Minggu, 16 Juni 2013

David Sling, Perisai Rudal Baru Israel

Rudal Stunner, bagian dari perisai rudal David Sling
Rudal Stunner, bagian dari perisai rudal David Sling (Foto: Rafael Advanced Defense Systems)
Sebuah sistem pertahanan anti-rudal (perisai rudal) baru Israel "David Sling" telah berhasil menghancurkan sebuah target rudal dalam sebuah uji coba di sebuah gurun rahasia pada 20 November 2012,  disaat pertempuran sengit antara Israel dan Palestina di Jalur Gaza. Perisai rudal David Sling ini diklaim lebih kuat daripada Iron Dome yang digunakan dalam konflik Gaza, menurut pejabat pertahanan Israel, pada hari Minggu 25 November.
Pejabat Pertahanan Israel mengatakan bahwa David Sling ((Ketapel David atau Ketapel Daud)) akan menjadi jawaban Israel atas rudal-rudal gerilayawan Hizbullah, Lebanon dan Suriah yang jarak tempuhnya semakin jauh.

Israel mengembangkan perisai rudal David Sling  ini dengan bantuan dari Amerika Serikat. Ini karena kekhawatiran Israel atas ancaman dari Gaza, Lebanon, Suriah dan konflik internasional mereka dengan Iran atas program nuklir mereka. Sebuah sumber di industri pertahanan Israel mengatakan David Sling sejatinya akan diuji coba pada 2013, namun dipercepat mengingat kondisi yang semakin mengkhawatirkan.

David Sling menggunakan teknologi yang serupa dengan  Iron Dome, yang diklaim Israel memiliki tingkat keberhasilan 90 persen, mengintersep (mencegat) 421 roket yang ditembakkan pejuang Palestina dari Gaza dalam delapan hari pertempuran yang berakhir dengan gencatan senjata pada Rabu.
Juga dijuluki sebagai Magic Wand (Tongkat Sihir/Ajaib), David Sling dikembangkan oleh Rafael Advanced Systems Ltd, sebuah BUMN Israel yang bekerjasama dengan perusahaan pertahanan Raytheon Co AS.

"Penyelesaian program ini sangat penting untuk meningkatkan kemampuan sistem pertahanan anti-rudal Isarel," ujar Menteri Pertahanan Ehud Barak, dikutip dari Reuters

Untuk tingkatan sistem pertahanan anti-rudal Israel, Iron Dome adalah yang terendah, yaitu untuk mengatasi roket gerilyawan Gaza dan Hizbullah. Pada awalnya Iron Dome dimaksudkan untuk mengintersep roket di kisaran 70 km namun para pengembang kini tengah meningkatkan jangkauannya menjadi 250 km.

Yang tertinggi dalam sistem pertahanan anti-rudal Israel adalah interseptor rudal balistik Arrow, yang dirancang untuk memembak jatuh rudal jarak jauh Iran dan Suriah di ketinggian Atmosfer -cukup tinggi sehingga setiap hulu ledak konvensional yang di intersep, akan hancur dan musnah di ketinggian (aman)-.

David Sling akan ditahbiskan sebagai perisai rudal tertinggi Israel. Para pejabat Israel mengatakan, jika Iron Dome dan Arrow dinilai tidak mampu menngintersep roket yang diluncurkan oleh musuh karena kecpatan dan kekuatannya, maka David Sling yang akan ditugaskan.

Pemimpin Hizbullah, Sayyed Hassan Nasrallah, yang dipersenjatai dan didanai oleh Iran, memperingatkan Israel pada hari Minggu lalu bahwa ribuah roket akan menghujani Tel Aviv dan seluruh kota-kota Israel jika menyerang Lebanon.

Adalah Roket Fajr-5s, dengan rentang 75 km -mampu mencapai Tel Aviv dan Yerussalem- dan bobot hulu ledak 175 kg, adalah roket yang paling kuat dan jangkauan jauh yang telah ditembakkan dari Gaza.

