Senin, 04 April 2016

Australia Berencana Beli Kapal Selam Soryu Jepang

Petinggi Angkatan laut Australia yang bertanggung jawab atas perencanaan untuk generasi selanjutnya dari kapal selam Australia dan kepala ilmuwan pertahanan sedang mempelajari sebuah kapal selam baru modern yang saat ini berada dalam layanan angkatan laut Jepang.
Admiral Rowan Moffitt, kepala Program Kapal Selam Masa Depan Angkatan Laut Australia, dan Dr. Alexander Zelinsky, Kepala Ilmuwan Pertahanan, melakukan kunjungan ke Jepang beberapa waktu lalu untuk melihat kapal selam kelas Soryu, yang memulai layanan dengan Angkatan laut Jepang sejak tiga tahun lalu.

Akses ke teknologi kapal selam Soryu dibahas dalam kunjungan ke Australia bulan lalu oleh kepala angkatan laut Jepang, Laksamana Masahiko Sugimoto. Kita ketahui, baru pada bulan Desember lalu Tokyo mencabut embargo ekspor peralatan perang dan pertahanan pasca perang dunia II.
Kapal selam Jepang


Kapal selam Soryu berbobot 4200 ton dan merupakan kapal selam konvensional dengan ukuran dan kemampuan baru. Kapal selam Soryu termasuk diantara 12 jenis kapal selam baru yang akan mengambil alih "kekuasaan" kapal selam kelas Collins di Australia, ini ditetapkan dalam "white paper" pertahanan Canberra setidaknya hingga tahun 2020.

"Strategi kami dengan Jepang sejalan, ada beberapa karakteristik yang sangat menarik pada kapal selam Jepang," Admiral Moffit mengatakan. "Jepang juga memiliki hubungan aliansi yang dekat dengan Amerika, seperti halnya Australia juga lakukan. Angkatan laut Jepang beroperasi di Asia dan dilingkungan Pasifik yang sama pula, ini tercermin dari desain dan karakteristik kapal selam mereka." Kapal selam mereka dirancang dengan desain yang sangat baik dan memang untuk itulah kapal selam dibuat," lanjut Admiral Moffit.
"Strategi kami dengan Jepang sejalan, ada beberapa karakteristik yang sangat menarik pada kapal selam Jepang"
Namun, teknologi kapal selam cenderung menjadi "mahkota permata" bagi suatu negara, teknologi untuk membuat kapal selam berada di ujung paling ekstrim dari sensitivitas negara. Mereka/produsen pasti melindungi kekayaan intelektual mereka apalagi seperti Jepang yang mengembangkan kapal selam secara mandiri. Sebagaimana AS, Jepang juga memiliki teknologi pembuatan kapal selam yang sangat baik, mereka telah menginvestasikan banyak uang untuk melakukan itu, jadi jelas mereka akan "melindungi" teknologi kapal selam mereka.
kapal selam Soryu
Kapal selam Soryu jepang

Anggaran peremajaan kapal selam Australia untuk tahun ini adalah sebesar 214 juta dolar, dan departemen pertahanan Australia memilih kapal selam dengan desain baru. Beberapa pilihan telah muncul untuk pengadaan kapal selam baru antara lain: mengadaptasi dari kapal selam yang ada, evolusi dan desain dari kapal selam kelas Collins, mengandalkan desain dari Jerman, Perancis atau Spanyol, sampai pembelian penuh unit kapal selam dari negara lain antara lain yang sedang kita bicarakan yaitu Kapal selam Soryu dari Jepang.
Sumber :  http://www.artileri.org

Inggris Bangun Kapal Selam Nuklir Kelas Astute yang Keenam

Kekuatan armada kapal selam Kerajaan Inggris akan bertambah signifikan seiring dengan dimulainya proses perakitan Agamemnon, kapal selam Angkatan Laut Inggris dari kelas Astute. Bagian lunas, yang merupakan bagian pertama dari pembangunan sebuah kapal, sudah diletakkan dan diresmikan dalam sebuah upacara di galangan kapal BAE Systems Inggris oleh Menteri Pertahanan Philip Dunne.

