Rabu, 27 Februari 2013

Skema Cat Baru Pesawat Tempur Rusia

Cat baru jet tempur Angkatan Udara Rusia

Mulai tahun 2013 ini, Angkatan Udara Rusia (RFAF) akan mulai menanggalkan warna kamuflase abu-abu pada pesawat tempurnya. Rusia akan menggunakan beberapa pola warna baru untuk pesawat tempurnya, Kantor Berita RIA Novosti mengutip sebuah sumber di Kementerian Pertahanan Rusia pada hari Rabu akhir Desember lalu.
Sebelumnya, juga di hari yang sama, surat kabar kenamaan di Rusia "Izvestia" melaporkan bahwa Menteri Pertahanan Sergei Shoigu telah mengkritisi pendahulunya Anatoly Serdyukov (Menhan sebelumnya) yang mengecat semua pesawat tempur hanya dengan menggunakan nuansa warna abu-abu. Dikatakannya, mulai 2013 berbagai warna akan digunakan tergantung pada medan di sekitar pangkalan udara.
Keputusan untuk menggunakan berbagai macam warna sesuai kebutuhan ini sebelumnya memang sudah diaplikasikan oleh Angkatan Udara Rusia. "Di masa lalu, pesawat angkatan udara Rusia dicat dengan warna yang berbeda-beda, tapi ketika Serdyukov menjabat menteri pertahanan, prosedur tersebut dihapuskan dan pesawat-pesawat mulai dicat dengan warna abu-abu," ujar seorang sumber di Kementerian Pertahanan Rusia yang mengatakan kepada RIA Novosti.
Namun, Sergei Shoigu mengatakan bahwa tidak semua pesawat tempur akan dicat, hanya pesawat baru dan pesawat-pesawat yang sudah mengalami perbaikan besar. Pola warna atau jumlah pola yang akan digunakan masih menjadi rahasia ketat Departemen Pertahanan Rusia. Izvestia mengatakan, warna yang mungkin akan dipakai adalah hijau, sandy, biru tua dan putih.
Serdyukov mengadopsi skema warna pesawat sama dari Angkatan Udara Amerika (USAF) di tahun 1970, tujuannya untuk meniadakan kebutuhan pengecatan baru setiap kali pesawat tempur berubah pangkalan. Keputusan ini dibuat Serdyukov tanpa berkonsultasi terlebih dahulu dengan para ahli atau persetujuan dari pusat penelitian di Departemen Pertahanan Rusia.
Pada 6 November lalu, Serdyukov dipecat oleh Presiden Rusia Vladimir Putin sehubungan dengan dengan dugaan korupsi miliaran rubel dalam penjualan alat pertahanan. Sebelumnya Putin sempat ragu untuk mengumumkan pemecatan tersebut, mengingat Serdyukov adalah pendukung setianya selama bertahun-tahun.
Biaya untuk mengecat pesawat tempur Rusia ini diperkirakan akan mencapai 300.000 rubel (US$10.000) per pesawat dan setidaknya akan memakan waktu tiga sampai empat tahun untuk mengecat seluruh pesawat tempur Rusia.

Kredit foto : en.rian.ru
http://www.artileri.org/2013/01/skema-cat-baru-pesawat-tempur-rusia.html

Ghost, Sistem Intai Baru Israel

Ghost rotary mini UAS Israel
Ghost
Angkatan Pertahanan Israel (Israel Defense Forces-IDF) akan memulai uji teknis dan operasional dari senjata baru mereka yaitu Ghost rotary mini-UAS (unmanned aircraft system) pada tahun 2013. Ghost ini dikembangkan oleh Divisi MALAT dari Israel Aerospace Industries (IAI). Beratnya sekitar empat kilogram, dan dirancang untuk memberikan gambaran Intelijen, Pengawasan dan Pengintaian (ISR) secara real-time untuk pasukan tempur yang beroperasi di lingkungan perkotaan.
UAS ghost ini dirancang, antara lain untuk mengintai di depan pasukan yang terlibat dalam operasi keamanan rutin dan mentransfer gambar ranjau dan hambatan lain yang ditanam pada rute atau di pinggir jalan. Ghost ini dapat lepas landas dan mendarat secara vertikal dan secara otomatis dapat melayang-layang sambil mempertahankan ketinggian dan posisinya.
Ghost memiliki jejak akustik yang rendah dan daya tahan sekitar 30 menit, dan dapat membawa peralatan surveilans untuk siang dan malam. Ghost dirancang untuk digunakan militer dan juga perusahaan-perusahaan di lapangan dan hanya membutuhkan pelatihan singkat untuk mengoperasikannya.
Sistem UAS ini dapat dibawa oleh penggunanya dalam 2 ransel, yang terdiri dari dua unit sistem, sejumlah baterai dan komputer portabel yang berfungsi sebagai unit kontrol di darat. IAI juga bermaksud untuk menawarkan Ghost rotary mini-UAS ini kepada sipil.
http://www.artileri.org/2012/12/ghost-sistem-intai-baru-israel.html

Sabtu, 23 Februari 2013

Pesawat-Pesawat Terbang Dengan Desain Unik Dan Mengagumkan

Bukanlah pesawat fiksi tapi ini nyata dan benar-benar ada dan masih ada. Objek terbang seperti pesawat, jet tempur dan helikopter adalah benda terbang yang biasa kita lihat hampir setiap hari. Sebagian besar benda terbang pada artikel ini adalah VTOL - Vertical Take Off dan Landing.