Seperti halnya Iron Dome dan Arrow, David Sling telah menarik minat dari klien-klien asing, terutama karena sistem pertahanan anti-rudal yang baru lahir ini juga mampu mengintersep rudal jelajah. Setidaknya sudah ada dua negara bekas Uni Soviet yang berminat terhadap David Sling ini. Ini terkait kekhawatiran Balkan atas rudal-rudal jelajah Rusia.
http://www.artileri.org/2012/11/david-sling-perisai-rudal-baru-israel.html

Fitur dan Keunggulan Rudal Supersonik BrahMos

Pada tahun 1998, Rusia dan India membuat perusahaan patungan, BrahMos Aerospace, yang bertugas merancang, mengembangkan, memproduksi dan memasarkan rudal jelajah supersonik. Versi laut dan darat dari rudal BrahMos telah berhasil diuji coba dan telah masuk ke dalam layanan Angkatan Darat dan Angkatan Laut India.
Rudal BrahMos
Rudal Jelajah Supersonik BrahMos

India Uji Tembak Rudal Supersonik BrahMos

Rudal Supesonik BrahMos

Angkatan Laut India telah berhasil menguji-tembak rudal jelajah supersonik BrahMos yang diluncurkan dari geladak sebuah kapal perang di lepas pantai barat Goa, Minggu, 7 Oktober 2012. Rudal BrahMos, merupakan rudal jelajah supesonik pengembangan bersama Rusia dan India, diluncurkan dari fregat kawal rudal INS Teg yang dibuat oleh Rusia berdasarkan pesanan dari Angkatan Laut India.
"Rudal itu menghantam target yang ditentukan pada jarak 290 km," kata DRDO (Defense Research and Development Organization). BrahMos Aerospace Ltd, yang didirikan pada tahun 1998, memproduksi rudal jelajah supersonik berdasarkan rancangan Rusia sebelumnya NPO  Mashinostroyenie 3M55 Yakhont (SS-N-26).
Rudal BrahMos memiliki jangkauan tembak 290 km (180 mil) dan mampu membawa hulu ledak konvensional hingga 300 kg (660 lbs). Secara efektif dapat melumpuhkan target dari altitude serendah 10 meter (30 kaki) dan memiliki kecepatan maksimal Mach 2.8, yaitu sekitar tiga kali lebih cepat daripada rudal jelajah subsonik Tomahawk buatan Amerika Serikat.
Rudal BrahMos untuk Versi laut dan darat telah diluncurkan dan telah berhasil diuji coba dan dimasukkan ke dalam layanan Angkatan Darat dan Angkatan Laut India.
Uji coba rudal BrahMos untuk versi udara (peluncuran udara) akan segera selesai pada akhir tahun ini. Angkatan Udara India berencana untuk mempersenjatai 40 Sukhoi Su-30MKI Flanker-H Fighter mereka dengan rudal jelajah BrahMos. Selain keberhasilan uji coba penembakan rudal BrahMos ini, Rusia dan India baru-baru ini sepakat untuk mengembangkan rudal hipersonik BrahMos 2 yang mampu terbang dengan kecepatan Mach 5 - Mach 7
http://www.artileri.org/2012/10/india-uji-tembak-rudal-brahmos.html

Rudal Jelajah Baru Angkatan Udara Rusia

Maket Raduga Kh-101
Pada tahun 2013 nanti, Angkatan Udara Rusia akan dilengkapi dengan rudal jelajah baru Raduga Kh-101. Rudal ini memiliki presisi yang tinggi dengan hulu ledak konvensional (non nuklir) untuk jarak yang jauh. Rudal Raduga, yang saat ini sedang dalam proses uji coba, mampu mencapai target dengan akurasi hanya 30 kaki (10 meter) di kisaran jarak hingga 6.000 mil (10.000 km).
Dengan kemampuan tersebut, menjadikan rudal ini sebagai rudal dengan jarak tempuh terjauh dan akurasi tertinggi dalam sejarah Angkatan Udara Rusia. Seperti yang diketahui, pesawat pembom (bomber) Angkatan Udara Rusia saat ini menggunakan rudal jelajah konvensional Kh-555, yang hanya memiliki akurasi 75-90 kaki (25-30 meter).

Rudal subsonik Raduga Kh-101 dinavigasikan dengan menggunakan Sistem Navigasi Satelit Rusia GLONASS, tetapi juga dilengkapi dengan mekanisme panduan intertial yang dapat mengambil alih navigasi jika navigasi satelit bermasalah. Raduga juga akan mampu memukul target kecil yang bergerak seperti kendaraan.
Rudal jelajah baru Rusia  ini memiliki bobot yang lebih berat yaitu 880 pon (400 kg) dibandingkan dengan pendahulunya Kh-555 yang memiliki bobot hanya setengahnya (440 pon). Nantinya sebuah varian dari Raduga yang dilengkapi dengan hulu ledak nuklir yaitu Kh-102 juga akan dilengkapkan kepada Angkatan Udara Rusia.
"Dengan bobotnya yang besar, berarti rudal jelajah Raduga Kh-101 hanya dapat dibawa oleh pesawat pembom Rusia terbesar yaitu Tupolev tu-95MS dan Tu-160"
Kemampuan rudal dengan jarak yang jauh menjadi sangat penting, mengingat Rusia kini tidak lagi memiliki basis pertahanan di luar negeri dan karena itu Rusia tidak dapat memberikan pengawalan untuk armada bomber untuk jarak tempur yang jauh, kata Alexander Konovalov dari Institut Evaluasi Strategis.
Dengan bobotnya yang besar, berarti rudal jelajah Raduga Kh-101 hanya dapat dibawa oleh pesawat pembom Rusia terbesar yaitu Tupolev tu-95MS dan Tu-160, bukan pesawat bomber Tu-22M3 yang mana pesawat bomber ini masih akan terus dipakai Rusia untuk membawa rudal Kh-555.
http://www.artileri.org/2012/10/rudal-jelajah-baru-angkatan-udara-rusia.html

