Minggu, 15 Maret 2015

Korsel Kirim 2 Jet Tempur ke Filipina Tahun Depan

FA-50
Filipina menanti pengiriman 2 dari 12 jet latih tempur FA-50 dari Korea Selatan yang akan dikirimkan pada bulan Desember tahun depan.

"Jadwal yang diproyeksikan adalah Desember tahun depan untuk dua jet pertama,'" kata Presiden Aquino di sela-sela KTT ASEAN-Republic of Korea Jumat lalu.

"Kami mendapatkan 12 (jet tempur FA-50), (Pengiriman) akan selesai pada tahun 2017," tambahnya.

Aquino mencatat bahwa Filipina terakhir kali memiliki pesawat tempur pada tahun 2005, tahun dimana Angkatan Udara Filipina (PAF) menonaktifkan armada jet tempur F-5 setelah sebelumnya menjaga wilayah nasional Filipina selama lebih kurang 40 tahun.

F-5 yang berpatroli di wilayah barat laut Filipina tersebut akhirnya dipensiunkan setelah pejabat pertahanan menyatakan bahwa armada F-5 mereka sudah terlalu tua dan terlalu mahal untuk dipertahankan.

Dekomisi atas F-5 praktis membuat Filipina tak berdaya dalam menghadapi ancaman eksternal dan mematikan kemampuan tempur PAF.

Aquino mengatakan bahwa FA-50 akan meningkatkan kemampuan PAF dalam memantau wilayah negara dan membuat kemampuan tempur pilot Filipina tidak menurun.

Kini Filipina tidak memiliki pesawat tempur, dan untuk mengamankan wilayahnya Filipina hanya menggunakan aset-aset udara yang sudah berusia puluhan tahun.

Aquino mengatakan bahwa dibutuhkan waktu sekitar 4-8 jam sebelum pesawat 'tua' seperti Nomad dan Islander dapat menjangkau daerah-daerah operasi mereka.

"Sebagai contoh, jika Anda ingin memeriksa sesuatu, karena ini (FA-50) adalah jet maka akan cepat sampai disana," kata Presiden.

"Anda dilatih untuk merencanakan penggunaan radar dan panduan pengendali udara. Kita mungkin akan kehilangan semua kemampuan ini. Tujuan (dari pembelian FA-50) adalah untuk mempertahankan kemampuan mereka," tambahnya.

Maret lalu, Filipina dan Korea Aerospace Industries (KAI) menandatangani kontrak pembelian 12 jet tempur latih FA-50 senilai P18,9 miliar (sekitar USD 423 juta). Proyek ini adalah proyek pembelian terbesar dalam program modernisasi Angkatan Bersenjata Filipina. (The Philippine Star)
http://www.artileri.org

Australia Operasikan Kapal Serbu Amfibi HMAS Canberra

HMAS Canberra III

Angkatan Laut Australia (RAN) telah resmi mengoperasikan HMAS Canberra III (L02), yang merupakan kapal pertama dari dua kapal serbu amfibi atau dikenal dengan Landing Helicopter Dock (LHD) Kelas Canberra.

Kepala Staf RAN Vice Admiral Tim Barrett mengatakan saat peresmian HMAS Canberra di Pangkalan Armada Timur, Sydney, pada 28 November 2014: "HMAS Canberra adalah tambahan menarik untuk RAN, kapal yang sangat andal ini akan melayani bangsa dengan baik untuk beberapa dekade mendatang."

Pembangunan HMAS Canberra dimulai di Spanyol pada tahun 2008, dengan lambung diluncurkan oleh galangan kapal Spanyol Navantia pada tahun 2011. Lambung ini kemudian diangkut ke Australia pada akhir 2012 untuk diselesaikan oleh BAE Systems Australia.

HMAS Canberra mengusung sistem propulsi diesel dan gas turbin (CODAG), yang dikombinasikan dengan satu turbin gas LM 2500 dan dua generator diesel MAN 16V32/40. Mampu berlayar dengan kecepatan maksimum 20 knot (37 km/jam) - digambarkan oleh media Australia kecepatannya lebih cepat dari beruang kutub namun lebih lambat dari rusa kutub.

Kapal berbobot benaman 27.831 ton ini merupakan kapal terbesar yang pernah dibangun untuk RAN, akan dikerahkan untuk menangani situasi pertempuran, keadaan darurat kemanusiaan, dan untuk mengangkut peralatan dan unit penerbangan militer. Yang pasti akan secara signifikan meningkatkan kemampuan penyebaran amfibi Angkatan Pertahanan Australia (ADF).