1. Boeing X-50 Dragonfly
Boeing X-50 merupakan UAV (Unmanned Aerial Vehicle) atau pesawat tanpa awak yang dikembangkan oleh Boeing dan Darpa untuk tujuan menunjukkan pronsip bahwa rotor helikopter dapat dihentikan dalam penerbangan dan bertindak sebagai sayap statis.

Ukurannya 5,39 meter dengan lebar sayap 2,71 meter. Kecepatan maksimalnya 700km/jam dengan muatan maksimum 91kg.
2. Sikorsky Cypher
Juga merupakan jenis UAV yang dibuat oleh Sikorsy Aircraft di akhir 1980-an. prototipe kedua bernama Cypher II. Sebagai penggerak, VTOL ini menggunakan 2 rotor berlawanan yang tertutup penutup yang melingkar. Prototipe pertama sukses terbang di tahun 1992. Pesawat ini dapat mengngkut beban sebanyak 23 kg.

Sikorsky Cypher berukuran 1,88 meter dengan diameter rotor 1,22 meter. Kecepatan maksimumnya 52 knot atau 97 km/jam dan waktu tempuhnya sekitar 2-3 jam.
3. British Rolls-Royce Thrust Measuring Rig – The First Flying Bedstead
First Flying Bedstead ("Ranjang Terbang Pertama") adalah pesawat VTOL eksperimental dengan 4 kaki yang menyerupai ranjang terbang. Pertama kali diterbangkan dengan sukses pada tahun 1953 di Nottinghamshire, Inggris.

Pesawat ini dikembangkan untuk penelitian sistem angkat langsung dengan menggunakan tenaga mesin sendiri, bersama dengan metode terkait untuk mengendalikan pesawat. Prinsip kerjanya ditujukan untuk digunakan pada pesawat VTOL selanjutnya.
4. Hiller X-18
Hiller X-18 dirancang dan dikembangkan oleh Hiller Aircraft Corporation. Merupakan sebuah pesawat angkut kargo eksperimental yang dirancang sebagai objek test untuk teknolodi Tiltwing dan VTOL.

Dioperasikan oleh 3 kru dengan panjang 19,2 meter dengan lebar sayap 14,6 meter. Memiliki kecepatan maksimum 407 km/jam.

5. Armadillo Aerospace Quad
Mesin ini terlihat sangat luar biasa. Namanya Armadillo Aerospace Quad. Digunakan untuk bersaing di Lunar Lander Challenge. Mesin utamanya memiliki 2 sumbu vectoring dan pesawat ini sepenuhnya dikendalikan komputer dengan panduan GPS dan serat optik Gyros.

Lebar dan tingginya adalah 75 kaki dengan berat kosong 650 pon.
6. Vertol VZ-2
Keunikan sangat tampak pada pesawat ini. Namanya Vertol VZ-2 atau Model 76 yang dibuat di Amerika Serikat pada tahun 1957. Juga merupakan pesawat eksperimental yang bertujuan untuk penelitian untuk VTOL. Badan pesawat ini berangka tubular dan akomodasi untuk pilot di dalam kanopi gelembung (seperti pada helikopter).

Test terbang pertama dimulai pada tahun 1957 dan berlanjut sampai tahun 1958. peswat ini menjadikan transisi pertama dari penerbangan vertikal lalu lanjut ke horizontal. Sampai tahun 1965, pesawat ini telah terbang sebanyak 450 kali. VZ-2 berukuran 8,05 meter dengan lebar sayap 7,59 meter dan kecepatan maksimumnya 340 km/jam.
7. Bell Eagle Eye
Bell Eagle Eye model 918 adalah UAV tiltrotor Amerika serikat dan dibuat untuk Bell. Proyek dimulai pada tahun 1993 dan terbang perdana pada 6 Maret 1998.

Pesawat unik ini berukuran 5,56 meter dengan lebar sayap 7,37 meter. Kecepatan maksimalnya 360 km/jam dengan waktu tempuh 6 jam.
8. Lockheed XFV - Tailsitter
Lockhed XFV adalah prototipe eksperimental Amerika yang dibuat oleh Lockhed. Tujuan penciptaannya adalah untuk melindungi konvoi didarat dengan sistem VTOL-nya.

Panjangnya 11,23 meter dengan lebar sayap 8,36 meter. Kecepatannya dapat mencapai 930 km/jam. Dilengkapi dengan sebuah meriam 4x20 mm dn roket 70mm. Pesawat ini kadang-kadang juga disebut dengan julukan "Salmon".
9. Bell X-22
Bell X-22 merupakan peswat buatan Amerika. Dapat take off dan landing secara vertikal pada landasan pacu yang pendek. Ditujukan untuk memebri wawasan yang lebih dalam pengaplikasian sistem VTOL. Pesawat ini dioperasikan oleh 2 kru.

Panjangnya 12,07 meter, 11,96 meter panjang sayap belakang dan 7,01 meter panjang sayap depan. Kecepatan maksimumnya 221 knot atau 410 km/jam.
10. Lunar Landing Research Vehicle (LLRV)
LLRV dikembangkan oleh Bell Aerosystems merupakan bagian dari proyek Apollo sebagai simulator pendaratan di bulan. Bermesin jet tunggal dan menggunakan roket hidrogen peroksida. Karena keberhasilannya, 3 LLRV dibuat dan digunakan oleh astronot Apollo di Wahana Pusat Antariksa Houston, texas.

