Senin, 12 Mei 2014

Menyusun Pertahanan Rudal yang Kuat di Pasifik

Sebuah rudal diluncurkan ke arah target rudal balistik jarak dekat pada 5 Oktober
           2011, dalam sebuah uji coba sistem Terminal High Altitude Area Defense di Fasilitas
           Penembakan Rudal Pasifik di Kauai, Hawaii. [U.S. MISSILE DEFENSE AGENCY]
Sebuah rudal diluncurkan ke arah target rudal balistik jarak dekat pada 5 Oktober 2011, dalam sebuah uji coba sistem Terminal High Altitude Area Defense di Fasilitas Penembakan Rudal Pasifik di Kauai, Hawaii. [U.S. MISSILE DEFENSE AGENCY]
Dengan peluncuran rudal balistik yang provokatif namun gagal dari Korea Utara pada bulan April 2012, keberadaan militer A.S. di Asia Pasifik menjadi kepentingan yang perlu diperbarui bagi keamanan kawasan ini. Sikap pertahanan di Pasifik ini bertumpu pada kemampuan untuk mempertahankan fasilitas A.S. dan sekutunya dari ancaman untuk bernapas dan rudal balistik. Kemampuan ini bersandar pada koordinasi yang hebat di antara komponen pelayanan dan para sekutu, sistem pertahanan di lapangan, dan sistem-sistem baru yang tersedia. Landasan ini, yang digabungkan dengan dukungan bersama di sepanjang semua jajaran pasukan pertahanan yang ada di medan perang ini, memberikan perisai perlindungan yang siap tersedia untuk memelihara keamanan personel A.S. dan sekutunya.
Kerja sama dalam pertahanan udara dan rudal di Pasifik telah mencapai banyak tonggak bersejarah dalam tahun-tahun terakhir. Latihan pos komando Keen Edge yang baru-baru ini diadakan menjadi contoh penting. Diakhiri pada akhir bulan Januari 2012, Keen Edge terutama difokuskan kepada keseluruhan interoperabilitas pasukan militer A.S. dan Pasukan Pertahanan Diri Jepang. Namun demikian, banyak dari latihan tersebut berpusat pada koordinasi pertahanan rudal gabungan. Latihan ini memberi pasukan dari kedua bangsa kesempatan untuk membahas dan mengatasi tantangan yang timbul ketika operasi-operasi diintegrasikan di antara kedua bangsa ini. Pasukan-pasukan staf A.S. bekerja dengan berbagai badan staf Jepang seperti Staf Gabungan Jepang, kantor intelijen darat, udara dan laut.
Jend. Jung Seung-Jo, ketua Kepala Staf Gabungan Republik Korea, kanan, dan Panglima
           Justin A.Kubu, perwira komandan perusak kendali rudal USS Chafee, mendiskusikan latihan
           Foal Eagle 2012 di atas kapal Chafee. [LETNAN MUDA MELISSA PELOSI/ANGKATAN LAUT
           A.S.]
Jend. Jung Seung-Jo, ketua Kepala Staf Gabungan Republik Korea, kanan, dan Panglima Justin A.Kubu, perwira komandan perusak kendali rudal USS Chafee, mendiskusikan latihan Foal Eagle 2012 di atas kapal Chafee. [LETNAN MUDA MELISSA PELOSI/ANGKATAN LAUT A.S.]
“Kerja sama A.S.-Jepang bukan saja sebuah slogan atau simbol,” demikian dikatakan oleh seorang anggota Pasukan Pertahanan Diri Jepang yang ikut serta dalam latihan ini kepada Stripes Kanto, sebuah berita mingguan, pada bulan Februari 2012. “Setiap peserta mengerti pentingnya latihan ini. Walaupun ada lebih banyak tantangan yang harus diatasi, sebagai tomodachi (teman-teman) sejati, jenis latihan seperti ini memungkinkan kita untuk menghadapi [tantangan-tantangan] bersama dengan militer A.S.,” demikian dikatakan Tentara Jepang kepada Stripes Kanto. Lingkungan latihan yang realistis ini menghasilkan pasukan gabungan yang terkoordinasi dengan lebih baik untuk mengsinkronisasikan komando dan kendali dari banyak pasukan pertahanan udara dan rudal di Pasifik Barat, demikian dikatakan oleh para peserta.
Kerja sama dan integrasi antara A.S. dan Republik Korea (R.K.) juga memajukan pertahanan udara dan rudal di kawasan ini. Militer A.S dan R.K. berlatih dengan teratur, dari latihan-latihan artileri tembak menembak sesungguhnya sampai kepada latihan-latihan kesiagaan pasukan gabungan yang besar seperti Key Resolve, sebuah latihan pos komando tahunan gabungan dan kombinasi, dan Foal Eagle, latihan lapangan yang diadakan sehubungan dengan Key Resolve.
