Rabu, 25 Maret 2015

Libya Peroleh 4 Su-27, Entah Darimana

Su-27 Ukraina
Angkatan Udara Libya dinyatakan telah menerima empat pesawat tempur Sukhoi Su-27 "Flanker" buatan Rusia. Namun tidak dijelaskan darimana mereka mendapatkannya.

Seperti yang dikabarkan Libya Herald, kantor berita HoR LANA mengutip pernyataan seorang pejabat Libya (anonim) bahwa sumber-sumber informasi militer di Angkatan Bersenjata Libya (LNA) menegaskan pada 5 Januari 2014 empat pesawat tempur Sukhoi Su-27 Flanker telah bergabung dengan skuadron Angkatan Udara Libya.

Laporan itu mengatakan bahwa sumber menginformasikan Su-27 tersebut memiliki 150 putaran senapan G-301 dan sejumlah roket R-27R1 dan R-27T1 jarak menengah (radar directed) dan amunisi (bom) udara ke darat dengan berat 100, 250 dan 500 kilogram. Sumber juga mengklaim bahwa Su-27 memiliki jangkauan 3.530 kilometer dengan kecepatan maksimum 2.500 kilometer per jam. Mampu terbang di udara dalam waktu yang lama, dan dapat bermanuver dan menyerang kembali hingga tiga kali.

Menurut sumber, Su-27 yang baru diterima ini akan meningkatkan kemampuan LNA dalam memerangi kelompok ekstremis di seluruh negeri, terlebih untuk mengintensifkan serangan udara di kota Misrata.

Seperti yang diungkapkan seorang pejabat militer Libya yang dikutip oleh laman Financial Times: "Pelabuhan Misrata digunakan untuk mentransfer elemen teroris dan ekstremis, baik terhadap Libya maupun asing. Misrata adalah ancaman paling berbahaya bagi negara Libya saat ini." Angkatan Udara Libya juga telah mengancam untuk menembak jatuh setiap pesawat militer atau sipil Sudan atau Turki yang memasuki wilayah udaranya.

Sayangnya, LNA tidak mengungkapkan darimana mereka mendapatkan Su-27 ini. Tidak juga dijelaskan apakah kondisinya baru, bekas, atau pinjaman dari negara sahabat atau sekutu. Akhirnya muncul spekulasi darimana Libya mendapatkan pesawat ini.

Jika pesawat ini merupakan hasil refurbish atau upgrade dari pesawat-pesawat Angkatan Udara Libya, bisa jadi. Tapi sumber tersebut jelas menyebutkan bahwa 4 pesawat itu adalah Su-27. Lagipula, meskipun di bawah pemerintahan Moammar Khadaffi Libya adalah klien dekat Uni Soviet, namun Libya tidak secara resmi terdaftar sebagai pembeli Su-27, termasuk negara tetangganya seperti Mesir dan Aljazair.

Sebuah spekulasi pun muncul, mengatakan bahwa pesawat ini kemungkinan disuplai oleh Ukraina, yang mana ekonominya saat ini sedang carut marut akibat perang saudara terhadap pemberontak yang didukung Rusia. Tapi tetap saja tidak ada bukti Ukraina yang menyuplai pesawat ini ke Libya. Sedangkan sumber terbanyak Su-27 lainnya yaitu Rusia dan China tampaknya diragukan untuk menjual pesawat tempur secara sembunyi-bunyi, kecuali tersembunyi dalam hal jumlah.
Gambar: Su-27 Angkatan Udara Ukraina/Oleg Belyakov
http://www.artileri.org

Masalah Software: F-35 Tidak Bisa 'Menembak' Hingga 2019

F-35A
Jet tempur F-35 Pentagon mungkin belum akan beroperasi sepenuhnya hingga tahun 2019, hal ini karena ditemukan kesalahan pada komputernya baru-baru ini. Padahal jet termahal AS yang proyeknya senilai USD 400 miliar ini direncanakan akan mulai beroperasi pada tahun depan.