Kementerian Pertahanan Inggris juga mengumumkan bahwa dua kapal selam pertama dari tujuh kapal kelas Astute, yaitu HMS Astute dan HMS Ambush, saat ini hampir merampungkan uji coba laut mereka yang lama dan telah diserahkan kepada Angkatan Laut Inggris untuk segera dioperasikan.
HMS Ambush
HMS Ambush saat uji coba laut pada September 2102 (Photo: LA(Phot) Stu Hill/MOD)

Tujuh kapal selam kelas Astute dibuat untuk Angkatan Laut Inggris guna menggantikan kapal-kapal selam kelas Trafalgar.

Kapal selam kelas Astute memiliki daya tembak yang lebih besar, perlengkapan komunikasi canggih, lebih "silent" dibanding pendahulu-pendahulunya dan sulit untuk dideteksi oleh radar/sonar.

Karena bertenaga nuklir, kapal selam kelas Astute tidak perlu mengisi bahan bakar setidaknya untuk 25 tahun. Kapal selam ini juga tidak perlu muncul ke permukaan untuk mengambil oksigen, karena sistem canggihnya sudah bisa memurnikan air dan udara. Jangkauan kapal selam ini tidak memiliki batasan, yang membatasinya hanyalah pasokan makanan untuk tiga bulan untuk 98 krunya atau merapat kembali ke pangkalan untuk perawatan.

HMS Astute dan HMS Ambush adalah kapal selam pertama dari kelasnya yang sudah diterima oleh Komando Angkatan Laut Inggris, yang bertanggung jawab untuk semua operasi yang dilakukan oleh Angkatan Laut Inggris.

Tiga kapal selam berikutnya dari kelas Astute adalah HMS Artful, HMS Audacious dan HMS Anson semuanya masih dalam tahap pembangunan, dan peletakan lunas untuk Agamemnon berarti menandai tonggak kunci keberhasilan untuk program tersebut.
BAE Systems Maritime Submarines (BAES (MS)) diserahi tanggung jawab oleh Angkatan Laut Inggris untuk membangun tujuh kapal selam kelas Astute dan juga bertanggung jawab merancang penerus kapal selam kelas Vanguard, yang nantinya akan membawa perisai nuklir Inggris.

Kementerian Pertahanan Inggris telah menyetujui kontrak baru dengan BAES (MS) yang tidak hanya akan mempertahankan lapangan pekerjaan kepada ribuan karyawannya di saat krisis ekonomi, tetapi juga ditujukan untuk menurunkan biaya pembangunan kapal selam di masa depan.

Spesifikasi Kasel Kelas Astute
Bobot
7.400 ton (terendam)
Panjang
97 meter
Lebar
11,3 meter
Draft
10 meter
Propulsi
- Rolls-Royce PWR2 reactor (with full submarine life core)
- MTU 600 kilowatt diesel generators
Kecepatan
29 knot (54km/jam)
Jangkauan
Hanya dibatasi oleh pasokan logistik dan perawatan
Kru
98 (total 109)
Sensor- Thales Sonar 2076
- Atlas DESO 25 echosounder
- 2 x Thales CM010 optronic masts
- Raytheon Successor IFF
Persenjataan
6 tabung torpedo 533 mm dengan mampu membawa hingga 38 senjata:
- Rudal jelajah Tomahawk Blok IV
- Torpedo kelas berat Spearfish

Jumat, 01 April 2016

8 Kapal Selam Nuklir Terbaik di Dunia

Kapal selam nuklir pertama buatan India INS Arihant saat ini sudah menjalani uji coba laut dan rencananya beroperasional penuh pada 2014. Inggris juga telah memasuki era baru dalam pembuatan kapal selam nuklir. Karena berbagai alasan, minat akan kapal selam nuklir semakin tinggi di dunia ini dan jumlah negara yang mengoperasikan kapal selam nuklir pun kian meningkat.