Latihan-latihan ini menunjukkan komitmen antara RK dan A.S. bagi keamanan kawasan ini dan pemecahan untuk meningkatkan kesiagaan kedua militer negara itu. “Aliansi R.K.-A.S. adalah aliansi militer terkuat di dunia, yang dibangun dengan landasan lebih dari 60 tahun pelayanan dan pengorbanan,” kata Let. Jend. John D. Johnson, jenderal komandan Angkatan Darat ke-8, pada bulan Maret 2011 di akhir Latihan Key Resolve di Korea Selatan, menurut situs www.army.mil. “Dan latihan-latihan seperti Key Resolve dan Foal Eagle membuat aliansi ini semakin kuat saja.”
Interoperabilitias yang ditunjukkan di antara kedua kekuatan pada latihan-latihan seperti ini membangun sikap pertahanan yang terkoordinasi dan lebih kuat, termasuk pertahanan udara dan rudal yang ditekankan kembali sekarang di semenanjung Korea. R.K. sedang meningkatkan kemampuan pertahanan udara dan rudal organiknya dengan sistem-sistem seperti program rudal jelajah yang baru diumumkan. Namun demikian, melalui aliansinya dengan Amerika Serikat, itu hanya merupakan satu komponen dari konstruksi pertahanan wilayah yang lebih besar.
Sejumlah besar sensor, pesawat udara pencegat, dan sistem-sistem rudal darat ke udara seperti Patriot merupakan jaringan yang terintegrasi dari kekuatan pertahanan udara dan rudal di Pasifik. Walaupun sistem pencegat rudal balistik lainnya tersedia atau akan tersedia, unit-unit Patriot bersama dengan penjelajah Angkatan Laut Aegis mewakili wajah dari penangkis rudal balistik masa kini.
Pada bulan Desember 2011, May. Jend. Jim Rogers, komandan Aviation and Missile Command, datang ke Pasifik untuk mengunjungi unit-unit penerbangan dan artileri pertahanan. Di Korea Selatan, timnya melewatkan waktu bersama para anggota 8th Army, 19th Expeditionary Sustainment Command, 2nd Combat Aviation Brigade, 35th Air Defense Artillery Brigade dan 6-52 Air Defense Artillery Battalion, demikian dilaporkan oleh situs www.army.mil pada bulan Desember 2011. Setelah Korea, tim itu menuju ke Okinawa, Jepang, untuk bertemu dengan personel dari 1-1 Air Defense Artillery. Kunjungan-kunjungan ini menyoroti keinginan pemimpin militer A.S. untuk mempertahankan sikap pertahanan yang kuat, mobil, dan mutakhir.
Mempertahankan sikap pertahanan yang mutakhir juga mencakup menyediakan teknologi baru bagi pasukan-pasukan di medan perang, dan langkah-langkah besar dalam bidang ini telah dilakukan. Lihatlah keberhasilan terkini dengan sistem rudal Terminal High Altitude Area Defense (THAAD). Pada 5 Oktober 2011, dari lokasi pemberangkatan mereka di Hawaii, para anggota 4th Air Defense Artillery Regiment berhasil melakukan FTT12 yaitu uji coba THAAD. Dengan berhasilnya pencegatan rudal balistik yang diluncurkan dari laut, uji coba ini mewakili kesembilan dari rangkaian 100 persen pencegatan yang berhasil sejak tahun 2005. “Selama ini, uji coba ini merupakan uji coba penerbangan THADD yang tersulit dan memperlihatkan kemampuan canggih sistem ini,” demikian dikatakan oleh Tom McGrath, wakil presiden THAAD dan program manager pada kontraktor sistem utama Lockheed Martin, kepada harian The Huntsville Times pada bulan Oktober 2011. Menurut Lockheed Martin, para Tentara yang mengoperasikan THAAD tidak mengetahui hari atau waktu uji coba itu sebelumnya. Para awak disiagakan ke posnya masing-masing dan mengoperasikan persenjataan pada waktunya untuk melakukan pencegatan yang sesungguhnya secara positif, menurut cerita The Huntsville Times.
Dengan menggunakan pesawat udara mobilitas Angkatan Udara A.S., sistem pertahanan rudal yang sangat mobil dan akurat ini dapat dipindahkan dengan cepat kemanapun di dunia menurut kebutuhan, dan mewakili salah satu persenjataan terbaru struktur pertahanan udara dan rudal dari Komando Pasifik A.S.
Sementara Amerika Serikat berfokus kembali pada Asia Pasifik, kemampuan A.S. dan mitra-mitranya untuk melindungi fasilitas-fasilitas sekutunya di kawasan ini dari ancaman bernapas dan rudal balistik menjadi yang terpenting. Struktur pertahanan udara dan rudal A.S. sudah sangat kuat dan ditempatkan dengan baik untuk mencapai misi ini dengan komando dan koordinasi kendali yang unggul di seluruh domain gabungan dan multilateral. Sumber daya yang meningkat yang ditujukan kepada Komando Pasifik A.S., maupun teknologi-teknologi yang muncul, tentu saja akan mempersiapkan kawasan ini untuk menghadapi kekuatan musuh di masa depan.

