Minggu, 19 April 2015

Cerita-cerita dari Lokasi Penggalian Akik Garut, dari Antre Sampai Potong Kambing

Batu akik dari Garut sudah mendunia. Tak sedikit kolektor dari luar negeri yang juga berburu keindahan batu Ijo Garut hingga Pancawarna Edong. Tapi tahukah, bahwa batu-batu indah itu umumnya berasal dari kawasan Bungbulang, Garut selatan.

Para pemburu akik menembus hutan hingga sampai di kawasan perbukitan yang memiliki jejak batu indah. Tak mudah untuk menemukan batu itu, bahkan para penambang bisa sampai menggali hingga kedalaman 100 meter.

"Jangan salah, mereka itu di lokasi tambang sudah ditunggui para pembeli. Bahkan sampai mengambil nomor antrean," terang praktisi akik Garut, Asep Kuswara yang ditemui akhir pekan lalu di Garut.

Untuk mencapai lokasi pun tak mudah, dari parkir mobil terakhir harus berjalan hingga 2 Km dengan kontur turun naik bukit. "Saya pernah dua hari dua malam nginep nungguin batu," terang pria yang memiliki usaha Kencana Gemstone di Jl Sudirman, Garut ini.

Membeli dari penambang akan lebih murah dibanding membeli dari para tengkulak. Harga di tengkulak bisa berbeda mencapai puluhan juta rupiah.

Sebagai informasi, harga bahan batu akik kualitas super pun mencapai ratusan juta rupiah. Seperti pengakuan dari Yudi Nugraha, pemilik usaha Lasminingrat Gemstone. Tapi bagi Yudi, nilai itu tak seberapa ketika akiknya memenangi lomba.

"Akik Garut itu nomor satu, dari bahan serat kayu yang jadi fosil. Nggak ada yang ngalahin," aku dia.

Tapi cerita punya cerita, biasanya para penambang melakukan sesuatu ritual sebelum menambang di lokasi baru. Mulai dari potong kambing, sampai menaruh buah-buahan di lokasi.

"Ah, tapi itu juga nanti dimakan sama tukang galinya," tegas Asep diiringi derai tawa.

Percaya tak percaya, cerita soal di luar kuasa manusia memang selalu ada dalam urusan perbatuan. "Tetap saja, urusan batu urusan Tuhan. Memang ada cerita soal batu yang begini begitu, tapi kita tetap percaya Allah yang menciptakan batu," tegas Asep menutup ceritanya.

http://news.detik.com

Tim Geologi Ekspedisi NKRI Kumpulkan 33 Jenis Batuan, Termasuk Batu Akik

Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat memiliki begitu banyak jenis batuan. Dari hasil pendataan sementara tim geologi Ekspedisi NKRI Kepulauan Nusa Tenggara, setidaknya ada lebih dari 30 jenis batuan.

"Kami sudah mendata 33 jenis batuan," kata anggota tim geologi dari Dinas Pertambangan Kabupaten Bima, Masykur di Poskotis Subkorwil 3 Bima, NTB, Senin (6/3/2015).

Berbagai jenis batuan yang telah ditemukan antara lain batu gamping, oker, bijih besi, andesit, kuarsa kristalin, perlit pancawarna, urat marmer, basilisied wood dan masih banyak lagi. Batu-batu ini ditemukan di berbagai tempat. Ada yang ditemukan di gunung, sungai, tebing bahkan di lahan milik warga.

Jenis batuan yang paling banyak ditemukan di Kabupaten Bima adalah batu gamping dan marmer. Kedua jenis batu tersebut kemudian diklasifikasi lagi ke dalam kriteria yang lebih spesifik sesuai warna dan komposisi batuan.

Masykur menjelaskan, dari berbagai jenis batu tersebut, beberapa di antaranya dapat dimanfaatkan sebagai batu akik. Batu-batu itu memiliki berbagai macam warna yang menarik seperti putih kristal, hijau lumut, merah darah, hitam kristal, kuning dan cokelat.

Menyadari banyaknya batuan yang bernilai ekonomis tersebut, banyak warga sekitar yang menambangnya secara tradisional. Mereka biasanya menggali secara manual menggunakan palu kecil.

"Biasanya dilihat dari sungai dulu. Kalau di sungai ada batu oker misalnya, baru mereka menggali," tuturnya.

Masykur mengatakan, kemungkinan masih banyak jenis batuan yang belum terdata. Tim geologi masih akan terus melakukan penelitian hingga ekspedisi selesai, yaitu hingga Bulan Juni mendatang.


Sumber : http://news.detik.com

Bos Akik Garut Siap Sumbangkan Batu Pancawarna Edong Berharga Ratusan Juta untuk KAA


Yudi Nugraha, Ketua Koperasi Pengrajin Batu Lasminingrat ‎ingin berpartisipasi dalam Konferensi Asia Afrika (KAA). Dia pun siap memberikan batu akik pancawarna edong yang berharga ratusan juta rupiah secara gratis.

Batu Pancawarna Edong ini salah satu batu akik Garut legendaris selain ijo Ohen. Batu akik Pancawarna Edong berharga jutaan rupiah per kilogram. Batu ini ditemukan Ki Edong di galian daerah Bungbulang.

