Sabtu, 16 April 2016

R-73: Dibalik Kecanggihan Rudal Pemburu Panas Sukhoi TNI AU


Archer_01
Sebelum tahun 2012, boleh dibilang lini sista rudal udara ke udara (AAM/air to air missile) yang dimiliki TNI AU cukupinferior bila dibandingkan AU Singapura dan AU Malaysia. Pasalnya hampir tiga dekade, armada jet tempur TNI AU hanya bersandar pada rudal Sidewinder buatan Raytheon. Adapun versi Sidewinder yang dimiliki TNI AU adalah AIM-P2 dan AIM-P4. Yang paling baru pun, AIM P-4 dibeli bersamaan dengan paket pengadaan F-16 Fighting Falcon di tahun 1989. AIM-P4 dapat ditembakan meski pesawat musuh datang dari depan dalam posisi berhadapan, menjadikan perubahan gaya dalam duel jarak dekat (dog fight).
Di saat yang sama, Negeri Jiran sudah mengoperasikan AAM jarak menengah, AIM-7 Sparrow dan AIM-120 AMRAAM, yang disebut terakhir adalah jenis beyond visual range air to air missile, AMRAAM sontak menjadi momok yang menakutkan dalam perang udara modern, rudal ini dapat melesat hingga 70 km dengan kecepatan 4 Mach. Untuk yang satu ini, meski baru datang agak telat, patut disyukuri TNI AU kini punya tandingannya,yakni rudal R-77 untuk armada Sukhoi, rudal besutan Rusia ini sanggup melesat dengan kecepatan 4 Mach hingga jarak 80 km.
Nah, kembali ke lini rudal udara ke udara jarak pendek, saat jet andalan TNI AU F-16 Fighting Falcon dan Hawk 200 hanya punya satu andalan AIM-P4 Sidewinder, maka Singapura dan Malaysia selain sudah memboyong AIM-7 Sparrow dan AIM-120 AMRAAM, kedua negara tetangga Indonesia ini pun sudah punya versi Sidewinder yang lebih baru. Seperti Singapura, karena negara ini adalah sekutu dekat AS di Asia Tenggara, Singapura selain punya AIM-9J/P/S Sidewinder, juga sudah punya AIM-9X Sidewinder untuk memperkuat sista di jet F-15SG Strike Eagle. Begitu juga dengan Malaysiayang turut membeli AIM-9X untuk F/A-18 Hornet-nya.
Vympel_R-73

