Senin, 28 Desember 2015

China Terus Kembangkan Flanker

J-11

Perhatian dunia banyak tertuju pada program pengembangan pesawat tempur China, seperti J-10, J-20 dan J-21/31. Pabrikan pesawat China "Shenyang" terus mengembangkan seri Flanker yang sudah sejak tahun 1992 menjadi bagian Angkatan Udara Tentara Pembebasan Rakyat China (PLAAF). Versi Flanker terbaru yang sudah diproduksi China saat ini adalah pesawat tempur J-15 versi kapal induk dan pesawat serang multiperan J-16.
Awal Kemunculan Flanker China

China memulai hubungannya dengan Sukhoi Flanker pada tahun 1992, ketika itu China menjadi negara pertama di luar negara-negara bekas Uni Soviet yang memiliki pesawat tempur kelas berat ini. Tiga batch Sukhoi Su-27SK kursi tunggal dan Su-27UBK kursi ganda diperoleh China langsung dari Rusia, sekaligus menjadi awal transformasi kemampuan pertahanan udara China.
Berdasarkan pembelian dan pengalaman menggunakan Flanker, China akhirnya memperoleh lisensi Rusia untuk memproduksi Su-27SK melalui pabrik pesawatnya Shenyang. Akhirnya pada tahun 1996, China memerintahkan pembuatan 200 pesawat, kit perakitan masih dipasok dari Rusia namun proses produksi di China. Pesawat pertama dinamai dengan J-11, namun Flanker hasil rakitan Shenyang ini mengalami masalah quality control, dan produksi akhirnya dihentikan setelah memasuki produksi yang ke-105. Termasuk didalamnya adalah sejumlah J-11AS dengan upgrade pada kokpit dan persenjataan.
Meskipun terkesan menemui kegagalan di awal, Shenyang dan Shenyang Aircraft Design Institute telah mendapatkan pengalaman berharga dalam membangun pesawat, yang pada akhirnya mereka mampu mengembangkan sendiri J-11B. Karena semangat yang tinggi untuk terbebas dari ketergantungan dengan Moskow, industri-industri China mulai membuat sendiri sejumlah komponen kunci agar bisa membangun pesawat tempur tanpa pasokan dari Rusia, dan juga agar bisa menggunakan senjata buatan China sendiri.
Sejauh ini, salah satu komponen pesawat tempur buatan China yang paling berharga adalah mesin Shenyang Liming WS-10A Taihang yang menggantikan mesin Saturn AL-31F. Dan akhirnya prototipe J-11B terbang untuk pertama kalinya pada tahun 2004 dengan dua mesin WS-10A. Produksi J-11B pertama sudah mulai menggunakan mesin buatan China, tetapi karena lagi-lagi terganjal masalah keandalan, akhirnya pesawat produksi berikutnya kembali menggunakan mesin AL-31F. Sekarang tampaknya isu-isu tentang kurang andalnya mesin WS-10A telah berhasil diatasi dan produksi J-11B sudah kembali menggunkan mesin buatan China. Di akhir tahun lalu muncul foto J-11B dengan desain nozzle yang berbeda, ini mengindikasikan adanya perbaikan yang berati pada mesin WS-10A.
Bersama dengan mesin baru, J-11B juga dilengkapi dengan radar multifungsi, sistem pencarian inframerah dan databus buatan China yang membuat senjata-senjata China bisa digunakan, seperti rudal udara ke udara PL-12. Kokpit J-11B juga dibuat dari komponen China, menghadirkan lingkup kerja yang modern bagi pilot dengan 5 layar multi fungsi.
J-11B mulai dioperasikan PLAAF menjelang akhir tahun 2007 dan sejak itu jumlahnya kian bertambah. Pada awal 2010, Angkatan Laut China (PLAN) mulai dilengkapi dengan J-11B untuk misi tempur berbasis pantai. Selain J-11B kursi tunggal, pabrik Shenyang juga mengembangkan J-11B kursi ganda yang dikenal sebagai J-11BS. Pesawat ini terbang pertama kali pada tahun 2007, dan mulai dioperasikan oleh PLAAF dan PLAN pada tahun 2010.
Hiu Terbang

Sama seperti Uni Soviet yang mengembangkan Su-33 Flanker versi angkatan laut untuk memenuhi kebutuhan operasional kapal induk, China juga mengembangkan Flanker angkatan lautnya sendiri untuk memenuhi kebutuhan operasional kapal induk barunya Liaoning. Bahkan, China sampai membeli prototipe Su-33 dari Ukraina sebagai bahan percontohan untuk mengembangkan Flanker angkatan lautnya sendiri.
Dikenal sebagai J-15 atau Flying Shark (Hiu Terbang), Flanker Angkatan Laut China ini sangat mirip dengan Su-33 dalam urusan body dan sistem tetapi menggunakan lebih banyak material komposit untuk menurunkan bobotnya. Dalam hal peralatan misi, pesawat ini masih banyak mengambil teknologi untuk J-11B. J-15 memiliki radar yang sama, meskipun diduga telah dipercanggih untuk mode misi maritim. Juga dilengkapi dengan sistem peringatan rudal seperti yang milik J-11B dengan lima layar pada kokpit.

J-15
Untuk urusan persenjataan, J-15 mengusung berbagai persenjataan presisi untuk misi udara ke udara dan udara ke permukaan, termasuk rudal anti kapal. Salah satu fitur menarik lainnya adalah dilengkapi dengan pod pengisian bahan bakar di tengah, yang memungkinkan J-15 mengisi bahan bakar pesawat lain (terutama saat misi jarak jauh dengan beban senjata yang berat). Pod pengisian bakar ini identik dengan pod UPAZ-1A Rusia, kemungkinan telah impor dan ditiru oleh China.
Seperti yang terjadi pada J-11B, J-15 juga terkendala karena ketidakmampuan industri China menghadirkan mesin yang andal. Mesin yang dimaksud adalah WS-10H, versi angkatan laut dari mesin WS-10A dengan peningkatan daya dorong untuk meningkatkan kecepatan lepas landasnya dari ski-jump deck kapal induk Liaoning. Namun diketahui hanya dua prototipe J-15 yang menggunakan mesin WS-10H, selebihnya menggunakan mesin AL-31F Rusia.
Prototipe J-15 dengan mesin AL-31F terbang pertama kali pada bulan Agustus 2009, dan pada bulan Mei tahun berikutnya berhasil lepas landas dari ski-jump tiruan di darat. Percobaan pada kapal induk yang sesungguhnya dilakukan akhir tahun lalu, berhasil lepas landas dan mendarat pertama kali oleh dua prototipe J-15 pada tanggal 23 November. Dari foto-foto yang beredar di internet terlihat J-15 tersebut masih menggunakan mesin Rusia.
Sementara itu, Shenyang juga mengembangkan J-15 kursi ganda, yang disebut sebagai J-15S. Prototipenya dengan mesin WS-10A terbang pertama kali pada November 2012. Meski kemungkinan besar pesawat ini hanya ditujukan China sebagai pesawat latih, J-15S juga sudah mengusung peran tempur dan peralatan peperangan elektronik.
Flanker Baru

Terkesan dengan pembelian Su-27 pertamanya, China tampaknya juga menginginkan Sukhoi kelas berat guna memenuhi persyaratan misi serangan besar. Pada akhir tahun 2000, batch pertama dari Su-30MKK bomber dua kursi tiba dari Rusia, dengan itu kemampuan PLAAF untuk mengirimkan (misi penembakan) senjata precision-guided pun berubah. Dua batch Su-30MKK, masing-masing 38 pesawat, yang dibeli untuk PLAAF, sedangkan PLAN menerima 25 Su-30MK2 dengan radar yang sudah dimodifikasi dengan kemampuan multi target dari rudal anti kapal.
Berdasarkan pengalaman China mengembangkan J-11B dari Su-27SK, Shenyang dan Shenyang Aircraft Design Institute juga memulai program serupa pada Su-30MKK. Hasilnya adalah J-16, yang kemungkinan besar akan menjadi pesawat tempur utama PLAAF, dan mungkin juga akan digunakan PLAN untuk misi anti kapal.
Seperti halnya J-11B, J-16 banyak menggunakan peralatan buatan China,  termasuk mesin WS-10A. Perubahan yang paling penting adalah radar AESA buatan China, meskipun masih sedikit yang diketahui dari sensor ini. Seperti halnya J-15 dan Su-30MKK, pesawat ini juga memiliki probe refueling retractable (untuk air refueling).
Rincian program J-16 masih samar, tapi tampaknya diketahui bahwa J-16 Flanker pertama telah terbang pada akhir 2011. Tahun lalu setidaknya ada dua prototipe J-16 yang diuji coba oleh PLAAF, dan ada kemungkinan bahwa jenis ini akan mulai memasuki fase evaluasi operasional yang lebih jauh.
Super Flanker China?