Kapal selam nuklir Inggris HMS Vigilant
HMS Vigilant (Foto : Paul O'Shaughnessy/MOD)

Setelah sebelumnya Rusia sudah menjadi pemimpin soal kapal selam nuklir, kini Rusia kembali membuat terobosan yang cukup besar dengan mengembangkan kapal selam kelas Borei. China pun semakin menunjukkan eksistensinya, namun rincian mengenai armada kapal selam China masih sulit terungkap dan tetap samar seperti biasanya. Sulit untuk mendapatkan informasi lebih tentang alutsista canggih yang dimiliki negara ini.

Berikut gambaran singkat 8 kapal selam terbaik di dunia (urutan tidak mengindikasikan kemampuan atau ukurannya). Seluruh jangkauan kapal-kapal selam nuklir di bawah ini tidak terbatas karena bertenaga nuklir, hanya dibatasi karena persediaan makanan dan perawatan.

1. Kelas Arihant
Kapal selam kelas Arihant India
Kelas Arihant (Foto: Mikesonline2013/Wiki)
INS Arihant merupakan kapal selam bertenaga nuklir pertama buatan India. Diluncurkan pada 26 Juli 2009 dari galangan kapal Angkatan Laut India di Visakhapatnam, markas bagi Komando Angkatan Laut Timur India.

Dibangun dengan biaya US$ 2,9 miliar, kapal selam ini dikembangkan oleh India melalui Bhabha Atomic Research Centre (BARC) dan badan Penelitian dan Pengembangan Pertahanan India (DRDO), plus bantuan desain dari Rusia.

Lima kapal selam direncakan untuk dibangun. Lambung untuk kapal selam kelas Arihant kedua dan ketiga telah dibangun oleh Indian Express. Sebelum INS Arihant beroperasional, INS Arihant setidaknya harus menjalani uji coba laut selama dua tahun yang dimulai pada 2012 lalu.

Kelas Arihant
Panjang
111 m
Lebar
15 m
Draft
11 m
Kecepatan-
Daya selam
300 m
Kru
100
Persenjataan
- 6 tabung torpedo x 533mm,
- 12 x K-15 Sagarika SLBM
atau
4 x K-4


2. Kelas Astute
Kapal selam kelas Astute Inggris
HMS Astute (Foto: royalnavy.mod.uk)
Kapal selam kelas Astute adalah kapal selam Inggris yang dibuat untuk menggantikan kapal selam kelas Swiftsure yang diluncurkan antara tahun 1973 dan 1977. Kapal selam kelas Astute pertama yaitu HMS Astute dan diluncurkan pada bulan Agustus 2010.

Dari tujuh kapal selam kelas Astute yang diperintahkan untuk dibangun, dua unit telah selesai dan saat ini menjalani uji coba laut (HMS Astute dan HMS Ambush) dan empat lainnya (HMS Artful, HMS Audacious, HMS Anson dan HMS Agamemnon) masih dalam tahap konstruksi. Sedangkan kapal selam ketujuh, HMS Ajax, belum dibangun sama sekali.

Kelas Astute
Panjang
97 m
Lebar
11,3 m
Draft
10 m
Kecepatan30 knot
Daya selam
300 m
Kru
98 (total 109)
Persenjataan
6 tabung torpedo 533 mm.
Total bisa membawa 38 rudal jelajah Tomahawk Blok IV dan torpedo kelas berat Spearfish.


3. Kelas Vanguard
Kapal selam kelas Vanguard
HMS Vigilant
(Foto : Paul O'Shaughnessy/MOD)
Kapal selam kelas Vanguard menjadi bagian penting bagi Angkatan Laut Inggris, dan satu-satunya kapal selam berflatform nuklir yang beroperasional penuh di Inggris.

Kapal selam pertama dari kelas Vanguard, HMS Vanguard, beroperasional pada tahun 1993, diikuti oleh HMS Victorious pada tahun 1995, HMS Vigilant pada tahun 1996 dan HMS Vengeance pada tahun 1999.




Kelas Vanguard
Panjang
149,9 m
Lebar
12,8m
Draft
12 m
Kecepatan25 knot
Daya selam
-
Kru
135
Persenjataan
- 4 x 21 in (533 mm) torpedo kelas berat Spearfish,
- 16 rudal balistik Lockheed Trident D5 SLBMs


4. Kelas Ohio
Kapal selam nuklir kelas ohio AS
USS Michigan (Foto U.S. Navy/Brian Nokell)
Beroperasional mulai tahun 1981 dan 1997, Angkatan Laut AS memiliki 18 kapal selam nuklir jenis ini dan penempatannya terbagi antara armada Pasifik dan Atlantik. Empat dari 18 kapal selam ini telah dikonversi menjadi kapal selam bersenjata konvensional.