Sensor berpemandu infra red pada moncong rudal.
Sensor berpemandu infra red pada moncong rudal.
AIM-9X merupakan versi paling anyar dari keluarga Sidewinder, rudal ini mulai dikembangkan pada tahun 1986. Rudal ini punya kemampuan first shot and first kill yang lebih responsif. Bahkan rudal ini dilengkapi thrust vectoring yang terhubung ke guidance fins, artinya rudal dapat mengejar target yang berbelok sekalipun. Radius putar AIM-9X mencapai 120 meter, dengan kemampuan ini, pesaswat peluncur tak perlu melakukan manuver untuk menyesuaikan dengan target.
R-73
Kedatangan secara bertahap jet Sukhoi Su-27 dan Su-30 Flanker membawa banyak harapan pada adopsi alutsista, termasuk di lini rudal. Tapi nyatanya, karena keterbatasan anggaran, sejak kedatangan Sukhoi gelombang pertama pada tahun 2003, maka baru sekitar tahun 2012 armada Sukhoi Skadron Udara 11 ini dibekali sista berupa rudal. Selama hampir 10 tahun, Sukhoi hanya dibekali kanon internal dan bom buatan lokal. Sungguh komposisi senjata yang amat memprihatinkan, mengingat tantangan tugas yang berat.
Salah satu Sukhoi Su-30 TNI AU. Tampak tepat dibawah hidung pesawat, rudal R-73 yang sedang di display.
Salah satu Sukhoi Su-27 TNI AU. Tampak tepat dibawah hidung pesawat, satu unit rudal R-73 sedang di display.
klz3
Dan seperti sudah banyak diulas, TNI AU kini sudah secara nyata menampilkan kombinasi rudal yang dibeli dari Rusia. Terdiri dari rudal udara ke udara dan rudal udara ke permukaan. Lini rudal udara ke permukaan (ASM), yaitu Kh-31Pdan Kh-29TE. Keduanya telah kami kupas di artikel sebelumnya. Sementara di lini rudal udara ke udara, TNI AU memboyong R-77 dan R-73.
Khusus mengupas R-73 (AA-11 Archer – dalam kode NATO), bisa disebut inilah rudal yang punya komparasi full dengan Sidewinder. Bila Sidewinder menjadi lambang supremasi AAM jarak dekat AS dan NATO, maka R-73 pun menjadi andalan sejak era Uni Soviet dan Pakta Warsawa. Dan, serupa dengan Sidewinder, R-73 pun terdiri dari beragam varian, karena rudal ini sejatinya bukan produk yang baru-baru amat.
AA-11_Archer_missile
Bagian belakang rudal R-73.
Bagian belakang rudal R-73.
Sebagai peninggalan Perang Dingin, R-73 pertama kali dikembangkan pada tahun 1973 oleh Vympel NPO. Dan setelah lewat serangkaian uji, R-73 mulai digunakan oleh AU Soviet pada tahun 1982. Serupa dengan Sidewinder, R-73 juga mengincar panas yang dihasilkan target, yakni dengan pemandu sensor infra merah (infra red guided) all aspect. Ini artinya R-73 dapat menghajar target dari beragam sudut dan posisi. Rudal ini dipersiapkan untuk meladeni dog fightpaling berat sekalipun, yaitu hingga level 12G, tidak itu saja, R-73 secara teori dapat dioperasikan dari segala kondisi cuaca, dan hebatnya lagi rudal ini sudah anti jamming.
Serupa dengan AIM-9X Sidewinder, R-73 dapat diintegrasikan dengan helm pilot, memungkinkan pilot untuk membidik sasarannya dengan hanya melihatnya saja. R-73 ditenagai oleh sebuah mesin roket berbahan bakar padat (solid fuel rocket engine). Untuk bermanuver, R-73 memiliki empat sirip kontrol yang terletak di bagian depan serta stabilizer di bagian belakang sayap. Tak kalah dengan Sidewinder terbaru, R-73 juga memiliki thrust-vectoring yang memungkinkannya untuk melakukan manuver paling ekstrim sekalipun.
R-73 menjadi senjata standar pada Sukhoi Su-27/30. Rudal ini biasa ditempatkan pada kedua ujung sayap. Mirip pada pola Sidewinder.
R-73 menjadi senjata standar pada Sukhoi Su-27/30. Rudal ini biasa ditempatkan pada kedua ujung sayap. Mirip pada pola Sidewinder.
Nampak R-73 pada ujung sayap Sukhoi Su-30 MKM AU Malaysia
Nampak R-73 pada ujung sayap Sukhoi Su-30 MKM AU Malaysia
Nampak R-73 dapat dipasang pada heli serbu multiguna Mi-24 Hind. Secara teori heli Mi-35P Penerbad TNI AD pun bisa dipasangi rudal ini.
Nampak R-73 dapat dipasang pada heli serbu multiguna Mi-24 Hind. Secara teori heli Mi-35P Penerbad TNI AD pun bisa dipasangi rudal ini.
Su-35 nampak gagah dengan bekal rudal R-73.
Su-35 nampak gagah dengan bekal rudal R-73.
R-73 yang saat ini diproduksi oleh Tbilisi Aircraft Manufacturing dapat menguber sasaran hingga kecepatan 2.5 Mach. Dari berat totalnya yang 105 kg, 7,4 kg di dalamnya berupa hulu ledak. Bagaimana dengan soal jangkauan? Untuk yang satu ini R-73 punya perbedaan antar varian. Untuk tipe R-73E (20 km), R-73M1 (30 km), dan R-73M2 (40 km). Manakah diantara ketiganya yang dimiliki Indonesia? Jawabannya masih harus menunggu konfirmasi pihak TNI AU. Besar harapan kita, yang dimiliki TNI AU adalah versi R-73M1/M2, sebab rudal yang dikembangkan sejak 1994 ini telah ditingkatkan kemampuan IRCCM (Infra red counter-counter measure), selain sistemnya sudah full digital.
Berapakah R-73 yang dimiliki TNI AU? Menurut laporan SIPRI (Stockholm International Peace Research Institute), lembaga independen internasional yang didedikasikan untuk penelitian konflik, persenjataan, pengawasan senjata dan perlucutan senjata yang bermarkas di Swedia. Disebutkan, pada tahun 2011 tercatat transaksi pengadaan 75 unit R-73 oleh Indonesia. Tapi jangan anggap Indonesia jadi paling superior dengan R-73, sebab lagi-lagi AU Malaysia (TUDM) lebih dulu kedatangan R-73 untuk melengkapi sista Sukhoi Su-30 MKM-nya. Selain Malaysia, Vietnam pun mengadopsi rudal ini.