F-35 adalah pesawat tempur generasi kelima yang terdiri dari tiga varian, yaitu untuk Angkatan Udara, Angkatan Laut dan Korps Marinir Amerika Serikat untuk menggantikan pesawat tempur sebelumnya. Rencananya, F-35 akan bergabung dengan Korps Marinir AS pada tahun depan dan Angkatan Udara AS pada tahun 2016.

F-35 dikembangkan untuk menggantikan pesawat serangan darat A-10 Warthog dan F-16 Angkatan Udara AS, pesawat berbasis kapal induk Boeing F/A-18 Hornet Angkatan Laut, dan Boeing AV-8B Harrier II Jump Jet milik Korps Marinir AS.

Namun, senjata utama pesawat ini yang paling ditunggu tidak akan bisa berfungsi akibat kesalahan pada komputernya. Meriam rotary empat laras untuk F-35 varian Angkatan Udara (F-35A) tidak bisa berfungsi hingga software baru dikembangkan, padahal pesawat ini akan segera bergabung dengan Angkatan Udara AS pada tahun depan.

"Tidak akan ada senjata hingga ada software 3F (Joint Strike Fighter), tidak ada software untuk mendukung penggunaan senjata atau (bahkan hingga) empat tahun kedepan," kata seorang pejabat Angkatan Udara AS yang turut dalam proyek F-35 mengatakan kepada Daily Beast. "(Software) Block 3F dijadwalkan baru akan dirilis pada tahun 2019."

Masalah ini terbilang sangat akut untuk sebuah jet tempur dengan salah satu misinya untuk operasi dukungan udara (Close Air Support/CAS). F-35 memang masih dipersenjatai dengan senjata lain, tapi ini masih belum cukup.

"Kurang canggihnya tembakan artileri di sebuah pesawat dalam mendukung operasi CAS merupakan suatu kecacatan besar," seorang pilot berpengalaman memberikan komentar kepada Daily Beast. "(Padahal) Pertempuran CAS lebih sering terjadi."

Dilengkapi dengan senjata, versi F-35A Angkatan Udara membawa amunisi yang cukup. Meskipun mampu menembak hingga 3.300 putaran per menit, namun pesawat ini hanya membawa membawa 180-220 putaran. Dua F-35 versi lain yaitu versi Angkatan Laut dan Korps Marinir memiliki konfigurasi pod senjata eksternal yang berbeda.

Produksi F-35 yang menghadapi penundaan dan masalah membengkaknya biaya proyek akibat berbagai masalah pada perangkat lunak dan cacat produksi. Proyek jet yang telah menelan biaya USD 400 miliar dimulai pada tahun 2006. Biaya telah membengkak dua kali lipat sejak awal konstruksi pada tahun 2011, sehingga menjadikan proyek F-35 sebagai proyek senjata termahal dalam sejarah militer.

Namun, Pentagon membantah pengoperasian F-35 akan tertunda, International Business Times melaporkan. Di samping itu juga tidak ada pihak yang bertanggung jawab pada proyek F-35 (dalam hal ini Lockheed Martin) yang memberikan komentar perihal ini.

Desember lalu, masalah dengan bahan bakar juga ditemukan. Mesin F-35 akan mati ketika bahan bakar terlalu panas, meskipun informasi ini dibantah oleh Pentagon.

Musim panas lalu, F-35 seharusnya menjadi bintang penerbangan pada pameran udara Farnborough Air Show di Hampshire, Inggris, namun pesawat yang paling ditunggu penampilannya ini tidak muncul. Hal ini terkait pengandangan seluruh F-35 sebelumnya akibat insiden kebakaran F-35 di sebuah Pangkalan Udara di Florida pada bulan Juni 2014.

Pentagon berencana membeli 2.443 jet F-35 dalam tiga varian. Inggris juga telah mengorder 14 jet, Namun, proyek pesawat tempur generasi kelima ini semakin menuai kritikan tajam terkait biaya pengembangannya yang fantastis.

"Bagi saya, hal ini memberikan indikasi jelas bahwa program (F-35) ini dalam masalah serius," kata seorang pejabat Angkatan Udara AS kepada Daily Beast.