Electric Boat mengubah empat kapal selam yaitu kelas Ohio yaitu USS Ohio, USS Michigan, USS Florida dan USS Georgia menjadi kapal selam bersenjata konvensional. Konversinya adalah melepas senjata-senjata strategis sebelumnya dan menggantinya dengan rudal-rudal konvensional seperti Tomahawk.

Kelas Ohio
Panjang
170 m
Lebar
13 m
Draft
10,8 m
Kecepatan25 knot
Daya selam
240 m
Kru
155
Persenjataan
- 4 × 533mm tabung torpedo Mark 48,
- 24 × Trident II D5 SLBM


5. Kelas Virginia
Kapal selam kelas Virginia
USS Virginia
(Foto: U.S. Navy/Journalist 2nd
Class Christina M. Shaw)
Kapal selam ini bisa dianggap sebagai kelanjutan desain dari kapal selam serang kelas Seawolf era Perang Dingin, namun dengan harga yang lebih murah. Kapal selam kelas Virginia telah dioperasikan AS sejak tahun 2004. Dari 30 kapal yang direncakan dibangun, sembilan diantaranya sudah aktif dengan 5 unit lagi masih dalam tahap pembangunan. Setidaknya menghemat US$ 1,8 miliar per kapal selam dibanding kapal selam kelas Seawolf.




Kelas Virginia
Panjang
115 m
Lebar
10 m
Draft
-
Kecepatan25 knot
Daya selam
240 m
Kru
135
Persenjataan
- 12 × VLS (rudal jelajah BGM-109 Tomahawk)
- 4 × 533mm tabung torpedo (torpedo Mk-48)


6. Kelas Barracuda
Kapal selam kelas Barracuda Perancis
Kelas Barracuda (Foto : Rama/Wiki)
Enam kapal selam kelas Barracuda Perancis dibuat untuk menggantikan empat kapal selam kelas Rubisa dan dua kapal selam kelas Amethyst dan saat ini menjadi tulang punggung kekuatan armada bawah laut Perancis.

Dibangun dengan biaya per unit sekitar € 1, 45 miliar, dari enam kapal yang direncanakan, dua sedang dalam tahap konstruksi. Kapal selam pertama bernama Suffren, diharapkan akan diterima pada 2016 dan ditugaskan pada tahun 2017, dan kapal-kapal selam berikutnya akan diterima setia dua tahun hingga 2026. Seluruh biaya program pengembangan Barracuda ditaksir senilai € 8,7 miliar.

Kelas Barracuda
Panjang
99,4 m
Lebar
8,8 m
Draft
7,3 m
Kecepatan25 knot
Daya selam
-
Kru
60
Persenjataan
4 × 533 mm tabung torpedo.
Total bisa membawa 12 rudal Exocet SM39 Block2 dan 20 torpedo kelas berat F2


7. Kelas Jin
Kapal selam kelas Jin China
Kelas Jin (Foto Bulwersator /Wiki)
Kelas Jin (Tipe 094) adalah kapal selam rudal balistik bertenaga nuklir yang dikembangkan oleh China. Mulai beroperasi sejak 2010 dan diyakini empat kapal selam sudah dibangun. Jenis yang lebih baru adalah kelas Tang (Tipe 096) namun tidak banyak informasi mengenai kapal selam ini.





Kelas Jin
Panjang
133 m
Lebar
-
Draft
-
Kecepatan20 knot?
Daya selam
-
Kru
-
Persenjataan
- 6 tabung torpedo 533 mm
Rudal:
- 12 JL-2 SLBM
- 16 JL-2 SLBM
- 20-24 JL-2 SLBM


8. Kelas Borei
Kelas Borei
(Foto: Mike1979 Russia/
Schekinov Alexey Victorovich)
Kapal selam nuklir pertama generasi terbaru Rusia dari kelas Borei, Yury Dolgoruky, merupakan kapal selam pertama yang diluncurkan Rusia sejak jatuhnya uni Soviet dan beroperasional penuh pada 10 Januari 2013 lalu.