Reikernasi K-13
Kilas balik ke masa keemasan militer Indonesia di tahun 60-an, AURI (TNI AU-kini) sebenarnya juga sudah memiliki rudal udara ke udara jarak dekat yang cukup canggih pada masanya. Rudal ini tak lain adalah K-13 buatan Vympel dari Uni Soviet. Pada awal kehadiran MiG-21 di Tanah Air, K-13 menjadi ikon senjata utama yang tak terpisahkan dari MiG-21 Fishbed dalam gelar operasi Trikora.
Rudal K-13 pada MiG-21 Fishbed AURI di museum Dirgantara -  Yogyakarta.
Rudal K-13 pada MiG-21 Fishbed AURI di museum Dirgantara – Yogyakarta.
DSCN2086
K-13, dalam kode NATO disebut AA-2 Atoll, tak lain dalah rudal jarak dekat dengan jangkauan maksimum 8 Km. Yang paling menarik, desain dan konsep rudal ini memang menyadur Sidewinder, rudal legendaris milik AS. Menurut kisah yang beredar luas, pada 28 September 1958, sebuah AIM-9B yang ditembakkan dari sebuah F-86 Sabre Taiwan dengan target sebuah MiG-17 Republik Rakyat Cina tetapi tidak. Rudal tersebut hanya menancap di ekor pesawat MiG dan dibawa kembali ke pangkalan dan menjadi contoh pengembangan rudal Uni Soviet. Lebih detail tentang K-13 TNI AU, dapat Anda klik ini di artikel ini(Gilang Perdana)
Spesifikasi R-73
Manufaktur : Vympel dan Tblisi Aircraft Manufacturing
Berat : 10 kg
Berat hulu ledak : 7,4 kg
Panjang : 2,9 meter
Diameter : 17 centimeter
Wingspan : 51 centimeter
Kecepatan : 2.5 Mach
Jangkauan Maks : 40 km
Tenaga : solid fuel rocket engi

Dua KCR-40 TNI AL Selesaikan Uji Coba Sistem Rudal C-705

KRI Clurit 641
Dua Kapal Cepat Rudal (KCR) Kelas KCR-40 TNI AL, KRI Clurit 641 dan KRI Kujang 642, berhasil melaksanakan kegiatan HAT (Harbour Acceptance Test) dan SAT (Sea Acceptance Test) Fire Control System (FCS) Rudal C-705 dan Combat Management System (CMS) meriam NG-18 6 Barrel kaliber 30 mm. Rangkaian kegiatan SAT meliputi anti surface real target test, missile anti surface real target test, anti air real target, moving base alignment for missile dan naval gun firing test.