Dalam beberapa tahun terakhir, China terus dikabarkan akan memperoleh Su-35 dari Rusia. Su-35 adalah Flanker generasi kedua yang menggabungkan banyak perubahan pada badan pesawat, avionik dan mesin. Disebut-sebut, mesin Saturn 117S/AL-41F pada Su-35 lah yang membuat China tergila-gila pada pesawat ini, yang diketahui bahwa China telah mengalami kendala serius soal pengembangan mesin Flanker.
Potensi penjualan Su-35 ke China mulai terendus media pada awal 2012, awalnya akan dibeli 48 pesawat namun kemudian dikurangi menjadi 24. Laporan mengenai potensi penjualan terus dikabarkan dan pada akhir tahun lalu seorang pejabat senior Rusia mengisyaratkan bahwa kesepakatan penjualan akan ditandatangani pada tahun ini. Namun ada pula laporan lain yang bertentangan, yang mengatakan bahwa pembelian China atas Su-35 tidak dapat dilanjutkan.
Sumber :  http://www.artileri.org

Pesawat-pesawat Tempur Menarik di Pameran Angkatan Udara Iran

F-14 Tomcat
Sama seperti yang dilakukan negara-negara lain, setiap tanggal 21 Maret sampai 31 Maret Angkatan Udara Iran rutin mengadakan pameran dirgantara. Tradisi mengadakan pameran ini sudah merupakan warisan dari imperial sebelumnya, yang mana kini fasilitas militer Iran lebih sering terbuka untuk disaksikan umum.

Pameran udara baru-baru ini dilaksanakan di Pangkalan Udara Dezful, kota Dezful. Pesawat-pesawat yang ditampilkan antara lain, beberapa pesawat AS yang sudah dimodifikasi secara lokal, termasuk sang legendaris F-14 Tomcat, F-4E Phantom (tahun lalu pernah terlibat secara dekat dengan F-22 AS di atas Teluk Persia) dan F-5 Tiger.

F-5 Tiger
F-4E Phantom

Angkatan Udara Iran juga masih mengoperasikan beberapa MiG-29 Fulcrum seperti gambar di bawah ini.
MiG--29 Fulcrum

Su-24 Fencer.
Su-24 Fencer
Gambar: Danial Behmanesh/nahaja.aja.ir

10 Pesawat Tempur Tercepat di Dunia (2014)

Kecepatan dan kelincahan sebuah pesawat tempur akan menentukan seberapa besar dominasinya di udara. Berikut sepuluh pesawat tempur tercepat yang saat ini dioperasikan oleh angkatan bersenjata di dunia.
MiG-29M/MiG-29M2 - 2,25 Mach

MiG-29M2
MiG-29M2 (kursi ganda). Gambar: Alan Wilson from Weston, Spalding, Lincs, UK.
MiG-29M (kursi tunggal) dan MiG-29M2 (kursi ganda) adalah pesawat tempur multiperan generasi 4++ yang mampu terbang dengan kecepatan 2,25 Mach (2.756 km/jam). Desainnya berdasarkan pesawat tempur MiG-29K/KUB (varian untuk kapal induk).

MiG-29M/M2 mampu menyerang target darat/permukaan yang bergerak dan statis dengan menggunakan berbagai senjata, seperti kanon GSH- 301 30mm, rudal udara-ke-udara RVV-AE dan R-73E, rudal udara-ke-permukaan Kh-29T (TE), Kh-31A, Kh-35E and Kh-31P, bom dan roket.

MiG-29M/M2 didukung oleh dua mesin RD-33MK all-aspect thrust-vector control (TVC) yang masing-masing menghasilkan daya dorong 88,26 kN.
MiG-35 Fulcrum F - 2,25 Mach

MiG-35
MiG-35 saat pameran udara MAKS 2007. Gambar: Anatoly (MAKS-2007).
MiG-35 (kode nama NATO: Fulcrum F) adalah pesawat tempur multiperan generasi 4++ berkursi tunggal yang dikembangkan oleh Russian Aircraft Corporation "MiG" (RAC "MiG"). Pesawat ini mampu terbang dengan kecepatan 2,25 Mach (2.756 km/jam). MiG-35 juga ditawarkan dalam konfigurasi kursi ganda yang disebut sebagai MiG-35D.

MiG-35 dikembangkan berdasarkan pesawat tempur MiG-29, dan pertama kali ditampilkan di pameran udara Aero India tahun 2007. MiG-35 dipersenjatai dengan kanon GSh-30-1 30mm, berbagai rudal udara-ke-udara dan rudal udara-ke-permukaan, bom, dan roket.

Dua mesin RD-33MK dengan afterburnernya terintegrasi dengan sistem kontrol elektronik baru dan sistem smokeless combustion chamber. Pesawat ini juga dilengkapi dengan TVC yang sangat membantu dalam skenario pertempuran "dogfight" di udara.
Su-35 Flanker E - 2,25 Mach

Su-35
Su-35 saat ulang tahun ke-100 Angkatan Udara Rusia. Gambar: Sergey Vladimirov from RU a.k.a. Vlsergey.
Pesawat tempur multi peran Sukhoi Su-35 dibangun oleh Komsomolsk-na-Amure Aviation Production Association (KnAAPO) Rusia, merupakan versi modern dari Su-27. Pesawat yang sangat bermanuver ini mampu terbang dengan kecepatan 2,25 Mach (2.756 km/jam).

Su-35 saat ini digunakan oleh Angkatan Udara Rusia. Pesawat ini dipersenjatai dengan kanon GSH-30 30mm, berbagai rudal udara-ke-udara dan rudal udara-ke-permukaan, bom dan roket.

Su-35 didukung oleh dua mesin turbofan Saturn 117S dengan all-axis thrust-vector control (TVC) nozzles. Dengan afterburner, masing-masing mesinnya menghasilkan daya dorong 142 kN. Dengan bahan bakar penuh, Su-35 mampu terbang lebih dari 3.600 km.

Tornado ADV - 2,27 Mach

Tornado ADV
Tornado ADV Angkatan Udara Arab Saudi. Gambar: Koalorka.
Tornado Air Defence Variant (ADV) adalah versi pencegat dari pesawat tempur Tornado yang dikembangkan oleh Panavia Aircraft. Tornado ADV mampu terbang dengan kecepatan maksimum 2,27 Mach (2.780 km/jam), sementara Tornado versi Interdictor and Strike/Electronic Combat and Reconnaissance (IDS/ECR) hanya menawarkan kecepatan maksimum 2,2 Mach (2.695 km/jam).

Lebih dari 950 pesawat tempur Tornado telah dikirim ke berbagai angkatan udara di dunia termasuk Jerman, Italia, Inggris dan Arab Saudi. Persenjataan Tornado ADV terdiri dari kanon Mauser BK-27 27mm, rudal udara-ke-udara AIM 7 Skyflash dan AIM-120 AMRAAM atau AIM-132 ASRAAM.

Tornado ADV didukung oleh dua mesin turbofan Turbo-Union RB199 yang masing-masing menghasilkan daya dorong kering 40,5 kN. Setelah afterburning, masing-masing mesin akan menghasilkan daya dorong lebih dari 70 kN. Dengan penerbangan feri, Tornado ADV dapat terbang sejauh 3.890 km.
MiG-23 Flogger - 2,35 Mach

MiG-23 Flogger
MiG-23 Flogger. AS juga pernah mengoperasikan pesawat ini untuk tujuan penelitian.
Kecepatan terbang hingga 2,35 Mach (2.878 km/jam) menjadikan MiG-23 (kode NATO: Flogger) sebagai salah satu pesawat tempur tercepat di dunia. Lebih dari 5.000 pesawat telah dikirimkan ke berbagai negara di seluruh dunia.

MiG-23 turut berperan dalam Perang Iran-Irak, Perang Soviet di Afghanistan dan Perang Teluk. MiG-23 saat ini masih digunakan dalam jumlah terbatas oleh pengguna asing. Persenjataannya terdiri dari kanon GSH-23 belly-mounted, rudal udara-ke-udara Vympel R-23 (AA-7 Apex) dan R-60 (AA-8 Aphid).

MiG-23 didukung oleh dua mesin turbojet Tumansky R-29B yang masing-masing menghasilkan daya dorong 78,4 kN dan dengan afterburner yang bisa mencapai 112,8 kN.
Shenyang J-11 - 2,35 Mach

Shenyang J-11
Shenyang J-11
Shenyang J-11 adalah pesawat tempur buatan China yang desainnya berdasarkan Su-27SK Rusia. J-11 saat ini dioperasikan oleh Angkatan Udara Tentara Pembebasan Rakyat (PLAAF) China. J-11 mampu terbang dengan kecepatan hingga 2,35 Mach (2.878 km/jam).

J-11 awal masih menggunakan komponen utama buatan Rusia, sedangkan J-11B sudah banyak menggunakan peralatan buatan China, seperti sistem senjata dan avionik. Persenjataan meliputi kanon 30 mm, rudal udara-ke -udara dan udara-ke-darat, bom cluster dan roket.

Kekuatan terbangnya berasal dari mesin Lyulka AL-31F (buatan Rusia) atau Woshan WS-10A Taihang (buatan China). Dengan afterburner, masing-masing mesin menghasilkan daya dorong 123 kN, dan memiliki jangkauan maksimum hingga 3.530 km.
Su-27SK - 2,35 Mach

Su-27 Rusia
Su-27 Tim Aerobatik Rusia. Gambar: Alexander Mishin
Pesawat tempur multiperan Sukhoi Su-27SK merupakan versi ekspor dari Su-27 (kode NATO: Flanker) yang dikembangkan Biro Desain Sukhoi. Pesawat ini mampu terbang dengan kecepatan 2,35 Mach (2.878 km/jam).

