Gambar diatas merupakan studi dari ahli Higrogeologi, Atika, dengan sebuah simulasi membuat Jakarta Utara sebagai hutan.
Dari hasil riset yang dilakukan oleh ahli hidrologi yang tulisannya dapat dibaca disini : Mekanisme Banjir jakarta. Menyebutkan fakta bahwa penghijauan seluruh permukaan Jakarta utara menjadi hutan sekalipun tidak berdampak banyak terhadap pengurangan debit air limpasan. Artinya memang daya dukung tanah alami Jakarta memang tidak cukup !
Angka penduduk tahun 1960 saja sebenarnya sudah mencapai 1,2 juta jiwa. Artinya target sudah terpenuhi pada tahun 1960. Lantas dengan jumlah penduduk Jakarta saat ini yang sudah mencapai belasan juta mau dikemanain itu yang belasan juta jiwa, ya ?
Sudah pasti mengatur Jakarta tidak bisa hanya dengan aturan yang dibuat DPRD dan Pemdanya saja. Setiap aturan harus didasari dengan penelitian ilmiah detail dan terbuka ! Mengapa terbuka ? Ya, selain menjadi sebuah wacana masyarakatnya juga akan timbul peer review diantara ilmuwan-ilmuwan planologi.
Selain dengan aturan yang didasari dengan penelitian ilmiah, tentusaja rekayasa. Ya tentusaja mirip dengan pemanfaatan dataran banjir di sepanjang Bengawan Solo di dongengan sebelumnya. Rekayasa yang didukung dengan penelitian dasar akan sangat mungkin meningkatkan daya dukung Jakarta dari sejuta menjadi beberapa juta tambahannya.“Whadduh ! kalau Jakarta hanya nampung sejuta saja yang belasan juta dikemakan Pakdhe ?”
“Itulah Thole, kalau pusat pemerintahan tidak dipindahkan, maka proses pemerintahan di Indonesia pasti terganggu”
Namun jelas angka jumlah penduduk yang mungkin ditambahkan oleh konstruksi rekayasa (engineering), tetap tidak akan mampu.
Salah satu kemungkinan yang paling pas rasanya kok masih harus memindahkanIbukota pemerintahan ya ? Paling tidak Jonggol sebagai alternatif masih valid. Dari segi biaya dan juga bayaran politiknya tidak terlalu “mahal”.
http://rovicky.wordpress.com/2008/02/04/jakarta-satu-juta/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar