Minggu, 06 Maret 2016

DUNIA MERINDING!! Indonesia Satu-satunya Negara ASEAN Yang Produksi Jet Tempur Canggih!

Di Asia hanya beberapa negara yang mengembangkan secara mandiri jet tempurnya. Untuk Asia Tenggara, baru Indonesia saja yang sedang masuk dalam tahap pengembangan jet tempur. Tak banyak negara di dunia bahkan di Asia yang mengembangkan dan menguasai teknologi jet tempur. 



Indonesia melalui PT Dirgantara Indonesia (PTDI) menggandeng Korea Aerospace Industries (KAI) untuk mengembangkan dan memproduksi jet tempur generasi 4.5 bernama Korea Fighter Xperiment/Indonesia Fighter Xperiment (KFX/IFX).

"Di Asia Tenggara baru kita. Kalau Asia sudah ada China yang kembangkan, Jepang belum. India juga belum tapi mereka baru mulai. Pakistan dia pakai lisensi China," kata Direktur Utama PTDI, Budi Santoso, Kamis (7/1/16).

Korsel digandeng karena bersedia memberikan penguasaan teknologi sampai 100%. Indonesia juga dilibatkan dari awal pengembangan hingga produksi. Dari total proyek yang senilai US$ 8 miliar atau Rp 111,52 triliun (US$ 1 = Rp 13.940), Indonesia berkontribusi 20% dan sisanya yakni 80% ditanggung oleh Korsel.

Korsel memiliki pengalaman mengembangan jet tempur T-50 Golden Eagle yang merupakan kerjasama antara KAI dan Lockheed Martin, Amerika Serikat.

"Kita belajar ke Korea karena dia telah kembangkan T-50. Dia kerjasama dengan Amerika Serikat tapi nggak semua teknologi yang dikembangkan diberikan ke Korea. Akhirnya, mereka mau kembangkan sendiri, dan nggak mau gandeng negara maju karena nggak mau kasih teknologi. Ini kesempatan kita cari partner karena nggak setiap negara punya program pengembangan jet," tambahnya.

Di tempat yang sama, Direktur Teknologi dan Pengembangan PTDI, Andi Alisjahbana menjelaskan penguasaan teknologi dan produksi jet tempur memiliki pengaruh tinggi terhadap pertahanan sebuah negara. Pada perang modern, fasilitas udara bakal menjadi serangan utama. Begitu pangkalan udara lumpuh maka kekutan darat dan laut tidak akan berkutik sehingga pengembangan dan kepemilikan jet tempur secara mandiri sangat diperlukan.

"Pertahanan wilayah udara nomor satu. Ini sangat kritikal untuk pertahanan bangsa maka kita mesti punya sendiri (jet tempur). Alhasil, kita taruh insinyur terbaik untuk proyek KFX/IFX," kata Andi.

Sumber: Lensaberita.com

TERUNGAKP!!! X18 Tank Laut Pertama di Dunia Buatan Indonesia



Indonesia BerprestasiX18 Tank Boat adalah Tank Laut Indonesia asli karya anak bangsa yang berhasil dikembangkan oleh PT Lundin Industry Invest, yaitu pabrik kapal militer yang bermarkas di Banyuwangi Jawa Timur.
Tank Boat X18 ini di klaim menjadi salah satu yang pertama di dunia karena belum ada negara lain yang membuatnya bahkan Amerika sekalipun.
Setelah menciptakan kapal perang siluman yakni Kapal Cepat Rudal Trimaran atau KRI Klewang, Lundin kembali menggagas ide membangun kombinasi boat atau kapal dengan tank berat atau heavy tank. Baca Daftar Kapal Perang Canggih Asli Buatan Indonesia Terbaru
Kapal ini diberi nama tank boat X18 atau mirip dengan konsep tank laut. Kombinasi ini diklaim pertama kali dibuat dan belum ada di pasar senjata dunia.
Presiden Direktur PT Lundin, John Lundin, di sela acara Armored Vehicle Asia (AVA) Conference 2015, Hotel Crowne, Jakarta, Mengatakan bahwa "Kita melihat ini dapat dipakai untuk operasi di laut dan sungai. Heavy tank memiliki kendala untuk operasi di pendalaman dan juga daerah kepulauan. Maka kita kembangkan kombinasi boat dan tank guna mendukung pendaratan amfibi namun dilengkapi senjata berat,".
Untuk bahan baku, kapal bernama X18 Tank Boat akan memakai material komposit. Material ini dinilai lebih kuat 10 kali dari baja namun juga 10 kali lebih ringan dari baja. John menjamin komposit material untuk Tank Boat tahan api. Ia memastikan tidak akan terulang kembali musibah serupa yang menimpa KRI Klewang karena memakai bahan serupa.
"Persoalan sudah diselesaikan. Material komposit memang memiliki masalah soal daya tahan terhadap api. Ini masalah di dunia. Sekarang teknlogi material komposit sudah dipakai di kereta dan pesawat. Teknologi terbaru dari material komposit 100% tahan api," jelasnya.
John bercerita, kombinasi tank berat dan boat ini pernah dibuat oleh Rusia saat perang dunia ke-2 serta saat perang Vietnam oleh Amerika Serikat. Meski dikembangkan, produk boat tank belum berhasil untuk diproduksi karena kendala teknologi. Kini, material komposit membantu menyelesaikan persoalan beban.
"Saat ini, turret dari bahan alumunium. Mau tembak dari laut, butuh kestabilan tinggi. Namun dahulu nggak bisa. Ini produk ringan karena pakai komposit. Yang mungkin 5-15 tahun lalu susah dibuat," jelasnya.
PT Lundin berancana menggandeng PT Pindad (Persero) untuk mengembangkan tank laut ini. Sementara untuk pembuatan turet dengan kaliber 105 MM, Lundi menggandeng CMI Defence, sedangkan Bofors asal Swedia digandeng untuk pengembangan sistem senjata. John mengaku TNI merespon positif konsep tank laut ini.
"Mereka sangat berkesan. Cuma 5-10 tahun lalu produk ini belum ada jadi belum masuk rencana mereka jadi kita kerja keras untuk kembangkan," jelasnya.
Saat beroperasi, X18 Tank Boat mampu membawa 4kru dan 20 personil. Di atas air, kapal buatan Banyuwangi ini mampu melaju dengan kecepatan maksimal 40 knots. Kapal ini memiliki panjang 18 meter dengan lebar 6,6 meter.
Dengan adanya Tank Boat X18 ini jelas akan menambah kekuatan TNI AL serta membuat kekuatan militer Indonesia diperhitungkan di dunia. Selain itu ini juga dapat menjadi terobosan baru dalam memperluas pasar Alutsista Indonesia di luar negeri.

sumber: goodnewsfromindonesia.org

Rabu, 02 Maret 2016

China Genjot Pengembangan J-20

J-20

Prototipe pertama dari pesawat tempur siluman J-20 China muncul pertama kali pada tahun 2010 dalam sebuah foto resolusi rendah. Enam tahun kemudian, prototipe J-20 yang keenam telah terbang ke langit, hanya berselang tiga minggu dari prototipe yang kelima.

Beijing terlihat menggenjot pembangunan J-20. Dan dengan enam dari pesawat besar bermesin ganda ini telah terbang untuk uji coba, China sesungguhnya telah cukup baik dalam menyelesaikan desainnya dan tentunya untuk mendapatkan pesawat tempur baru yang siap tempur di garis depan.

Setelah memulai debut pertamanya dengan bukti-bukti foto yang beredar di internet, prototipe J-20 pertama dengan nomor 2001 terbang pertama kali pada 11 Januari 2011. Prototipe J-20 kedua yang bernomor 2002, lepas landas satu tahun kemudian tepatnya pada Mei 2012.

Nomor 2011 adalah untuk J-20 yang ketiga. Prototipe ketiga ini terbang pertama kali pada Maret 2014. Selanjutnya pada bulan Juli, J-20 yang keempat dengan nomor 2012 terbang dari lapangan udara pabrik di Chengdu.

Butuh waktu 18 bulan bagi insinyur Chengdu untuk menerbangkan 2002 ke udara setelah menerbangkan 2001. Dan hanya empat bulan berselang dari debut 2012, prototipe J-20 kelima dengan nomor 2013 juga lepas landas.

Dan 19 hari kemudian, prototipe J-20 keenam dengan nomor 2015 dan mungkin sebagai prototipe J-20 terakhir telah terbang di langit wilayah Chengdu. Keenam J-20 ini saat ini bermarkas di Pangkalan Udara Yanliang di Xian, pusat uji pesawat tempur utama China.

Enam prototipe J-20 sudah diproduksi, tapi bisa jadi China akan membuat lagi prototipe ketujuh atau kedelapan. Sebagaimana Amerika Serikat yang membangun delapan prototipe F-22 dan mengujinya selama delapan tahun sebelum F-22 yang pertama di produksi secara massal (total produksi 187 unit + 8 prototipe).

