Rabu, 27 Januari 2016

AS Siap Sediakan Pengganti F-5 Tiger TNI AU

F-16 Block 60
Amerika Serikat telah menyatakan kesiapannya untuk menyediakan pengganti untuk pesawat tempur F-5 Tiger Indonesia, hal ini diungkapkan oleh David AB. Shear, US Assistant Secretary of Defense for Asian and Pacific Security Affairs, pada hari Jumat, 23 Januari 2015.

"Saya belum memahami betul rincian rencana penggantian F-5, tapi kami selalu siap dan bersemangat untuk mendiskusikan peluang masa depan kami dengan rekan-rekan kami di Indonesia," Shear mengatakan.

Menurut Shear, Indonesia dan AS memiliki kerjasama pertahanan yang komprehensif, termasuk latihan militer, penjualan persenjataan, dan pertemuan pertahanan tingkat tinggi.

Hubungan bilateral antara Indonesia dan AS didasarkan pada nilai-nilai dan kepentingan kedua negara, yang telah terbentuk sejak lama, Shear menambahkan.

Menurut Shear, AS tidak berencana untuk menjatuhkan embargo suku cadang untuk militer Indonesia.

"Sulit bagi saya membayangkan AS memberlakukan embargo (militer) yang akan mempengaruhi Indonesia, yang merupakan mitra yang kuat," katanya.

Dia mencatat bahwa pemerintah AS akan melakukan semua upaya guna memastikan dukungan yang andal, suku cadang dan komitmen untuk peralatan militer Indonesia.

"Kami memiliki perjanjian penting pada jet tempur F-16 dan helikopter Apache (dengan Indonesia)," tambah Shear.

Seperti diketahui, pemerintah Indonesia telah berencana untuk mengganti pesawat tempur F-5E Tiger dengan beberapa pilihan, diantaranya Sukhoi Su-35, Saab JAS 39 Gripen 39, Eurofighter Typhoon, dan F-16 Fighting Falcon Block 60.
Sekilas F-16 Fighting Falcon Block 60

F-16 yang ditandai dengan angka Block dibelakangnya menunjukkan upgrade. Masing-masing Block memiliki perangkat lunak, perangkat keras, sistem, kompabilitas senjata dan perangkat struktural tertentu dan dapat disesuaikan dengan permintaan pelanggan.

F-16 Block 60 diupgrade dengan sejumlah sistem baru yang canggih agar tetap superior di udara yang mana hal ini menjadi persyaratan angkatan udara saat ini.

Beberapa sistem baru pada F-16 Block 60, antara lain:
  • Tanki bahan bakar konformal baru yang secara signifikan meningkatkan jangkauannya.
  • Flight control canggih dan kemampuan deteksi radar yang baru.
  • Avionik baru yang menyediakan data sensor yang lebih banyak dan kesadaran situasional yang lebih tinggi bagi pilot.
Sumber: The Jakarta Post, Lockheed Martin
Gambar: Aero Resource UK

Pengadaan Alutsista dan Kerjasama Teknik Militer dengan Rusia

Su-35

Pemerintah Rusia melalui duta besar yang berada di Indonesia, mengatakan di tahun 2015 pihak Rusia siap untuk meneruskan pengembangan kerjasama bidang teknik militer dan bidang pertahanan dengan pemerintah Indonesia.

Dubes Rusia juga berharap hubungan kerjasama militer dan pertahanan yang telah tercapai di tahun lalu akan menjadi pondasi yang baik untuk perkembangan di tahun selanjutnya.

Demikian dikatakan duta besar Rusia untuk Indonesia M.Y.Galuzin saat bertemu dengan Menteri Pertahanan RI, Ryamizard Ryacudu, Kamis, 15 Januari 2015, di Kantor Kementerian Pertahanan RI, Jakarta.

Putusan kesiapan pihak Rusia tersebut merupakan tindak lanjut atas kesepakatan yang telah dicapai antara Presiden RI Joko Widodo dengan Presiden Rusia,  Vladimir Putin disela-sela pertemuan APEC tahun 2014 lalu. Adapun salah satu kesepakatannya adalah perkuat hubungan teknik militer dan kerjasama di bidang pertahanan diantara kedua negara.