Hampir semua LLRV hancur dalam kecelakaan terbang, namun tujuan membangun kursi lontar untuk pilot aman untuk semua kasus. Ukurannya 6,85 meter dengan lebar sayap 4,6 meter. Kecepatannya 40 mph dengan tingkat pendakian 3.600 kaki/menit.
http://www.artileri.org/2012/04/pesawat-pesawat-terbang-dengan-desain.html

Eurocopter X3 Perancis Kecepatannya Mencapai 430 km/jam

Sebenarnya Eorocopter X3 atau biasa disebut Eurocpter X3 sudah diperkenalkan sejak 2011 lalu, tapi tak apa kan sedikit kita ulas lagi dan kita lihat galeri fotonyo.

Merupakan buatan Eorocopter, Perancis. Digadang-gadang sebagai helikopter tercepat di dunia. Bila kecepatan helikopter biasa dapat mencapai 240 km/jam, maka Eurocopter dapat mencapai kecepatan 430 km/jam, ya hampir 2 kali lipat. Dapat melaju sangat cepat karena adanya rotor (Tilt Rotor) tambahan yang mesinnya terpisah dari mesin rotor utama yang menggerakkan baling-baling di kedua sisi heli tersebut.

Pengoperasiannya pun cukup mudah. Tak perlu pilot heli yang dididik khusus untuk mengoperasikannya, pilot heli biasa pun dapat mengoperasikannya.

Saat ini sebenarnya pihak Eurocopter telah memproduksi varian terbarunya yaitu X4. Nama X4 diberikan hanya sebagai sebutan agar tidak membingungkan. Entah apa namanya nanti ketika dirilis. X4 diperkirakan akan melakukan terbang perdana pada 2015. Mereka mengatakan tingkat kebisingan X4 70% lebih kecil dan konsumsi bahan bakar lebih hemat 30% dari helikopter lain seukurannya.

Dibawah ini adalah foto-foto Eurocopter X3
helikopter tercepat di dunia buatan perancis
Eorocopter X3

helikopter tercepat di dunia buatan perancis
Eorocopter X3

helikopter tercepat di dunia buatan perancis
Eorocopter X3

helikopter tercepat di dunia buatan perancis
Eorocopter X3

helikopter tercepat di dunia buatan perancis
Eorocopter X3

helikopter tercepat di dunia buatan perancis
Eorocopter X3

helikopter tercepat di dunia buatan perancis
Eorocopter X3

helikopter tercepat di dunia buatan perancis
Eorocopter X3

helikopter tercepat di dunia buatan perancis
Eorocopter X3

helikopter tercepat di dunia buatan perancis
Eorocopter X3

helikopter tercepat di dunia buatan perancis
Eorocopter X3

WIRED, inilah.com, LATRIBUN

Selasa, 19 Februari 2013

KFX/IFX,Tinggal Tunggu Tanggal Main

KFX/IFX
Ajakan Pemerintah Korea Selatan yang disampaikan pertengahan 2010 lalu di Jakarta diterima dengan senang hati oleh Kementerian Pertahanan Indonesia. Karena juga memiliki keinginan untuk memenuhi kebutuhan alutsista secara mandiri, ajakan membuat pesawat tempur generasi 4,5 tersebut disambut bak peluang emas.
Kedua pihak menyadari kemandirian di bidang pertahanan bisa memperkokoh industri dalam negeri, memangkas ketergantungan pada sistem senjata strategis dari  luar dan mendongkrak deterrent sistem pertahanan nasional. Meski "gayung sudah bersambut," namun merealisasikan jet tempur berkode KFX/IFX ini tak semudah membalik telapak tangan. Berikut laporan A. Roni Sontani dan A. Darmawan tentang status terkini dari program yang amat prestisius ini,  langsung dari "dapurnya.

KFX/IFX, Proyek 8 Miliar Dolar

Singkat cerita, proyek bilateral ini sudah berjalan dan berlangsung lebih kurang satu setengah tahun. Selama kurun waktu tersebut, konsep jet tempur masa depan generasi 4,5 ini telah diurai dan disusun menurut kebutuhan operasional sistem pertahanan Korea dan Indonesia.
Program dikatakan menelan anggaran 8 miliar dolar AS, dimana Indonesia akan menanggung 20 persen sementara sisanya akan dipikul Korea. Dalam perjanjian juga disepakati, Indonesia berhak membeli 50 unit pesawat, sementara Korea Selatan 150 unit. Dan, jika pesawat ini dibeli negara lain, kedua pihak akan berbagi royalti.

Perancangan front-liner fighter yang bakal beroperasi setelah 2020 ini dipusatkan di KFX/IFX Research Center, Daejeon, 160 km sebelah selatan ibukota Seoul. Di sini telah berkutat dan saling bertukar-pikiran 140 enjinir dari kedua negara, di mana 30 persennya berasal dari Indonesia. 
KFX/IFX tak lain adalah singkatan dari Korea Fighter Experiment/Indonesia Fighter Experiment. Korea Selatan sendiri ingin Turki ikut bergabung, namun negeri ini mengundurkan diri setelah sebelumnya sempat menyatakan tertarik.