F-35 dirancang dan dibangun oleh perusahaan Amerika Lockheed Martin Aeronautics yang sebelumnya memproduksi F-16 Fighting Falcon, pesawat tempur multiperan yang memiliki reputasi yang baik di seluruh dunia. (RIA Novosti)
http://www.artileri.org

Sabtu, 21 Maret 2015

Jika Pembelian Rafale Gagal, India Produksi Su-30MKI

Su-30MKI
Untuk pertama kalinya sejak 31 Januari 2012, ketika pesawat tempur Rafale Prancis terpilih sebagai kandidat utama program MMRCA (medium multi-role combat aircraft) untuk Angkatan Udara India (IAF), terjadi kendala serius dalam proses negosiasi pembelian dengan Dassault Prancis, produsen Rafale, laman Business Standard India melaporkan.

Berbicara dihadapan media pada Selasa malam, Menteri Pertahanan India Manohar Parrikar mengatakan bahwa ada "komplikasi" dalam negosiasi," sudah terjadi selama hampir tiga tahun. Pihak Dassault Prancis enggan memenuhi persyaratan pembelian IAF yang tertuang di dalam tender.

Kabar yang lebih menakutkan lagi bagi Dassault, Parrikar menyatakan bahwa produksi dalam negeri Su-30MKI oleh Hindustan Aeronautics Ltd (HAL) akan cukup untuk IAF dalam skenario IAF tidak berhasil mendapatkan Rafale.

"Su-30MKI adalah pesawat yang memadai untuk memenuhi kebutuhan angkatan udara," kata Parrikar.
Dassault Rafale

Kabar terakhir menyebutkan bahwa keengganan Prancis tersebut terkait permintaan India yang ingin memproduksi sendiri 108 unit pesawat tempur Rafale dengan transfer teknologi kepada HAL seperti yang diamanatkan di dalam tender.

Hingga tahun 2018, IAF berencana untuk untuk memiliki 272 Su-30MKI (pada Agustus 2014 berjumlah 200 unit). HAL sendiri memproduksi Su-30MKI dengan harga per unit sekitar Rs 358 crore (USD 56 juta). Harga ini dinilai kurang dari setengah harga Rafale.

Menurut ketentuan tender MMRCA, 18 dari 126 Rafale yang akan dibeli India akan dipasok langsung dari pabrik Dassault Prancis, sedangkan sisanya 108 unit akan diproduksi oleh HAL India melalui transfer teknologi. Biaya proyek ini awalnya sebesar Rs 42.000 crore (USD 6,6 miliar), namun menurut analisa para analis telah meningkat menjadi Rs 100.000 crore (USD 15,6 miliar).

Meskipun Rafale terus dijajakan untuk ekspor ke luar negeri, sejauh ini belum ada negara di luar Prancis yang menggunakannya, pembeli yang paling potensial saat ini hanyalah IAF. Banyak analis pertahanan yang menyoroti mahalnya harga pesawat inilah yang menyebabkan sulitnya penjualan Rafale. Biaya per unit Rafale di tahun 2010 adalah sekitar USD 100 juta, sedangkan biaya operasionalnya untuk satu jam penerbangan mencapai USD 16.500 (tahun 2012). Sebagai perbandingan, biaya satu jam terbang SAAB JAS 39 Gripen Swedia hanya sekitar USD 4.700, ini berdasarkan pendapat Institute for Defense Studies and Analysis pada tahun 2009.
Gambar Su-30MKI: aeroprints.com
Gambar Dassault Rafale: USAF

Tahun ini, Militer Rusia Terima 38 Rudal Balistik Antar Benua

Penembakan ICBM Topol-M
Pasukan Nuklir Strategis Rusia mendapatkan tambahan 38 rudal balistik antar benua (ICBM) baru pada tahun ini, termasuk di dalamnya 22 rudal balistik berbasis kapal selam (ditembakkan dari kapal selam), Menteri Pertahanan Sergey Shoigu mengatakan pada hari Jumat dalam sebuah pertemuan Dewan Kementerian Pertahanan, seperti dilansir laman Itar TASS.

