tidak menakut-nakuti, sehingga tidak terkesan buruk.

“Nah, hiya kan Pakdhe, teriakan Jakarta berpotensi gempa 8.7 SR ini hanya pengalihan issue, kan ?”
“MMM anu … eng .. mmpf !”

Salam waspada !

Sumber bacaan/gambar : http://www.rms.com/publications/
 http://rovicky.wordpress.com/2011/05/23/potensi-gempa-selat-sunda/

Kamis, 19 November 2009

Pendapat Pakar Gempa dari Puslit Goteknologi-LIPI Dr.Danny Hilman Natawidjaja

Pendapat Pakar Gempa dari Puslit Goteknologi-LIPI Dr.Danny Hilman Natawidjaja mengenai gempa yang terjadi di Padang Sumatera Bagian Barat


Berikut ini beberapa artikel dari berbagai media massa mengenai pendapat atau penjelasan Pakar Gempa dari Puslit Goteknologi-LIPI Dr.Danny Hilman Natawidjaja yang banyak berkiprah di kegempaan terutama yang terjadi di Sumatera .
Pada 4 Desember 2007 Dr.Danny Hilman Natawidjaja mengemukakan pendapat pada korannias.wordpress.com “GEMPA BESAR ANCAM PADANG dan SUMATERA”!! Berikut kami sampaikan intisari artikelnya :
Pada Desember 2007 isu mengenai bencana gempa kian santer, beberapa diantaranya tidak menyertakan data yang mendukung pernyataan tersebut. Lain halnya dengan Dr.Danny Hilman Natawidjaja, dalam Seminar Geoteknologi “Kontribusi Ilmu Kebumian dalam Pembangunan Berkelanjutan” di Bandung pada senin (3/12) menyatakan bahwa terdapat potensi gempa berkekuatan 9 SR di Mentawai Sumatera Barat juga berpotensi menimbulkan gelombang tsunami setinggi 4 sampai tujuh meter, diperkirakan guncangan gempa akan menggetarkan Bengkulu dan provinsi lainnya. Prediksi itu disampaikan beliau setelah mempelajari siklus gempa selama ini yang mengguncang Mentawai Sumbar.
Sumber gempa itu sendiri diduga di bawah Pulau Mentawai dengan kedalaman antara 20-30 kilometer. Perkiraan itu, kata Danny, terbukti dari saat gempa besar di kawasan Kepulauan Mentawai pada 12 September 2007 dengan kekuatan 8,4 SR. Gempa itu terjadi setelah rentetan gempa besar di Aceh dan Nias pada tahun 2004 dan 2005.
“Yang menjadi pertanyaan apakah ancaman dari rentetan gempa-gempa ini sudah berakhir? Kita semua berharap demikian, tapi data dan praduga ilmiah menunjukkan sebaliknya. Gempa raksasa yang “bertapa” sejak terakhir bangun di tahun 1797 dan 1833 ternyata belum sepenuhnya terusik,” jelasnya.
Hal ini terlihat dari hasil “plotting” dari gempa-gempa yang sudah terjadi dan tampaknya baru melepaskan akumulasi energi yang terkumpul di bagian pinggirannya saja. Gempa yang bermula dari kakinya di ujung selatan, sekarang ini terlihat menyebar dan mengepung bagian badan dan kepala “sang raksasa”, yakni di bawah Pulau Siberut, Sipora dan Pagai. “Bidang sumber gempa di Mentawai itu 12-15 derajat yang setiap tahunnya terjadi pergeseran 5 centimeter. Untuk gempa antara tahun 1797-1833 telah terjadi pergeseran 10 meter. Setiap dihajar gempa, maka pergeseran itu akan turun,” jelasnya.
Pada 9 Desember 2008 Dr.Danny Hilman Natawidjaja mengemukakan pendapat pada Kompas.com “ Gempa Raksasa Masih Menghantui Sumatera” Berikut kami sampaikan intisari artikelnya :
Dr Danny Hilman menyatakan bahwa gempa dengan kekuatan 8,9 SR karena adanya pengumpulan energi di bawah Pulau Mentawai Perkiraan tersebut merupakan hasil penelitian terakhir dengan menggabungkan pengukuran pergerakan lempeng dengan peralatan GPS (global positioning system), pola pertumbuhan terumbu karang, catatan sejarah geologi kawasan tersebut, dan citra radar satelit. Dari hasil mengukur pola pertumbuhan karang di sekitar Mentawai, Danny dan peneliti lain dari California Institute of Technology (Caltech) mengetahui bahwa gempa raksasa pernah terjadi di lokasi yang sama tahun 1797 dan 1883.
Sebelumnya telah terjadi gempa besar di Mentawai tahun 2007 dengan skala 8,5. Namun, hasil pengukuran memperlihatkan bahwa gempa tersebut baru melepaskan 25 persen energi dibandingkan gempa raksasa yang terjadi tahun 1883. Artinya, masih ada tiga perempat energi yang belum dilepaskan.Kapan tepatnya sisa energi akan dilepaskan, belum dapat diprediksi oleh ilmuan manapun, namun melihat pola siklusnya, Danny memprediksi akan terjadi dalam waktu dekat. Pelepasan energi yang tersimpan dapat secara berangsur-angsur, namun sejarah yang tercatat dengan baik di antara lapisan terumbu karang juga dengan jelas memperlihatkan bahwa gempa besar terjadi secara berulang.
Pada 1 Oktober 2009 Dr.Danny Hilman Natawidjaja mengemukakan pendapat padaKompas.com “Pusat Gempa Padang Bukan di Zona Subduksi” Berikut kami sampaikan intisari artikelnya :
Dr Danny Hilman Natawidjaya menyatakan bahwa gempa berkekuatan 7,6 SR yang memorakporandakan Kota Padang dan Pariaman pada Rabu (30/9), tidak berpusat di zona subduksi lempeng tektonik Indo-Australia dan Eurasia, melainkan pusatnya patahan di kerak yang menunjam di bawah Kota Padang dan pusat gempa tersebut kemungkinan di ujung patahan jauh di bawah dasar laut. Hal ini menjelaskan mengapa gempa sebesar itu tidak sampai memicu gelombang besar. Karena pergerakannya dominan horisontal tidak vertikal dan lepasnya lebih dalam sehingga tidak men-create tsunami.