Menurut pihak Defence Acquisition Program Administration (DAPA) Korea Selatan, jet-jet tempur baru ini akan menggantikan jajaran F-4 Phantom dan F-5 yang sudah menua. Korea tertarik mengajak Indonesia, karena Indonesia merupakan sahabat yang tak memiliki problem politik dan batas wilayah. Telah mampunya Indonesia membuat sendiri pesawat terbang dan adanya hubungan dagang di antara kedua negara, juga menjadi faktor penentu.
Dalam Lokakarya Dewan Penerbangan dan Antariksa Nasional RI (Depanri) 20 Desember 2012 di BPPT, Jakarta, perjalanan dan pencapaian sementara program ini untuk pertama kalinya dipaparkan secara terbuka. Di hadapan pejabat Dewan Penerbangan dan Antariksa Nasional RI (Depanri), Kemenristek, BPPT (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi), Lapan, PT Dirgantara Indonesia dan TNI AU, Kapuslitbang Kementerian Pertahanan, Prof. Dr. Eddy S. Siradj, menjelaskannya cukup gamblang.

"Hingga Desember 2012,  program sudah sampai tahap Technology Development. Tahapan ini sudah selesai. Setelah ini kami berharap bisa lanjut ke tahapan berikutnya, yakni Engineering Manufacturing Development," ungkapnya usai lokakarya.

Teknologi KFX/IFX Hampir Sepenuhnya Dikuasai

Bukan rahasia lagi, pertanyaan terbesar di seputar pembuatan KXF/IFX adalah: Apakah Korea Selatan atau Indonesia sudah menguasai teknologi jet tempur generasi ke-4,5? Menanggapi keraguan ini, Prof. Dr. Mulyo Widodo menjawab mantap, jangan khawatir, Korea Selatan sudah menguasai hampir seluruh teknologinya. Mereka gigih mengembangkan sendiri pesawat tempur, dan semua ini tak lepas dari kesiapan industri kedirgantaraan (Korea Aerospace Industries) serta lembaga penelitian yang berdiri di belakangnya.

"Meski sebagian lagi (teknologi) masih dicari, kami percaya Korea bisa meraihnya. Mereka punya road-map yang jelas dalam proyek pengembangan jet tempur. Mereka sudah memulainya dengan KT-1, lalu T-50, TA-50 dan setelah itu: FA-50. Lebih dari itu mereka juga punya belasan veteran NASA dan USAF yang jadi tempat bertanya. Mereka kini dosen di sejumlah perguruan tinggi,”  tuturnya dalam Lokakarya Dewan Penerbangan dan Antariksa Nasional RI, 20 Desember lalu di BPPT, Jakarta.
Pengembangan KFX/IFX
Menurut salah seorang pakar kedirgantaraan dari Institut Teknologi Bandung yang juga ditunjuk membidani front liner fighter itu lagi, inti dari teknologi jet tempur generasi 4, 4,5 maupun 5 adalah elektronik dan material penyerap gelombang radar. Elektronik dalam arti avionik untuk mengendalikan penerbangan dan misi serangan, sementara material penyerap gelombang radar bisa digambarkan sebagai "kulit pesawat" yang bisa menyerap gelombang elektromagnet radar penjejak pesawat.

Kedua teknologi inti itulah yang sejatinya diandalkan pesawat stealth (siluman) seperti F-117A Nighthawk, F-22A Raptor dan F-35 JSF. RAM atau Radar Absorbent Material bisa menekan angka Radar Cross Section hingga kecil sekali sehingga radar seolah tak sanggup "melihatnya". Di lain pihak,  tubuh pesawat dan rumah mesin juga perlu dibentuk sedemikian rupa agar gelombang radar  terpantul menjauh. Kalau pun bentuk pesawat menjadi tidak aerodinamis dan tidak stabil seperti yang "dialami" F-117A,  hal ini bisa diatasi dengan avionik khusus yang bisa mengendalikan penerbangan.

"Kami memang belum menguasai soal material penyerap gelombang radar. Tetapi, untungnya Korea sudah punya kemampuan yang sangat tinggi di bidang elektronik. Chip paling rumit bahkan sudah dibuat di Samsung Industrie. Itu sebab KFX/IFX hanya diputuskan sampai sebatas generasi 4,5," ungkap Prof. Widodo seraya menjelaskan bahwa material penyerap gelombang radar ini lah yang seyogyanya akan mendongkrak teknologi pesawat  ke generasi 5.

Begitu pun Tim KFX/IFX akan membekalinya dengan perangkat elektronik yang bisa menuntun pesawat mengelak dari radar. Sayap vertikalnya juga dibuat miring (canted vertical tail) agar gelombang radar tak mampu menjejak bagian yang paling rawan ini. Desain pasti KFX/IFX sudah ada, namun baik pihak Korea maupun Indonesia belum mau mempublikasikannya. Kalau pun selama ini ada beberapa desain yang dimuat di situs-situs internet (termasuk disini he..), gambar-gambar itu dikatakan baru sebatas rekaan yang mendekati. Hampir semua gambar rekaan ini merujuk ke  F-35 dan F-22.

Ketika program ini digelindingkan, sempat ada pemikiran untuk membuat F-16 namun dengan versi yang lebih canggih. Mereka (Korea) menyebutnya dengan F-16 Plus. Dibanding F-16 versi reguler, F-16 Plus memiliki keunggulan performa, kecepatan jelajah (super cruise) dan agak stealth. Tetapi, dalam perjalanan, konsep ini ditinggalkan lalu dialihkan ke jet tempur generasi ke-4,5 yang benar-benar baru. Pesawat ini jauh lebih unggul dari F-16 Plus.