Kapal selam generasi keempat ini telah dikembangkan sejak tahun 1996 dan dimaksudkan untuk menggantikan kapal selam kelas Delta III dan Typhoon.

Hingga saat ini, baru 3 kapal selam (rencana 6 unit lebih) kelas Borei yang telah selesai dibangun. Alexander Nevsky dan Vladimir Monomakh adalah kapal selam kedua dan ketiga dari kelas Borei dan saat ini masih menjalani uji coba laut.

Kelas Borei
Panjang
170 m
Lebar
13,5 m
Draft
10 m
Kecepatan29 knot
Daya selam
450 m
Kru
107
Persenjataan
- 16 (Project 955), 20 (955А Borei II) × RSM-56 Bulava SLBMs dengan 6 hulu ledak MIRVed
- 6 tabung torpedo 533 mm
- Rudal jelajah RPK-2 Viyuga

Kapal Selam Lada: Dirancang untuk Bertahan dan Menang

Kapal selam diesel-listrik kelas Lada dirancang oleh Rusia untuk menghadapi kapal selam dan kapal permukaan, mempertahankan jalur dan pangkalan angkatan laut, serta untuk misi pengintaian.

Amur 1650
Kapal selam Lada next generation "Amur-1650" (Foto:one half 3544/wiki)
Yury Dolgoruky, kapal selam pertama dari kelas Borey saat ini sudah dioperasikan Angkatan Laut Rusia, dan kapal-kapal selam dari kelas yang sama yaitu Alexander Nevsky dan Vladimir Monomakh dijadwalkan akan dikirimkan pada akhir tahun depan. Ketiga kapal selam tersebut bertenaga nuklir, mengapa Rusia masih membutuhkan kapal selam non-nuklir seperti kapal selam kelas Lada?

Dalam kerangka program persenjataan Rusia, ada rencana untuk membangun dua puluh kapal selam diesel-listrik pada tahun 2020. Empat belas diantaranya adalah modifikasi dari kapal selam kelas Lada sebelumnya dan sisanya merupakan proyek kapal selam diesel-listrik baru.

Lada terbaru adalah Lada generasi keempat yang dikembangkan oleh Biro Desain Rubin Rusia. Ini menjadi wujud pengalaman panjang yang diperoleh selama pengembangan dan perbaikan kapal selam Lada generasi kedua dan ketiga, yang notabene sudah menjadi kapal selam best-seller di pasar persenjataan laut global.

Desain dan kemampuan kapal selam non nuklir (diesel-listrik) menjadikannya baik untuk dioperasikan di perairan pantai dan lepas pantai Rusia, termasuk kawasan Baltik dan Laut Hitam. Kapal selam Lada tidak hanya mampu untuk mempertahankan pangkalan-pangkalan dan pantai, namun juga untuk mencari dan menghancurkan kapal selam dan kapal permukaan musuh.
Proyek kapal selam Lada pertama diluncurkan pada 1980-an. Proyek teknis pertama disetujui pada 1993, dan upgrade signifikan terjadi pada tahun 1997
Negara-negara asing sudah menunjukkan minat tingginya pada kapal selam hasil rancangan Rubin ini. Terutama saat pemeran LIMA 2013 di Malaysia, dimana disini banyak perwakilan negara-negara dari kawasan Asia Pasifik. Pada tahun 2030, wilayah ini (Asia pasifik) diperkirakan akan menjadi pasar lebih dari setengah kapal-kapal selam non-nuklir di dunia. Ini utamanya disebabkan oleh fakta bahwa kapal selam kelas Lada atau disebut juga Amur (versi ekspor) memiliki keunggulan signifikan atas kapal-kapal selam dari Eropa - mampu menyerang dengan rudal secara voli. Rudal dan torpedo otomatis dengan kekuatan mencolok telah diaplikasikan pada Lada, ini belum pernah ada untuk kapal selam yang berbobot sejenis.