Menurut pernyataan Komando Armada Barat (Koarmabar) TNI AL yang bertanggal 24 Juli, uji coba tersebut termasuk penembakan rudal C-705 ke target, yang dilakukan di perairan dekat Pulau Lingga, Batam, Kepri, yang letaknya sekitar 200 km di sebelah selatan Singapura. Namun Koarmabar tidak mengungkapkan rincian dari FCS atau jenis target untuk rudal C-705.
C-705 adalah rudal multiguna (permukaan ke permukaan dan permukaan ke darat) yang pertama kali diperkenalkan China pada bulan Oktober 2008, memiliki kemiripan desain dengan rudal anti kapal C-602 (YJ-62), namun lebih kecil dan ringan. Proyektilnya memiliki jangkauan efektif maksimum 140 km, dan untuk versi standar, dipandu dengan radar aktif 8 mm selama tahapan terminal. Rudal C-705 diyakini mampu membawa 130 kg hulu ledak HE semi-armour piercing (SAP). Tingkat probabilitas Rudal C-705 dalam menenggelamkan kapal mencapai 95,7 persen untuk kapal dengan bobot benaman 1.500 ton (Light Corvette).

Masing-masing KCR-40 mampu membawa sampai empat rudal C-705. Sementara meriam NG-18    6 Barrel kaliber 30 mm akan berperan sebagai senjata anti udara. Meriam NG-18 6 Barrel kaliber 30 mm yang juga buatan China tersebut memiliki jangkauan tembak maksimum 4 km dan minimum 0,5 km.

KCR-40 merupakan kapal pemukul reaksi cepat untuk menghancurkan target dalam sekali pukul dan menghindar dalam waktu cepat. Berdimensi panjang 44 meter, lebar 7,4 meter, kapal ini mampu bergerak dengan kecepatan maksimal 30 knot. Hulu dan lambung KCR-40 terbuat dari baja khusus High Tensile Steel yang merupakan produk dari PT Krakatau Steel, Cilegon. Sedangkan untuk bagian atas menggunakan Aluminium Marine Grade. Kemungkinan, 24 KCR-40 yang masing-masing senilai 70 miliar lebih ini akan dibangun untuk TNI AL.

KRI Clurit dan KRI Kujang juga dilengkapi dengan Radar Tracking TR-47C dan Radar Searching SR-47AG. Kedua radar itu memiliki jarak tracking maksimum sasaran udara lebih dari 25 km, sedangkan target sasaran permukaan lebih dari 8 km. Selain itu, Radar Searching SR-47AG juga memiliki kemampuan deteksi kontak udara lebih dari 40 km dan deteksi kontak permukaan sebatas jarak pandang cakrawala. Pemasangan radar sensor untuk mendukung pengoperasian rudal C-705 dan meriam NG-18 6 Barrel.

Pada Februari 2013 lalu diinformasikan bahwa KCR-40 akan dilengkapi dengan rudal C-705 yang masih dibeli dari China, sebelum Pindad memproduksinya sendiri. Diinformasikan juga TNI AL akan menerima 6 sampai 12 rudal C-705 dari China pada akhir 2014 khusus untuk melengkapi KCR-40.

Gambar: Koarmabar

Selasa, 12 April 2016

Myanmar Benar-benar Beli Kapal Selam?