Sekjen Kemhan : Program KFX/IFX Tetap Berjalan

Di tengah berbagai pemberitaan mengenai dilanjutkan atau tidaknya program pembuatan pesawat tempur generasi 4,5 antara Korea dan Indonesia (KFX/IFX), bulan lalu Sekretaris Jenderal Kementerian Pertahanan Marsdya TNI Eris Herryanto, perwira tinggi TNI AU yang ikut membidani kerjasama ini menyatakan keyakinannya bahwa Program KFX/IFX tidak akan berhenti di tengah jalan.
 
Eris menilai, Korea punya komitmen dan kepentingan yang besar terhadap Indonesia. Sehingga, pemerintahan negeri ginseng itu tidak akan begitu saja membatalkan kesepakatan yang telah dibuat. Tidak hanya terbatas pada kerjasama KFX/IFX dan pembelian pesawat lainnya dari Korea, kerjasama Indonesia dengan Korea juga terjalin baik dalam hal perdagangan maupun kerjasama teknologi lainnya. Pembelian tiga kapal selam dari Korea untuk memperkuat armada TNI AL adalah salah satunya, di mana ratusan teknisi PT PAL telah dikirim ke Korea untuk menyerap teknologi pembuatan kapal selam yang nantinya akan membuat satu dari tiga kapal selam yang dibeli dari Korea itu di Indonesia.

"Korea berkepentingan dengan Indonesia. Contoh kecil saja, rakyat Korea yang ada di Indonesia itu sekitar 45.000 orang tersebar di berbagai industri. Masa, mereka akan begitu saja membatalkan kerjasama KFX/IFX," ujar Eris.

Berikut kutipan wawancara Majalah Angkasa dengan Sekretaris Jenderal Kementerian Pertahanan Marsdya TNI Eris Herryanto di ruang kerjanya bulan lalu :

Sudah sejauh mana Program KFX/IFX ini berjalan?

Program KFX/IFX dimulai dengan tahapan Feasibility Studies Phase, Technical Development Phase, Engineering Manufacturing Development (EMD) Phase, Production, serta Upgrade. Sekarang ini kita masuk ke tahap kedua, EMD. Harusnya dimulai Januari 2013, tapi diundur sekitar satu setengah tahun. Mengapa diundur, ini yang sedang kami teliti juga. Tapi pihak Korea sudah melakukan pemberitahuan resmi kepada kami. Penjelasannya, bahwa Korea sekarang sedang melakukan penjajakan untuk membeli pesawat tempur generasi kelima. Kompetitornya saya dengar adalah F-35 dan F-15. Tapi sumber lain mengatakan ada Eurofighter Typhoon juga. Yang dimaksud generasi kelima di sini adalah pesawat-pesawat dengan avionic suite tercanggih, tidak semata-mata karena faktor stealth saja.

Mengapa hal ini "menghambat" Program KFX/IFX?

Begini, Korea itu sama dengan negara kita. Kalau mau beli pesawat, mereka mensyaratkan juga harus ada Transfer of Technology (ToT). Harus ada offset. Nah, salah satu offset yang ingin mereka dapatkan dari pembelian pesawat generasi kelima itu salah satunya adalah teknologi yang bisa diterapkan di KFX/IFX. Contohnya radar. Korea sedang berusaha agar dapat offset untuk diberi teknologi radar AESA. Radar ini nantinya akan digunakan pada KFX/IFX. Itu bargain mereka. Kita tahu, Korea itu negara yang dalam posisi siaga perang, selalu dalam ancaman. Sementara beberapa pesawat tempurnya sudah mau habis masa pakainya. Contohnya F-5. Kalau mereka harus menunggu KFX terlalu lama waktunya. Itu penjelasan mereka kepada kita.

Kalau mereka tidak dapat offset, berarti KFX/IFX terbengkalai?

Kalau tidak dapat, konsekuensinya mungkin mereka akan beli radar itu. Saya tidak tahu persis. Selain radar, juga ada teknologi-teknologi lain yang mereka butuhkan. Mereka sebut ada delapan item yang akan mereka ambil ToT-nya. Mungkin juga soal mesinnya, dan rudalnya. Itu tidak disampaikan kepada kita. Yang jelas mereka bilang bahwa mereka akan konsentrasi dulu ke pembelian pesawat generasi kelima. Targetnya 1,5 tahun selesai. Dimulai awal tahun 2013 ini.
Sumber : Angkasa
(artikel lengkapnya bisa dibaca di Majalah Angkasa edisi bulan ini)

Bergaya Dulu dengan PUNA SRITI Karya BPPT

Kepala Bidang Mantra Udara, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Pusat Teknologi Pertahanan dan Keamanan, Mohamad Dahsyat memegang pesawat tanpa awak "PUNA SRITI" di Kantor BPPT, Serpong, Tangerang, Jumat, 11 Januari 2013. Pengembangan pesawat tanpa awak ini untuk digunakan sebagai pesawat pembuat hujan buatan, pemetaan lokasi, mengatasi kebakaran di hutan dan menjangkau daerah yang tidak dapat dijelajah manusia.
Foto : MI/Ramdani/bb/MetroTvNews

Nama beliau cukup unik, Mohamad Dahsyat, semoga karya-karya BPPT juga akan menjadi "dahsyat." Kali ini fotonya dengan "PUNA WULUNG."
Foto : MI/Ramdani/bb/MetroTvNews