Produksi Su-27SK dimulai pada tahun 1991. Persenjataan terdiri dari kanon otomatis GSh-301 30mm,  enam rudal jarak menengah R-27R1 (R-27ER1), dua rudal jarak menengah 27T1 (R-27ET1), enam rudal RVV-AE active radar-homing, enam rudal jarak pendek R-73E, bom cluster dan roket.

Dua mesin AL-31F yang masing-masing menghasilkan rasio dorong 122,6 kN, juga memberikannya kecepatan terbang 1.400 km/jam di permukaan laut. Dengan tanki bahan bakar internal yang berkapasitas 9.400 kg, pesawat ini mampu terbang sejauh 3.530 km pada kecepatan jelajah.
F-15E Strike Eagle - 2,5 Mach

F-15E Strike Eagle
F-15E Strike Eagle Angkatan Udara Amerika Serikat mengisi bahan bakar di udara di langit barat daya Asia, 1 April 2013.
F-15E Strike Eagle yang dibangun oleh Boeing Defense, Space & Security ini adalah pesawat tempur multiperan yang menjadi tulang punggung Angkatan Udara Amerika Serikat. Strike Eagle juga digunakan oleh beberapa negara lain seperti Angkatan Udara Arab Saudi, Singapura, Israel dan Korea Selatan.

F-15 membawa kanon 20 mm, Joint Direct Attack Munitions (JDAMs), Standoff Land Attack Missile Expanded Response (SLAM-ER), rudal AIM-120 AMRAAM, rudal udara-ke-udara AIM-9X Sidewinder dan bom diameter kecil. Mampu menyerang target saat terbang di ketinggian rendah di semua kondisi cuaca baik siang maupun malam.

F-15E didukung dua mesin P&W F100 atau dua GE F110 turbofan, masing-masing memberikan rasio daya dorong 129 kN dengan afterburner. Bila dilengkapi dengan tanki bahan bakar konformal (CFT) dan tiga drop tank, pesawat ini mampu terbang feri sejauh 3.840 km.
MiG-25 Foxbat - 2,83 Mach

MiG-25 Foxbat
MiG-25 Foxbat Angkatan Udara Rusia. Alex Beltyukov - RuSpotters Team.
MiG-25 (Kode NATO: Foxbat) adalah pesawat pengintai dan pencegat yang diproduksi oleh  Mikoyan-Gurevich OKB (sekarang RAC "MiG") yang saat ini digunakan dalam jumlah terbatas oleh Angkatan Udara Rusia dan beberapa negara lain.

MiG-25 telah diimpor oleh beberapa angkatan udara di dunia, antara lain Aljazair, Armenia, Suriah, Bulgaria, India, Irak dan Libya. Persenjataan MiG-25 terdiri dari dua rudal udara-ke-udara AA-6 Acrid dan dua R-40T.

Dua mesin Tumansky R-15B-300 turbojet yang tertanam masing-masing menghasilkan daya dorong sekitar 100,1 kN dengan afterburner yang memberikannya kecepatan maksimum 2,83 Mach (3.466 km/jam).

MIG-31E - 2,83 Mach 

MiG-31 Angkatan Udara Rusia
MiG-31 Angkatan Udara Rusia. Gambar: Vitaly Kuzmin
MIG-31E adalah varian ekspor dari pesawat tempur MIG-31 yang diproduksi oleh RAC "MiG". Pesawat ini memiliki kecepatan maksimum 2,83 mach (3.466 km/jam) dan dapat mengintersep dan menghancurkan target di semua ketinggian, baik di siang maupun malam hari. (Baca juga: MiG-31 Mencegat SR-71 Blackbird Amerika Serikat).

MIG-31 berada dalam layanan Angkatan Udara Rusia dan Kazakhstan. Ini adalah pesawat seri produksi pertama yang dilengkapi dengan airborne phased array radar. Pesawat ini dipersenjatai dengan kanon GSh-6-23M 30mm, rudal jarak jauh R-33E, rudal jarak menengah R-40TD1 (AA-6 'Acrid') dan rudal jarak pendek R-60MK.

MIG-31E memiliki jangkauan 3.000 km tanpa isi bahan bakar dan 5.400 km dengan satu kali pengisian bahan bakar di udara. Dua mesin D-30F6 yang masing-masing menghasilkan daya dorong 152 kN dengan afterburner, memungkinkannya untuk terbang dengan kecepatan 3.000 km/jam lebih pada ketinggian tinggi. (All data from Wiki)
Sumber :  http://www.artileri.org

Kamis, 24 Desember 2015

Eurofighter Typhoon dengan Tangki Bahan Bakar Konformal


Mock up Typhoon dengan CFT

Conformal Fuel Tank (CFT) atau Tanki Bahan Bakar Konformal menjadi salah satu fitur yang dipertimbangkan Eurofighter untuk jet tempur Typhoon dalam usaha penawarannya kepada India (Program Medium multi Role Combat Aircraft)) dan Uni Emirat Arab.
Pihak Eurofighter (dalam hal ini BAE Systems) sudah melakukan pengujian di wind tunnel berkecepatan tinggi di Inggris. Yang mana ditujukan untuk menilai karakteristik aerodinamis dari dua fuselage Typhoon yang dipasangi CFT.
Model Typhoon dengan CFT sebenarnya sudah beberapa kali ditampilkan di beberapa pameran dirgantara dunia, yang terbaru menjelang awal tahun lalu di Al-Ain Air Show di Uni Emirat Arab. Seperti pada gambar di bawah ini.
Typhoon dengan CFT di Al-Ain AIr Show

Dan di bawah ini adalah Typhoon standar tanpa CFT.

Typhoon non CFT
CFT tertanam erat pada bodi Typhoon guna meningkatkan jangkauan atau untuk memperpanjang waktu terbangnya di udara. Berbeda dengan drop tank, CFT tidak bisa dibuang begitu saja di udara karena terpasang erat ke dalam pesawat, proses pelepasan hanya bisa dilakukan di darat. Tercatat beberapa jet tempur lain yang menggunkan CFT antara lain F-15E strike Eagle, beberapa varian F-16, Rafale dan Advanced Super Hornet.

Dengan tanki bahan bakar internal (5.000 liter) dan ditambah dua CFT (1.500 liter), artinya Typhoon akan membawa 6.500 liter bahan bakar. Jangkauan sebelumnya yang 2.900 km berarti bisa meningkat hingga 3.700-an km.

Typhoon baru ini tidak hanya diuji untuk CFT-nya, tetapi juga ada beberapa pengujian lain seperti pengintegrasian rudal jelajah, seperti Storm Shadow dan Taurus.

Gambar atas: BAE Systems
Gambar tengah: Luigi Sani (http://www.flickr.com/photos/gigisani/)
Gambar bawah: Bartek Kozłowiec/Wiki

Piasecki X-49A "SpeedHawk"

X-49A "SpeedHawk"
Piasecki X-49A "SpeedHawk" adalah helikopter empat bilah, dua mesin General Electric T700-GE-701C, dan merupakan helikopter eksperimental yang sedang dikembangkan oleh Piasecki Aircraft untuk Angkatan Darat Amerika Serikat.
X-49A "SpeedHawk"

X-49A masih menggunakan bodi helikopter Sikorsky YSH-60F Seahawk, namun dimodifikasi dengan menambahkan sistem Vectored Thrust Ducted Propeller (VTDP) dan lifting wing hasil desain Piasecki. Teknologi VTDP menggantikan rotor ekor konvensional dan menyediakan anti-torsi dan yaw control dengan tambahan kemampuan dalam daya dorong ke arah depan. Dengan penambahan sayap, helikopter ini akan lebih bermanuver dan  lebih andal.
X-49A "SpeedHawk"
X-49A merupakan bagian dari program eksperimental Advanced Technology Demonstration (ATD) untuk menerapkan teknologi VTDP ke helikopter-helikopter militer guna memberikan berbagai keunggulan mulai dari kecepatan, jangkauan, survivabilitas dan beban yang mampu dibawanya.
X-49A "SpeedHawk"
X-49A Speedhawk terbang pertama kali pada tanggal 29 Juni 2007. Awalnya ini adalah proyek Angkatan Laut AS senilai USD 26 juta dolar yang terdiri dari sebuah helikopter Sikorsky YSH-60F yang dimodifikasi oleh Piasecki Aircraft sebagai helikopter uji coba untuk memvalidasi sistem VTDP. Pada bulan Mei 2003,YSH-60F/VTDP berganti nama menjadi X-49A. Dan pada tahun 2004, program X-49A VTDP dialihkan dari Angkatan Laut AS ke Angkatan Darat AS. Hingga saat ini program X-49A masih terus berjalan.
Gambar: Piasecki Aircraft

AS Upgrade Seluruh Armada Pesawat Pembom


B-1B Lancer

Miliaran dolar dibelanjakan AS untuk memodernisasi dan mengupgrade armada pesawat pembom strategis era Perang Dingin. Dengan tambahan beberapa perangkat teknologi baru, diharapkan beberapa pesawat-pesawat pembom Angkatan Udara AS (USAF) seperti B-1B, B-2 dan B-52 akan tetap bisa beroperasi hingga 40 tahun lagi. Tapi dengan maraknya pengembangan sistem pertahanan udara canggih oleh musuh-musuh AS, apakah menghabiskan dana untuk program ini adalah langkah yang tepat?