LHD yang berdimensi panjang 230 meter dan lebar 32 meter ini dipersenjatai dengan empat senjata otomatis 20 m, enam senapan mesin 12,7 mm, senjata anti-torpedo dan sistem decoy Nulka.

HMAS Canberra memiliki empat dek utama; dek kendaraan berat, akomodasi, hanggar dan kendaraan ringan, dan penerbangan. Mampu mengangkut lebih dari 1.000 personel, 4 kapal pendarat, 100 kendaraan lapis baja, 12 tank tempur utama dan 18 helikopter. HMAS Canberra dirancang untuk dapat beroperasi di pelabuhan sekunder, serta bermanuver di perairan dangkal di daerah pesisir.
HMAS Canberra III
HMAS Canberra III
Selain untuk situasi tempur, Canberra dirancang untuk melakukan misi bantuan kemanusiaan dan bencana skala besar. Di dalamnya terdapat fasilitas medis lengkap dengan dua ruang operasi, satu ruangan Critical Care Unit dengan delapan tempat tidur, dan ruangan perawatan lainnya. Selain itu, HMAS Canberra juga mengakomodasi layanan radiologi, patologi, fasilitas farmasi dan gigi.

Komandan HMAS Canberra Captain Jonathan Sadleir mengatakan: "Melalui banyak upaya, kapal yang luar biasa ini akhirnya menjadi kenyataan."

"Kami tahu kapal ini memiliki kemampuan yang mengagumkan, tetapi langkah selanjutnya adalah pergi ke laut untuk prosedur pengujian, memperbaiki dan mengkonsolidasikan, sehingga kita dapat siap ketika bangsa membutuhkan."

Meskipun menjadi kapal pertama di kelasnya, HMAS Canberra diberikan nomor  L02, bukan L01. Kapal Kelas Canberra yang kedua HMAS Adelaide yang akan diberi nomor L01, yang rencananya akan mulai dioperasikan RAN pada bulan Juni tahun depan.

HMAS Canberra III

All resources: Royal Australian Navy

Akhirnya Rusia Ekspor Sistem Rudal S-400

S-400 Triumf

Pemerintah Rusia dikabarkan telah menandatangani kontrak ekspor sistem rudal pertahanan udara S-400 Triumf untuk yang pertama kalinya. Kontrak antara badan eksportir senjata rusia Rosoboronexport dan Kementerian Pertahanan China ini adalah senilai USD 3 miliar untuk penyediaan enam batalion S-400, demikian yang dilaporkan laman Vedomosti pada hari Rabu.

Rencana penjualan S-400 antara kedua negara telah dibahas sejak beberapa tahun terakhir. Pada tahun 2011, Kementerian Pertahanan Rusia mengumumkan bahwa eskpor S-400 baru akan dimulai setelah tahun 2016, yakni ketika kebutuhan Angkatan Darat Rusia akan S-400 sudah terpenuhi.

S-400 Triumf dikembangkan oleh Biro Desain Almaz-Antey, gabungan industri-industri pertahanan Rusia khususnya pengembang senjata anti pesawat. S-400 merupakan sistem rudal permukaan ke udara jarak jauh dan menengah, yang dirancang untuk mencegat target udara, seperti pesawat tempur siluman dan rudal balistik dan jelajah pada jarak 400 kilometer dan ketinggian hingga 60 kilometer (media-media Rusia melaporkan untuk rudal balistik di ketinggian 30 kilometer).

Disebut NATO sebagai SA-21 Growler, S-400 merupakan upgrade dari sistem rudal pertahanan udara S-300 namun dengan fitur penggunaan 3 rudal berbeda, meliputi rudal jarak menengah 9M96 (120 km), rudal jarak jauh 48N6 (250 km) dan 40N6 (400 km). Masa operasinya juga meningkat hingga 20 tahun masa pakai. Satu baterai S-400 dapat mencegat hingga 36 target dengan 72 rudal secara simultan (bersamaan). S-400 sangat ideal untuk membela kota, pangkalan militer dan fasilitas sensitif lainnya dari serangan udara.

Dalam perang modern, dominasi udara merupakan faktor penting untuk menang atas musuh. Sistem rudal seperti S-400 yang dilengkapi dengan radar yang kuat dan kemampuan anti jamming akan membuat kekuatan udara musuh sangat sulit untuk menghancurkan target yang berada di jangkauan perlindungan sistem pertahanan udara tersebut.