PUNA merupakan akronim dari Pesawat Udara Nir Awak. PUNA Sriti memiliki jarak terbang antara 50-70 km dengan daya tahan terbang kira-kira 1 jam, atau mungkin sekarang jarak dan daya terbangnya bertambah seiring pengembangan terus-menerus oleh BPPT.
PUNA Sriti tidak memiliki roda untuk takeoff dan landing. Tidak memiliki roda bukan berarti BPPT tidak mampu membuat teknologi takeoff UAV secara otonom, karena di beberapa sisi UAV semacam ini sangat menguntungkan karena tidak memerlukan landasan untuk takeoff. Jadi UAV semacam ini bisa diluncurkan dari area lahan yang sempit, kapal kecil, bahkan kendaraan darat.
Untuk menerbangkannya digunakan semacam ketapel dan pendaratannya dengan cara ditangkap. Beberapa UAV modern AS salah satunya Scan Eagle juga menggunakan teknologi takeoff dan landing semacam ini. Menggunakan semacam alat pengait yang akan menangkap cantelan pada UAV yang akan landing. Bisa juga ditangkap oleh tangan manusia, asalkan sanggup menanggung akibatnya he..
Kedepannya, jika sesuai harapan, PUNA Sriti kemungkinan besar akan diaplikasikan oleh TNI. Mengenai PUNA Wulung bisa dibaca disini dan disini. (FS)
http://www.artileri.org/2013/01/puna-sriti-karya-bppt.html

Jumat, 15 Februari 2013

Leopard Revolution, Tank Perang Kota TNI AD

Beberapa hari yang lalu Indonesia kedatangan dua tank Leopard jenis Revolution atau disingkat Ri. Sebelumnya kita lebih mengenal tank Leopard varian 2, yaitu 2A4, 2A5 dan yang terbaru 2A6. Lalu yang mana pula Leopard Revolution ini, dan apa kelebihannya sehingga harganya jauh lebih mahal dari Tank Leopard varian 2?.

Leopard Revolution atau Ri adalah salah satu varian terbaru yang merupakan pengembangan dari Leopard 2A4. Tank ini diproduksi oleh pabrik persenjataan berat Jerman, Rheinmetall. Leopard Revolution pertama kali diperkenalkan pada tahun 2010, dan menurut analis militer tank ini juga sering disebut sebagai Leopard 2A4 Evolution. Leopard 2A4 sendiri adalah salah satu varian Leopard 2 yang paling banyak diproduksi dan dipakai di banyak negara dalam jumlah besar.

Leopard Revolution

Dari segi harga, Leopard Revolution jauh lebih mahal dari varian 2A4 yaitu AS$1,7 juta per unit, atau kalau dirupiahkan senilai 16,3 miliar rupiah per unit. Sementara varian 2A4 harganya "hanya" AS$700 ribu atau 6,7 miliar per unit.


Kemampuan

Dari segi tampilan, memang ada perbedaan di antara kedua tank yang memang "bersaudara" ini. Yang paling jelas terlihat perbedaannya adalah pada turret (kubah) meriamnya. Leopard Revolution memiliki turret meriam yang sisinya bersudut miring dan tajam, sementara 2A4 turretnya berbentuk kotak. “Visi dan misi” kedua varian ini pun berbeda.

Sang pendahulu yaitu Leopard 2A4 yang dikembangkan di era 1980-an mengangkat konsep peperangan kala itu yaitu perang terbuka melawan Blok Timur Uni Soviet di medan terbuka. Sementara Leopard Revolution sebagai generasi tahun 2000 dirancang untuk diterjunkan pada peperangan yang pada praktiknya justru paling banyak dijalani negara-negara Barat saat ini yaitu perang gerilya dan perang kota, seperti yang dihadapi pasukan NATO di Afghanistan dan belajar dari apa yang dialami pasukan AS dan Inggris di Irak - Pada perang Teluk I, Irak memenangi perang kota walaupun harus menghadapi musuh yang besar yaitu AS dan Inggris berikut koalisinya-.

Leopard Revolution

Pengembangan paling nyata dari Revolution adalah pada perangkat proteksinya, yang menggunakan lapisan komposit Advanced Modular Armor Protection (AMAP). Lapisan pelindung ini terdiri atas materi nanokeramik serta titanium dan baja alloy, yang diklaim memberikan kemampuan perlindungan yang jauh lebih baik. Karena sifatnya yang modular alias bisa dibongkar pasang, pengguna bisa memilih variasi kemampuan proteksi sesuai kebutuhan, seperti untuk menangkal granat berpeluncur roket (RPG) atau untuk peledak improvisasi (IED).

Dengan sifat modularnya itu pula, seandainya lapisan proteksi itu rusak dihajar serangan musuh, perangkat itu bisa dibongkar untuk diganti baru. Dengan tambahan lapisan proteksi itu, ada konsekuensinya yaitu bobot tank yang bertambah hingga menjadi lebih kurang 60 ton, dibandingkan varian 2A4 yang sekitar 57 ton.


Persenjataan


Sebagai senjata utama, Revolution menggunakan meriam yang sama dengan 2A4 yaitu meriam L44 smoothbore kaliber 120 mm. Meriam ini bisa menggunakan semua varian peluru standar NATO, dan tank ini mampu membawa amunisi sebanyak 42 butir. 15 peluru sudah dalam kondisi siap tembak tersimpan di kubah meriam (otomatis reload), sementara sisanya tersimpan di bagian dalam bodi.