Sementara banyak angkatan-angkatan udara di dunia saat ini sudah memensiunkan pesawat pembom strategis jarak jauhnya, AS kini masih menjadi salah satu dari beberapa negara di dunia yang masih mempertahankan armada pembom yang besar. Meskipun usia-usianya sudah tua, armada pembom AS dinilai masih sangat mampu, yang terdiri dari 76 B-52H, 63 B-1B supersonik (gambar atas), dan 20 pembom siluman B-2. Dari total 159 pembom tersebut, 96 diantaranya siap digunakan kapan dan dimanapun di dunia ini.

"Armada pembom kami unik karena dapat dengan cepat mengirimkan senjata (bom) konvensional dan nuklir ke seluruh dunia dalam hitungan jam," Mayor Eric Badger dari USAF mengatakan kepada media. "Pembom akan membela kepentingan nasional kami dengan menghalangi, mencegah dan mengalahkan musuh."
Kaki Udara dari "Triad Nuklir" AS

Pada 2013 lalu, dua pembom siluman B-2 AS terbang dari Pangkalan Udara Whiteman, Missouri, ke Semenanjung Korea untuk menjatuhkan bom dummy seberat 907 kg di Jik Do Range. Ini merupakan bagian dari latihan tempur bilateral 'Foal Eagle' antara AS dan Korea Selatan. Memberikan sinyal bagi pemimpin Korea Utara Kim Jong-Un bahwa AS akan selalu membela Korea Selatan.

Krisis Ukraina dan ketegangan dengan Rusia, juga dihiasi dengan kehadiran sejumlah pembom B-52 dan B-2 AS di Inggris untuk latihan. Bagi AS, penyebaran pesawat pembom merupakan bentuk nyata dari komitmennya untuk melindungi seluruh sekutunya di dunia.

Pembom B-52 dan B-2 - tidak B-1B - masih difungsikan AS sebagai pesawat pembom serangan nuklir, menjadikan AS sebagai salah satu dari segelintir negara di dunia yang memiliki 'triad nuklir', yaitu pesawat pembom berkemampuan nuklir, rudal balistik nuklir antar benua yang berbasis darat, dan rudal balistik nuklir yang berbasis laut.

Negara-negara seperti Rusia dan China terus mencari cara untuk mengeliminasi kemampuan mematikan pesawat pembom strategis dengan mengembangkan senjata-senjata anti-access/area denial (A2/AD) canggih. Hal ini jelas akan membahayakan dan menggagalkan misi pembom-pembom AS yang terbang di wilayah A2/AD.

"Memodernkan dan mempertahankan armada pembom merupakan prioritas tinggi AS," kata Mayor Badger. "Sebagaimana ancaman telah berkembang, kami akan melakukan perubahan dan investasi untuk menghadapi (ancaman/AD A2). Termasuk di dalamnya program modernisasi dan upgrade, serta mengembangkan taktik dan senjata baru."

Pembom B-2 Juga Telah Usang

Bahkan pesawat pembom terbaru dan tercanggih milik USAF saat ini yaitu B-2 Spirit, juga harus menjalani perbaikan agar tetap relevan di masa depan. B-2 yang kini berjumlah 20 unit, yang baru saja merayakan ulang tahunnya yang ke-25, menjadi satu-satunya pembom AS yang mampu menembus sistem pertahanan udara dengan pemanfaatan teknologi siluman. Sebelum B-2 diganti pada dekade depan, mempertahankan B-2 agar tetap beroperasi menjadi prioritas utama bagi USAF.

B-2 Spirit
B-2 Spirit. (Gambar: USAF photo/Gary Ell)
Untuk tujuan ini, Pentagon menggelontorkan dana senilai USD 9,9 miliar kepada Northrop Grumman untuk memodernisasi dan menjaga keberlangsungan hidup armada pembom siluman ini. Dua puluh B-2 ini diharapkan akan bisa terus terbang selama 40 tahun lagi dengan masa pensiun yang direncanakan pada 2058.

B-2 akan diupgrade dengan Defensive Management System-Modernization (DMS-M) yang akan meningkatkan kesadaran ancaman dan pertahanan diri. B-2 juga akan dilengkapi dengan sistem komunikasi satelit (SATCOM) Advanced Extremely High Frequency (AEHF) baru. Kru B-2 juga akan menggunakan receiver frekuensi rendah, yang menjamin keamanan komunikasi B-2 setelah melakukan misi peledakan bom nuklir. Pembom siluman juga akan dilengkapi dengan Massive Ordnance Penetrator (MOP), sebuah bom 'bunker buster' 13.600 kg yang berfungsi untuk menghancurkan target yang jauh terpendam di dalam tanah.

Meskipun tidak lagi berkemampuan nuklir, pembom B-1B Lancer juga akan mendapatkan sejumlah upgrade teknologi kunci yang akan membuatnya terus terbang sampai tahun 2030-an. Awak B-1B juga akan diuntungkan dengan pengunaan Vertical Situation Display Upgrade (VSDU) yang akan menggantikan instrumen 'steam gauge' kokpit dengan display baru. Sistem navigasi inersia, radar, data link juga akan ditingkatkan atau diganti.

B-52 - Teknologi Baru untuk Masa Depan

Sang ikonik B-52 Stratofortress, yang pertama kali beroperasi pada saat Perang Vietnam, diperkirakan akan terus terbang hingga tahun 2040. Pembom tua yang tidak memiliki fitur siluman atau supersonik ini merupakan pembom yang paling rentan terhadap sistem pertahanan udara modern. Tidak seperti misinya di Vietnam, B-52 yang sudah diupgrade nanti akan ditugaskan untuk menjatuhkan bom pintar di luar area yang dijaga ketat oleh sistem pertahanan udara.

Peralatan komunikasi dan avionik baru, dan bomb bay (teluk bom) dimodifikasi untuk membawa bom pintar abad 21 yang saat ini masih dikembangkan. Dengan upgrade ini berarti B-52 akan terus digunakan AS sebagai platform utama pengiriman bom sebelum akhirnya digantikan dengan pembom baru.

B-52 Stratofortress
B-52 Stratofortress. (Gambar: Senior Master Sgt. John Rohrer)
Pada Mei lalu, B-52 yang pertama diupgrade dengan Combat Network Communications Technology (CONECT) dari Boeing. CONECT akan membuat B-52 terintegrasi dengan sistem pertempuran udara masa depan yang kompleks dengan penambahan beberapa communication data link, full-colour LCD display dengan real-time intelligence feed dan kemampuan untuk menargetkan ulang senjata/bom atau parameter misi selama penerbangannya. Menurut USAF, upgrade CONECT pada seluruh B-52 yang berjumlah 76 akan selesai pada tahun 2020.

Modifikasi pada Internal Weapon Bay akan menambah fleksibilitas B-52 dan meningkatkan kapasitasnya dalam mengusung senjata ber-GPS yang mematikan, termasuk senjata 'J-series' seperti Joint Direct Attack Munitions (JDAM), Lockheed Martin's Joint Air-to-Surface Standoff Missile (JASSM), JASSM-ER (extended range) dan Raytheon's Miniature Air Launched Decoy (MALD).

Pengintegrasian JDAM pada B-52 akan selesai pada tahun 2017, sementara JASSM dan MALD diharapkan akan selesai pada tahun 2020.
Menurut seorang petinggi USAF, startegi USAF dalam berurusan dengan A2/AD di masa depan adalah dengan menggunakan amunisi pintar yang diluncurkan dari luar batas A2/AD dan dengan penetrasi terbatas pada sisi depan wilayah pertempuran.

Di bawah perjanjian START baru yang ditandatangani AS dan Rusia pada 2010 lalu, sekitar 30-an pembom B-52 akan dikonversi ke platform konvensional dengan pelucutan semua peralatan yang terkait dengan misi nuklir. Sedangkan sekitar 40 lainnya akan tetap berkemampuan nuklir bersama dengan seluruh pembom B-2.

LRS-B - Pembom Generasi Baru USAF

Pembom B-1B dan B-52 rencananya akan segera dipensiunkan ketika pesawat pembom siluman baru USAF diperkenalkan pada 2020-an. Adalah Long Range Strike Bomber (LRS-B) yang dikembangkan oleh Boeing dan Lockheed Martin. Lebih dari 100 pembom LRS-B akan diperoleh USAF yang masing-masing senilai USD 550 juta.

Untuk beberapa hal, upgrade armada pembom tua AS saat ini merupakan salah satu cara untuk melindungi AS seandainya pengembangan LRS-B tertunda atau mungkin dibatalkan. Kita tahu, USAF tidak akan memensiunkan pembom jika belum ada penggantinya.
Sumber :  http://www.artileri.org

Senin, 21 Desember 2015

UAV Tempur China Pun Kini Terbang di Langit Arab Saudi

Wing Loong
Tidak bisa mendapatkan UAV tempur Predator dari Amerika Serikat, Arab Saudi berpaling ke China dengan membeli sejumlah UAV Wing Loong. Jumlah pastinya tidak dipublikasikan namun masing-masing UAV dilengkapi dengan dua rudal BA-7 laser guided (mirip dengan rudal Hellfire) atau dua bom 60 kg GPS Guided (mirip bom SDB Amerika Serikat).