"Ini saya siap berikan gratis untuk KAA. Demi negara dan bangsa," tutur Yudi, Minggu (5/4/2015).

Yudi mengaku, dirinya menyesalkan sikap Ridwan Kamil yang memakai batu akik Baturaja sebagai cinderamata untuk KAA. Padahal di tanah Garut yang tak jauh dari Bandung ada batu yang sudah mendunia.

"Soklah ini batu walau harganya ratusan juta siap saya berikan untuk suksesnya KAA," tambah Yudi yang memiliki langganan batu pengusaha dan pejabat ini.

Yudi menerangkan, alasan Ridwan Kamil soal batu berwarna biru atau batu Baturaja merupakan batu sumbangan semua dia bisa patahkan.

Di batu Pancawarna Garut ada batu warna biru, dan batu itu juga memiliki lima warna serasi nan indah yang menggambarkan bhineka tunggal ika.

"Makanya ini saya mau sumbangkan, silakan. Jadi kenapa mesti memakai batu dari tempat lain? Batu Garut sudah mendunia, bahkan dipakai hingga keluarga kerajaan Inggris," tutup Yudi.



Sumber :  http://news.detik.com

Sabtu, 18 April 2015

Batu Akik Raksasa Ini Ditawarkan Rp 1 Miliar

Batu akik seberat hampir 200 kilogram, jenis Klawing Pancawarna Telur Kodok milik Lilik Sulistyono warga Muntilan Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, ini ditawarkan dengan harga Rp 1 miliar.

Batu akik seberat hampir 200 kilogram ini ditawarkan dengan harga Rp 1 miliar oleh pemiliknya. Batu akik bernama Klawing Pancawarna Telur Kodok ini dipamerkan di Rest Area Tamanagung, Kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, 18-19 April 2015.


Pemilik batu akik tersebut, Lilik Sulistyono, memasang harga tinggi untuk batu akiknya karena batu ini memiliki keistimewaan, antara lain tembus cahaya, memiliki tujuh warna, dan diambil langsung dari Sungai Klawing, Purbolinggo, Jawa Tengah.

"Batu ini tergolong langka, diambil dari Sungai Klawing. Batu dari sungai memiliki kadar kapur yang lebih rendah daripada batu dari pegunungan sehingga batu akik ini memiliki kualitas yang bagus," ujar Lilik di sela-sela pameran, Sabtu (18/4/2015).

Lilik yang juga Ketua Panitia Pameran Batu Akik Tamanagung ini mengaku, hingga saat ini sudah ada yang menawar Rp 425 juta untuk batu akik tersebut. Namun, ia belum bersedia melepaskannya. Ia masih bersikukuh dengan harga Rp 1 miliar.

"Kalau ada yang mau segitu, baru saya lepas. Soalnya, saya juga suka dengan batu ini. Kalaupun enggak laku, (batu ini) ke depan buat investasi anak-anak saya. Batu tidak bisa bertambah, tidak seperti tanaman anturium yang bisa dibudidayakan. Semakin lama justru batu ini akan semakin langka dan memiliki nilai jual tinggi," kata Lilik.

Pemilik sanggar seni Linang Sayang Muntilan itu mengaku sudah menggemari batu mulia sejak sembilan tahun lalu. Tidak hanya batu akik sebagai perhiasan, tetapi juga batu-batu Gunung Merapi yang dijadikan beragam kerajinan batu.

"Saya mencintai batu sudah lama karena saya hidup (berpenghasilan) dari batu," ucap Lilik.
Sumber :  http://regional.kompas.com

Batu Akik dari Raja Ampat Ditawarkan Rp 250 Juta

Bongkahan batu Badar Emas asal Raja Ampat, Papua Barat yang ditampilkan pada pameran batu akik, di Balai Panjang Museum Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, Sabtu (18/4/2015)

Tidak hanya yang berharga ratusan ribu, batu akik yang dibanderol dengan harga jutaan rupiah juga ikut dipajang pada pameran di Balai Panjang Museum Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, Sabtu (18/4/2015).

Batu akik jenis Badar Emas dari Raja Ampat, Papua Barat, misalnya. Penjualnya, Said, mengatakan, batu yang masih berbentuk bongkahan sebesar kepalan tangan ini dibanderol Rp 250 juta.

"Yang ini (bongkahan) Rp 250 juta, kalau yang udah jadi cincin paling mahal Rp 25 Juta," ujar Said yang mengaku berasal dari Sorong.

Menurut dia, mahalnya batu akik jenis Badar Emas disebabkan karena adanya kadar logam mulia yang ada di dalamnya.

"Ada campuran emasnya," ujar dia.

Pameran batu akik yang dilaksanakan pada hari ini diselenggarakan oleh Himpunan Masyarakat Peduli Indonesia (HMP-Indonesia). Rencananya, malam ini, pembina HMP-Indonesia Hutomo Mandala Putra alias Tommy Soeharto akan memaparkan konsepsi pemberdayaan industri batu akik agar menjadi industri rumah tangga yang terfokus pengemasan, penjualan dan high promotion dengan sistem pemasaran di dunia.



http://megapolitan.kompas.com