Senin, 28 Desember 2015

China Terus Kembangkan Flanker

J-11

Perhatian dunia banyak tertuju pada program pengembangan pesawat tempur China, seperti J-10, J-20 dan J-21/31. Pabrikan pesawat China "Shenyang" terus mengembangkan seri Flanker yang sudah sejak tahun 1992 menjadi bagian Angkatan Udara Tentara Pembebasan Rakyat China (PLAAF). Versi Flanker terbaru yang sudah diproduksi China saat ini adalah pesawat tempur J-15 versi kapal induk dan pesawat serang multiperan J-16.
Awal Kemunculan Flanker China

China memulai hubungannya dengan Sukhoi Flanker pada tahun 1992, ketika itu China menjadi negara pertama di luar negara-negara bekas Uni Soviet yang memiliki pesawat tempur kelas berat ini. Tiga batch Sukhoi Su-27SK kursi tunggal dan Su-27UBK kursi ganda diperoleh China langsung dari Rusia, sekaligus menjadi awal transformasi kemampuan pertahanan udara China.
Berdasarkan pembelian dan pengalaman menggunakan Flanker, China akhirnya memperoleh lisensi Rusia untuk memproduksi Su-27SK melalui pabrik pesawatnya Shenyang. Akhirnya pada tahun 1996, China memerintahkan pembuatan 200 pesawat, kit perakitan masih dipasok dari Rusia namun proses produksi di China. Pesawat pertama dinamai dengan J-11, namun Flanker hasil rakitan Shenyang ini mengalami masalah quality control, dan produksi akhirnya dihentikan setelah memasuki produksi yang ke-105. Termasuk didalamnya adalah sejumlah J-11AS dengan upgrade pada kokpit dan persenjataan.
Meskipun terkesan menemui kegagalan di awal, Shenyang dan Shenyang Aircraft Design Institute telah mendapatkan pengalaman berharga dalam membangun pesawat, yang pada akhirnya mereka mampu mengembangkan sendiri J-11B. Karena semangat yang tinggi untuk terbebas dari ketergantungan dengan Moskow, industri-industri China mulai membuat sendiri sejumlah komponen kunci agar bisa membangun pesawat tempur tanpa pasokan dari Rusia, dan juga agar bisa menggunakan senjata buatan China sendiri.
Sejauh ini, salah satu komponen pesawat tempur buatan China yang paling berharga adalah mesin Shenyang Liming WS-10A Taihang yang menggantikan mesin Saturn AL-31F. Dan akhirnya prototipe J-11B terbang untuk pertama kalinya pada tahun 2004 dengan dua mesin WS-10A. Produksi J-11B pertama sudah mulai menggunakan mesin buatan China, tetapi karena lagi-lagi terganjal masalah keandalan, akhirnya pesawat produksi berikutnya kembali menggunakan mesin AL-31F. Sekarang tampaknya isu-isu tentang kurang andalnya mesin WS-10A telah berhasil diatasi dan produksi J-11B sudah kembali menggunkan mesin buatan China. Di akhir tahun lalu muncul foto J-11B dengan desain nozzle yang berbeda, ini mengindikasikan adanya perbaikan yang berati pada mesin WS-10A.
Bersama dengan mesin baru, J-11B juga dilengkapi dengan radar multifungsi, sistem pencarian inframerah dan databus buatan China yang membuat senjata-senjata China bisa digunakan, seperti rudal udara ke udara PL-12. Kokpit J-11B juga dibuat dari komponen China, menghadirkan lingkup kerja yang modern bagi pilot dengan 5 layar multi fungsi.
J-11B mulai dioperasikan PLAAF menjelang akhir tahun 2007 dan sejak itu jumlahnya kian bertambah. Pada awal 2010, Angkatan Laut China (PLAN) mulai dilengkapi dengan J-11B untuk misi tempur berbasis pantai. Selain J-11B kursi tunggal, pabrik Shenyang juga mengembangkan J-11B kursi ganda yang dikenal sebagai J-11BS. Pesawat ini terbang pertama kali pada tahun 2007, dan mulai dioperasikan oleh PLAAF dan PLAN pada tahun 2010.
Hiu Terbang