Sejak tahun 2008 korporasi industri penerbangan China AVIC telah memamerkan foto dan video dari prototipe Wing Loong yang dalam pengertian bahasa China adalah Pterodactyl, dinosaurus terbang pada zaman Jurassic. Wing Loong disebut-sebut sebagai tiruan dari UAV MQ-1 Predator Amerika Serikat.
Pada tahun 2012, untuk pertama kalinya media melihat UAV ini terbang, di wilayah Uzbekistan, yang mana bersama dengan Uni Emirat Arab (UEA) merupakan pelanggan ekspor pertama untuk UAV ini (dari laporan media). Pernyataan AVIC pada tahun lalu hanya menyatakan bahwa Wing Loong sudah dijual ke empat negara asing dan salah satunya negara di Asia Tengah tanpa menyebutkan namanya.
Wing Loong mulai dikembangkan pada tahun 2005, terbang perdana pada tahun 2007 dan Tentara Pembebasan Rakyat China baru memperolehnya pada tahun 2008 untuk pengujian lebih lanjut. Dari bentuknya, Wing Loong yang juga dikenal sebagai Yìlóng-1 ini mirip dengan UAV besar MQ-9 Reaper Amerika Serikat, namun dari ukurannya lebih identik dengan MQ-1 Predator 1,2 ton. Wing Loong berbobot 1,1 ton, panjang 9 meter dan rentang sayap kurang lebih 14 meter. Wing Loong mampu beroperasi di ketinggian 5.300 meter dan terbang selama 20 jam. Muatan yang bisa dibawanya sebesar 200 kg.
Wing Loong
Dari gambar-gambar promosinya, Wing Loong terlihat membawa dua rudal Blue Arrow (BA) 7. Sejak tahun 2012 China telah menawarkan rudal udara ke permukaan ini untuk ekspor. Rudal BA-7 sangat mirip dengan rudal Hellfire Amerika Serikat. Blue Arrow 7 berbobot 47 kg dan pada dasarnya adalah rudal anti tank laser guided dengan jangkauan maksimal 7.000 meter. Soal harga, China menawarkannya sepertiga lebih murah dari rudal Hellfire yang sebesar USD 70.000 dan harga masih bisa dinegosiasikan.  "Priced to sell".

Rudal AGM-114 (Hellfire II) menggunakan hulu ledak armor-piercing (penetrasi lapis baja) atau hulu ledak fragmentasi (untuk sasaran non lapis baja). Namun hulu ledak yang selama ini ditembakkan  adalah hulu ledak fragmentasi. Hellfire II berbobot 48,2 kg, dengan 9 kg hulu ledak, dan memiliki jangkauan 8.000 meter. Setidaknya Hellfire telah digunakan selama tiga dekade.
Wing Loong bukanlah satu-satunya UAV yang tersedia di pasar yang bisa dibeli Arab Saudi. Israel adalah pemimpin dalam hal mendesain UAV meskipun untuk urusan produksi masih kalah dari AS. Membeli peralatan militer dari Israel tidak dapat diterima secara politik bagi negara-negara di kawasan Teluk, apa kata dunia nantiya?. Yang pasti satu lagi negara di Teluk sudah percaya dan membeli Wing Loong dan yang lain mungkin akan menyusul. 
Gambar: SCMP & Chinese Military Review

Mengapa Rusia Menggunakan 3 Jenis Jet Tempur Baru yang Mirip?

Su-35
Angkatan Udara Rusia telah memperkenalkan tiga jet tempur baru. Bukan jet tempur siluman Sukhoi T-50 yang ramai dipublikasikan beberapa tahun belakangan, tapi tiga varian berbeda dari Flanker klasik Sukhoi Su-27. Ketiga varian jet tempur baru itu masih mengandalkan desain hasil rancang Biro Desain Sukhoi, hanya saja pembangunannya dilaksanakan oleh dua produsen jet tempur yang berbeda, yaitu KnAAPO dan Irkut.

Hal ini sebenarnya cukup aneh dan berpotensi pemborosan. Berbeda dengan Angkatan Udara AS yang hanya fokus membeli satu jenis pesawat tempur baru, yaitu F-35 Joint Strike Fighter. Angkatan Udara AS menginginkan sebanyak 1.763 unit F-35A untuk menggantikan sebagian besar jet tempur yang ada saat ini, yang dalam teorinya untuk meningkatkan efisiensi persenjataan.

Sebaliknya, Rusia membeli beberapa lusin jet tempur baru yang terdiri dari Su-30M2, Su-30SM dan Su-35S yang ketiganya masih berdasarkan desain dari Su-27 yang dikenal oleh NATO sebagai Flanker. Hingga saat ini Rusia belum menjelaskan maksud pembelian atau pengembangan varian-varian baru Sukhoi ini, namun analis menilai bahwa pembelian ini salah satunya dimaksudkan untuk menjaga keberlangsungan produksi kedua pabrik tersebut ditengah merosotnya ekspor jet tempur Rusia.
Rusia giat mengembangkan varian Sukhoi untuk memenuhi kebutuhan angkatan udaranya, yang mana saat ini sebagian besar terdiri dari pesawat dari tahun 1980-an. Namun karena pengembangan sang siluman T-50 selalu mendominasi berita utama, tanpa disadari pengenalan 3 jet tempur baru ini tenggelam.

Dari ketiganya, Su-30M2 adalah yang pertama yang bergabung dengan Angkatan Udara Rusia, yaitu pada akhir tahun 2012 untuk menjadi bagian dari Pangkalan Udara 6972 di Krymsk di wilayah selatan Krasnodar.

Tiga Su-30SM pertama tiba di Pangkalan Udara 6982 di Domna pada bulan November 2013. Pangkalan yang berbasis di Siberia ini memperoleh 10 Su-30SM hingga akhir tahun 2013. Pada tahun ini, 10 unit lagi dijadwalkan akan diterima untuk melengkapi satu resimen penuh.
Sementara itu, Februari lalu Su-35S operasional pertama mulai bergabung dengan 23rd Fighter Aviation Regiment di Pangkalan Udara 6883 di Dzemgi, di wilayah Khabarovsk  di timur jauh Rusia.

Su-30M2

Su-30M2 dinilai sebagai yang tercanggih dari seluruh varian Su-30. Jet ini merupakan turunan dari Su-30MKK multiperan yang dikembangkan untuk China oleh KnAAPO, yang berbasis di timur jauh Rusia.

Su-30MKK bisa dikatakan merupakan upgrade dari Su-30 interseptor dua kursi, meskipun tidak lebih canggih dari saingannya Su-30MK buatan Irkut. Su-30MKK mampu air refueling, avionik memberikannya kemampuan multiperan, namun tidak memiliki canard foreplanes dan thrust-vectoring control engines seperti halnya Su-30MK dari Irkut.
Setelah memperoleh banyak pesanan dari China - kemudian ditingkatkan lagi dengan kemampuan anti kapal - KnAAPO kemudian menjual turunan Su-30MK2 ke Vietnam, Indonesia, Venezuela, dan Uganda. Pengenal varian ekspor Su-30MKK/MK2 dan Su-30M2 dengan varian yang digunakan oleh Rusia terletak pada tailfin kembar datar di atasnya.
Moskow mulai membeli Su-30M2 pada musim panas 2009. Jet ini memiliki banyak kesamaan dengan Su-27SM3, jet tempur satu kursi buatan KnAAPO dengan avionik upgrade.

Kementerian Pertahanan Rusia memesan empat Su-30M2 bersama dengan 12 Su-27SM3, dan bisa diasumsikan bahwa sang dua kursi Su-30M2 dimaksudkan untuk mendukung saudara satu kursi mereka dalam urusan pelatihan tempur atau mungkin untuk misi yang kompleks. Order Rusia untuk Su-30M2 diketahui sebanyak 20 pesawat.

Su-30SM
Penampilannya juga sangat mirip dengan Su-30M2, Su-30SM adalah produk dari pabrik saingan KnAAPO yaitu Irkut Corporation, yang berbasis di Irkutsk di Siberia dan juga merupakan bagian dari United Aircraft Corporation yang mengkonsolidasikan seluruh pabrik pesawat Rusia.

Su-30SM tampaknya bisa kita lihat sebagai turunan Su-30MK versi Rusia, salah satu produk unggulan Irkut di pasar ekspor dengan menjualnya kepada India, Malaysia dan Aljazair.

Dibandingkan dengan Su-30MKK dari KnAAPO, Su-30MK memiliki proposisi yang lebih baik, tidak hanya menggabungkan tata letak aerodinamis yang lebih modern, tetapi juga pilihan untuk menggunakan avionik barat. Para pembeli bisa memilih avionik dari Rusia, Ukraina, Prancis, India atau bahkan Israel.

Keunggulan Su-30MK yang juga muncul pada Su-30SM Angkatan Udara Rusia lainnya adalah dua kursi, canard foreplanes dan thrust-vectoring engines, dan terkombinasi dengan fly-by-wire flight control system canggih. Berbeda dengan jet dari KnAAPO, Su-30MK dan Su-30SM yang dibangun Irkut memiliki tailfin yang khas.

Kementerian Pertahanan Rusia memesan Su-30SM pada Maret 2012. Dan pada bulan Desember di tahun yang sama menggandakan order menjadi dua kali lipat dari 30 pesawat. Laporan dari media-media Rusia menyebutkan bahwa 60 jet ini harus segera dikirimkan pada akhir 2015.

Laporan-laporan media pada Februari lalu menyebutkan bahwa Depertemen Pertahanan Rusia berencana untuk menandatangai kontrak tambahan senilai USD 2 miliar untuk pengiriman 40 unit Su-30SM lainnya. Menariknya, sebagian (tidak semua) pesawat-pesawat ini dikabarkan akan bisa beroperasi dengan Angkatan Laut Rusia, dengan pesawat pertama kemungkinan akan tiba sebelum akhir 2015.

Dibandingkan dengan Su-30MKI, sang "Rusianisasi" Su-30SM mengganti avionik India dan Israel dengan avionik Rusia sendiri. Namun, sebagian besar avionik asli Perancis temasuk head up display dan sistem digital tidak diganti.

Sementara Su-30M2 menggunakan radar N001V -evolusi dari radar standar Su-27-, Su-30SM menggunakan radar N011M Bars-R yang lebih canggih dengan passive electronically scanned array. Satu lagi yang bisa dibandingkan dengan Su-30MK adalah pada kursi ejeksi. Kursi ejeksi pilot Su-30SM lebih kuat mengatasi bobot pilot Rusia yang lebih berat.

Su-35S

Su-35 cukup berbeda dari varian Su-30. Ketika Su-30 merupakan keturunan konseptual dari Su-27 Soviet, tapi Su-35 mulai dikembangkan di awal 2000-an.
Untuk meningkatkan kemampuan tempur Su-35S, KnAAPO membuat airframe baru, dan meningkatan avionik dan mesin. Su-35 menggunakan mesin AL-41F1S dengan thrust vectoring, fly-by-wire system canggih, dan perlengkapan optronik baru, canard foreplanes dihilangkan, dan perbaikan pada sisi aerodinamis lainnya yang cukup untuk membuatnya menjadi pesawat super manuver.

Sementara Rusia masih belum memperkenalkan radar active electronically scanned array (AESA) baru - mungkin menunggu T-50 siap -  Su-35S menggunakan radar N135 Irbis.

Seperti halnya Su-30M2 dan Su-30SM Angkatan Udara Rusia, Su-35S awalnya juga ditujukan sebagai jet tempur ekspor. Beberapa tahun belakangan, media terus menghubungkan penjualan Su-35S kepada China, meskipun hingga kini belum ada kesepakatan yang ditandatangani.
Pada tahun 2009, Moskow melangkah sendiri dengan memesan Su-35S untuk angkatan udaranya. Hingga Februari, Moskow sudah menerima 22 unit Su-35. Pengiriman batch pertama 48 Su-35S kemungkinan akan rampung pada 2015 dilanjutkan dengan kemungkinan pesanan 48 unit lagi.

Dengan kemampuan dan peralatan yang canggih, mungkin Su-35S yang paling realistis untuk menjadi tulang punggung kekuatan tempur udara Rusia hingga Rusia cukup memiliki T-50. Su-35S mampu menggunakan rudal udara ke udara RVV-BD yang berjangkauan 200 kilometer. Su-35S juga membuktikan dirinya sebagai pengganti yang layak untuk interseptor MiG-31.

Teka-teki Kekuatan Udara Rusia

Sebenarnya apa alasan Angkatan Udara Rusia menggunakan tiga varian baru Flanker? Jika dinilai, tentunya akan lebih efisien jika Rusia hanya fokus pada satu varian. Tapi kenyataan bahwa persaingan produksi tentang pabrik mana yang seharusnya mendapat order pesawat, mungkin inilah yang menjadi dilema Rusia. Selama varian Su-30 laris manis di pasar eskpor, memiliki dua pabrik (KnAAPO dan Irkut) tampaknya memang tidak akan menjadi masalah. Seperti halnya Su-30M2 yang dinilai sebagai yang paling berpotensi tumbuh di masa mendatang, selain karena kabar menyebutkan bahwa Rusia membeli Su-30M2 hanyalah karena airframe yang berlebih akibat batalnya penjualan kepada China.

Soal kecanggihan, Su-35 memang dapat diandalkan. Mengusung mesin yang lebih powerfull, radar superior, dan peralatan pertahanan diri canggih. Namun di sisi lain, ketimbang Su-35, Su-30SM lebih tersedia untuk pasar, murah dan memiliki keuntungan dua awak, yang cocok untuk misi tempur yang kompleks atau juga pelatihan.

Dan sekarang, penjualan jet tempur Rusia ke asing sedang cekak. Pembeli terbanyak seri Su-30 selama ini adalah India dan China, namun saat ini mereka sudah mampu membuat sendiri Su-30 dengan lisensi Rusia (tidak termasuk China yang memproduksi tanpa izin).

Malaysia juga dikabarkan telah memutuskan untuk sementara tidak menambah armada Su-30MKM guna memenuhi kebutuhan jet tempur multi perannya, juga sempat dikabarkan bahwa Malaysia lebih memilih opsi sewa pesawat. Yang dinilai cukup mungkin adalah Indonesia, yaitu Su-35 untuk menggantikan F-5.

Moskow memesan tiga jet berbeda lebih mungkin ditujukan untuk menopang keberlangsungan produksi pabrik KnAAPO dan Irkut. Dan bilamana Angkatan Udara Rusia mengoperasikan ketiganya tentu akan menarik minat pembeli.

Angkatan Udara Rusia memang sangat membutuhkan jet tempur baru yang banyak. Sedangkan program T-50 belum kunjung selesai, meskipun laporan-laporan media Rusia beberapa waktu lalu menyebutkan bahwa pesawat siluman ini akan siap diproduksi pada tahun 2016.
Berbeda dengan F-35 Amerika, uji coba T-50 tidak dipublikasikan pada publik. Tapi beberapa waktu sempat bocor kabar (tidak diketahui juga kebenarannya) bahwa desain T-50 sedang dirombak secara signifikan. Jika memang kabar itu benar adanya, tentu jadwal operasional T-50 semakin jauh.

Juga dikabarkan, T-50 awalnya direncanakan untuk diserahkan kepada pusat uji terbang Angkatan Udara Akhtubinsk untuk evaluasi pada tahun ini, tapi kemudian tampaknya meleset ke tahun 2016 yang tentu menjadikannya belum akan siap diproduksi atau dioperasikan  oleh Angkatan Udara Rusia pada akhir tahun 2016.

Skenario terbaik T-50 adalah diproduksi sebanyak 60 untuk dari rentang tahun 2016 hingga 2020, tapi tampaknya sudah bakal meleset. Jika ini terjadi, Angkatan Udara Rusia tentu membutuhkan jet tempur baru sembari menunggu produksi dan kecukupan armada T-50.

Dari ratusan jet tempur garis depan Angkatan Udara Rusia, sebagian besar sudah berumur. Runtuhnya Uni Soviet dan dilanjutkan dengan krisis ekonomi telah menurunkan produksi jet-jet tempur Rusia. Baru dalam beberapa tahun terakhir ini Rusia memiliki sumber daya yang besar untuk membeli banyak jet tempur baru.

Sementara tiga Flanker baru ini merupakan kemajuan yang cukup besar dalam hal kemampuan dibandingkan Flanker pendahulu, pesanan Rusia saat ini masih belum sepenuhnya mencukupi kebutuhan Angkatan Udara Rusia. Bahkan dengan puluhan Su-30M2, Su-30SM dan Su-35S, armada tempur Rusia sebagian besar masih terdiri dari pesawat tua.

Jumlah MiG-29 juga semakin berkurang. Soal penjualan, versi terbaru MiG-29SMT juga ditolak oleh Aljazair. Petempur kelas berat MiG-31 dinilai memang masih sangat bisa diandalkan di garis depan, tapi mengingat jumlahnya yang sedikit dan upgrade MiG-31BM yang belum menunjukkan peningkatan kemampuan yang signifikan, tentu Rusia membutuhkan jet baru.

Dengan menguapnya rencana upgrade MiG-29 dan upgrade MiG-31 juga tampak tidak akan sesuai harapan (atau mungkin upgrade hanya ditujukan untuk menarik minat pembeli), mungkin inilah salah satu alasan Rusia mengoperasikan beberapa varian sukhoi baru untuk membela langit Rusia untuk jangka panjang.

Apakah Moskow akan terus membeli Su-30M2, Su-30SM, atau Su-35? Kita tidak tahu. Namun yang pasti, masa depan armada tempur udara Rusia sangat tergantung dari nasib proyek T-50. (War is Boring).

Gambar: Toshi Aoki - JP Spotters

China Kembangkan Pesawat Pembom Siluman H-20

Konsep pesawat pembom siluman China
China sedang mengembangkan pesawat pembom siluman baru yang disebut dengan H-20. Pembangunan pesawat pembom ini akan meningkatkan kekuatan pembom strategis China, ujar Bill Sweetman, seorang jurnalis militer dan Richard D. Fisher, seorang peneliti perkembangan militer China seperti yang dilansir laman Wantchinatimes.com.

Saat ini, China masih dalam tahapan pengembangan pesawat pembom strategis masa depan, seperti halnya Amerika Serikat juga sedang mengembangkan pesawat pembom siluman strategisnya melalui proyek Long-Range Strike Bomber dan Rusia dengan program pesawat pembom PAK DA, menurut laporan Aviation Week & Space Technology.

