Rabu, 29 April 2015

Video Khazanah - Batu Cincin

Video Cara mengkilapkan batu akik pakai grenjeng / bungkus rokok



Cara mengkilapkan batu akik

Pertama, jika di sekitar rumah anda banyak terdapat pohon pisang, kita bisa memanfaatkan daun pisang yang telah kering dan berwarna coklat (Klaras) sebagai bahan untuk mengkilapkan batu. Caranya ambil daun pisang kering tersebut dan taruh di diatas alas yang lembut, dan selanjutnya gunakan untuk menggosok batu cincin anda secara lembut dan berulang.

Kedua, jika anda seorang perokok, kita bisa menggunakan aluminium foil pembungkus rokok sebagai sarana untuk menggosok batu akik kita, lakukan secara perlahan dengan arah gerakan searah atau dua arah.

Ketiga, kita bisa menggunakan permukaan bamboo halus untuk membantu mengkilapkan batu cincin kita yang telah kusam, menurut beberapa pendapat, bamboo terbaik untuk mengkilapkan batu akik adalah bamboo hitam.

Keempat, untuk menjaga kilau batu cincin kita, beberapa pedagang merekomendasikan untuk selalu menggosokkan batu akik kesayangan kita dengan menggunakan permukaan kain halus yang agak tebal, cara ini bisa kita terapkan setiap saat, seperti dengan cara menggosokan batu akik kita ke kain celana atau baju kita.

Kelima, menggunakan bahan kulit. Kita bisa menggunakan bahan bahan bekas dari kulit seperti ikat pinggang, jaket, sepatu ataupun bahan kulit lainnya, gunakan bagian yang kasarnya secara perlahan dan lembut untuk media menggosok batu akik kita.

Keenam, jika anda ingin hasil yang lebih sempurna, maka cara terbaik adalah dengan menggunakan serbuk intan, cara ini adalah cara terbaik utuk menghasilkan permukaan batu akik yang halus dan mengkilap. Serbuk atau pasir intan bisa kita beli pada pedagang batu permata.

Lakukan perawatan dan jagalah kebersihan batu akik anda secara rutin dan teratur, sehingga keindahan batu akik anda bisa dipertahankan. Semoga beberapa tips cara mengkilapkan batu akik diatas bisa menambah wawasan kita dalam bidang batu akik yang saat ini sedang menjadi trend

Bocah SD Ikut Bertarung dalam Lomba Asah Batu Akik

kompas.com/Firmansyah 
Ayu Diah peserta termuda yang ikut dalam lomba asah batu akik yang digelar komunitas Batu Mulia Bengkulu (BMB)

Ayu Diah Magnais, bocah kelas empat Sekolah Dasar SDN 52 Kota Bengkulu, tampak duduk di barisan peserta lomba mengasah batu akik yang digelar Komunitas Batu Mulia Bengkulu (BMB), Sabtu (28/3/2015).

Ayu mendapatkan nomor lomba 26 berada di pojok sebelah kanan. Dia duduk berjejer dengan peserta lain yang usianya jauh lebih dewasa ketimbang dirinya. Dia menyiapkan peralatan asahnya berupa mesin air yang dimodifikasi.

"Saya belum pernah ikut lomba sebelumnya, namun saya memang ingin ikut lomba ini, sebelumnya saya berhasil mengasah lima butir batu namun belum saya buat pengikatnya (gagang cincin)," kata Ayu.

Setelah semua peserta bersiap dengan alat dan batu akik masing-masing, panitia mengumumkan bahwa peserta diberikan waktu 45 menit untuk menciptakan batu akik yang simetris, cantik dan menarik.

Saat tanda perlombaan dimulai suara mesin meraung, debu dari bahan baku batu akik bertebaran di lokasi lomba asah batu akik dengan peserta sebanyak 28 orang itu. Ayu tampak santai meski dia merupakan peserta termuda, tangan mungilnya tampak membolak-balik batu di mesin pengasah, sesekali dia teteskan air ke batu untuk memastikan apakah batu yang ia asah mengkilap.

"Selama ini saya mengasah batu untuk koleksi pribadi saja tidak untuk dijual, ada berbagai macam jenis seperti batu teratai, rafflesia dan lain-lain," ujarnya.