Pembicaraan kerjasama teknik militer ini juga sempat dibicarakan antara Presiden Joko Widodo dengan Direktur Jenderal Rosoboronexport dan Duta Besar Rusia untuk Indonesia pada tanggal 8 Desember 2014. Pada kesempatan tersebut Presiden Joko Widodo membenarkan adanya minat dari Pemerintah Indonesia untuk mengembangkan kerjasama teknik militer dengan pihak Rusia.
Rusia siap meneruskan dan memulai kerjasama dibidang pengadaan beberapa alutsista, seperti pesawat tempur Su-35 dan kapal selam Kelas Kilo
Lebih lanjut Dubes Rusia menjelaskan bahwa pihak Rusia bersedia untuk meneruskan kerjasama terhadap proyek-proyek yang mempunyai prospek besar berdasarkan kesepakatan yang telah dicapai kedua belah pihak.

Ditambahkan dubes Rusia pihaknya siap untuk meneruskan dan memulai kerjasama dibidang pengadaan beberapa alutsista, seperti pesawat tempur multiperan Sukhoi Su-35 dan kapal selam Project 636 (Kelas Kilo). Disamping itu berbagai jenis peralatan untuk angkatan darat jenis Panser, helikopter transportasi Mi-17, helikopter serang plus transportasi MI-35 dan K-25, kendaraan berat BMP3F dan jenis alutsista lain.

Tidak hanya itu, Pemerintah Rusia juga akan siap mengembangkan kerjasama di bidang industri pertahanan, diantaranya untuk pelaksanaan proses Transfer of Technology (ToT), mengadakan Joint Production menghasilkan bersama untuk suku cadang berbagai jenis alutsista, mengembangkan skema offset termasuk juga didirikannya service center.

Oleh karena itu pihaknya kata Dubes Rusia siap menerima kunjungan dari beberapa pejabat militer dan pertahanan dari Indonesia seperti kunjungan KASAL dan KASAU ke Rusia untuk melihat langsung pesawat tempur jenis Su-35 dan kapal selam Project 636.

Pada kesempatan pertemuan itu, Menhan mengatakan apa yang menjadi harapan dari pihak Rusia adalah keinginan yang sama bagi pihak Indonesia untuk bisa mengembangkan kerjasama teknik militer dengan pihak Rusia.

"Dari Presiden terdahulu hingga Presiden Rusia yang sekarang Indonesia dengan Rusia menjalin hubungan kerjasama militer, dan kedepannya diharapkan makin meningkat," ungkap Menhan.

Menhan juga menyampaikan ketertarikannya akan pengadaan pesawat yang mampu mendarat di permukaan air atau laut (pesawat amfibi). Keinginan Menhan ini terkait dengan kebijakan Presiden RI Jokowi yang memberikan perhatiannya terhadap hal kemaritiman. Menurut Menhan pesawat ini berguna untuk melaksanakan patroli terhadap pencurian ikan di laut dan bisa digunakan untuk membantu operasi pencarian kecelakaan jatuhnya pesawat di laut.

"Karena Presiden kita concern terhadap hal maritim, saya tertarik akan pesawat yang bisa mendarat di air. Nanti berguna untuk patroli di laut terhadap pencurian ikan di laut dan bisa digunakan untuk membantu pencarian kecelakaan jatuhnya pesawat di laut," kata Menhan.

Sumber: DMC
Gambar: Ace Combat

Rabu, 20 Januari 2016

Argentina Kemungkinan Beli 20 Pesawat Tempur FC-1 Xiaolong China

FC-1 Xiaolong

Argentina dan China dilaporkan telah menandatangani kesepakatan untuk pembelian 20 pesawat tempur FC-1 untuk meningkatkan kemampuan tempur Angkatan Udara Argentina. Langkah yang dapat meningkatkan ketegangan di Atlantik Selatan pada 14 Februari tersebut merupakan tindak lanjut dari kunjungan tiga hari Presiden Kristina de Kirchner ke Beijing pekan lalu, di mana Argentina menyepakati 15 perjanjian ekonomi dan investasi keuangan dengan China yang secara signifikan akan meningkatkan perekonomian Argentina.

Keputusan ini muncul belum lama sejak Buenos Aires mengadakan pembicaraan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin untuk pembelian 12 pesawat tempur pembom Su-24 Fencer.

Sumber mengatakan kepada Sunday Express bahwa kesepakatan dengan Rusia, yang dilaporkan oleh Sunday Express pada September 2014 lalu, telah dibatalkan setelah serangkaian penundaan dan kekhawatiran akan layanan purna jual Rusia.