Sama seperti Uni Soviet yang mengembangkan Su-33 Flanker versi angkatan laut untuk memenuhi kebutuhan operasional kapal induk, China juga mengembangkan Flanker angkatan lautnya sendiri untuk memenuhi kebutuhan operasional kapal induk barunya Liaoning. Bahkan, China sampai membeli prototipe Su-33 dari Ukraina sebagai bahan percontohan untuk mengembangkan Flanker angkatan lautnya sendiri.
Dikenal sebagai J-15 atau Flying Shark (Hiu Terbang), Flanker Angkatan Laut China ini sangat mirip dengan Su-33 dalam urusan body dan sistem tetapi menggunakan lebih banyak material komposit untuk menurunkan bobotnya. Dalam hal peralatan misi, pesawat ini masih banyak mengambil teknologi untuk J-11B. J-15 memiliki radar yang sama, meskipun diduga telah dipercanggih untuk mode misi maritim. Juga dilengkapi dengan sistem peringatan rudal seperti yang milik J-11B dengan lima layar pada kokpit.

J-15
Untuk urusan persenjataan, J-15 mengusung berbagai persenjataan presisi untuk misi udara ke udara dan udara ke permukaan, termasuk rudal anti kapal. Salah satu fitur menarik lainnya adalah dilengkapi dengan pod pengisian bahan bakar di tengah, yang memungkinkan J-15 mengisi bahan bakar pesawat lain (terutama saat misi jarak jauh dengan beban senjata yang berat). Pod pengisian bakar ini identik dengan pod UPAZ-1A Rusia, kemungkinan telah impor dan ditiru oleh China.
Seperti yang terjadi pada J-11B, J-15 juga terkendala karena ketidakmampuan industri China menghadirkan mesin yang andal. Mesin yang dimaksud adalah WS-10H, versi angkatan laut dari mesin WS-10A dengan peningkatan daya dorong untuk meningkatkan kecepatan lepas landasnya dari ski-jump deck kapal induk Liaoning. Namun diketahui hanya dua prototipe J-15 yang menggunakan mesin WS-10H, selebihnya menggunakan mesin AL-31F Rusia.
Prototipe J-15 dengan mesin AL-31F terbang pertama kali pada bulan Agustus 2009, dan pada bulan Mei tahun berikutnya berhasil lepas landas dari ski-jump tiruan di darat. Percobaan pada kapal induk yang sesungguhnya dilakukan akhir tahun lalu, berhasil lepas landas dan mendarat pertama kali oleh dua prototipe J-15 pada tanggal 23 November. Dari foto-foto yang beredar di internet terlihat J-15 tersebut masih menggunakan mesin Rusia.
Sementara itu, Shenyang juga mengembangkan J-15 kursi ganda, yang disebut sebagai J-15S. Prototipenya dengan mesin WS-10A terbang pertama kali pada November 2012. Meski kemungkinan besar pesawat ini hanya ditujukan China sebagai pesawat latih, J-15S juga sudah mengusung peran tempur dan peralatan peperangan elektronik.
Flanker Baru