Rusia akan Mengunci Udara Suriah dengan Rudal Canggih

S-300 missiles (foto : presstv.ir).
Dalam konferensi pers setelah mengikuti pertemuan puncak KTT G8 di Irlandia Utara yang dilaksanakan tanggal 17-18 Juni 2013, Presiden Rusia Putin menyindir negara Barat dan PM Inggris David Cameron. Putin menyatakan bahwa mempersenjatai pemberontak Suriah bisa seperti memberikan senjata ke tangan jenis orang-orang yang membunuh Drummer Lee Rigby di London baru-baru ini. Rigby adalah anggota dari 2nd Battalion The Royal Regiment of Fusiliers yang dibunuh oleh dua warga Inggris  keturunan Nigeria,  Michael Adebolajo, 28, dan Michael Adebowale, 22. Keduanya menyatakan pembunuhan korban sebagai tentangan mereka atas  tindakan pasukan Inggris di negara-negara muslim.
Putin mengatakan jelas oposisi bukanlah seperti itu, tetapi banyak dari mereka yang persis sama dengan orang-orang yang melakukan pembunuhan di London itu. Jika kita membekali orang-orang seperti  ini, jika kita mempersenjatai mereka, siapa yang akan mengontrol dan memverifikasi pemilik senjata tersebut. Karena itu keputusan Barat mempersenjatai pemberontak sangatlah berbahaya tegas Putin.
Saat ditanya tentang keputusannya untuk terus memasok senjata kepada pemerintah Suriah, Putin menjelaskan langkah Rusia  tidak lebih dari hanya menyelesaikan kontrak hukum pembelian senjata pemerintah Suriah Bashar al-Assad beberapa tahun yang lalu yang belum dipenuhi.
Para pejabat AS mengumumkan pada hari Kamis (20/6) bahwa Presiden Obama telah menyetujui  pengiriman senjata kepada kelompok militan di Suriah untuk pertama kalinya. Deputi penasehat keamanan nasional Presiden AS,  Benjamin J. Rhodes mengatakan  bahwa AS mampu memberikan persenjataan "tidak hanya ke negara itu,"  tapi "ke tangan yang tepat" kata Rhodes.
AS akan mengirimkan peralatan tempur ke kelompok militan Suriah melalui Pangkalan AU Turki Incirlik , yang secara teknis adalah sebuah pangkalan udara NATO, disamping melalui Yordania. Pada hari Minggu, Menteri Pertahanan AS Chuck Hagel mengatakan bahwa tentara AS akan menempatkan di Yordania  jet tempur F-16 disamping mendislokasikan rudal Patriot.
Menhan AS menjelaskan, "Salah satu kargo ini terdiri dari alat-alat militer ringan dan semi-berat, peralatan dan senjata tentara AS telah dikumpulkan dan dikumpulkan di Kandahar Base dan direncanakan akan dikirim untuk pejuang pemberontak di Suriah melalui udara dan kargo laut dari Turki dan Jordan." Senjata-senjata dan sistem senjata yang akan dikirim termasuk senjata anti tank dan sistem rudal, peluncur roket dan roket serta puluhan Humvee lapis baja. Ahli strategi perang senior di Pentagon percaya bahwa mereka dapat mengubah adegan perang di Suriah untuk kepentingan kelompok pemberontak dengan bantuan kargo tersebut, khususnya dengan diberikannya sistem rudal panggul dan kendaraan Humvee multiguna.
Para ahli militer mengatakan, tampaknya AS telah memutuskan mengubah strategi perang di Suriah dan membuka front baru di negara tersebut. Para analis juga mengatakan bahwa Perancis juga telah memasok pemberontak  di Suriah dengan  peluru kendali (rudal) anti pesawat udara Igla buatan Rusia, dan bahkan melatih mereka bagaimana menggunakan sistem tersebut.
Para pemimpin negara-negara Barat serta khususnya Israel disatu sisi kini menjadi sangat khawatir dengan keputusan Rusia yang akan mengirimkan peluru kendali canggih S-300 kepada pemerintahan Bashar al-Assad. Pemerintahan Obama memperingatkan Rusia pada hari Jumat (14/6/2013) agar Rusia tidak merusak upaya perdamaian di Suriah dengan mengirimkan rudal tersebut. Dengan mengirim S-300  akan memperpanjang perang sipil dan mungkin memperluas konflik dan akan melibatkan Israel.
Amerika Serikat dan sekutunya mendukung para pemberontak, sementara Rusia adalah sekutu lama dan pemasok senjata ke Assad. Meskipun Assad telah lama sangat menginginkan rudal canggih S-300, nampaknya proses akan tetap berjalan. Rusia tetap bertekad mengirimkan S-300 ke Suriah, walaupun pada saat lalu membatalkan pengiriman S-300 ke Iran sebagai hasil perundingannya dengan AS. Rusia sebelumnya telah mengirimkan versi rudal Yakhonts, ke Suriah. Baru-baru ini rudal tersebut telah dilengkapi dengan radar canggih yang membuatnya lebih efektif, demikian laporan pejabat intelijen AS seperti diberitakan media.