Tapi sekarang, kegagalan pembelian Su-24 Fencer tersebut telah tergantikan dengan pembelian 20 pesawat tempur FC-1 buatan China yang harga per unitnya ditaksir antara USD 15 sampai 20 juta.

Dalam "working group" yang dibentuk oleh kedua negara, Beijing setuju untuk memasok sekitar 20 unit pesawat tempur FC-1 yang diproduksi oleh Chengdu Aircraft Corporation China.

Bernama lengkap CAC FC-1 Xiaolong (Fierce Dragon) oleh China, atau disebut sebagai PAC JF-17 Thunder, pesawat ini adalah pesawat tempur multiperan, ringan dan bermesin tunggal yang dikembangkan oleh Chengdu Aircraft Industries Corporation (CAC) China dengan bekerjasama dengan Pakistan Aeronautical Complex (PAC) Pakistan.

Kode JF-17 pada JF-17 Thunder yang disebut oleh Pakistan adalah singkatan dari "Joint Fighter-17", sedangkan sebutan FC-1 Xiaolong oleh China merupakan singkatan dari "Fighter China-1".

Baca juga:  Myanmar Berencana Produksi Sendiri Pesawat Tempur JF-17 Thunder

FC-1 Xiaolong dapat dipersenjatai hingga 3.629 kg senjata udara-ke-udara dan udara-ke-darat, serta berbagai peralatan lainnya yang dipasang pada tujuh cantelan (hardpoint) eksternal. FC-1 juga dapat membawa droptank berbagai ukuran untuk membawa bahan bakar tambahan.

Pesawat berkursi tunggal ini memiliki kecepatan tertinggi Mach 1,8 (2205 km per jam) di ketinggian 55.000 kaki (16.764 meter) dan jangkauan tempur hingga 1352 km, yang berarti pesawat ini dapat terbang dengan nyaman ke Port Stanley dan kembali ke Pangkalan Udara Tierra del Fuego di Argentina Selatan. (Air Recognition)
Sumber :  http://www.artileri.org

China Peroleh S-400 Rusia, Taiwan dalam Genggaman


Peluncur S-400
Pada November 2014 lalu, Rusia mengungkapkan bahwa mereka telah menjual enam batalyon sistem rudal pertahanan udara S-400 kepada China. Harga untuk setiap batalyon S-400 disebutkan senilai USD 500 juta yang juga termasuk pelatihan kru, suku cadang, dan rudal tambahan. Pengiriman batalyon S-400 pertama dijadwalkan pada tahun depan.
Satu batalyon S-400 yang dijual ke China terdiri dari delapan peluncur rudal, masing-masing dengan dua buah rudal, ditambah pusat komando dan radar, serta 16 rudal tambahan untuk isi ulang.

S-400 sebelumnya dikenal sebagai S-300PMU-3, kemudian berganti nama menjadi S-400 "Triumf" karena dinilai lebih dari sekedar upgrade dari sistem rudal S-300. NATO sendiri menyebutnya sebagai SA-21 Growler. Rusia pertama kali menyebarkan batalyon S-400 pada tahun 2010, di sekitar kota Moskow.

Menurut analis Barat, S-400 dengan kemampuan peperangan elektronik dan sistem radar yang baik telah memberikan ancaman serius bagi pesawat-pesawat tempur Barat. Dibandingkan dengan sistem rudal pertahanan udara Patriot Amerika Serikat, rudal S-400 secara fisik lebih besar dan memiliki jangkauan yang lebih jauh. Rudal S-400 berdimensi panjang 8,4 meter, diameter 50 cm dan berbobot 1.800 kg. Rudal ini memiliki jangkauan sekitar 400 kilometer, dan dapat mencegat target di ketinggian 31.000 meter. Rudal ini membawa 145,5 kg hulu ledak, dengan target acquisition radar sejauh 700 kilometer. Usia pakai rudal S-400 dilaporkan selama 15 tahun sebelum akhirnya memerlukan perbaikan.

Jangkauan S-400 dua kali lipat dari jangkauan Patriot AS, dan diklaim mampu mendeteksi pesawat yang berfitur low-signature (sukar terdeteksi radar konvensional). Selain sebagai sistem rudal anti pesawat, S-400 juga memiliki kemampuan anti rudal, yakni untuk rudal balistik jarak pendek (3.500 kilometer) dengan kecepatan sekitar 5.000 meter per detik dari jarak 60 kilometer dari peluncur rudal S-400.  