Kapal selam lada adalah kapal selam single-hulled, dengan bobot minim menjadikan tingkat kebisingan terminimalisir sekaligus meningkatkan kekuatan propulsinya. Kelas ini menjadi penggunaan yang pertama kali Rusia sejak tahun 1940 untuk desain mono-hull.

Menurut kepala desainer Lada, Igor Molchanov, desain Lada ini telah mengurangi bobotnya, lebih sedikit membutuhkan bahan baku logam, biaya konstruksi rendah, namun kinerja akustiknya ditingkatkan dan membuatnya menjadi silent.

Molchanov mengatakan kapal selam Lada generasi keempat ini memiliki sejumlah perbedaan mendasar dari kapal selam Lada generasi ketiga. Lada yang baru atau Amur (versi ekspor) dilengkapi dengan rudal dan torpedo yang kuat. Sementara rudal jelajah untuk versi Lada sebelumnya hanya dapat ditembakkan dari dua tabung, maka rudal jelajah pada Lada generasi keempat dapat ditembakkan dari semua tabung (6 tabung). Selain itu Lada terbaru memiliki tingkat kebisingan intrinsik yang rendah. Akhirnya, dibandingkan dengan kelas Lada sebelumnya, Lada terbaru memiliki daya jelajah yang lebih jauh dan setidaknya memiliki umur pakai minimal 25 tahun.

Lada juga dilengkapi dengan Lira, sebuah perangkat sonar canggih dengan sistem antena, yang mana di area permukaan bisa disamakan dengan sonar yang digunakan kapal selam nuklir. Fungsi vital kapal selam ini dijalankan oleh sistem otomatis yang komperehensif guna mengendalikan peralatan teknis serta semua fungsi yang terkait dengan persenjataan.

Kapal selam kelas Lada juga berpotensi besar untuk bisa terus dikembangkan, khususnya untuk perangkat elektroniknya. Proyek ini sendiri berpeluang besar untuk mengupgrade sistem elektroniknya. Selain itu Biro Desain Rubin memenuhi keinginan pelanggan untuk membuat kapal selam atau fitur kapal selam yang mereka inginkan.

Kapal Selam Amur 1650 (Lada next generation)
ProdusenBiro Desain Rubin
HargaUS$ 100 juta ? (Wikipedia)
Panjang
66,8 m
Lebar
7,1 m
Bobot1.765 ton?
Kecepatan20 knot
Daya selam
300 m
Jangkauan
7.000 km (pada kecepatan 10 knot)
Daya tahan di laut
45 hari
Kru35
Persenjataan
  • 6 tabung 533 mm
  • 18 torp
  • 10 silo vertikal untuk rudal BrahMos

Selasa, 29 Maret 2016

Kehidupan Pekerja Kapal Pesiar

Kehidupan Pekerja Kapal Pesiar  – Pekerja di kapal pesiar biasa disebut dengan crew, untuk kapal pesiar ada para crew yang bekerja pada bagian Port Operation meliputi bagian Deck dan Engine, ada pula para yang bekerja pada bagian Hotel Operation, sebab pada dasarnya kapal pesiar merupakan hotel yang terapung.
Kelebihan kapal pesiar dibandingkan dengan hotel yaitu bila kita menginap di hotel, kita hanya bisa melihat tempat-tempat di seputar hotel itu berada, sedangkan kapal pesiar, kita tidak hanya sekedar menginap tetapi juga bisa menikmati kemegahan kapal pesiar, menikmati luasnya lautan, serta mengunjungi tempat-tempat yang menjadi jalur pelayaran kapal pesiar tersebut.
.
Banyak masyarakat yang masih belum paham tentang bekerja di kapal pesiar. Mereka sering mengira bekerja di kapal pesiar sama seperti bekerja di kapal tanker, kapal ikan maupun kapal kargo. Dan masih banyak pandangan negatif mengenai para pekerja di kapal, misalnya pekerja pasti bergelimang harta, suka hura-hura maupun main judi & wanita, begitu juga kepada para wanita yang bekerja di kapal pesiar. Ini semua tidak sepenuhnya benar. Semuanya itu tergantung pada kepribadian masing-masing. Memang dengan bekerja di kapal, terutama kapal pesiar, kita akan mendapat uang lebih dibanding bekerja di negara kita, tetapi bukan berarti uang datang dengan sendirinya, dengan gampangnya diperoleh.
Banyak pula orang yang mengira dengan bekerja di kapal pesiar, kita selalu berada di kapal atau berlayar. Ini tidaklah benar, justru sebaliknya, kapal pesiar lebih banyak berlabuh di pelabuhan (Port of Call), jadi pagi hari atau siang hari, tergantung jadwal dan jalur pelayaran kapal. Kapal berlabuh selama sekitar 10 jam (ini juga tergantung jadwal), misal kapal tiba di pelabuhan pada pukul 7 pagi, kapal akan berlayar kembali pada pukul 5 sore, para tamu maupun crew yang turun dari kapal diwajibkan kembali ke kapal selambat-lambatnya 30 menit sebelum kapal berlayar kembali.