Tidak seperti Scud dan rudal permukaan-ke-permukaan, sistem rudal Yakhont anti kapal memberikan militer Suriah senjata yang tangguh untuk melawan setiap upaya oleh pasukan internasional untuk memperkuat pemberontak Suriah dengan menerapkan embargo angkatan laut, membangun zona larangan terbang atau melakukan serangan udara terbatas.
Kontrak sistem rudal Yakhont ditandatangani dengan Rusia pada tahun 2007 dan Suriah menerima baterai pertama pada awal tahun 2011. Menurut Jane's, terdiri dari 72 rudal, 36 kendaraan peluncur, dan peralatan pendukungnya. Panjang rudal sekitar 22 kaki panjang, membawa hulu ledak tinggi atau armor-piercing, dan memiliki jangkauan sekitar 180 kilometer.
Para pejabat Rusia telah berulang kali mengatakan bahwa dalam menjual senjata ke Suriah, mereka hanya memenuhi kontrak-kontrak lama. Tetapi beberapa pejabat Amerika khawatir bahwa pengiriman dimaksudkan untuk membatasi opsi Amerika Serikat yang harus memilih untuk campur tangan dalam membantu pemberontak. Saat sebelumnya, pengiriman rudal SA-17 permukaan-ke-udara dari Rusia ke Suriah telah diserang oleh Israel melalui serangan udara terhadap truk yang mengangkut senjata di dekat Damaskus pada bulan Januari tahun ini. Israel belum secara resmi mengakui serangan itu tetapi mengatakan pihaknya siap untuk melakukan intervensi militer untuk mencegah pengiriman senjata canggih dari Rusia. Israel lebih khawatir apabila rudal jatuh ketangan kelompok Hizbullah di Lebanon yang merupakan sekutu Assad dan juga menjadi musuh abadinya.
Memang para pemberontak Suriah tidak memiliki pesawat tempur, sistem rudal S-300 terutama ditujukan uintuk menetralisir  ancaman dari Barat atau Arab yang mungkin mencoba untuk memberlakukan zona larangan terbang di Suriah. Ataupun juga dimaksudkan untuk menghadang pesawat tempur Israel yang mungkin akan menyerang depo senjata kimia Suriah.
Menteri Luar Negeri AS John Kerry dan Menteri Luar Negeri Jerman Guido Westerwelle mengatakan transfer S-300 rudal dari Rusia ke Suriah akan memperpanjang perang saudara di negara itu. Sebuah upaya yang membahayakan untuk membentuk pemerintahan transisi melalui negosiasi , disamping juga akan melukai melukai kepentingan strategis Israel sebagai sekutu terdekatnya.
Nampaknya memang AS dan sekutunya, negara-negara Arab dan Israel sangat mengkhawatirkan apabila Suriah memiliki Rudal S-300. Rudal ini memiliki jangkauan hingga 200 kilometer (125 mil) dan mempunyai kemampuan untuk melacak dan menyerang beberapa sasaran secara bersamaan dengan presisi yang mematikan. Para pejabat Rusia mengatakan S-300 juga mampu menembak jatuh hulu ledak rudal balistik jarak pendek dan menengah. Rusia menegaskan bahwa S-300 lebih unggul dibandingkan dengan sistem rudal Patriot AS. Presiden Rusia, Putin pada Selasa (11/6) menggambarkannya sebagai "mungkin senjata tersebut terbaik di dunia."
S-300 memang belum teruji karena belum pernah digunakan dalam pertempuran. Sementara sistem Patriot telah terbukti hebat, karena telah teruji saat digunakan dalam Perang Teluk 1991 dan perang di Irak 2003. Tetapi walaupun demikian teknologi perang peralatan tempur buatan Rusia semakin hari dinilai Barat semakin canggih dan bukan tidak mungkin mampu mengungguli peralatan buatan Barat. Oleh karena itu dengan beberapa kombinasi kepemilikan sistem Hanud (Pertahanan Udara), laut dan darat Suriah yang terintegrasikan dalam sebuah sistem pertahanan dari Rusia, nampaknya wilayah udara Suriah akan dikunci dengan alutsista Rusia dan negara-negara Barat tidak bisa menyepelekannya lagi. Disinilah peran kunci sebuah teknologi persenjataan yang terintegrasi.
Perang yang telah berlangsung selama 26 bulan masih belum jelas kapan akan selesainya. Korban yang menurut PBB telah mencapai 93.000 jiwa, bahkan menurut Menteri Luar Negeri John F. Kerry telah jatuh diatas 100.000 jiwa. Memprihatinkan memang perang saudara Suriah yang akhirnya hanya menjadi ajang persaingan kepentingan negara-negara besar. Disinilah kita bangsa Indonesia dapat memetik pelajaran, sebaiknya waspada dan hati-hati, betapa mengerikannya akibat dari sebuah perang saudara itu.