Peluncur rudal S-400 mampu meluncurkan dua jenis rudal, satu rudal besar dengan jangkauan hingga 400 kilometer dan satu rudal yang berukuran lebih kecil dengan jangkauan 120 kilometer. Empat rudal kecil (rudal 9M96E2) dapat dimuat pada satu peluncur. Rudal yang besar sebenarnya juga terdiri dari dua jenis, satu rudal dengan jangkauan 250 kilometer (rudal 48N6) dan satu lagi yang berjangkauan 400 kilometer (rudal 40N6). Meskipun S-400 belum pernah dikerahkan dalam pertempuran yang sesungguhnya, berdasarkan rangkaian uji coba Rusia sebelumnya intelijen AS yakin bahwa S-400 adalah sistem rudal yang mumpuni. Di tahun 2015 ini, Rusia berencana untuk melengkapi tentaranya hingga 200 peluncur masing-masing dengan dua atau empat rudal.

Analis menilai, batalyon pertama S-400 China akan disebarkan di sepanjang pantai untuk mengatasi Taiwan. Satu batalyon S-400 sudah cukup mengkover seluruh ruang udara Taiwan, sehingga mampu melumpuhkan kekuatan udara Taiwan. Sedangkan batalyon S-400 berikutnya kemungkinan akan disebarkan China untuk mengatasi Jepang, Korea Selatan, dan Vietnam.

Dalam skenario terjadi perang antara China dan Taiwan, setelah China meluncurkan rudal permukaan-ke-permukaan yang menghancurkan pangkalan udara dan landasan pacu Taiwan di awal terjadinya perang, S-400 akan menghancurkan pesawat-pesawat tempur Taiwan yang berhasil terbang lebih dulu. Diketahui, China telah menyebarkan 1.300 rudal jarak pendek yang ditujukan untuk Taiwan. Pangkalan-pangkalan udara Taiwan akan hancur oleh China ketika perang baru saja dimulai. Tentunya ini dalam skenario perang Taiwan secara tunggal, tidak dibantu oleh AS atau Jepang.

Meskipun begitu, menurut sumber resmi dari Departemen Pertahanan Taiwan yang dilansir media, bahwa meskipun S-400 mudah disebarkan (karena semua diangkut dengan truk) namun jika China tetap menempatkannya di lokasi statis seperti halnya penyebaran S-300 sebelumnya, maka akan membuatnya rentan terhadap serangan dan membuat sistem rudal tersebut tidak berguna.
China sebelumnya telah memiliki sistem rudal S-300 yang dibeli dari Rusia (juga diproduksi sendiri oleh China dengan nama berbeda) dan telah disebarkan untuk mengatasi Taiwan, namun S-300 tidak mampu mengkover seluruh ruang udara Taiwan seperti halnya S-400. Inilah salah satu alasan mengapa China sangat menginginkan S-400.

Wacana Rusia akan mengekspor  S-400 mencuat pada tahun 2011 lalu. China diketahui telah 'merayu' Rusia agar menjual S-400 sejak awal tahun 2012, namun Rusia belum bersedia menjual karena alasan ingin memenuhi kebutuhan tentaranya terlebih dahulu selain karena alasan kekhawatiran S-400 akan dikloning China seperti yang terjadi pada S-300 dan pesawat tempur Sukhoi.

Ada satu hal yang layak dijadikan perbincangan terkait pembelian S-400 oleh China ini. Rusia mengumumkan penjualan S-400 kepada China ini hanya selang beberapa hari sejak pejabat China memberikan dukungannya atas posisi Rusia atas Krimea dan Konflik di Ukraina. Adakah hubungan dari kedua peristiwa ini?

Referensi: Strategy Page, RIA Novosti, Defense News, FAS, Wikipedia

Minggu, 17 Januari 2016

Rusia Kembali Tawarkan Kapal Selam ke Indonesia

Kelas Kilo Project 636

Setelah gagal mendapatkan kontrak pengadaan kapal selam baru beberapa tahun lalu, pemerintah Rusia kembali "merayu" pemerintah Indonesia untuk kapal selam Kelas Kilo dari Project 636 untuk memperkuat pertahanan maritim Indonesia.