Prototipe J-20 ketiga
Prototipe J-20 ketiga. Gambar: internet China
Pentagon menyatakan bahwa J-20 kemungkinan akan mulai dioperasikan Angkatan Udara China pada tahun 2018, tepatnya tujuh tahun setelah prototipe pertama lepas landas. Jika memang benar, maka itu sebanding dengan lamanya uji coba F-22 dan produksi J-20 harus segera dimulai setidaknya tiga tahun dari sekarang.

Yang pasti, J-20 tampak telah mencapai titik akhir evolusinya. Sejumlah perbaikan besar telah dilakukan pada prototipe J-20 ketiga (nomor 2011) dibandingkan dengan dua prototipe sebelumnya, seperti sensor inframerah, pengoptimalan nozel mesin untuk menghindari deteksi radar, dan juga lapisan 'kulit' baru untuk meningkatkan fitur silumannya.

Intinya, sejak prototipe J-20 yang ketiga muncul, desain J-20 berikutnya tidak banyak berubah. Begitu pula dengan prototipe yang terbaru saat ini (yang keenam), mirip dengan prototipe ketiga, hanya saja ekornya yang sedikit berbeda.

Untuk mesin, disebutkan, Beijing kini tengah mengembangkan mesin baru "WS-15" untuk menggantikan mesin prototipe J-20 yang masih menggunakan mesin AL-31F buatan Rusia.
Sumber :  http://www.artileri.org

Manuver Sukhoi Su-35, Bikin Lupa Manuver F-22 dan F-35

Sukhoi Su-35

Sukhoi Su-35 (Sebutan NATO : Flanker E), adalah versi terbaru dari pesawat tempur super manuver multiguna buatan Rusia yang telah menunjukkan kemampuannya yang menakjubkan di hari pertamanya saat pameran penerbangan Paris Air Show ke-50 di Le Bourget, Paris, Prancis.

Dalam video, pesawat tempur generasi 4++ ini mempertunjukkan beberapa manuver yang bisa dikatakan hampir mustahil dilakukan, sekaligus mendemonstrasikan handling authority kecepatan rendah yang menakjubkan.


Ok, itu memang bukan pesawat siluman (namun banyak sumber mengatakan Su-35 bisa mendeteksi pesawat siluman seperti F-35 pada jarak lebih dari 90 kilometer), tetapi sekali saja Su-35 terlibat dalam pertempuran udara dalam jarak visual (WVR), Su-35 akan dengan mudah bermanuver untuk mengarahkan "hidung" dan senjatanya ke arah manapun untuk menemukan posisi yang tepat untuk "membunuh".

Beberapa minggu lalu, banyak yang terkesan dengan sebuah uji coba penerbangan yang dilakukan oleh F-35 JSF. Dalam video itu F-35 memeragakan manuver serangan sudut tinggi (AOA).

Bill Flynn, pilot uji coba Lockheed Martin yang bertanggung jawab untuk kegiatan ekspansi penerbangan untuk JSF baru-baru ini mengatakan bahwa semua varian Joint Strike Fighter (3 varian) akan memiliki kinerja kinematik yang lebih baik dari pesawat tempur generasi kempat, termasuk Eurofighter Typhoon dan Boeing F/A A-18-E/ F Super Hornet.




Manuver F-35 yang ditampilkan dalam video tampaknya biasa saja  Berbeda sekali dengan Sukhoi Su-35 yang sangat mengesankan.


Sumber :  http://www.artileri.org

Sabtu, 27 Februari 2016

JF-17 Thunder Pakistan, Hanya 15 Juta Dolar

JF-17 Thunder Angkatan Udara Pakistan
JF-17 Thunder Angkatan Udara Pakistan. Foto: Defence.pk
Jet tempur JF-17 Thunder juga dikenal sebagai CAC FC-1 (Fighter China-1), adalah pejuang multiguna generasi keempat. Semua rangka/bingkai logam dari jet tempur ini dirancang oleh China untuk angkatan udara Pakistan dan ekspor massal. Kelebihan utamanya adalah pada harganya yang murah. Meskipun awalnya JF-17 dibuat untuk Angkatan Udara China dan Pakistan, namun  sekarang China telah memutuskan untuk "lepas tangan" dari pengembangan JF-17 lebih lanjut dan fokus pada J-10 sebagai penggantinya.
China National Aero-Technology Import & Export Corporation menyatakan biaya yang rendah dari JF-17 dikarenakan sistem onboard-nya yang diadatasi dan diperkecil dari Chengdu J-10. Ini merupakan transfer teknologi dari J-10 ke Jf-17 sehingga biayanya menjadi efektif. Meskipun untuk mencapai biaya rendah ini harus mengorbankan badan pesawat menjadi tak berbahan baku serat karbon komposit, sehingga akan membatasi umur pakainya karena saat ini bisa dipastikan tidak ada lagi jet tempur yang semua badannya menggunakan bahan baku logam.
Daya dorongnya 85 kn dengan afterburner dan memiliki 7 hardpoint (cantelan/tenggekan) untuk membawa senjata. Harga per unit untuk Jf-17 blok I sekitar 15 juta dolar, merupakan biaya yang sangat murah. 
Fitur JF-17