Terkesan dengan pembelian Su-27 pertamanya, China tampaknya juga menginginkan Sukhoi kelas berat guna memenuhi persyaratan misi serangan besar. Pada akhir tahun 2000, batch pertama dari Su-30MKK bomber dua kursi tiba dari Rusia, dengan itu kemampuan PLAAF untuk mengirimkan (misi penembakan) senjata precision-guided pun berubah. Dua batch Su-30MKK, masing-masing 38 pesawat, yang dibeli untuk PLAAF, sedangkan PLAN menerima 25 Su-30MK2 dengan radar yang sudah dimodifikasi dengan kemampuan multi target dari rudal anti kapal.
Berdasarkan pengalaman China mengembangkan J-11B dari Su-27SK, Shenyang dan Shenyang Aircraft Design Institute juga memulai program serupa pada Su-30MKK. Hasilnya adalah J-16, yang kemungkinan besar akan menjadi pesawat tempur utama PLAAF, dan mungkin juga akan digunakan PLAN untuk misi anti kapal.
Seperti halnya J-11B, J-16 banyak menggunakan peralatan buatan China,  termasuk mesin WS-10A. Perubahan yang paling penting adalah radar AESA buatan China, meskipun masih sedikit yang diketahui dari sensor ini. Seperti halnya J-15 dan Su-30MKK, pesawat ini juga memiliki probe refueling retractable (untuk air refueling).
Rincian program J-16 masih samar, tapi tampaknya diketahui bahwa J-16 Flanker pertama telah terbang pada akhir 2011. Tahun lalu setidaknya ada dua prototipe J-16 yang diuji coba oleh PLAAF, dan ada kemungkinan bahwa jenis ini akan mulai memasuki fase evaluasi operasional yang lebih jauh.
Super Flanker China?

Dalam beberapa tahun terakhir, China terus dikabarkan akan memperoleh Su-35 dari Rusia. Su-35 adalah Flanker generasi kedua yang menggabungkan banyak perubahan pada badan pesawat, avionik dan mesin. Disebut-sebut, mesin Saturn 117S/AL-41F pada Su-35 lah yang membuat China tergila-gila pada pesawat ini, yang diketahui bahwa China telah mengalami kendala serius soal pengembangan mesin Flanker.
Potensi penjualan Su-35 ke China mulai terendus media pada awal 2012, awalnya akan dibeli 48 pesawat namun kemudian dikurangi menjadi 24. Laporan mengenai potensi penjualan terus dikabarkan dan pada akhir tahun lalu seorang pejabat senior Rusia mengisyaratkan bahwa kesepakatan penjualan akan ditandatangani pada tahun ini. Namun ada pula laporan lain yang bertentangan, yang mengatakan bahwa pembelian China atas Su-35 tidak dapat dilanjutkan.
Sumber :  http://www.artileri.org

Pesawat-pesawat Tempur Menarik di Pameran Angkatan Udara Iran

F-14 Tomcat
Sama seperti yang dilakukan negara-negara lain, setiap tanggal 21 Maret sampai 31 Maret Angkatan Udara Iran rutin mengadakan pameran dirgantara. Tradisi mengadakan pameran ini sudah merupakan warisan dari imperial sebelumnya, yang mana kini fasilitas militer Iran lebih sering terbuka untuk disaksikan umum.

Pameran udara baru-baru ini dilaksanakan di Pangkalan Udara Dezful, kota Dezful. Pesawat-pesawat yang ditampilkan antara lain, beberapa pesawat AS yang sudah dimodifikasi secara lokal, termasuk sang legendaris F-14 Tomcat, F-4E Phantom (tahun lalu pernah terlibat secara dekat dengan F-22 AS di atas Teluk Persia) dan F-5 Tiger.

F-5 Tiger
F-4E Phantom

Angkatan Udara Iran juga masih mengoperasikan beberapa MiG-29 Fulcrum seperti gambar di bawah ini.
MiG--29 Fulcrum

Su-24 Fencer.
Su-24 Fencer
Gambar: Danial Behmanesh/nahaja.aja.ir

10 Pesawat Tempur Tercepat di Dunia (2014)

Kecepatan dan kelincahan sebuah pesawat tempur akan menentukan seberapa besar dominasinya di udara. Berikut sepuluh pesawat tempur tercepat yang saat ini dioperasikan oleh angkatan bersenjata di dunia.
MiG-29M/MiG-29M2 - 2,25 Mach

MiG-29M2
MiG-29M2 (kursi ganda). Gambar: Alan Wilson from Weston, Spalding, Lincs, UK.
MiG-29M (kursi tunggal) dan MiG-29M2 (kursi ganda) adalah pesawat tempur multiperan generasi 4++ yang mampu terbang dengan kecepatan 2,25 Mach (2.756 km/jam). Desainnya berdasarkan pesawat tempur MiG-29K/KUB (varian untuk kapal induk).