Dia juga menceritakan bahwa kemampuan mengasahnya itu didapat dari ayahnya yang seorang pengasah batu dan juga menjual beragam jenis batuan akik. Ayu mengaku optimistis bahwa asahannya akan menang mengalahkan asahan para peserta lainnya.

"Saya yakin menang," ujarnya singkat.

Saat perlombaan usai, Ayu tampak sumringah dengan hasil asahan batu berwarna kuning tersebut, lalu dia menyerahkan pada panitia. Sementara itu, pihak panitia menyebutkan pengumuman siapa pemenang lomba mengasah batu itu belum dapat diumumkan dalam waktu dekat.

"Minggu (29/3/2015) akan diumumkan pada sore hari siapa pemenangnya," ujar salah seorang panitia.



Sumber : http://regional.kompas.com

Tak Cuma Orang Dewasa, Bocah Pun Koleksi Batu Akik

KOMPAS.COM/PUTRA PRIMA PERDANA 
Anak-anak kecil ikut antusias melihat batu akik di Gemstone Festival Radio Republik Indonesia (RRI).

Ribuan orang dewasa berdesak-desakan. Mata mereka melirik tajam dan melihat dengan saksama bongkahan batu-batu akik yang belum jadi atau yang sudah berkilau.

Bukan hanya batu, para pria pencinta batu akik ini juga terkadang mencari cincin emban yang dijual di Gemstone Festival di Kantor Radio Republik Indonesia (RRI) Bandung. Namun, di antara kerumunan para pria dewasa, segerombol anak-anak kecil yang beberapa masih memakai celana sekolah ikut berdesak-desakan.

Pada festival batu akik yang digelar sejak 24 Februari hingga 6 Maret 2015 ini, mereka berseliweran mencari cincin emban untuk mengikat batu akik milik mereka agar terlihat lebih cantik. "Batunya enggak tahu jenisnya. Dikasih sama bapak," kata Teddy Alamsyah (11), yang datang bersama teman-temannya, Kamis (26/2/2015) kemarin.

Untuk sebuah cincin emban berbahan dasar titanium yang akan dipasangkan dengan batu warna merah miliknya, Teddy harus merogoh kocek Rp 40.000. "Sengaja nabung dulu dari uang jajan. Satu hari seribu," ujar dia.

Tidak hanya satu, Teddy ternyata memiliki tiga batu akik. Meski tidak tahu jenis-jenisnya, dia mengaku paling menyukai batu berwarna merah darah yang juga pemberian ayahnya. Batu-batu yang sudah berpasangan dengan cincin, kata Teddy, tidak ada niatan untuk dijual. Dia sengaja menyimpan batu-batu akik tersebut untuk koleksi.

"Kadang-kadang ngumpulin juga buat beli batu dari uang jajan. Suka batu karena kan emang lagi populer. Batunya bukan buat dijual, melainkan buat koleksi aja," kata dia.



 Sumber : http://regional.kompas.com

Cerita Batu "Mistis" Watu Dodol yang Kini Diburu Pecinta Akik

Ira Rachmawati / Kompas.com / Banyuwangi 
Batu yang berada di pintu masuk utara Kabupaten Banyuwangi terancam karena demam batu akik

Batu besar yang terletak di tengah jalan yang berada di Pantai Wisata Watu Dodol mulai dilirik oleh penggila batu akik. Batu besar yang selama ini dikenal mistis sedikit demi sedikit dicongkel demi memperoleh pecahannya.

"Bukan hanya orang Banyuwangi, melainkan juga orang di luar Banyuwangi. Banyak sekali yang datang ke sini untuk ambil batu itu. Katanya buat batu akik," kata Suhariyanto, pemilik warung yang berada di Pantai Watu Dodol.

Kepada Kompas.com, Kamis (19/3/2015), dia bercerita, awalnya memang banyak orang yang berdoa di sana, lalu kemudian kepercayaan berkembang bahwa batu tersebut bertuah. "Kalau tanya usianya, saya tidak tahu. Sudah ratusan tahun. Sebelum zaman Belanda dulu sudah ada. Tidak ada yang bisa memindahkan batu itu. (Letaknya) dulu di tepi pantai, tetapi dibuat jalan di bagian timurnya karena batunya tidak bisa dipindahkan. Takut kualat mungkin," ungkap dia.