Tentara Pembebasan Rakyat China (PLA) sebelumnya telah memiliki 15 batalion sistem rudal pertahanan udara S-300 yang dibeli melalui kontrak pada tahun 2010. China juga membuat versi S-300 nya sendiri yang disebut dengan nama HQ-9 yang baru-baru ini dibeli oleh Turki.

Selain menjual S-400, Rusia juga telah setuju untuk memasok pesawat tempur Su-35 standar ke China.

Wakil pertama direktur umum Sukhoi Boris Bregman dikutip oleh IHS Jane mengatakan: "Saat pembicaraan, kami memberitahu pihak China bahwa kami dapat menyediakan versi standar dari pesawat tempur Su-35, yang pengembangannya telah sepenuhnya selesai, telah diuji, dan disertifikasi oleh Angkatan Udara Rusia."

"Saya pikir bahwa kontrak akan ditandatangani pada akhir 2014 atau awal 2015," ujar Bregman.

Untuk ekspor ke China, Rusia siap memodifikasi Su-35, termasuk untuk integrasi dengan perangkat yang berbeda, algoritma tambahan, dan user interface yang berbahasa China yang akan dilakukan di bawah kontrak tambahan.

Baru-baru ini Rusia dan China juga sepakat memperkuat hubungan industri militer dengan dan juga meningkatkan intensitas latihan angkatan laut bersama.




 http://www.artileri.org

Selasa, 17 Februari 2015

Pakistan Berencana Beli Pesawat Tempur Siluman J-31 China

J-31

Untuk meningkatkan kemampuan tempur udara, Pakistan berencana membeli pesawat tempur siluman J-31 dari China, demikian menurut situs pertahanan asal India Brahmand. Hal ini tengah dibahas oleh pihak berwenang China, Menteri untuk Produksi Pertahanan Pakistan Rana Tanveer Hussain mengatakan seperti yang dikutip surat kabar Dawn.

"Ini adalah untuk pertama kalinya bahwa pejabat tinggi pemerintah mengonfirmasikan pembicaraan dengan China perihal pembelian pesawat tempur siluman jarak jauh. Isu yang telah menjadi subyek spekulasi di kalangan pertahanan sejak pameran dirgantara Airshow China 2014 yang diselenggarakan pada awal bulan ini, yakni ketika pesawat (J-31) itu muncul untuk yang pertama kali dihadapan publik," surat kabar Dawn melaporkan Sabtu.

Mingguan pertahanan Jane juga mengutip pernyataan seorang pejabat Pakistan yang tidak disebutkan namanya yang mengatakan bahwa Angkatan Udara Pakistan (PAF) sedang dalam pembicaraan dengan China untuk membeli 30-40 pesawat tempur Shenyang FC-31 (varian ekspor dari J-31).

FC-31 dikembangkan oleh China utamanya khusus untuk pasar ekspor, dan dilaporkan beberapa negera telah menunjukkan minatnya pada pesawat yang dinilai memiliki kemiripan dengan F-35 Joint Strike Fighter Amerika Serikat.

Prototipe J-31 (saat ini baru 1 prototipe yang diproduksi) dikembangkan dan diproduksi oleh perusahaan China Shenyang Aviation Company dan terbang pertama kali pada 31 Oktober 2012. Salah satu yang membuat Pakistan tertarik pada FC-31 adalah karena FC-31 dan JF-17 (pesawat tempur yang diproduksi Pakistan) sama-sama menggunakan mesin Klimov RD-93 Rusia.

Pakistan semakin mengandalkan China sebagai sumber untuk pengadaan alat pertahanan yang terpercaya. Hussain mengatakan bahwa selain J-31, Pakistan juga tertarik pada helikopter serang CAIC WZ-10 China. Untuk kerjasama pertahanan membangun pesawat, sebelumnya China dan Pakistan bekerjasama mengembangkan pesawat tempur JF-17 Thunder.

Pakistan, yang saat ini memproduksi JF-17 varian Block-2 di Pakistan Aeronautical Complex, Kamra, mengincar pesanan dari Timur Tengah dan Afrika. Pakistan sendiri sangat semangat dalam memasarkan pesawat tempur hasil kerjasama dengan China ini.