Pesawat pembom H-20 China kemungkinan besar akan dikembangkan dan diproduksi oleh Xi'an Aircraft Industrial Corporation (XAIC), salah satu pengembang utama pesawat-pesawat China. Pembom H-20 ini kemungkinan akan dikonfigurasi dengan fitur low observable dan kecepatan subsonik.
Menurut laporan China Aviation News pada Januari lalu, China disebutkan telah merancang pesawat pembom siluman jarak jauh pertamanya sejak tahun 2008. Desainnya dirancang oleh Aviation Industry Corporation China, induk perusahaan dari XAIC.

Rencana pembangunan pesawat pembom masa depan China sebenarnya juga telah bergaung sejak Oktober 2013 silam. Kala itu, Kolonel Wu Guohui, seorang profesor dari Universitas Pertahanan Nasional China mengatakan kepada China Aviation News: "Di masa lalu China lemah dalam (pesawat) pembom, tapi di masa depan China akan mengembangkan pesawat pembom jarak jauh."
Konsep pesawat pembom siluman China
Kolonel Wu Guohui menjelaskan bahwa pesawat pembom siluman memiliki dua keunggulan dibandingkan rudal balistik. Yang pertama, rudal balistik hanya bisa ditembakkan satu kali, sementara pembom siluman dapat diterbangkan berkali-kali. Yang kedua, setelah diluncurkan, rudal balistik tidak dapat kembali ke pangkalan, sedangkan pembom siluman akan kembali ke pangkalan jika misi dibatalkan. 

Meskipun Angkatan Udara China belum mengonfirmasi rencana mereka ini, namun analis menilai pembom H-20 kemungkinan baru akan rampung sekitar tahun 2025.

Di masa depan, China akan membutuhkan pesawat pembom siluman demi mencapai dua ambisi strategisnya. Yang pertama, mencegah AS menguasai First Island Chain, yang membentang dari Alaska hingga Filipina. Kedua, untuk semakin mengukuhkan kepemimpinannya di Timur Jauh. H-20 Angkatan Udara China bersama dengan kapal induk dan kapal serbu amfibi Angkatan Laut China akan memberikan China kemampuan proyeksi kekuatan yang besar.
Seperti halnya Amerika Serikat yang telah menginvestasikan dana sebesar USD 1,2 miliar per tahun untuk mengembangkan pesawat pembom siluman baru demi menggantikan pembom Northrop Grumman B-2 Spirit, Wu mengatakan bahwa sudah waktunya bagi China untuk mengembangkan pesawat pembom sendiri. Pembom strategis seperti B-2 AS dan Xian H-6 China kini sudah menjadi sasaran empuk bagi sistem-sistem rudal pertahanan udara canggih saat ini. Begitu pula Rusia yang kini mengembangkan pesawat pembom siluman PAK DA untuk memenuhi kebutuhan perang di masa depan.
Saat ini, hanya Amerika Serikat yang telah memproduksi dan mengoperasikan pesawat pembom siluman, yaitu Lockheed A-12, Lockheed F-117 Nighthawk dan B-2 Spirit. Dan saat ini, B-2 adalah satu-satunya pembom yang dioperasikan AS.

Sementara menunggu program H-20 rampung, Angkatan Udara PLA terus mengembangkan versi upgrade dari pesawat pembom H-6 dan upgrade model-model sebelumnya dengan persenjataan baru. Tidak diluluskannya niat China oleh Rusia untuk membeli pesawat pembom yang lebih canggih yaitu Tupolev Tu-22M3, membuat negara ini tidak memiliki pilihan lain selain mengupgrade pesawat pembom yang ada atau mengembangkan pesawat pembom baru.

Gambar via people.com.cn

Senin, 14 Desember 2015

Helikopter Serang Ka-52 Alligator Rusia

Ka-52 Alligator

Ka-52 Alligator adalah helikopter serang yang dioperasikan oleh Angkatan Udara Rusia. Ka-52 Alligator yang dikembangkan oleh Biro Desain Kamov (bagian dari Russian Helicopters) ini merupakan varian kursi ganda dari helikopter serang Ka-50.
Ka-52 mampu menghancurkan target darat lapis baja (tank), target udara yang terbang dengan kecepatan rendah, dan personel musuh di garis depan dan dalam. Ka-52 juga difungsikan sebagai helikopter pengawas, pos komando udara untuk kelompok helikopter serang, dukungan tempur dalam misi pendaratan pasukan, patroli udara dan pengawalan konvoi militer.
Pengembangan Ka-52 dimulai pada tahun 1994 dan prototipe pertamanya selesai dibuat pada bulan Desember 1996 untuk selanjutnya terbang pada bulan Juni 1997. Ka-52 mulai diproduksi pada tahun 2008 di pabrik Progress Arsenyev Aviation di wilayah Primorye, Rusia.
Rusia juga berencana melengkapi kapal serbu amfibi 'Mistral' yang dibeli dari Perancis dengan helikopter Ka-52K, yang merupakan versi angkatan laut dari Ka-52 Alligator.
Pengiriman
Pada bulan Desember 2010, Russian Air Force's 334th Tactical Deployment Centre menerima tiga Ka-52 yang difungsikan sebagai helikopter misi khusus. Angkatan Udara Rusia memulai induksi helikopter Ka-52 pada April 2011. Ka-52 menggantikan atau beroperasi bersama armada helikopter serang Ka-50 Black Shark. Diperkirakan, saat ini baru 65 unit Ka-52 yang diproduksi.
Desain, kokpit, dan avionik
Desain Ka-52 masih merupakan hasil modifikasi dari helikopter Ka-50. Perbedaan yang cukup mencolok, Ka-52 memiliki nose (hidung) yang lebih besar dan airframe yang lebih besar karena untuk mengakomodasi dua kursi pilot. Persentase kesamaan airframe, komponen dan sistem dari Ka-52 dan Ka-50 adalah 85 persen.

Ka-52 Alligator
Ka-52 berdimensi panjang 16 m, tinggi 4,9 m, dan diameter rotor utama 14,5 m. Maksimum berat lepas landas Ka-52 sebesar 10.800 kg. Disebutkan, armor Ka-52 mampu menahan tembakan proyektil 23 mm.
Kokpit dua kursi Ka-52 mengakomodasi kedua awaknya dengan pengaturan side-by-side (berdampingan). Kedua awak duduk di kursi ejeksi K-37-800M. Kokpit kaca canggihnya dilengkapi dengan head-up-display (HUD), empat display multifungsi SMD 66, helmet-mounted sight display, image intensifiers dan GPS receiver. Ka-52 juga diintegrasikan dengan FAZOTRON (cabin desk radio-locator) dan sistem navigasi dan serangan untuk helikopter (NASH).
Pada September 2012 Russian Helicopters menandatangani kontrak jangka panjang dengan Ramenskoye Design Company (RDC) untuk pengiriman peralatan avionik. Tertuang dalam kontrak, RDC bertanggung jawab memasok paket avionik untuk Ka-52 dan Ka-52K untuk rentang tahun 2013 hingga 2020.
Persenjataan
Sisi kanan Ka-52 ditempatkan NPPU-80 movable gun dengan kanon otomatis 2A42 30 mm. Enam cantelan (hardpoint) eksternal pada sayap dapat dipasangi berbagai kombinasi senjata.
Cantelan Ka-52 dapat dipasangi rudal anti tank VIKHR, rudal ATAKA dengan sistem pemandu laser, dan peluncur roket B8V-20 untuk roket S-8 (unguided). Rudal anti tank VIKHR memiliki jangkauan delapan hingga sepuluh kilometer dengan daya penetrasi lapis baja 950 mm. Ka-52 juga dapat dipersenjatai dengan rudal anti pesawat IGLA-V.
Sistem sensor, radar dan penanggulangan
Ka-52 dilengkapi dengan radar Phazotron FH-01 Millimeter Wave Radar (MMW) dengan dua antena untuk target udara dan darat. (mast-mounted)
Sistem penanggulangan (countermeasure) disupport oleh jammer elektronik dan IR, radar warning receiver (RWR), sistem deteksi laser, sensor peringatan IR missile dan UV-26 flare/chaff dispensers in wing-tip fairings.
Ka-52 dilengkapi dengan sistem manajeman pertempuran yang membuatnya mampu bertukar atau berbagi data dengan helikopter sejenis atau helikopter lainnya.
Mesin dan kinerja
Ka-52 Alligator menggunakan dua mesin turboshaft Klimov VK-2500 yang menggerakkan dua rotor utama (coaxial contra-rotating). Masing-masing mesin menghasilkan daya lepas landas maksimum 2.400 hp. Klimov VK-2500 dilengkapi dengan full authority digital control system (FADEC) baru.

Ka-52 Alligator
Ka-52 mampu terbang pada ketinggian maksimum 5.500 m. Kecepatan maksimum dan kecepatan jelajahnya masing-masing 300 km/jam dan 260 km/jam. Tingkat pendakian mencapai 12 meter per detik, jangkauan penerbangan taktis 460 km, sementara jangkauan penerbangan feri 1.110 km. Helikopter segala cuaca ini juga mampu lepas landas dan mendarat di iklim panas dan di daerah pegunungan tinggi.
Kemampuan terbang Ka-52 terbilang mengesankan -karena penggunaan rotor coaxial contra-rotating- karena mampu bermanuver ekstrem di ruang terbatas. Dengan demikian memudahkan Ka-52 mengambil posisi serangan yang menguntungkan.