HADAPI CHINA, AS BUAT RUDAL YANG MIRIP RUDAL CHINA

Angkatan Laut Amerika Serikat meminta produsen rudalnya untuk mempercepat rancangan dan pembangunan rudal simulasi sebagai gambaran dari rudal subsonik anti-kapal milik China. Bukan kali ini saja, sebelumnya Angkatan Laut AS sudah banyak berupaya mengembangkan dan membangun rudal simulasi yang mirip dengan rudal subsonik anti-kapal milik negara lain.
Rudal C-802 China
Rudal C-802 China (Foto via indiandefence.com)
Analis pertahanan menilai AS mengkhawatirkan seteru-seteru terdekatnya yang semuanya ternyata memiliki banyak rudal subsonik China, yaitu Korea Utara, Iran dan China sendiri. China telah banyak menjual rudal anti-kapal jenis ini, sebut saja C-801 (Yingji-81) dan C-802 (Yingji-82). -Indonesia juga mengakuisisi rudal C-802 China plus produksi bersama-.
Rudal C-801 memiliki panjang 5,81 m, diameter 360 mm, berat 636 kg dan memiliki jangkauan 42 km. C-801 mirip dengan rudal Exocet Perancis dan analis menyakini China membuatnya berdasarkan rudal ini. Versi C-801 yang lebih baik adalah C-802 yang memiliki panjang 6,8 m, diameter 360 mm, berat 682 kg dengan hulu ledak 165 kg. Rudal C-802 memiliki jangkauan hingga 200 km dan terbang dengan kecepatan antara 980-1100 km/jam

Rudal Exocet Perancis memiliki ukuran dan kemampuan yang terbilang sama dengan rudal China tersebut, namun harganya dua kali lebih mahal (lebih dari USD 1 juta per satuan). Rudal Exocet MM Blok 3 baru memiliki jangkauan yang lebih jauh (180 km) karena dukungan mesin turbojetnya. Exocet adalah rudal 670 kg yang telah ada selama lebih dari tiga dekade, telah terbukti dalam pertempuran, dan terkenal dapat diandalkan. Analis menilai kemampuan C-802 masih dibawah Exocet, namun sudah mendekati. China terus mengembangkan "klon" rudal Exocet tersebut dan hanya menunggu waktu akan melampauinya.

Kembali ke AS, Angkatan Laut AS meminta percepatan pembangunan rudal simulasi subsonik yang memiliki kecepatan sekitar 900 kilometer per jam, bisa terbang di ketinggian 1 meter di atas air, bisa bermanuver, memiliki jangkauan 700 km, dan dengan harga kurang dari USD 200 ribu. Rudal simulasi ini akan dilengkapi dnegan perangkat elektronik canggih agar tetap bisa melakukan manuver dengan dikendalikan oleh operator dari jarak jauh, mampu mengatasi upaya jamming (pengacauan radar) dan segala macam informasi penerbangan.

Angkatan Laut AS berharap untuk mengulang sukses sebelumnya. Tiga tahun lalu, setelah hampir satu dekade upaya pengembangan, Angkatan Laut AS menempatkan rudal simulator anti-kapal berkecapatan tinggi ke dalam layanannya. Adalah Coyote Ssst GQM-163A (Supersonic Sea-Skimming Target) yang panjangnya 9,44 m, berat 800 kg dengan roket kombinasi bahan bakar padat dan propulsi (mesin) Ramjet. Rudal simulasi Coyote ini memiliki jangkauan 110 km dengan kecepatan tertinggi lebih dari 2.600 kilometer per jam (karena Ramjetnya).
Coyote dimaksudkan untuk memberikan gambaran pada kapal perang AS mengenai simulasi nyata serangan oleh rudal jelajah rusia yang serupa (seperti rudal Klub). Setidaknya 39 Coyote yang akan dibangun, dengan biaya masing-masing sekitar USD 515 ribu. Coyote adalah rudal simulasi pertama AS yang berhasil menggunakan mesin Ramjet, dan sekarang teknologi ini sudah bisa diterapkan AS ke rudal-rudal lainnya. Coyote dibuat untuk tujuan antisipasi dalam menghadapi rudal-rudal anti-kapal berkecepatan tinggi yang saat ini sudah banyak dimiliki negara-negara di dunia.
Rudal Klub
Rudal Klub (Foto via defence.pk)
Secara khusus, ada kekhawatiran AS tak mampu membendung serangan dari rudal anti-kapal 3M-54 Rusia (juga dikenal dengan sebutan SS-N-27, Sizzler atau Klub) yang juga digunakan oleh kapal-kapal selam China. Namun bisa jadi juga tidak, karena India (importir utama rudal Klub Rusia) telah bersitegang dengan Rusia karena India telah enam kali menemui kegagalan dalam uji tembak rudal Klub tiga tahun lalu. Rudal-rudal itu ditembakkan India dari kapal selam kelas Kilo, INS Sindhuvijay di lepas pantai Rusia. Kapal selam yang dikirim kembali ke Rusia pada tahun 2006 untuk upgrade. India menolak untuk membayar biaya upgrade, atau mengambil kembali kapal selam tersebut, hingga Rusia menyelesaikan problem pada rudalnya.