Meski demikian, Danny mengatakan, pihaknya mendapat laporan adanya tsunami kecil setinggi 20 sentimeter yang terukur di pantai barat Padang. Menurutnya, data memang menunjukkan ada sedikit pergerakan vertikal saat gempa terjadi, patahan-patahan seperti itu sulit dideteksi karena sangat dalam dan tidak tampak dari luar. Untuk mendeteksinya perlu radar yang bisa mendeteksi lapisan-lapisan tanah sangat dalam. Selama ini pihaknya fokus mengantisipasi dampak kegempaan di zona subduksi segmen Mentawai yang sudah mengumpulkan energi sangat besar untuk dilepaskan dan paling rawan menimbulkan tsunami.
Pada 1 Oktober 2009 Dr.Danny Hilman Natawidjaja mengemukakan pendapat padaKompas.com “ Waspadai Gempa Mentawai, Ini Baru Pemicunya” Berikut kami sampaikan intisari artikelnya:
Secara umum, gempa ini akan membuat segmen subduksi menjadi lebih rawan. (Sebagai gambaran saja) Kalau seharusnya gempa utama terjadi 10 tahun lagi, mungkin bisa jadi 5 tahun lagi, gempa yang terjadi di Padang tersebut tidak mengurangi potensi pelepasan energi di segmen Mentawai, tapi malah bisa memicu pelepasan energi lebih cepat. “Malah membuat zona utama lebih tegang karena ‘dipukul’ dari samping”, potensi pelepasan energi di segmen Mentawai sebenarnya sudah berkurang, yakni saat terjadi gempa Bengkulu pada 12 September 2007. Gempa tersebut berpusat di kantung ‘energi’ yang sama dan mengurangi sekitar sepertiganya. Sejarah mencatat, gempa yang berpusat di sana pernah terjadi tahun 1650 dan 1833, saat ini segmen Mentawai sudah memasuki siklus 200 tahunan. (AR-Nda)