Suhariyanto mengaku heran ketika banyak orang yang berani mengambil batu tersebut untuk dijadikan batu akik. "Banyak yang ngambil batu itu mampir ke sini. Kadang pesan kopi buat sajen," kata dia.

Suhariyanto, yang lebih dari 15 tahun berjualan di tempat ini, mengaku khawatir dengan aksi penggemar batu akik tersebut. "Batu itu bisa rusak. Padahal, batu itu unik dan juga bersejarah," ungkapnya.

Sementara itu, Wawan (36), salah satu penggemar batu akik asal Banyuwangi mengaku pernah mengambil batu di wilayah Pantai Watu Dodol sekitar enam bulan yang lalu. "Waktu itu artis Tukul Arwana sempat datang ke sana dan menggambarkan ada penjaga dari makhluk gaib dan akhirnya dianggap bahwa energi batu Watu Dodol sangat bagus," kata dia.

Wawan mengaku, awalnya dia mencari serpihan batu yang jatuh, tetapi tidak menemukannya. Dengan alasan penasaran, dia kemudian mencongkel batu tersebut seukuran kurang dari telapak tangan. "Saat mencongkelnya, saya berdoa dan menggantinya dengan sebatang rokok yang dinyalakan dan diletakkan di bagian bawah. Itu wajib hukumnya kalau tidak ingin terjadi apa-apa," kata dia.

Menurut dia, batu yang berasal dari Watu Dodol mudah hancur saat diasah. "Sama dengan bekas abu rokok. Susah diasah karena memang bukan kategori batu keras," kata dia.

Batu akik asal Watu dodol tersebut banyak dicari karena dianggap lebih bertuah. "Padahal, semua itu hanya sugesti saja," kata Wawan lagi.

Saat Kompas.com melihat kondisi batu yang mempunyai tinggi lebih dari 10 meter tersebut, terlihat banyak congkelan baru di bagian bawah. Selain itu, banyak juga sisa bunga dan sesajen yang berserak di batu yang berada di pintu masuk utara Kabupaten Banyuwangi.



Sumber : http://regional.kompas.com

Selasa, 28 April 2015

Video Red Borneo, Bacannya Kalimantan


Kota Intan, Martapura memiliki berbagai batu mulia khas diantaranya akik, kecubung, dan Red Borneo. Sang primadona Red Borneo atau bacannya Kalimantan ini, belakangan menjadi magnet bagi para pemburu batu mulia

Batu Akik Sisik Naga Motif Alam Ditawarkan Rp 2 Juta

 KOMPAS.com/Suddin Syamsuddin 
Setelah sisik naga corak emas, para penggila batu akik jenis sisik naga (Septarian Noudles) di Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan, kedatangan sisik naga berwarna dasar hijau dan bercorak alam.

Setelah sisik naga corak emas, para penggila batu akik jenis sisik naga (Septarian Noudles) di Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan, kedatangan sisik naga berwarna dasar hijau dan bercorak alam.

Andi, pemilik Toko Labamba yang khusus menjual batu akik jenis sisik naga di Jalan Pancaitana Bungawalie, Kelurahan Galonta, Kecamatan Enrekang, Kabuten Enrekang, menemukan sisik naga bermotif alam ini.

“Sebenarnya, sisik naga bermotif alam atau mirip pemandangan, saya beli dari pengumpul batu dari Kecamatan Malau dan Baraka. Kulit luar dari batu ini coklat kehijauan. Awalnya saya ragu untuk membentuknya menjadi cincin, namun setelah saya buat, wow hasilnya menakjubkan,” ujarnya di Toko Bamba, Rabu (25/2/2015).

Kini batu akik sisik naga motif alam dipajangnya di etalase kaca Toko Labamba. Andi bingung mengenai harga yang mesti dipatoknya untuk jenis sisik naga motif alam ini.

“Mau saya jual berapa ya? Namun yang menawari pertama saya akan lepas hanya Rp 2.000.000. Bongkahannya termasuk langka di Enrekang,“ kata Andri.