Program Senjata Nuklir Non-Strategis Pakistan

Untuk meningkatkan kemampuan nuklirnya, Pakistan saat ini tengah mengembangkan senjata nuklir non-strategis, bila benar adanya Pakistan bisa disejajarkan dengan negara-negara seperti Amerika Serikat dan Rusia, ujar seorang analis pertahanan Amerika Serikat.

Negara tetangga Pakistan, India, yang juga berkemampuan nuklir, bagaimanapun, tidak termasuk di antara lima dari sembilan negara yang memiliki atau sedang mengembangkan senjata nuklir non-strategis, kata Hans Kristensen, direktur Proyek Informasi Nuklir, dan Dr Robert S Norris, senior Kebijakan Nuklir, di Nuclear Notebook.
Ghauri 2
Nuklir Pakistan Ghauri 2

 "Saat ini, setidaknya ada lima dari sembilan negara yang berkemampuan nuklir, memiliki atau sedang mengembangkan senjata nuklir non-strategis, yaitu: Rusia, Amerika Serikat, Perancis, Pakistan, dan China," kata mereka dalam informasi terbaru di Bulletin of the Atomic Scientists.

Seperti halnya Perancis, Pakistan mengkarakterkan semua senjata nuklirnya sebagai nuklir non-strategis. Pakistan saat ini juga sedang mengembangkan roket jarak pendek baru yang berkemampuan nuklir yang tentu akan langsung disikapi sebagai senjata nuklir non-strategis jika itu dikembangkan oleh Rusia atau Amerika Serikat. Disinilah posisi nuklir Pakistan menjadi tanda tanya dan kenyataan ini bisa saja menempatkan nuklir Pakistan berada dalam kategori berbeda, seperti yang ditulis Kristensen dan Norris.

Dalam laporan mereka, dua ilmuwan nuklir Amerika menulis bahwa rudal baru Pakistan, Nasr, adalah rudal balistik berjarak 60 kilometer yang diluncurkan dari sebuah peluncur mobile mobile twin-canister.

Setelah uji coba peluncuran pertama di bulan April 2011, organisasi berita militer Pakistan, mengatakan bahwa Rudal Nasr membawa hulu ledak nuklir dengan jangkauan seperti yang diharapkan dan dengan akurasi yang tinggi. Lengkap dengan fitur shoot and scoot yang disebut sebagai sistem respon cepat. Ini semua dilakukan untuk meningkatkan program pembangunan strategis senjata nuklir pakistan untuk rudal jarak pendek guna mengantisipasi ancaman yang sedang berkembang. 
Rudal Nasr
Nasr, rudal nuklir jarak pendek Pakistan

"Dari informasi-informasi yang didapatkan setelah beberapa tes Rudal Nasr, kuat diindikasikan bahwa senjata nuklir Pakistan tersebut masih mirip dengan senjata nuklir non-strategis," tulis mereka.

Masih menurut laporan itu, disebutkan juga rumor China yang telah mengembangkan senjata nuklir non-strategis sejak waktu yang lama, namun masih sedikit informasi yang dapat diandalkan untuk menentukan status China saat ini.

China melakukan uji coba nuklir pada tahun 1960 dengan bom nuklir yang diluncurkan dari sebuah pesawat pembom. Mungkin, namun belum bisa dipastikan, bahwa beberapa skuadron pesawat bomber China telah memiliki kemampuan nuklir sekunder untuk saat ini, kata mereka.

Demikian pula, komunitas intelijen AS dalam beberapa periode menilai bahwa kemampuan nuklir China mungkin telah berkembang untuk rudal balistik jarak pendek seperti DF-15. Selain itu, komunitas intelijen AS menggambarkan rudal jelajah DH-10 adalah rudal konvensional dan juga nuklir," kata laporan itu.
http://www.artileri.org/2012/10/program-senjata-nuklir-non-strategis-pakistan.html