Kehidupan Pekerja Kapal Pesiar – Pekerja di kapal pesiar biasa
disebut dengan crew, untuk kapal pesiar ada para crew yang bekerja pada
bagian Port Operation meliputi bagian Deck dan Engine, ada pula para
yang bekerja pada bagian Hotel Operation, sebab pada dasarnya kapal
pesiar merupakan hotel yang terapung.
Kelebihan kapal pesiar dibandingkan
dengan hotel yaitu bila kita menginap di hotel, kita hanya bisa melihat
tempat-tempat di seputar hotel itu berada, sedangkan kapal pesiar, kita
tidak hanya sekedar menginap tetapi juga bisa menikmati kemegahan kapal
pesiar, menikmati luasnya lautan, serta mengunjungi tempat-tempat yang
menjadi jalur pelayaran kapal pesiar tersebut.
.
Banyak masyarakat yang masih belum paham tentang
bekerja di kapal pesiar. Mereka sering mengira
bekerja di kapal pesiar
sama seperti bekerja di kapal tanker, kapal ikan maupun kapal kargo.
Dan masih banyak pandangan negatif mengenai para pekerja di kapal,
misalnya pekerja pasti bergelimang harta, suka hura-hura maupun main
judi & wanita, begitu juga kepada para wanita yang
bekerja di kapal pesiar.
Ini semua tidak sepenuhnya benar. Semuanya itu tergantung pada
kepribadian masing-masing. Memang dengan bekerja di kapal, terutama
kapal pesiar, kita akan mendapat uang lebih dibanding bekerja di negara
kita, tetapi bukan berarti uang datang dengan sendirinya, dengan
gampangnya diperoleh.
Banyak pula orang yang mengira dengan
bekerja di kapal pesiar,
kita selalu berada di kapal atau berlayar. Ini tidaklah benar, justru
sebaliknya, kapal pesiar lebih banyak berlabuh di pelabuhan (Port of
Call), jadi pagi hari atau siang hari, tergantung jadwal dan jalur
pelayaran kapal. Kapal berlabuh selama sekitar 10 jam (ini juga
tergantung jadwal), misal kapal tiba di pelabuhan pada pukul 7 pagi,
kapal akan berlayar kembali pada pukul 5 sore, para tamu maupun crew
yang turun dari kapal diwajibkan kembali ke kapal selambat-lambatnya 30
menit sebelum kapal berlayar kembali.

Kapal pesiar biasanya berlayar pada malam hari, dan dalam 1 minggu
berlayar biasanya terdapat 1-4 hari berlayar/ Sea Day (tidak berturut),
sebagai contoh, mulai berlayar dari Pelabuhan Induk (Home Port) pada
hari Minggu, lalu hari Senin dan Selasa berlayar, ini untuk memberikan
kesempatan pada tamu untuk menikmati kapal pesiar dengan lebih mengenal
berbagai seluk beluk di kapal. Hari Rabu, kapal tiba di pelabuhan A lalu
hari Kamis berlabuh di pelabuhan B berlanjut Hari Jumat berlabuh di
pelabuhan C. Bila kapal berlabuh maka sebagian besar para tamu akan
turun untuk berjalan-jalan atau ikut tour yang tersedia dengan biaya
tambahan sendiri. Tetapi ada pula tamu yang memilih untuk tetap di kapal
menikmati mandi matahari di sekeliling kolam. Dan bukan berarti semua
kapal pesiar akan keliling dunia. Biasanya rute pelayaran kapal pesiar
ada yang 3, 4, 5, 7 maupun 12 hari atau lebih, maupun yang rute keliling
dunia. Tarifnyapun tentu berbeda.
Diperlukan kegigihan, ketabahan dan energi ekstra untuk
bekerja di kapal pesiar,
karena jauh dari keluarga dan tanah air, jam kerja yang panjang,
terkadang kontrak kerja yang panjang. Ada beberapa cruise lines dengan
kontrak kerja yang hampir 1 tahun, padahal kita dituntut untuk bekerja 7
hari per minggu. Jadi tidak ada istilah hari libur bagi para crew yang
bekerja di kapal. Istirahat yang diberikan hanya beberapa jam, misal
dalam 1 minggu kita bekerja, maka kita diberi 1 kali istirahat pagi
artinya hari itu kita mulai bekerja pada siang hari dan 1 kali istirahat
siang artinya pada hari itu kita hanya bekerja pada pagi dan sore
hingga malam hari. Memang pekerja juga bisa menikmati jam istirahat
dengan jalan-jalan di sekitar pelabuhan. Walau sering tidak puas karena
harus kembali bekerja dalam beberapa jam berikutnya.