Juru bicara Kementerian Pertahanan Kolonel Djundan mengatakan bahwa pada hari Kamis lalu Duta Besar Rusia MY Galuzin telah bertemu dengan Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu guna membahas kerjasama militer dan kemitraan pertahanan antara kedua negara.

"Rusia siap menyediakan beberapa sistem persenjataan penting, termasuk kapal selam Tipe 636, jet tempur Su-35, dan helikopter Mi-17," kata Djundan kepada The Jakarta Post pada hari Jumat, menambahkan bahwa Rusia juga siap untuk mentransfer teknologi.

Mengenai tawaran tersebut, Djundan mengatakan bahwa saat ini pihak Kementerian Pertahanan masih menimbang sistem senjata baru apa yang terbaik bagi negara.

Kapal selam adalah mesin perang yang efektif, yang dapat bertindak sebagai pencegah karena kapasitasnya yang tersembunyi di bawah air. Kapal selam Rusia Tipe 636 utamanya difungsikan untuk misi anti-kapal permukaan dan anti-kapal selam di perairan dangkal. Tipe ini juga cocok di segala kondisi cuaca.

Negara-negara yang tercatat telah mengoperasikan kapal selam dari kelas ini adalah Aljazair, China, India, Rumania, dan Vietnam.

Indonesia memiliki sejarah panjang dalam mengoperasikan kapal selam bekas Uni Soviet. Pada tahun 1967, Indonesia mengakuisisi 12 kapal selam Kelas Whiskey dari Uni Soviet.

"Indonesia telah memiliki kerjasama militer dengan Rusia sejak pemerintahan Presiden Rusia sebelumnya. Saya berharap kemitraan militer akan terus berkembang di masa depan," kata Ryamizard saat pertemuan dengan MY Galuzin.

Pada tahun 2009 lalu, Rusia dan Korea Selatan bersaing untuk mendapatkan kontrak pengadaan kapal selam untuk TNI AL, pada akhirnya Korea Selatan-lah yang menjadi pemenang dengan kapal selam Kelas Chang Bogo-nya.

Pada tahun 2011, Indonesia menandatangani kontrak dengan Daewoo Shipbuilding and Marine Engineering (DSME) dari Korea Selatan untuk pembangunan tiga kapal selam Kelas Chang Bogo senilai USD 1,07 miliar. Dua kapal akan dibangun di Korea Selatan sementara kapal yang ketiga akan dibangun sendiri oleh Indonesia di fasilitas galangan kapal PT PAL di Surabaya sebagai bagian dari skema transfer teknologi.

Pada tahun 2013 lalu, Indonesia juga sempat melakukan pembicaraan dengan Rusia untuk pengadaan sejumlah kapal selam kelas Kilo, saat itu masih dibawah kepemimpinan Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro. Namun, tidak ada kesepakatan yang dicapai.

TNI AL saat ini diketahui hanya mengoperasikan dua kapal selam buatan Jerman, KRI Cakra 401 dan KRI Nanggala 402, yang dibangun di era 80-an. Keduanya akan dinonaktifkan pada tahun 2020.

"Indonesia membutuhkan sedikitnya 12 kapal selam untuk mengontrol wilayah," kata KSAL Laksamana Marsetio pada Desember lalu.

Dalam pertemuannya dengan Duta Besar Rusia, Ryamizard juga mengatakan minatnya untuk pengadaaan pesawat amfibi. Ryamizard mengatakan bahwa pesawat amfibi sangat penting untuk melakukan operasi pengawasan  di wilayah laut negara Indonesia.

"Pesawat ini dapat digunakan untuk memerangi illegal fishing dan evakuasi di laut," katanya.

Sebelumnya dilaporkan bahwa Presiden Jokowi dan Presiden Rusia Vladimir Putin telah bertemu saat pertemuan APEC akhir tahun lalu, dan keduanya sepakat untuk melanjutkan kerjasama pertahanan dan teknologi militer.

Presiden Jokowi juga bertemu dengan Direktur Jenderal badan senjata Rusia Rosoboronexport dan duta besar Rusia pada 8 Desember. Dalam pertemuan tersebut presiden menegaskan bahwa Indonesia tertarik bermitra dengan Rusia untuk teknologi militer.

Sumber: The Jakarta Post. http://www.thejakartapost.com/news/2015/01/17/russia-makes-further-submarine-offer.html
Gambar: Rubin Rusia