Kehidupan Pekerja Kapal Pesiar

Kapal pesiar biasanya berlayar pada malam hari, dan dalam 1 minggu berlayar biasanya terdapat 1-4 hari berlayar/ Sea Day (tidak berturut), sebagai contoh, mulai berlayar dari Pelabuhan Induk (Home Port) pada hari Minggu, lalu hari Senin dan Selasa berlayar, ini untuk memberikan kesempatan pada tamu untuk menikmati kapal pesiar dengan lebih mengenal berbagai seluk beluk di kapal. Hari Rabu, kapal tiba di pelabuhan A lalu hari Kamis berlabuh di pelabuhan B berlanjut Hari Jumat berlabuh di pelabuhan C. Bila kapal berlabuh maka sebagian besar para tamu akan turun untuk berjalan-jalan atau ikut tour yang tersedia dengan biaya tambahan sendiri. Tetapi ada pula tamu yang memilih untuk tetap di kapal menikmati mandi matahari di sekeliling kolam. Dan bukan berarti semua kapal pesiar akan keliling dunia. Biasanya rute pelayaran kapal pesiar ada yang 3, 4, 5, 7 maupun 12 hari atau lebih, maupun yang rute keliling dunia. Tarifnyapun tentu berbeda.
Diperlukan kegigihan, ketabahan dan energi ekstra untuk bekerja di kapal pesiar, karena jauh dari keluarga dan tanah air, jam kerja yang panjang, terkadang kontrak kerja yang panjang. Ada beberapa cruise lines dengan kontrak kerja yang hampir 1 tahun, padahal kita dituntut untuk bekerja 7 hari per minggu. Jadi tidak ada istilah hari libur bagi para crew yang bekerja di kapal. Istirahat yang diberikan hanya beberapa jam, misal dalam 1 minggu kita bekerja, maka kita diberi 1 kali istirahat pagi artinya hari itu kita mulai bekerja pada siang hari dan 1 kali istirahat siang artinya pada hari itu kita hanya bekerja pada pagi dan sore hingga malam hari. Memang pekerja juga bisa menikmati jam istirahat dengan jalan-jalan di sekitar pelabuhan. Walau sering tidak puas karena harus kembali bekerja dalam beberapa jam berikutnya.
Pada umumnya, crew lebih memilih menggunakan jam istirahat untuk tidur, dikarenakan untuk bekerja fisik yang berat memerlukan istirahat yang cukup, dengan tetap tinggal di kapal, juga bisa lebih berhemat, karena dengan jalan-jalan di luar, biasanya diisi dengan acara makan, membeli souvenir atau buah tangan bagi para crew yang akan pulang ke tanah air. Harga barang-barang di sekitar pelabuhan yang merupakan area pariwisata, tentu saja harganya jauh lebih mahal. Atau sekedar membeli barang kebutuhan sehari-hari seperti sabun mandi, sabun cuci/deterjen, shampoo, dll, karena perusahaan hanya menyediakan mesin cuci dan mesin pengering baju, untuk deterjen harus beli sendiri. Tissue juga tersedia, akan tetapi sabun mandi, shampoo maupun pembalut wanita harus dibeli dengan uang dari kantong sendiri. Begitu juga air minum yang tersedia di kapal, biasanya airnya diolah secara kimiawi, sehingga crew lebih memilih untuk membelinya sendiri dari luar atau membeli di Crew Bar dengan harga berkisar USD 1 per botol 1500ml.
Perusahaan menyediakan akomodasi bagi seluruh crew-nya. Tempat tinggal kami di kapal disebut kabin (cabin) yang tentu saja ukurannya kecil seperti kamar kost. Kabin para crew ukuran, maupun fasilitasnya tergantung pada posisi masing-masing. Untuk crew biasa, masing-masing kabin berisikan 2 orang dengan ranjang susun, kamar mandi harus sharing dengan kabin sebelah. Jadi 1 kamar mandi dipakai untuk 4 orang. Di dalam kabin, di tempat saya bekerja, terdapat meja, kursi, lemari pakaian, wastafel, televisi, telpon. Fasilitas keamanan dilengkapi dengan (smoke detector), sprinkler, life jacket yang jumlahnya sesuai dengan jumlah crew yang tinggal di kabin tersebut, buku panduan dan informasi tentang “Emergency Plan”. Merokok, memasak maupun menyeterika di dalam kabin adalah dilarang keras. Pelanggaran terhadap peraturan ini dapat mengakibatkan pemecatan. Untuk merokok, telah disediakan tempat khusus, memasak hanya bagi para juru masak di galley, biasanya crew dari Indonesia hanya akan menuang air panas atau memasak dengan microwave yang tersedia di Crew Mess untuk memasak mie instant.
Di dalam kamar mandi disediakan shower lengkap dengan shower curtain dan toilet. Para crew diwajibkan menjaga kebersihan di kabin masing-masing, diadakan inspeksi pada tiap bulannya dan ada juga inspeksi mendadak. Untuk crew yang bekerja di tingkat management disebut staff, mulai dari Supervisor hingga posisi Manager. Fasilitas maupun letak kabin para staff juga tergantung pada posisi staff yang menempatinya, tentu saja makin tinggi posisi staff tersebut, sudah tentu fasilitas maupun letak kabinnya akan lebih baik dibanding staff di posisi biasa.
Staff biasa, mulai dari Supervisor hingga Assistant Manager dengan menyandang bar 1 (pangkat ditunjukan dengan bar yang berada di pundak) akan menempati kabin dengan kamar mandi pribadi, artinya hanya 2 orang per kabin dengan kamar mandi pribadi, jadi tidak perlu sharing dengan kabin staff lain. Untuk posisi Assistant Manager dengan bar 2 ke atas, mereka akan menempat kabin tunggal (single cabin), di mana hanya tinggal 1 crew per kabin. Posisi kabinpun biasanya di atas permukaan air laut, jadi memungkinkan untuk mempunyai jendela (port hole) di kabinnya.
Kualitas kerja crew dari negara kita tidaklah kalah dibanding dari negara-negara lain, bahkan dari Eropa sekalipun, hanya terkadang kemampuan berbahasa Inggris, kepercayaan diri bangsa kita masih kurang. Keramahan, kepatuhan dan kerajinan para crew dari Indonesia telah diakui. Karena sudah menjadi budaya bangsa kita untuk patuh kepada atasan, selalu ramah dan murah senyum. Hal ini yang menjadikan crew dari Indonesia lebih disukai.
Jadi, kesimpulannya susah senang bekerja di kapal pesiar akan menjadi pengalaman unik. Pengalaman yang sangat berharga. Jadi saya harap dengan membaca tulisan ini, masyarakat kita tidak langsung memberikan cap buruk bagi para crew yang bekerja di kapal pesiar khususnya. Itu semua tergantung dari kepribadian masing-masing. Godaan bisa datang dimanapun kita berada, tidak harus selalu di kapal pesiar. Tulisan ini berdasarkan pengalaman yang saya peroleh, maupun dari pengalaman dan cerita-cerita sesama crew. Apabila terdapat perbedaan, ini bisa dikarenakan beda kapal pesiar, beda cruise lines, maupun perbedaan pandangan.