Ilustrasi kapal selam

Selama enam bulan terakhir, muncul beberapa pemberitaan berselang di media yang menyatakan bahwa Myanmar telah membeli kapal selam. Jika benar, hal ini tidak hanya memberikan implikasi bagi Myanmar atau Asia Tenggara, tetapi juga masyarakat internasional.
Namun, kita tahu bahwa pemberitaan-pemberitaan tentang Myanmar semacam ini sudah berulang kali muncul di masa lampau, hanya kabar bohong dan menyesatkan.
Ini bukan pertama kalinya Myanmar dikaitkan dengan pembelian kapal selam. Pada tahun 2003, dikatakan bahwa militer Myanmar telah mengadakan diskusi dengan pemerintah Korea Utara untuk pembelian satu atau dua kapal selam mini. Kapal selam tersebut adalah kapal selam dari kelas Yugo 110 ton dan kelas Sang-O 370 ton. Meskipun kedua kapal selam ini memiliki banyak keterbatasan dalam hal kemampuan, ketertarikan Myanmar pada kapal selam ini adalah mencerminkan keinginan militernya untuk lebih baik dan untuk mencegah invasi (tuduhan invasi mungkin ditujukan untuk Bangladesh).
Menurut mingguan pertahanan Jane's Defence Weekly (JDW), Myanmar akhirnya memilih membeli satu kapal selam dari kelas Sang-O, namun dikabarkan pula pembelian batal. Disebut-sebut ini disebabkan karena harga kapal selam tidak sesuai harapan Myanmar, dan alasan lain adalah militer Myanmar akan kesulitan dalam memelihara kapal selam tersebut agar terus beroperasi.
Pemberitaan-pemberitaan semacam ini tidak pernah dikonfirmasi oleh militer Myanmar, tetapi ada juga beberapa perkembangan lain yang menambah kemungkinan militer Myanmar memang telah membeli kapal selam. Satu contoh, setelah pemberontakan pada tahun 1988, pemerintah militer baru Myanmar meluncurkan rencana ambisius untuk memodernisasi dan meningkatkan kemampuan angkatan bersenjatanya. Termasuk modernisasi persenjataan angkatan laut. Pada tahun 1999, perwira-perwira Angkatan Laut Myanmar mengadakan program pelatihan kapal selam di Pakistan. Dan pada awal 2012 lalu Angkatan Laut Burma mengadakan program pelatihan rahasia (namun akhirnya bocor ke media) di kapal selam kelas Vela milik Angkatan Laut India.
Dari dua pelatihan itu, menunjukkan keinginan besar Angkatan Laut Myanmar untuk mengoperasikan kapal selam. Bahkan media juga sempat mengabarkan Angkatan Laut Myanmar mengakuisisi dua kapal selam kelas Vela dari Rusia. Benar atau tidaknya biarlah menjadi urusan Myanmar selama tidak mengganggu stabilitas keamanan Asia terutama Asia Tenggara.

(Gambar via: blogs.knoxnews.com)

C Sword 90, Korvet Siluman Baru dari Prancis


C Sword 90
Galangan kapal Prancis CMN (Constructions Mecaniques de Normandie) meluncurkan korvet siluman C Sword 90 dalam pameran angkatan laut Euronaval di Paris pekan ini. Korvet siluman ini adalah satu dari tiga kapal desain baru yang diluncurkan oleh CMN. Ketiganya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan angkatan laut dunia untuk mendukung misi yang semakin kompleks baik di perairan pesisir maupun laut dalam.
Korvet C Sword 90 memiliki bentuk yang unik, formasi lambung yang inovatif dan desain suprastruktur permukaan miring, dan peralatan yang sangat terintegrasi. Korvet ini dikembangkan dengan bekerjasama dengan arsitektur angkatan laut Thierry Verhaaren, yang juga merancang kapal rudal Baynunah untuk Uni Emirat Arab. C Sword 90 didesain untuk beroperasi di laut dalam, littoral dan kawasan pesisir. Lambungnya terbuat dari baja dan suprastruktur terbuat dari baja dan aluminium.
Korvet multiperan ini diklaim memiliki daya serang tinggi dan paket sensor lengkap untuk misi intelijen, pengawasan dan pengintaian, dan misi ESM/Comint electronic surveillance dan peperangan elektronik. Sensor generasi barunya terdiri dari empat panel datar yang terpasang pada suprastruktur atas. C Sword 90 juga dikonfigurasi untuk mendukung pengoperasian beberapa sistem senjata dengan fungsi fire control. Bridge control dan sistem komunikasi yang terintegrasi membantu mengotomatisasi banyak prosedur sehingga mengurangi beban kerja awak.