Berat rudal Klub 2 ton, dan ditembakkan dari tabung torpedo 533 mm (21 inci) kapal selam kelas Kilo. Rudal Klub bermuatan 200 kg hulu ledak. Versi anti kapal dari rudal Klub memiliki jangkauan 300 km, kecepatannya bisa mencapai 3000 km/jam saat menit terakhir penerbangannya. Ada juga rudal klub versi peluncuran dari udara (pesawat) dan kapal. Untuk versi daratnya dilengkapi dengan hulu ledak 400 kg. Yang membuat rudal Klub sangat berbahaya adalah ketika saat akan mendekati target, yang dimulai sekitar 15 kilometer dari target. Pada saat itu, rudal ini terbang di ketinggian hanya sekitar 30 m. Inilah yang membuat rudal ini sulit dideteksi. Dan juga, pada 15 km terakhir, rudal ini sudah mencapai kecepatan tertingginya, artinya akan segera menghantam target dalam waktu kurang dari 20 detik (kecepatan 3000km/jam). Inilah yang membuat sulit senjata anti-rudal untuk menjatuhkannya.

Rudal Klub ini mirip dengan rudal anti-kapal sebelumnya yang dikembangkan Uni Soviet di era Perang Dingin, yaitu rudal Sunburn (3M80) yang memiliki hulu ledak lebih besar (300 kg), namun dengan jangkauan lebih pendek (120 km). Rudal Sunburn masih dalam tahap pengembangan saat akhir-akhir Perang Dingin dan akhirnya baru masuk ke layanan pada satu dekade lalu. Bahkan juga rudal Klub terbilang mirip dengan rudal yang lebih tua yaitu rudal Shipwreck (P700, yang memiliki hulu ledak 750 kg dan jangkuan 550 km. Rudal ini mulai digunakan Uni Soviet pada tahun 1980.

Rudal-rudal Rusia (atau juga Uni Soviet) ini dianggap sebagai "pembunuh kapal induk," namun tidak diketahui berapa banyak rudal yang harus digunakan untuk benar-benar menghentikan aksi sebuah kapal induk, apalagi untuk menenggelamkannya. Walaupun terbilang canggih pada masanya, Rudal Rusia tidak memiliki pengalaman tempur yang banyak dan kinerjanya juga terkadang tidak menentu (mirip kasus India tadi). Quality control tidak menjadi kekuatan Uni Soviet, tetapi kini Rusia jelas sudah semakin baik.
Kasus yang mirip dengan India ini juga terjadi pada TNI AL 2012 lalu. Namun bukan dengan rudal Klub, tapi rudal Yakhont. Ketika itu dilakukan uji penembakan rudal Yakhont dari KRI Oswald Siahaan 354 (KRI OWA) di Samudera Hindia. Operator dari Rusia pun diperbantukan untuk mengoperasikan rudal Yakhont tersebut (karena baru diakuisisi). Namun rudal gagal mengunci sasarannya, dan operator Rusia tersebut pulang tanpa membuat evaluasi apa pun. Namun saat Latihan Puncak Armada Jaya XXXI/2012,TNI AL kembali menguji tembak rudal Yakhont dengan KRI OWA tanpa bantuan Rusia, berhasil, dan tingkat kehancurannya pun diluar dugaan. Semoga ini cuma faktor sumber daya manusianya saja, bukan karena quality control rudal-rudal buatan Rusia.

Kembali ke topik lagi, AS memang terlihat khawatir. Namun entah, apa ini karena Angkatan Laut AS memang tidak memiliki pertahanan dari rudal semacam Klub. Atau, mungkin mereka sudah mengembangkan/memiliki sistem pertahanannya tapi tidak ingin musuh-musuh potensial AS tahu bagaimana cara kerja sistem pertahanan dari rudal tersebut.
 http://militaryanalysisonline.blogspot.com