MiG-29M/M2 mampu menyerang target darat/permukaan yang bergerak dan statis dengan menggunakan berbagai senjata, seperti kanon GSH- 301 30mm, rudal udara-ke-udara RVV-AE dan R-73E, rudal udara-ke-permukaan Kh-29T (TE), Kh-31A, Kh-35E and Kh-31P, bom dan roket.

MiG-29M/M2 didukung oleh dua mesin RD-33MK all-aspect thrust-vector control (TVC) yang masing-masing menghasilkan daya dorong 88,26 kN.
MiG-35 Fulcrum F - 2,25 Mach

MiG-35
MiG-35 saat pameran udara MAKS 2007. Gambar: Anatoly (MAKS-2007).
MiG-35 (kode nama NATO: Fulcrum F) adalah pesawat tempur multiperan generasi 4++ berkursi tunggal yang dikembangkan oleh Russian Aircraft Corporation "MiG" (RAC "MiG"). Pesawat ini mampu terbang dengan kecepatan 2,25 Mach (2.756 km/jam). MiG-35 juga ditawarkan dalam konfigurasi kursi ganda yang disebut sebagai MiG-35D.

MiG-35 dikembangkan berdasarkan pesawat tempur MiG-29, dan pertama kali ditampilkan di pameran udara Aero India tahun 2007. MiG-35 dipersenjatai dengan kanon GSh-30-1 30mm, berbagai rudal udara-ke-udara dan rudal udara-ke-permukaan, bom, dan roket.

Dua mesin RD-33MK dengan afterburnernya terintegrasi dengan sistem kontrol elektronik baru dan sistem smokeless combustion chamber. Pesawat ini juga dilengkapi dengan TVC yang sangat membantu dalam skenario pertempuran "dogfight" di udara.
Su-35 Flanker E - 2,25 Mach

Su-35
Su-35 saat ulang tahun ke-100 Angkatan Udara Rusia. Gambar: Sergey Vladimirov from RU a.k.a. Vlsergey.
Pesawat tempur multi peran Sukhoi Su-35 dibangun oleh Komsomolsk-na-Amure Aviation Production Association (KnAAPO) Rusia, merupakan versi modern dari Su-27. Pesawat yang sangat bermanuver ini mampu terbang dengan kecepatan 2,25 Mach (2.756 km/jam).

Su-35 saat ini digunakan oleh Angkatan Udara Rusia. Pesawat ini dipersenjatai dengan kanon GSH-30 30mm, berbagai rudal udara-ke-udara dan rudal udara-ke-permukaan, bom dan roket.

Su-35 didukung oleh dua mesin turbofan Saturn 117S dengan all-axis thrust-vector control (TVC) nozzles. Dengan afterburner, masing-masing mesinnya menghasilkan daya dorong 142 kN. Dengan bahan bakar penuh, Su-35 mampu terbang lebih dari 3.600 km.

Tornado ADV - 2,27 Mach

Tornado ADV
Tornado ADV Angkatan Udara Arab Saudi. Gambar: Koalorka.
Tornado Air Defence Variant (ADV) adalah versi pencegat dari pesawat tempur Tornado yang dikembangkan oleh Panavia Aircraft. Tornado ADV mampu terbang dengan kecepatan maksimum 2,27 Mach (2.780 km/jam), sementara Tornado versi Interdictor and Strike/Electronic Combat and Reconnaissance (IDS/ECR) hanya menawarkan kecepatan maksimum 2,2 Mach (2.695 km/jam).

Lebih dari 950 pesawat tempur Tornado telah dikirim ke berbagai angkatan udara di dunia termasuk Jerman, Italia, Inggris dan Arab Saudi. Persenjataan Tornado ADV terdiri dari kanon Mauser BK-27 27mm, rudal udara-ke-udara AIM 7 Skyflash dan AIM-120 AMRAAM atau AIM-132 ASRAAM.