C Sword 90
Selain untuk misi maritim, seperti misi anti kapal permukaan dan kapal selam, korvet ini juga didesain untuk mendukung operasi pasukan darat dari laut. Selain itu korvet ini juga dilengkapi dengan dua kontainer untuk menyimpan muatan tambahan, seperti senjata, kargo, atau perlengkapan lainnya. C Sword 90 dibekali dek belakang yang luas untuk mengakomodasi pengoperasian satu helikopter 10 ton dan UAV, baik di siang maupun malam hari.  
Desain korvet ini dioptimalkan untuk mampu bertahan dan stabil pada kecepatan maksimal 28 knot, dan jangkauan sejauh 7.000 mil dengan kecepatan rata-rata 12 knot. Lambungnya yang unik juga memberikan ketahanan dan kestabilan saat beroperasi di angin kencang dan kondisi laut kasar.

Senjata korvet ini terjadi dari satu senjata utama 76 mm atau 57 mm yang dipasang pada bagian depan dan dua stasiun senjata remot kontrol pada port dan sisi kanan (20 mm atau 30mm). Kapal ini juga dilengkapi dengan delapan peluncur rudal anti kapal MM40 Exocet ditambah peluncur vertikal rudal anti udara. Sistem decoy juga dilengkapkan sebagai alat pertahanan diri.
C Sword 90 merupakan kapal angkatan laut terbesar yang dibangun oleh CMN, satu dari tiga desain baru yang diresmikan di Euronaval. Kapal lainnya adalah Ocean Eagle trimaran, yang didesain sebagai kapal patroli atau pemburu ranjau dan varian baru dari kapal rudal Combattante.

C Sword 90
Peran

> Patroli pesisir dan lepas pantai, misi intelijen, pengintaian dan pengawasan
> Misi penegakan hukum
> Integrasi ke gugus tugas angkatan laut untuk anti kapal selam dan anti kapal permukaan
> Monitoring dan pengawasan Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE)
> Operasi stabilisasi dan penyerangan
> Dukungan untuk operasi angkatan darat
> Pengoperasian helikopter 10 ton.
Karakteristik utama

> Panjang: 95 m
> Panjang waterline: 92 m
> Diameter: 15,7 m
> Diameter waterline: 12,7 m
> Draught maksimum: 4 m
> Kecepatan maksimum: 28 Knot
> Jangkauan pada 12 knot: 7.000 NM
> Kru: 65
> Additional berth: 20
> Bahan Bakar: 170 m3
> Air tawar: 30 m3
> Lambung: Baja
> Suprastruktur: Baja/Aluminium
> Klasifikasi: Bureau Veritas.
Peralatan utama dan pelengkap

> Tiga generator utama
> Satu genset darurat
> Dua mesin diesel penggerak
> Dua Controlled Pitch Propellers (CPP).
Kinerja dan fitur unggulan

> Kecepatan maksimum hingga 28 knot
> Jangkauan operasi 5000 NM dengan kecepatan 14 knot atau 7000 NM dengan kecepatan 12 knot
> Daya tahan di laut lebih lama
> Perawatan mudah
> Inversed stem untuk meningkatkan efisiensi propulsi dan penjagaan laut
> Multiperan, sesuai dengan modul misi yang diintegrasikan
> Mampu beroperasi di cuaca buruk dan laut yang kasar
> High autonomy karena hematnya konsumsi bahan bakar
> Mampu membawa muatan tambahan dengan dua kontainer
> Pengoperasian helikopter platform Level 1 Class 3 (siang & malam)
> Pengoperasian UUV, UAV dan SUV.
Sistem misi khusus

> Satu CMS dengan Tactical Data Link
> Satu Naval Radar generasi baru  (4 fixed array panels)
> Satu Sistem SSM (8 rudal)
> Satu Sistem SAM (16 rudal peluncuran vertikal)
> Dua Short Range Air Defence Missile Systems
> Satu Fire Control Radar
> Satu Electro-optical dan fire control System
> Satu R-ESM System dan satu C-ESM System
> Satu senjata utama: 76 mm atau 57 mm
> Dua senjata sekunder 20 mm (30 mm sebagai opsi)
> Satu sistem peluncur decoy
> Satu Integrated Naval Communication System
> Satu Integrated Bridge Control System (IBCS)
> Satu towed sonar module
> Satu hull mounted sonar
> Dua triple-tube torpedo launcher
> Dua 11m high speed RHIB with dedicated davits.
Sumber :  http://www.artileri.org