Persentase peningkatan persenjataan pada Angkatan Darat telah mencapai 56 persen, katanya. Pasukan Rudal Strategis sekarang telah memiliki tiga resimen baru yang mengoperasikan rudal ICBM Yars.

Pada Desember ini juga Angkatan Laut Rusia telah memiliki tiga kapal selam strategis bertenaga nuklir dari kelas Borei, dengan kapal selam ketiga (Vladimir Monomakh) yang masuk layanan pada 19 Desember kemarin. Kapal selam pertama (Yury Dolgorukiy - Januari 2013) dan kedua (Aleksandr Nevskiy - Desember 2013) dari kelas Borei telah bertugas sepenuhnya di Angkatan Laut Rusia. Rusia berencana untuk memiliki 10 kapal selam kelas Borei.

Sedangkan dari matra lain, Angkatan Udara Rusia pada tahun ini telah menerima 140 pesawat dan dan 135 helikopter. Termasuk di dalam 142 pesawat tersebut adalah 53 pesawat tempur yang terdiri dari Sukhoi Su-30 dan Su-35, 18 pesawat pencegat MiG-31VM, 16 pesawat tempur pembom Su-34 dan 28 pesawat latih dan angkut. Sedangkan untuk helikopter, termasuk di dalamnya 46 helikopter serbu dan 72 helikopter serang.
http://www.artileri.org

India Akan Sewa Lagi Kapal Selam Nuklir Rusia

Kapal selam kelas Akula Rusia
Angkatan Laut India akan segera memiliki kapal selam nuklir kedua. Pemerintah India telah memutuskan untuk menyewa kapal selam nuklir kedua dari Rusia, pejabat Kementerian Pertahanan India mengatakan seperti dilansir laman NDTV.

Saat ini, India mengoperasikan sebuah kapal selam nuklir kelas Akula II berbobot 13.400 ton (menyelam) yang diganti namanya oleh Angkatan Laut India menjadi INS Chakra. Kapal selam ini disewa oleh India dari Rusia sejak tahun 2011 untuk jangka waktu 10 tahun, dengan biaya sewa sekitar USD 970 juta.

Dalam perjanjian sewa, India hanya boleh menembakkan senjata konvensional (non nuklir) dari kapal selam ini. Kapal selam kedua yang rencananya akan disewa adalah "Iribis" dari kelas Akula I (improved) dan diharapkan memiliki kondisi yang sama seperti INS Chakra. Kapal selam Iribis tidak pernah melaut karena pembangunannya tidak pernah selesai pasca runtuhnya Uni Soviet pada awal 1990-an. Iribis yang kondisi pembangunannya 60 persen ini rencananya akan diselesaikan untuk kemudian disewakan kepada India (kemungkinan akan beroperasi pada tahun 2017 setelah uji coba laut).

Dua hari lalu, kapal selam nuklir pertama buatan India INS Arihant memulai uji lautnya, dan diharapkan akan segera bergabung dengan Angkatan Laut India dalam dua tahun ke depan. Saat ini India sedang dalam proses untuk membangun lagi tiga kapal selam nuklir. Lunas dari kapal selam nuklir kedua dari kelas Arihant sudah diletakkan.

Keputusan India untuk menyewa kapal selam nuklir dari Rusia adalah karena dua hal; Pertama, India akan mengoperasikan 3 kapal selam nuklir lagi dari kelas Arihant (kapal ke-2, ke-3 dan ke-4), Angkatan Laut India perlu melatih para krunya dengan kapal selam yang disewa. Kedua, karena semakin berkurangnya jumlah armada kapal selam India, kapal selam yang disewa akan menjembatani kesenjangan kemampuan.

Saat ini India mengoperasikan sekitar 13 kapal selam konvensional dan 1 kapal selama nuklir (INS Chakra), namun hanya sekitar setengahnya saja yang dalam kondisi optimal untuk disebarkan sewaktu-waktu.
http://www.artileri.org