"Kami akan mengonfirmasi pesananan dari tujuh negara untuk JF-17. PAF menginginkan 250 pesawat (JF-17), tapi kami sekarang kami memutuskan untuk menjual beberapa JF-17 Block-2 kepada pembeli internasional selain memenuhi permintaan lokal kami," kata sang menteri.



 http://www.artileri.org

Pesawat Angkut Kelas Berat Y-20 China Unjuk Gigi di Airshow China

Y-20 saat Airshow China 2014
Pesawat angkut udara strategis kelas berat buatan pertama China "Y-20 Kunpeng" akan segera dikirimkan ke Angkatan Udara China, seorang senior eksekutif penerbangan mengatakan, sembari menambahkan bahwa pengembangan mesinnya sudah sangat baik.

"Kami masih perlu melakukan uji coba di darat dan di udara, jadi saya tidak bisa memberitahu kapan waktunya akan dikirimkan," Geng Ruguang, deputy general manager dari Aviation Industry Corp of China (AVIC), pabrik pesawat terkemuka negara itu, mengatakan saat pameran dirgantara 10th China International Aviation and Aerospace Exhibition, yang dikenal sebagai Airshow China, di Zhuhai, Provinsi Guangdong. "Namun, saya yakin (Y-20) akan dapat dikirimkan dalam waktu dekat," tambah Geng.

Tepuk tangan ribuan penonton bergemuruh saat Y-20 yang memiliki empat mesin turbofan terbang pada Selasa Pagi sesaat setelah Airshow China dibuka. Ini untuk pertama kalinya pesawat berbadan bongsor tersebut menampakkan dirinya di hadapan publik.

Mesin turbofan baru yang lebih kuat hasil pengembangan China mengantikan mesin impor yang dipasang pada pesawat angkut besar tersebut, kata Geng.

Laporan sebelumnya mengatakan bahwa WS-20, mesin high-bypass-ratio sedang dalam pengembangan untuk nantinya digunakan oleh Y-20, dan sedang menjalani uji coba.

"Biasanya, jika sebuah pesawat prototipe tidak mengalami masalah atau mampu membuktikan dirinya selama uji coba penerbangan, maka pesawat tersebut dapat dikirimkan dalam sebuah pameran dirgantara. Hal ini berarti pengembangan Y-20 berjalan sangat baik," tambah Geng. Dia mengatakan bahwa para insinyur akan menguji kompabilitas pesawat pada bandara sipil selama berada di Zhuhai.

Y-20 yang diawaki oleh tiga orang ini terbang pertama kali pada bulan Januari 2013, menjadikan China sebagai negara ketiga di dunia setelah Amerika Serikat dan Rusia yang mengembangkan pesawat angkut militer kelas berat. Pesawat angkut militer kelas berat seperti ini utamanya akan digunakan untuk mengangkut muatan militer besar.

Y-20 yang berdimensi panjang 47 meter dan rentang sayap 45 meter ini memiliki kapasitas angkutan maksimum sebesar 66 metrik ton dan berat maksimun saat lepas landas 200 ton, menurut sumber-sumber intelijen militer. Dengan daya angkut yang besar, artinya Y-20 mampu membawa tank tempur utama terberat Type-99A2 Angkatan Darat China yang berbobot 58 ton.

Berdasarkan evaluasi teknis oleh majalah Aerospace Knowledge, saat membawa muatan 51 ton dan berbahan bakar penuh, Y-20 memiliki jangkauan 5.200 kilometer, yang berarti dapat mencapai titik di Eurasia, Alaska, Australia dan Afrika Utara. Dengan muatan maksimum 66 metrik ton, Y-20 dapat terbang sejauh 3.700 km, memungkinkan pesawat ini terbang nonstop dari Harbin, Provinsi Heilongjiang, ke Lhasa di wilayah otonomi Tibet.

Y-20 adalah pesawat kargo pertama di dunia yang dikembangkan menggunakan teknologi cetak 3-D untuk mempercepat proses pembangunan dan menekan biaya produksi.

Tang Changhong, kepala desain Y-20, sebelumnya mengatakan kepada kantor berita Xinhua bahwa Y-20 telah berhasil membawa muatan maksimum dan telah mencapai ketinggian terbang tertinggi. Dan pilot tes mengatakan Y-20 memiliki sifat aerodinamis yang baik, stabil selama lepas landas dan mendarat, dan memilki daya angkut yang luar biasa.

Selain bertugas mengembangkan Y-20, AVIC juga tengah megembangkan pesawat angkut militer turboprof  bermesin empat, Y-30, model yang juga dipamerkan AVIC saat Airshow China 2014.




 http://www.artileri.org