Kru
2
Mulai digunakan Rusia
2008
Dimensi
Panjang
16 m
Diameter rotor utama
14,5 m
Tinggi
4,95 m
Berat kosong
8.000 kg
Berat maks. lepas landas
10.800 kg
Kinerja
Ketinggian operasi
5.500 m
Mesin
2 x Klimov VK-2500
Daya lepas landas
2 x 2.400 hp
Akselerasi maksimum
16 m/detik
Akselerasi vertikal
12 m/detik
Kecepatan maksimum
300 km/jam
Kecepatan jelajah
260 km/jam
Penerbangan feri
1.110 km
Penerbangan taktis
460 km
Persenjataan
Kanon
1 x 30-mm cannon (460 rounds)
Rudal
12 x VIKHR anti tank / 4 x IGLA-V air-to-air
Senjata lain
 rocket pod atau bom
Emergency systems
K-37-800M shock-absorbing ejector seats

Gambar Ka-52 Alligator: Russian Helicopters

Sikorsky Luncurkan Helikopter S-97 RAIDER™

Helikopter S-97 RAIDER™

West Palm Beach, Florida - Sikorsky Aircraft Corporation, anak perusahaan dari United Technologies Corporation (UTC), pada 2 Oktober kemarin meluncurkan prototipe pertama dari dua helikopter intai bersenjata S-97 RAIDER™, menandai dimulainya tahap uji coba penerbangan helikopter yang dirancang untuk militer ini.

"Hari ini, Sikorsky meluncurkan helikopter militer generasi terbaru, dengan kemampuan dan kinerja yang belum pernah ada sebelumnya di industri kami," kata presiden Sikorsky Mick Maurer di laman resmi Sikorsky. "Empat tahun lalu, kami mengumumkan rencana untuk membangun S-97 RAIDER, dan kami bekerjasama dengan beberapa perusahaan terbaik di industri ini," tambah Maurer.

Dengan mengusung teknologi helikopter Sikorsky X2™, helikopter S-97 RAIDER menjadi helikopter multi misi (intai bersenjata atau serangan ringan) yang mampu mengangkut enam tentara dan senjata eksternal. Rotor utama dan rotor pendorongnya memberikan kecepatan jelajah hingga 253 mph (407 km/jam), lebih dua kali lipat kecepatan helikopter konvensional.

Sikorsky akan menawarkan helikopter S-97 RAIDER™ sebagai helikopter pengganti untuk armada helikopter OH-58D Kiowa Warrior milik Angkatan Darat AS guna memenuhi kebutuhan operasional  dan sebagai platform operasi khusus di masa mendatang.

"Helikopter militer membutuhkan kinerja dan kemampuan yang tinggi untuk mencapai tujuan mereka," tambah Maurer. RAIDER ini akan menawarkan manuver dan kecepatan yang sangat baik, yang secara signifikan akan meningkatkan kinerja, serta daya tahan dan jangkauan yang lebih jauh.

RAIDER yang bermesin tunggal ini memanfaatkan airframe (badan) dari bahan komposit dengan berat kotor sekitar 11.000 pon (5.000 kg). Helikopter ini mampu membawa berbagai senjata dan sensor yang diperlukan untuk berbagai misi. Kokpit akan diisi oleh dua pilot, dengan mode duduk side-by-side. Sedangkan ruang kabinnya yang fleksibel mampu menampung enam pasukan tempur lengkap atau amunisi dan bahan bakar tambahan untuk misi yang lama.

Pendanaan program pembangunan helikopter RAIDER ini sama sekali tidak dibantu oleh pemerintah AS. Sikorsky berinvestasi sebesar 75 persen dari total dana program, sedangkan 25 persen lainnya ditanggung oleh 53 industri lainnya.




Sumber : http://www.artileri.org

Helikopter Serang dan Intai T-129 ATAK Turki Siap Tempur


T129 ATAK
Lima helikopter serang dan intai taktis pertama yang diproduksi oleh Turki "T129 ATAK", telah dikirimkan ke Angkatan Darat Turki pada hari Kamis menyusul selesainya pelatihan pilot.
Seorang pejabat militer Turki mengatakan kepada media bahwa pilot yang akan mengoperasikan helikopter T129 ATAK telah menerima pelatihan selama 4 bulan, dan sekarang baik pilot dan helikopter T129 ATAK sudah siap bertempur kapanpun. Empat helikopter lainnya juga akan dikirimkan pada minggu depan.
Helikopter ini dikembangkan melalui proyek ATAK, yang dimulai sejak akhir 2007. Setelah kontrak dengan total nilai sebesar USD 3 miliar ditandatangani dengan Finmeccanica AgustaWestland, sebuah perusahaan pertahanan Italia, Turki melalui Turkish Aerospace Industries (TAI) memulai penelitian untuk mengembangkan dan memproduksinya. T129 sendiri dikembangkan berdasarkan helikopter Agusta A129 Mangusta.
T129 ATAK adalah helikopter serang dua kursi, dan bermesin ganda yang didesain khusus untuk misi penyerangan dan pengintaian. Para insinyur Turki menambahkan beberapa perangkat tambahan seperti avionik dan sistem keamanan dan pertahanan seperti lapisan armor yang kuat. Rudal laser guided pertama Turki yaitu Cirit dan Hydra dapat diluncurkan dari T129 ATAK. Selain itu, T129 juga mampu membawa rudal Hellfire anti tank dan rudal Stinger anti pesawat. Total, T129 ATAK mampu membawa hingga 76 rudal.


Gambar: Turkish Aerospace Industries

Sabtu, 12 Desember 2015

Mesin Rusia akan Tenagai Pesawat Siluman J-31 China

J-31 China
Mesin RD-93 buatan Rusia akan mentenagai pesawat tempur generasi kelima China J-31, pernyataan resmi Rosoboronexport Rusia kepada kantor berita RIA Novosti, Senin.

"J-31 dengan mesin RD-93 Rusia ini dianggap sebagai program ekspor, yang akan mampu bersaing dengan pesawat tempur generasi kelima F-35 Amerika Serikat di pasar regional," kata Kepala Departemen Ekspor Peralatan Angkatan Udara Rosoboronexport Sergey Kornev dalam sebuah wawancara dengan RIA Novosti.

"Program ini ambisius, tapi sangat nyata, terutama mengingat harga F-35 yang terlalu mahal dan juga beberapa masalah terkait pengembangannya," tambah Kornev.

Sergey Kornev, yang memimpin delegasi Rusia di pameran dirgantara China International Aviation & Aerospace Exhibition di Zhuhai (11-16 November), China, mengatakan kepada RIA Novosti bahwa saat ini China tengah mengembangkan dua pesawat tempur generasi kelima, J-20 dan J-31, hal ini menunjukkan potensi tinggi China dalam ilmu dan industri penerbangan.

J-31 terbang pertama kali pada bulan Oktober 2012 dan hingga saat ini baru ada satu prototipe yang diproduksi. Pesawat bermesin ganda ini memiliki beberapa kemiripan dengan pesawat tempur generasi kelima Rusia T-50 atau PAK FA.

Selain J-31, China telah lebih dulu mengembangkan pesawat tempur siluman J-20, yang lepas landas pertama kali pada tahun 2011. J-20 diharapkan akan dioperasikan Angkatan Udara China pada tahun 2017.

Mesin RD-93 bukanlah mesin baru, merupakan varian dari mesin RD-33, yang awalnya dikembangkan untuk pesawat tempur MiG-29. RD-93 dikembangkan oleh Biro Desain Klimov Rusia khusus untuk pesawat tempur FC-1 Xiaolong, yang lebih dikenal di Pakistan sebagai JF-17 Thunder (hasil kerjasama dengan China).

Pesawat tempur generasi kelima saat ini yang sudah operasional di dunia hanyalah F-22 Raptor Amerika Serikat, sedangkan F-35 AS, T-50 Rusia dan J-20 dan J-31 China saat ini masih dalam tahap pengembangan.

Kornev juga menyinggung mengenai problem China yang sering meniru senjata-senjata Rusia, tapi dia juga mengungkapkan bahwa sudah ada solusi untuk itu.

"Masalah (China yang melanggar hak cipta senjata Rusia) ada, tetapi sudah terpecahkan, dan kedua belah pihak mencari penyelesaiannya," kata Sergei Kornev sebelum pameran Airshow China 2014.

Dia mengingatkan kembali sebuah kesepakatan pada tahun 2008 tentang perlindungan hak kekayaan intelektual dalam kerjasama teknis militer kedua negara sebagai contoh yang baik dari kerjasama Rusia-China dalam hal ini.

Pejabat pertahanan Rusia, bagaimanapun, menggarisbawahi bahwa kerjasama teknis militer antara Rusia dan China selalu memiliki hambatan namun selalu pula dapat ditemukan solusinya.

Pada tahun 1992, China membeli pesawat tempur Su-27 dari Rusia. Lima belas tahun kemudian, Beijing meluncurkan pesawat tempur J-11B yang diklaim Moskow sebagai versi tiruan dari Su-27.

BACA JUGA: China Terus Kembangkan Flanker

Rusia juga menuduh China memproduksi kloning dari pesawat tempur Su-33, sistem pertahanan udara S-300, Smerch multiple rocket launcher dan Msta self-propelled howitzer yang kesemuanya itu adalah pelanggaran atas hak kekayaan intelektual Rusia.

Gambar J-31 via foxtrotalpha.jalopnik.com