Beberapa fitur yang terdapat pada JF-17 Thunder antara lain :
  • Segera akan diintegrasikan dengan Rudal Ra'ad ALCM.
  • Suite EW dikoneksikan dengan sistem peringatan rudal (MAW) untuk membantu melawan radar rudal.
  • Beberapa modus radar NRIET KLJ-7, yang memungkinkan pengawasan dan keterlibatan simultan dari target udara, darat dan laut, total 40 pengawasan yang dapat dikelola.
  • Menggunakan modus track-while-scan (TWS), memungkinkan radar melacak hingga 10 target diluar jangkauan visual (BVR)
  • Rentang jangkauan operasi untuk target dengan radar cross-section (RCS) dari 5m2, 105 km di modus look-up dan 85 km dalam modus look-down.
JF-17 juga dapat dilengkapi dengan avionik, radar dan persenjataan buatan Eropa. Pakistan sudah mulai bernegosiasi dengan pabrikan-pabrikan pertahanan Inggris dan Italia untuk kelengkapan avionik dan radar JF-17. Beberapa pilihan radar untuk JF-17 antara lain Galileo Avionica Grifo S7 Italia dan Thomson-CSF RC400 Perancis (varian dari RDY-2), juga rudal udara-ke-udara jarak menengah MBDA MICA IR/RF.
Rincian Program JF-17

JF-17 Thunder bermesin tunggal, merupakan pesawat tempur multiguna yang dikembangkan bersama oleh Chengdu Aircraft Industries Corporation (CAC) China dengan Angkatan Udara Pakistan dan Pakistan Aeronautical Complex (PAC).
Harga JF-17/FC-1 sekitar 15 juta dolar, merupakan pesawat tempur yang dirancang dari kerjasama Pakistan dan China untuk menggantikan A-5C China (modifikasi dari MiG-19), F-7P (MiG-21) dan pesawat Perancis Mirage 3/5 dalam armada Angkatan Udara Pakistan.

JF-17 Thunder Angkatan Udara Pakistan

Pakistan dan China menandatangani Letter of Intent untuk pengembangan bersama JF-17 (kemudian disebut "Super-7") pada tahun 1998, diikuti dengan penandatanganan Kontrak pada tahun 1999.

Proyek ini sempat tertunda karena ketidakmampuan untuk memperoleh avionik dan paket radar. Uji terbang perdana dari prototipe JF-17 pertama terjadi pada tahun 2003 di China, kemudian dilanjutkan dengan uji penerbangan dengan modifikasi Intakes Supersonic Divertless, dan modifikasi desain ekor pada tahun 2006.
Tahun 2007, Angkatan Udara Pakistan menerima JF-17 untuk pengujian dan evaluasi lebih lanjut, terbang pertama kali di Islamabad, Pakistan di tahun ini juga. Angkatan Udara Pakistan resmi melantik skuadron utama JF-17 pada tanggal 18 Februari 2010. China memiliki opsi untuk memproduksi pesawat tempur ini, namun China tidak begitu antusias dengan ini dan tidak pernah membuat keputusan yang tegas.
Karakteristik dan Spesifikasi JF-17

Karakteristik dan Spesifikasi JF-17
Kru
1
Harga
US$ 15 juta (perkiraan)
Maksimal berat take off
12,7 ton
Mesin
1Xklimov RD-93 Turbofan
Kecepatan maksimum
Mach 1,8
Jarak operasional
3.000 km
Thrust/berat
0,99
Rate of climb
175m/s
Service ceiling
16,7 km
G-limit
+8,5 g
Hardpoint (cantelan)
7 sampai 9

Analisa

Pakistan sudah sejak lama berseteru dengan India, seandainya kedepan terjadi hal yang tidak diinginkan dari kedua negara ini, JF-17 Thunder Pakistan belum bisa diandalkan untuk bersaing dengan Sukhoi Su-30 MKI India. Su-30 jauh masih lebih unggul daripada JF-17, mulai dari kemampuan BVR, multirole-nya, vektor dorong dan mesin ganda untuk tetap bertahan di udara meski dalam kondisi cuaca buruk.
Sumber :  http://www.artileri.org