Leopard Revolution

Untuk tambahan daya gempur dan pertahanan diri ringan, tank yang diawaki 4 orang ini juga dilengkapi senapan mesin berat kaliber 12,7 mm yang dioperasikan dengan remot kontrol sehingga awak tank tak perlu muncul keluar untuk mengoperasikannya. Sepucuk senapan mesin kaliber 7,62 juga terpasang sejajar dengan meriam.

Untuk menjawab keraguan bahwa meriam bermodel smoothbore alias bagian dalam larasnya licin itu akurasinya di bawah meriam rifled bore atau laras berulir, Rheinmetall memasang sistem kendali penembakan yang lebih modern, yang mampu menjamin ketepatan menembak pada kesempatan pertama.


Mesin

Dari segi mesin, Revolution tetap menggunakan tipe mesin yang sama dengan 2A4 yaitu mesin diesel turbocharge MTU MB837 Ka501 yang berkekuatan 1.500 hp (tenaga kuda), yang membuatnya bisa mencapai kecepatan hingga 72 km per jam di medan yang rata.

Leopard Revolution

Dengan hadirnya tank Leopard dari Jerman dalam tubuh TNI AD, otomatis kekuatan tempur TNI AD makin berotot. Maksudnya bukan sekarang, sekarang kan baru ada dua unit, tapi nanti bila semua pesanan Leopard TNI AD disampaikan oleh Jerman. Seperti yang diungkapkan Kemenhan, Indonesia membeli 103 tank tempur utama (main battle tank - MBT) Leopard 2 yaitu 61 varian Leopard Revolution dan Leopard 2A4.

Dengan pembelian ini, maka Indonesia menjadi negara Asia kedua yang mengoperasikan tank yang sekelas dengan M1A1 Abrams buatan AS dan Challenger dari Inggris itu. Negara Asia lain yang mengoperasikannya adalah Singapura.



Karakteristik dan Spesifikasi
Masuk Layanan
2010
Kru
4 (komandan, driver, shooter, loader)
Bobot
60 ton
Panjang dengan meriam
9,7 m
Panjang tanpa meriam
7,7 m
Lebar
3,7 m
Tinggi
2,5 m
Senjata utama
120 mm smoothbore
Senapan mesin
12,7 mm dan 7,62 mm (remot kontrol)
Sudut tinggi tembak
-9 hingga+20 derajat
Sudut putar meriam
360 derajat
Mesin
MTU MB-837 Ka501 turbocharge diesel 1.500hp
Kecepatan Maksimal
70 km/jam
Jangkauan operasional
500km
Halangan vertikal
1,15 m
Medan air
1 m (spontan) atau 4 m (dengan snorkel)

Referensi : Military Today & Solopost


http://www.artileri.org/2012/11/leopard-revolution-tank-perang-kota-tni.html

Amerika Upgrade Tank Abrams

Tank Abrams M-1A2 SEPv2
Tank Abrams M-1A2 SEPv2. (Foto:kongsberg.com)
ARTILERI - Pada bulan September 2012 lalu General Dynamics Land Systems (GDLS) diberikan kontrak senilai US$ 395 juta untuk mengerjakan Proposal Perubahan Teknik (ECP-Engineering Change Proposals) tahap pertama untuk upgrade Tank Abrams M-1A2 SEPv2. Tahap pertama ini meliputi pekerjaan penelitian, pengembangan dan pengujian. Nilai kontrak untuk tahun pertama ini adalah US$ 80 juta.
 
"Saat ini pasokan daya listrik di Tank Abrams masih kurang," kata Letnan Kolonel Wiliam Brennan, manajer produk untuk Tank Abrams. "Tujuan dari upgrade ECP 1 adalah untuk mengembalikan marjin listrik yang hilang melalui integrasi generator yang lebih besar, perbaikan slip ring, perbaikan sistem manajemen baterai dan sistem pembangkit listrik dan distribusi baru," jelasnya.

Pekerjaan untuk upgrade ini meliputi miniaturisasi perangkat elektronik -perangkat elektronik sebelumnya sangat menyesaki interior Tank Abrams-, melalui line replaceable module (LRM) -berbasis arsitektur elektronik dan peningkatan kapasitas pembangkit listrik, distribusi dan manajemen. Produksi perangkat ECP1 ditargetkan pada tahun 2017 dan diharapkan dapat segera diintegrasikan dengan Tank Abrams dan selesai seluruhnya pada tahun 2020.
 
Upgrade komunikasi dan jaringan di bawah program M-1A2 ECP ini juga mencakup penggantian radio jenis SINCGARS dengan radio tipe baru JTRS HMS, radio tipe baru ini akan lebih baik dalam komunikasi data yang berkapasitas tinggi. Untuk mendistribusikan data, Abrams dilengkapi dengan Gigabit Ethernet-Databus dan slip ring baru berkapasitas tinggi yang menghubungkan turret (kubah) ke jaringan berkecepatan tinggi.
 
Pada pameran AUSA 2012 lalu, General Dynamics juga menampilkan mesin diesel MTU 833 dan transimisi Allison terbarunya. Mesin dan transmisi ini diusulkan untuk digunakan pada Tank Abrams sehingga akan meningkatkan jangkauan tempurnya sebesar hampir 50 persen dari 205 mil menjadi 300 mil. Mesin MTU 833 dan Transmisi baru Allison akan mengurangi biaya operasional Tank Abrams per mil sebesar 14 persen dibandingkan dengan mesin yang digunakan saat ini yaitu turbine-powered.
 