Senin, 04 April 2016

Australia Berencana Beli Kapal Selam Soryu Jepang

Petinggi Angkatan laut Australia yang bertanggung jawab atas perencanaan untuk generasi selanjutnya dari kapal selam Australia dan kepala ilmuwan pertahanan sedang mempelajari sebuah kapal selam baru modern yang saat ini berada dalam layanan angkatan laut Jepang.
Admiral Rowan Moffitt, kepala Program Kapal Selam Masa Depan Angkatan Laut Australia, dan Dr. Alexander Zelinsky, Kepala Ilmuwan Pertahanan, melakukan kunjungan ke Jepang beberapa waktu lalu untuk melihat kapal selam kelas Soryu, yang memulai layanan dengan Angkatan laut Jepang sejak tiga tahun lalu.

Akses ke teknologi kapal selam Soryu dibahas dalam kunjungan ke Australia bulan lalu oleh kepala angkatan laut Jepang, Laksamana Masahiko Sugimoto. Kita ketahui, baru pada bulan Desember lalu Tokyo mencabut embargo ekspor peralatan perang dan pertahanan pasca perang dunia II.
Kapal selam Jepang


Kapal selam Soryu berbobot 4200 ton dan merupakan kapal selam konvensional dengan ukuran dan kemampuan baru. Kapal selam Soryu termasuk diantara 12 jenis kapal selam baru yang akan mengambil alih "kekuasaan" kapal selam kelas Collins di Australia, ini ditetapkan dalam "white paper" pertahanan Canberra setidaknya hingga tahun 2020.

"Strategi kami dengan Jepang sejalan, ada beberapa karakteristik yang sangat menarik pada kapal selam Jepang," Admiral Moffit mengatakan. "Jepang juga memiliki hubungan aliansi yang dekat dengan Amerika, seperti halnya Australia juga lakukan. Angkatan laut Jepang beroperasi di Asia dan dilingkungan Pasifik yang sama pula, ini tercermin dari desain dan karakteristik kapal selam mereka." Kapal selam mereka dirancang dengan desain yang sangat baik dan memang untuk itulah kapal selam dibuat," lanjut Admiral Moffit.
"Strategi kami dengan Jepang sejalan, ada beberapa karakteristik yang sangat menarik pada kapal selam Jepang"
Namun, teknologi kapal selam cenderung menjadi "mahkota permata" bagi suatu negara, teknologi untuk membuat kapal selam berada di ujung paling ekstrim dari sensitivitas negara. Mereka/produsen pasti melindungi kekayaan intelektual mereka apalagi seperti Jepang yang mengembangkan kapal selam secara mandiri. Sebagaimana AS, Jepang juga memiliki teknologi pembuatan kapal selam yang sangat baik, mereka telah menginvestasikan banyak uang untuk melakukan itu, jadi jelas mereka akan "melindungi" teknologi kapal selam mereka.
kapal selam Soryu
Kapal selam Soryu jepang

Anggaran peremajaan kapal selam Australia untuk tahun ini adalah sebesar 214 juta dolar, dan departemen pertahanan Australia memilih kapal selam dengan desain baru. Beberapa pilihan telah muncul untuk pengadaan kapal selam baru antara lain: mengadaptasi dari kapal selam yang ada, evolusi dan desain dari kapal selam kelas Collins, mengandalkan desain dari Jerman, Perancis atau Spanyol, sampai pembelian penuh unit kapal selam dari negara lain antara lain yang sedang kita bicarakan yaitu Kapal selam Soryu dari Jepang.
Sumber :  http://www.artileri.org