Tornado ADV didukung oleh dua mesin turbofan Turbo-Union RB199 yang masing-masing menghasilkan daya dorong kering 40,5 kN. Setelah afterburning, masing-masing mesin akan menghasilkan daya dorong lebih dari 70 kN. Dengan penerbangan feri, Tornado ADV dapat terbang sejauh 3.890 km.
MiG-23 Flogger - 2,35 Mach

MiG-23 Flogger
MiG-23 Flogger. AS juga pernah mengoperasikan pesawat ini untuk tujuan penelitian.
Kecepatan terbang hingga 2,35 Mach (2.878 km/jam) menjadikan MiG-23 (kode NATO: Flogger) sebagai salah satu pesawat tempur tercepat di dunia. Lebih dari 5.000 pesawat telah dikirimkan ke berbagai negara di seluruh dunia.

MiG-23 turut berperan dalam Perang Iran-Irak, Perang Soviet di Afghanistan dan Perang Teluk. MiG-23 saat ini masih digunakan dalam jumlah terbatas oleh pengguna asing. Persenjataannya terdiri dari kanon GSH-23 belly-mounted, rudal udara-ke-udara Vympel R-23 (AA-7 Apex) dan R-60 (AA-8 Aphid).

MiG-23 didukung oleh dua mesin turbojet Tumansky R-29B yang masing-masing menghasilkan daya dorong 78,4 kN dan dengan afterburner yang bisa mencapai 112,8 kN.
Shenyang J-11 - 2,35 Mach

Shenyang J-11
Shenyang J-11
Shenyang J-11 adalah pesawat tempur buatan China yang desainnya berdasarkan Su-27SK Rusia. J-11 saat ini dioperasikan oleh Angkatan Udara Tentara Pembebasan Rakyat (PLAAF) China. J-11 mampu terbang dengan kecepatan hingga 2,35 Mach (2.878 km/jam).

J-11 awal masih menggunakan komponen utama buatan Rusia, sedangkan J-11B sudah banyak menggunakan peralatan buatan China, seperti sistem senjata dan avionik. Persenjataan meliputi kanon 30 mm, rudal udara-ke -udara dan udara-ke-darat, bom cluster dan roket.

Kekuatan terbangnya berasal dari mesin Lyulka AL-31F (buatan Rusia) atau Woshan WS-10A Taihang (buatan China). Dengan afterburner, masing-masing mesin menghasilkan daya dorong 123 kN, dan memiliki jangkauan maksimum hingga 3.530 km.
Su-27SK - 2,35 Mach

Su-27 Rusia
Su-27 Tim Aerobatik Rusia. Gambar: Alexander Mishin
Pesawat tempur multiperan Sukhoi Su-27SK merupakan versi ekspor dari Su-27 (kode NATO: Flanker) yang dikembangkan Biro Desain Sukhoi. Pesawat ini mampu terbang dengan kecepatan 2,35 Mach (2.878 km/jam).

Produksi Su-27SK dimulai pada tahun 1991. Persenjataan terdiri dari kanon otomatis GSh-301 30mm,  enam rudal jarak menengah R-27R1 (R-27ER1), dua rudal jarak menengah 27T1 (R-27ET1), enam rudal RVV-AE active radar-homing, enam rudal jarak pendek R-73E, bom cluster dan roket.

Dua mesin AL-31F yang masing-masing menghasilkan rasio dorong 122,6 kN, juga memberikannya kecepatan terbang 1.400 km/jam di permukaan laut. Dengan tanki bahan bakar internal yang berkapasitas 9.400 kg, pesawat ini mampu terbang sejauh 3.530 km pada kecepatan jelajah.
F-15E Strike Eagle - 2,5 Mach

F-15E Strike Eagle
F-15E Strike Eagle Angkatan Udara Amerika Serikat mengisi bahan bakar di udara di langit barat daya Asia, 1 April 2013.
F-15E Strike Eagle yang dibangun oleh Boeing Defense, Space & Security ini adalah pesawat tempur multiperan yang menjadi tulang punggung Angkatan Udara Amerika Serikat. Strike Eagle juga digunakan oleh beberapa negara lain seperti Angkatan Udara Arab Saudi, Singapura, Israel dan Korea Selatan.