Jumat, 09 Mei 2014

Senjata Oerlikon Skyshield TNI AU


TNI Angkatan Udara segera memasang sistem pertahanan penangkis serangan udara modern, di Pangkalan Udara: Adisucipto – Yogyakarta, Supadio – Pontianak, Hasanuddin – Makassar dan Jakarta/Greater. Pengiriman enam baterai Oerlikon Skyshield dari Rheinmetall Air Defence Swiss dilakukan tahun 2013 / 2014, setelah dipesan tahun 2009.
Oerlikon Skyshield TNI AU mengkombinasikan auto twin canon 35 mm dengan rudal anti seragan udara jarak pendek (kemungkinan 2 x 4 peluncur), untuk merontokkan pesawat maupun rudal yang datang. Meriam otomatis ini siap menembakkan 1000 peluru / menit, jika dipasang peluru standar.
Sistem penangkis serangan udara Skyshield bisa dihubungkan dengan sistem pertahanan udara lainnya, membuat jangkauan radar lebih luas dan efektif, sekaligus mengembangkannya pertahanan titik menjadi pertahanan wilayah /area.
Harga enam baterai Oerlikon Skyshield (sistem radar, senjata, pemeliharaan dan training) diperkirakan 113 juta Euro.
Kunci dari kehebatan Oerlikon Skyshield ada di amunisi AHEAD (Advanced Hit Efficiency and Destruction) 35 mm yang ditembakkan dari dua meriam kembarnya. Peluru 35 mm AHEAD dari Rheinmetall Oerlikon akan menyembur dan membentuk semacam perisai (metal spin-stabilised projectiles) saat berada di dekat target. Ibarat seorang nelayan melemparkan jaring ke seekor ikan. Perisai itulah yang akan menghantam dan merusak rudal/ pesawat yang datang. Rheinmetall menyebut kemampuan ini sebagai: “Skyshield” alias perisai udara.
Amunisi Ahead bisa juga ditembakkan dari twin 35mm GDF series towed anti-aircraft guns yang dimodifikasi, untuk meningkatkan kemampuan mereka terhadap target yang kecil. Sejumlah konsumer Rheinmetal juga mengambil opsi ini untuk upgrade alutsista mereka dengan biaya yang lebih murah. Khusus untuk Denmarkd dan Venezuela, mereka memesan Oerlikon Skyshield Revolver Gun, versi pertahanan pantai.
Jerman terus mengembangkan Skyshield ini dengan memunculkan versi terbaru yakni Rheinmetall MANTIS (Modular, Automatic and Network-capable Targeting and Interception System). MANTIS didisain sebagai garda terdepan untuk melindungi aset sipil maupun militer dari ancaman serangan yang terkecil, termasuk mortir, karena memiliki kemampuan:counter-rocket and mortar (C-RAM). Sejauh ini ujicoba Mantis sukses mencegat serangan artileri, mortir dan tentunya roket.
Skyshield merupakan Short Range Air Defence yang dikembangkan oleh Oerlikon Contraves Swiss yang kini menjadi anak perusahaan Rheinmetall group, Jerman.
35mm-1000_Millennium_FCS
Amunisi AHEAD Skyshield
Amunisi AHEAD Skyshield
Canon Oerlikon 35mm
Canon Oerlikon 35mm
skyshield2
Skysshield 35mm AHEAD
Skysshield 35mm AHEAD
Persiapan Paskhas
Komandan Wing II Paskhas Kolonel Budi Sumarsono mengatakan TNI AU telah menyiapkan sarana dan prasarana Oerlikon Skyshield mulai Agustus 2012. Kesiapan sumber daya manusia, dilakukan dengan melatih 300 prajurit Paskhas ke Swiss, untuk mengawaki Oerlikon Skyshield. Selain itu, TNI AU juga membentuk Detasmen Pertahanan Udara (Denhanud) Paskhas yang diawali dari Lanud Adisutjipto.
Setelah memasang dan membenahi radar di berbagai Pangkalan Udara, TNI AU mulai meningkatkan penangkis serangan udara untuk menjaga alutsista yang terus berdatangan, seperti: SU-27/30, Super Tucano, C 130 Hercules, Grob G-120-TP, F-16, KT-1 Wong Bee, Boeing B-737-500, T-50 Eagle, C 295 dan lain sebagainya.(JKGR).

Kh-179, Artileri Negeri Ginseng Untuk TNI-AD

Gelombang modernisasi alutsista TNI tak henti-hentinya membuat masyarakat berdecak kagum dan bangga. Bagaimana tidak, dalam waktu yang singkat, pemerintah mengumumkan rencana pembelian berbagai mesin perang canggih yang tadinya hanya bisa diangan-angankan oleh para military penbois seperti ARC.
Apabila pada pertengahan 2012 publik dimanjakan dengan kehadiran sistem artileri howitzer swagerak CAESAR dan roket ASTROS, rupa-rupanya artileri TNI AD belum lagi kehabisan amunisi untuk memboyong alutsista lain. Satu kabar baik lagi datang dari negeri ginseng Korea Selatan, yang kini tengah mesra-mesranya menjalin hubungan dengan Indonesia. Tidak hanya mengekspor K-pop yang kini jadi wabah dan berhasil meracuni dan menyesatkan muda-mudi Indonesia, satu yang sudah benar-benar direalisasikan adalah pembelian sistem howitzer tarik 155mm/L52 Kh-179. Laporan ekspor persenjataan PBB menyebutkan sebanyak 18 unit meriam Kh-179 ini rencananya akan diborong oleh TNI-AD. Laporan itu selengkapnya bisa dilihat di situs ini: http://un-register.org/HeavyWeapons/CountrySummaryReports.aspx?CoI=104
Pembelian howitzer tarik 155mm ini memang sudah dianggap perlu, mengingat TNI AD juga tengah bertransformasi dengan menerapkan doktrin infantri mekanis yang mampu menjangkau jarak yang lebih jauh. Untuk itu tentunya diperlukan dukungan artileri yang lebih mumpuni. Artileri tarik yang ada di arsenal TNI AD hanyalah M101 kaliber 105mm, yang walaupun populer serta kenyang makan asam garam di berbagai belahan dunia, mulai uzur dan tak lagi sanggup mendukung gerak maju pasukan mekanis. Menjadi menarik juga adalah pilihan terhadap Kh-179, dimana lima tahun lalu, ketika TNI AD menerima hibah meriam FH-2000 sebanyak delapan unit dari Singapura, tidak banyak antusiasme yang ditunjukkan. Lalu kenapa TNI AD akhirnya memboyong Kh-179? Kemungkinan besar rencana pembelian CH-47D Chinook dari Negeri Uwak Sam menjadi pembeda kali ini, dimana hanya heli sekelas Chinook yang dianggap mampu mengangkut meriam howitzer tarik kelas 155mm. Armada helikopter tulang punggung angkut Penerbad mayoritas memang masih sekelas UH-1D yang hanya sanggup menarik M101.
Sementara untuk Kh-179 sendiri dikembangkan oleh KIA Machine Tool Company (sekarang bernama Hyundai-WIA) berdasarkan sistem howitzer tarik M114A1, yang banyak dipergunakan dalam Perang Vietnam. Korea Selatan memiliki lebih kurang 1.700 sistem M114A1. KIA memodifikasi sistem pembawa M114A1 agar dapat dipasangi meriam 155mm/L39 baru yang memiliki jarak jangkau yang lebih jauh. Meriam L39 ini terbuat dari baja monoblok yang menawarkan ketahanan panas yang lebih baik sehingga memperpanjang umur laras. Rifling dari meriam ini adalah 1:20 dengan 48 ulir (groove). Pengoperasian meriam ini sendiri tak banyak berubah dari versi M114A1, dimana butuh dua awak untuk mengubah arah meriam, prajurit awak penembak di kiri memutar roda untuk mengubah arah horizontal (traverse), sementara prajurit di kanan sebagai asisten penembak memutar roda untuk mengubah elevasi vertikal moncong meriam. Satu prajurit lagi bertugas sebagai pengarah dan membidik melalui teleskop dengan pembesaran 4x dan dial sight, atau bila diperlukan, mengoperasikan Kh-179 untuk dukungan tembakan langsung (direct fire) menggunakan teleskop khusus lainnya yang memiliki pembesaran 3,5x. Sistem Kh-179 menerapkan dua tabung yang berbeda untuk penahan kejut (hydraulic dampers/ hydropneumatic shock absorber) dan satu tabung lain untuk pengembali kedepan (recuperator), yang dianggap mampu memperpanjang umur pakai meriam. Pada saat penembakan, ada pasak yang bisa diturunkan untuk ditanam dan menambah kestabilan penembakan.
Dari segi amunisi, Kh-179 menikmati kompatibilitas dengan munisi NATO dan AS, satu keunggulan dari produk-produk Korea Selatan. Hal ini berarti Kh-179 mampu menembakkan seluruh munisi 155mm termasuk munisi khusus berpendorong roket (RAP: Rocket Assisted Projectiles). Jarak jangkaunya adalah 22km, atau 30km apabila menggunakan munisi RAP. Kecepatan tembaknya apabila digunakan secara kontinyu maksimal 4 peluru per menit. Untuk kemudahan transportasi, Kh-179 dapat dilengkapi dengan sistem carriage yang dilengkapi APU (Auxillary Power Unit) sehingga dapat bergerak dengan tenaga sendiri. Saat ini Korea Selatan tercatat menawarkan dua varian calibre untuk Kh-179, yaitu L39 dan L45, dengan varian ketiga, yaitu L52, kelihatannya juga mulai dipasarkan. Pembeli tinggal memilih varian yang ada sesuai jarak jangkau yang diinginkan. Tercatat selain Korea Selatan, Iran membeli Kh-179 dan mengopinya sebagai HM-41 yang dipasang diatas sasis truk DIO.
SPESIFIKASI
Kaliber            : 155mm
Calibre            : L39/L45/L52
Jarak recoil    : 1.524mm
Bobot              : 6.890kg
Panjang          : 10.389mm
Tinggi              : 2.770mm