"Dengan pengembangan mesin diesel baru untuk Abrams yang secara signifikan lebih efisien daripada turbin, kita bisa mengurangi biaya operasional per mil, meningkatkan jangkauan taktis, biaya perawatan lebih rendah dan mengurangi jumlah truk dan kargo bahan bakar yang diperlukan untuk mengisi bahan bakar Abrams," kata Mike Cannon, wakil presiden senior General Dynamics Land Systems, Ground CombatSystems.

Kurangnya tenaga mesin dan minimnya suplai listrik pada Tank Abrams jelas akan mengurani kinerjanya. Selain upgrade ECP untuk Tank Abrams M-1 SEP-2, Angkatan Darat Amerika juga sedang melakukan upgrade ECP untuk Bradley dan M-109 (Howitzer) yang menangani masalah ruang yang sempit, berat dan Power-Cooling (SWAP-C). (FS)
 
 
 
http://www.artileri.org/2013/01/amerika-upgrade-tank-abrams.html

Tank Marder 1A3 TNI AD

Tank Marder 1A3
Tank Marder 1A3 (Foto:defencenet.gr)
Bersamaan dengan pembelian main battle tank dari varian Leopard 2A4 dan varian Leopard Revolution, TNI AD setidaknya juga mendapat jatah 50 buah tank bersenjata angkut personel Marder 1A3, yang juga merupakan buatan pabrikan pertahanan Rheinmetall, Jerman.
Ditilik dari riwayatnya, tank Marder sebenarnya produk lama. Prototipe awalnya saja dirancang tahun 1960-an, dengan produksi perdana pada 1971, yang dilanjutkan dengan pengembangan sejumlah varian hingga tahun 1990-an. Bahkan, untuk saat ini sebagian tank Marder varian awal di Jerman sudah akan digantikan oleh generasi yang lebih baru yaitu Puma.
Meskipun begitu, kehadiran Marder di tanah air tetap akan menambah daya tempur TNI AD. Soalnya boleh dibilang inilah kali pertama TNI AD mengoperasikan kendaraan tempur lapis baja angkut personel yang memiliki daya gebuk jauh lebih baik dari yang selama ini dimiliki. Memang, dari segi pengategorian, Marder ini tergolong apa yang diistilahkan di dunia militer Barat sebagai infantry fighting vehicle (IFV), yaitu kendaraan tempur angkut infantri, namun dengan kemampuan tempur terbatas.
Salah satu ciri khas IFV seperti Marder adalah adanya kanon atau meriamnya berkaliber kecil, yang untuk Marder menggunakan Rheinmetall MK 20 Rh202 kaliber 20 mm . Kanon yang dipakai adalah dari jenis otomatis, artinya peluru tidak perlu di-reload (diisi) satu persatu. Peluru yang digunakan bisa dari berbagai jenis seperti amunisi konvensional, penembus baja serta high explosive (HE) atau amunisi berdaya ledak tinggi. Hal ini jelas tidak dimiliki oleh kendaraan angkut personel yang selama ini dioperasikan TNI AD yaitu AMX VCI serta Alvis Stormer, yang hanya dibekali senapan mesin berat kaliber 12,7 mm atau 7,62 mm.

Bagian belakang Marder 1A3
Bagian belakang Marder 1A3 (Foto:Sonaz/Wiki)
Sebagai senjata tambahan, pada bagian kiri turret (kubah/menara) kanon terpasang sejajar senapan mesin 7,62 mm. Turret senjatanya busa diputar 360 derajat, sementara kanonnya bisa digerakkan vertikal dari -17 derajat hingga +65 derajat dengan kecepatan 40 derajat per detik. Sebagai tambahan peranti beladiri, Marder dilengkapi dengan tujuh pelontar granat kaliber 76 mm untuk melontarkan granat asap.
Desain interior Marder tak jauh berbeda dengan kendaraan tempur asal Eropa sejenisnya. Pengemudi duduk di sisi kiri depan, sementara mesin berada di sebelah kanannya. Di bagian tengah terdapat tempat untuk dua awak di bawah kubah meriam, di mana komandan kendaraan duduk di kanan dan juru tembak di kiri. Di bagian belakang terdapat ruang pengangkut enam personel infantri yang duduk beradu punggung, bukan berhadapan.
Marder menggunakan mesin diesel MTU MB Ea-500 enam silinder berpendingin cair yang mampu menghasilkan 600 hp (tenaga kuda). Pada varian awal Marder, mesin ini mampu memacu kendaraan hingga 75 km/jam di jalan mulus. Namun pada varian berikutnya di mana sudah tedapat sejumlah modifikasi yang membuat berat kendaraan bertambah secara signifikan hingga mencapai sekitar 35-an ton, kecepatan maksimalnya pun turun menjadi sekitar 65 km/jam saja.
Spesifikasi Tank Marder 1A3
Tipe
Tracked multi-role armoured infantry fighting vehicle
Produsen
Rheinmetall AG Jerman
Kru
3 + 6 Infantri
Panjang
6,8 m
Lebar
3,4 m
Tinggi
3 m
Berat
33,5 ton
Persenjataan
- Meriam Rheinmetall MK 20 Rh 202 20 mm
- Senapan mesin 7,62 mm
- Enam peluncur  granat asap
Mesin
diesel MTU MB Ea-500 600hp
Kecepatan maksimal
66 km/jam
Jarak tempuh
500 km