F-15 membawa kanon 20 mm, Joint Direct Attack Munitions (JDAMs), Standoff Land Attack Missile Expanded Response (SLAM-ER), rudal AIM-120 AMRAAM, rudal udara-ke-udara AIM-9X Sidewinder dan bom diameter kecil. Mampu menyerang target saat terbang di ketinggian rendah di semua kondisi cuaca baik siang maupun malam.

F-15E didukung dua mesin P&W F100 atau dua GE F110 turbofan, masing-masing memberikan rasio daya dorong 129 kN dengan afterburner. Bila dilengkapi dengan tanki bahan bakar konformal (CFT) dan tiga drop tank, pesawat ini mampu terbang feri sejauh 3.840 km.
MiG-25 Foxbat - 2,83 Mach

MiG-25 Foxbat
MiG-25 Foxbat Angkatan Udara Rusia. Alex Beltyukov - RuSpotters Team.
MiG-25 (Kode NATO: Foxbat) adalah pesawat pengintai dan pencegat yang diproduksi oleh  Mikoyan-Gurevich OKB (sekarang RAC "MiG") yang saat ini digunakan dalam jumlah terbatas oleh Angkatan Udara Rusia dan beberapa negara lain.

MiG-25 telah diimpor oleh beberapa angkatan udara di dunia, antara lain Aljazair, Armenia, Suriah, Bulgaria, India, Irak dan Libya. Persenjataan MiG-25 terdiri dari dua rudal udara-ke-udara AA-6 Acrid dan dua R-40T.

Dua mesin Tumansky R-15B-300 turbojet yang tertanam masing-masing menghasilkan daya dorong sekitar 100,1 kN dengan afterburner yang memberikannya kecepatan maksimum 2,83 Mach (3.466 km/jam).

MIG-31E - 2,83 Mach 

MiG-31 Angkatan Udara Rusia
MiG-31 Angkatan Udara Rusia. Gambar: Vitaly Kuzmin
MIG-31E adalah varian ekspor dari pesawat tempur MIG-31 yang diproduksi oleh RAC "MiG". Pesawat ini memiliki kecepatan maksimum 2,83 mach (3.466 km/jam) dan dapat mengintersep dan menghancurkan target di semua ketinggian, baik di siang maupun malam hari. (Baca juga: MiG-31 Mencegat SR-71 Blackbird Amerika Serikat).

MIG-31 berada dalam layanan Angkatan Udara Rusia dan Kazakhstan. Ini adalah pesawat seri produksi pertama yang dilengkapi dengan airborne phased array radar. Pesawat ini dipersenjatai dengan kanon GSh-6-23M 30mm, rudal jarak jauh R-33E, rudal jarak menengah R-40TD1 (AA-6 'Acrid') dan rudal jarak pendek R-60MK.

MIG-31E memiliki jangkauan 3.000 km tanpa isi bahan bakar dan 5.400 km dengan satu kali pengisian bahan bakar di udara. Dua mesin D-30F6 yang masing-masing menghasilkan daya dorong 152 kN dengan afterburner, memungkinkannya untuk terbang dengan kecepatan 3.000 km/jam lebih pada ketinggian tinggi. (All data from Wiki)
Sumber :  http://www.artileri.org