Pada umumnya, crew lebih memilih menggunakan jam istirahat untuk
tidur, dikarenakan untuk bekerja fisik yang berat memerlukan istirahat
yang cukup, dengan tetap tinggal di kapal, juga bisa lebih berhemat,
karena dengan jalan-jalan di luar, biasanya diisi dengan acara makan,
membeli souvenir atau buah tangan bagi para crew yang akan pulang ke
tanah air. Harga barang-barang di sekitar pelabuhan yang merupakan area
pariwisata, tentu saja harganya jauh lebih mahal. Atau sekedar membeli
barang kebutuhan sehari-hari seperti sabun mandi, sabun cuci/deterjen,
shampoo, dll, karena perusahaan hanya menyediakan mesin cuci dan mesin
pengering baju, untuk deterjen harus beli sendiri. Tissue juga tersedia,
akan tetapi sabun mandi, shampoo maupun pembalut wanita harus dibeli
dengan uang dari kantong sendiri. Begitu juga air minum yang tersedia di
kapal, biasanya airnya diolah secara kimiawi, sehingga crew lebih
memilih untuk membelinya sendiri dari luar atau membeli di Crew Bar
dengan harga berkisar USD 1 per botol 1500ml.
Perusahaan menyediakan akomodasi bagi seluruh crew-nya. Tempat
tinggal kami di kapal disebut kabin (cabin) yang tentu saja ukurannya
kecil seperti kamar kost. Kabin para crew ukuran, maupun fasilitasnya
tergantung pada posisi masing-masing. Untuk crew biasa, masing-masing
kabin berisikan 2 orang dengan ranjang susun, kamar mandi harus sharing
dengan kabin sebelah. Jadi 1 kamar mandi dipakai untuk 4 orang. Di dalam
kabin, di tempat saya bekerja, terdapat meja, kursi, lemari pakaian,
wastafel, televisi, telpon. Fasilitas keamanan dilengkapi dengan (smoke
detector), sprinkler, life jacket yang jumlahnya sesuai dengan jumlah
crew yang tinggal di kabin tersebut, buku panduan dan informasi tentang
“Emergency Plan”. Merokok, memasak maupun menyeterika di dalam kabin
adalah dilarang keras. Pelanggaran terhadap peraturan ini dapat
mengakibatkan pemecatan. Untuk merokok, telah disediakan tempat khusus,
memasak hanya bagi para juru masak di galley, biasanya crew dari
Indonesia hanya akan menuang air panas atau memasak dengan microwave
yang tersedia di Crew Mess untuk memasak mie instant.
Di dalam kamar mandi disediakan shower lengkap dengan shower curtain
dan toilet. Para crew diwajibkan menjaga kebersihan di kabin
masing-masing, diadakan inspeksi pada tiap bulannya dan ada juga
inspeksi mendadak. Untuk crew yang bekerja di tingkat management disebut
staff, mulai dari Supervisor hingga posisi Manager. Fasilitas maupun
letak kabin para staff juga tergantung pada posisi staff yang
menempatinya, tentu saja makin tinggi posisi staff tersebut, sudah tentu
fasilitas maupun letak kabinnya akan lebih baik dibanding staff di
posisi biasa.
Staff biasa, mulai dari Supervisor hingga Assistant Manager dengan
menyandang bar 1 (pangkat ditunjukan dengan bar yang berada di pundak)
akan menempati kabin dengan kamar mandi pribadi, artinya hanya 2 orang
per kabin dengan kamar mandi pribadi, jadi tidak perlu sharing dengan
kabin staff lain. Untuk posisi Assistant Manager dengan bar 2 ke atas,
mereka akan menempat kabin tunggal (single cabin), di mana hanya tinggal
1 crew per kabin. Posisi kabinpun biasanya di atas permukaan air laut,
jadi memungkinkan untuk mempunyai jendela (port hole) di kabinnya.
Kualitas kerja crew dari negara kita tidaklah kalah dibanding dari
negara-negara lain, bahkan dari Eropa sekalipun, hanya terkadang
kemampuan berbahasa Inggris, kepercayaan diri bangsa kita masih kurang.
Keramahan, kepatuhan dan kerajinan para crew dari Indonesia telah
diakui. Karena sudah menjadi budaya bangsa kita untuk patuh kepada
atasan, selalu ramah dan murah senyum. Hal ini yang menjadikan crew dari
Indonesia lebih disukai.
Jadi, kesimpulannya susah senang bekerja di kapal pesiar akan menjadi
pengalaman unik. Pengalaman yang sangat berharga. Jadi saya harap
dengan membaca tulisan ini, masyarakat kita tidak langsung memberikan
cap buruk bagi para crew yang bekerja di kapal pesiar khususnya. Itu
semua tergantung dari kepribadian masing-masing. Godaan bisa datang
dimanapun kita berada, tidak harus selalu di kapal pesiar. Tulisan ini
berdasarkan pengalaman yang saya peroleh, maupun dari pengalaman dan
cerita-cerita sesama crew. Apabila terdapat perbedaan, ini bisa
dikarenakan beda kapal pesiar, beda cruise lines, maupun perbedaan
pandangan.