Kamis, 24 Desember 2015

Eurofighter Typhoon dengan Tangki Bahan Bakar Konformal


Mock up Typhoon dengan CFT

Conformal Fuel Tank (CFT) atau Tanki Bahan Bakar Konformal menjadi salah satu fitur yang dipertimbangkan Eurofighter untuk jet tempur Typhoon dalam usaha penawarannya kepada India (Program Medium multi Role Combat Aircraft)) dan Uni Emirat Arab.
Pihak Eurofighter (dalam hal ini BAE Systems) sudah melakukan pengujian di wind tunnel berkecepatan tinggi di Inggris. Yang mana ditujukan untuk menilai karakteristik aerodinamis dari dua fuselage Typhoon yang dipasangi CFT.
Model Typhoon dengan CFT sebenarnya sudah beberapa kali ditampilkan di beberapa pameran dirgantara dunia, yang terbaru menjelang awal tahun lalu di Al-Ain Air Show di Uni Emirat Arab. Seperti pada gambar di bawah ini.
Typhoon dengan CFT di Al-Ain AIr Show

Dan di bawah ini adalah Typhoon standar tanpa CFT.

Typhoon non CFT
CFT tertanam erat pada bodi Typhoon guna meningkatkan jangkauan atau untuk memperpanjang waktu terbangnya di udara. Berbeda dengan drop tank, CFT tidak bisa dibuang begitu saja di udara karena terpasang erat ke dalam pesawat, proses pelepasan hanya bisa dilakukan di darat. Tercatat beberapa jet tempur lain yang menggunkan CFT antara lain F-15E strike Eagle, beberapa varian F-16, Rafale dan Advanced Super Hornet.

Dengan tanki bahan bakar internal (5.000 liter) dan ditambah dua CFT (1.500 liter), artinya Typhoon akan membawa 6.500 liter bahan bakar. Jangkauan sebelumnya yang 2.900 km berarti bisa meningkat hingga 3.700-an km.

Typhoon baru ini tidak hanya diuji untuk CFT-nya, tetapi juga ada beberapa pengujian lain seperti pengintegrasian rudal jelajah, seperti Storm Shadow dan Taurus.

Gambar atas: BAE Systems
Gambar tengah: Luigi Sani (http://www.flickr.com/photos/gigisani/)
Gambar bawah: Bartek Kozłowiec/Wiki

Piasecki X-49A "SpeedHawk"

X-49A "SpeedHawk"
Piasecki X-49A "SpeedHawk" adalah helikopter empat bilah, dua mesin General Electric T700-GE-701C, dan merupakan helikopter eksperimental yang sedang dikembangkan oleh Piasecki Aircraft untuk Angkatan Darat Amerika Serikat.
X-49A "SpeedHawk"

X-49A masih menggunakan bodi helikopter Sikorsky YSH-60F Seahawk, namun dimodifikasi dengan menambahkan sistem Vectored Thrust Ducted Propeller (VTDP) dan lifting wing hasil desain Piasecki. Teknologi VTDP menggantikan rotor ekor konvensional dan menyediakan anti-torsi dan yaw control dengan tambahan kemampuan dalam daya dorong ke arah depan. Dengan penambahan sayap, helikopter ini akan lebih bermanuver dan  lebih andal.
X-49A "SpeedHawk"
X-49A merupakan bagian dari program eksperimental Advanced Technology Demonstration (ATD) untuk menerapkan teknologi VTDP ke helikopter-helikopter militer guna memberikan berbagai keunggulan mulai dari kecepatan, jangkauan, survivabilitas dan beban yang mampu dibawanya.
X-49A "SpeedHawk"
X-49A Speedhawk terbang pertama kali pada tanggal 29 Juni 2007. Awalnya ini adalah proyek Angkatan Laut AS senilai USD 26 juta dolar yang terdiri dari sebuah helikopter Sikorsky YSH-60F yang dimodifikasi oleh Piasecki Aircraft sebagai helikopter uji coba untuk memvalidasi sistem VTDP. Pada bulan Mei 2003,YSH-60F/VTDP berganti nama menjadi X-49A. Dan pada tahun 2004, program X-49A VTDP dialihkan dari Angkatan Laut AS ke Angkatan Darat AS. Hingga saat ini program X-49A masih terus berjalan.
Gambar: Piasecki Aircraft