Sementara itu, Joko, pakar batu Kota Parepare, Sulawesi Selatan, mengungkapkan, keanekaragaman dalam corak sisik naga memang beragam, abstrak, dan warnanya juga beragam.

“Corak dalam sisik naga beragam. Warna sisik naga yang ditemukan oleh para pemburu batu fenomenal ini, merah, hitam, coklat, putih, perak dan emas. Kalau warna hijau memang termasuk varian baru," ungkap Joko.



Sumber :  http://regional.kompas.com

Reza Aliando, Bocah Cilik Penggila Akik

KOMPAS.com/NAZAR NURDIN 
Ilustrasi batu akik jenis bacan. Berbagai jenis batu akik beragam koleksi dipamerkan dalam Festival Batu Akik Semarang, 25-1 Maret 2015.

Batu akik yang belakangan menjadi tren ternyata mampu membius berbagai kalangan masyarakat termasuk seorang bocah berusia lima tahun asal Kota Parepare, Sulawesi Selatan.

Reza Aliando, nama bocah itu, tak hanya memiliki satu atau dua batu akik. Dia bahkan sudah memiliki koleksi puluhan batu akik berbagai jenis. Reza mengaku kegemarannya itu disebabkan dirinya "tertular" hobi ayah, paman dan kakeknya.

“Bapak, paman dan kakek saya juga suka Om, “ Kata Reza, yang masih duduk di bangku taman kanak-kanak Bayangkara ini, Sabtu (21/3/2015), sambil menunjukkan koleksi cincin batu akik yang ia kenakan, di kelima jari tangan kanannya yang mungil.

Begitu cintanya Reza terhadap koleksi akiknya, membuat bocah yang bercita-cita ingin menjadi seorang polisi itu tak mau berangkat ke sekolah jika tak mengenakan cincin batu akik. Setiap berangkat sekolah, Reza sedikitnya mengenakan tiga cincin batu akik koleksinya.

Lia, ibunda Reza, mengatakan sebagian besar koleksi batu akik milik putranya itu merupakan hadiah dari sang paman, Munandar, yang sehari-hari berprofesi sebagai nakhoda KM Madani Nusantara. Lia menambahkan, Reza kerap minta pamannya membawakan batu akik sebagai oleh-oleh.

“Koleksi Reza, lebih banyak dari Kalimantan adalah oleh-oleh dari sang Paman, yang bekerja sebagai kapten kapal. Reza mempunya koleksi cincin batu akik hingga puluhan. Di antaranya, akik biru, obby, akik daging, corak pari, bahkan sapir hitam dari Timika,“ papar Lia.

Tidak seperti bocah seusianya, Reza tidak suka mengajak ibunya pergi ke tempat bermain atau ke tempat wisata saat libur sekolah. Reza labih senang diajak ke ousat penjualan batu akik di Kota Parepare.

“Ia lebih senang diajak ke pusat batu akik dibanding diajak bermain ke taman. Saat ia nangis Reza hanya bisa didiamkan jika diajak ke tempat perajin batu Akik,” kata Lia.



Sumber : http://regional.kompas.com

Berburu Batu Akik sampai Thailand...

KOMPAS.COM/ACHMAD FAIZAL 
Gems Gallery International Bangkok, Thailand. Hampir setiap hari ada warga Indonesia yang berbelanja batu akik, apalagi saat akhir pekan

PENGGEMAR batu akik dalam negeri ternyata tidak puas memburu batu hanya di Indonesia. Mereka berburu hingga ke negeri Thailand untuk menemukan batu akik spesial yang jarang dimiliki oleh orang Indonesia.

Di Gems Gallery International, pusat penjualan batu permata di kawasan Pharam 6 (Hok), Bangkok, Thailand, hampir setiap hari ada warga Indonesia yang berbelanja batu akik. Apalagi saat akhir pekan.

Jeny, salah satu pegawai mengakui jika banyak orang Indonesia yang berkunjung ke galeri yang bersertifikat ISO 9001:2000 itu, khususnya setelah demam batu akik merambah Indonesia. "Setiap hari ada belasan warga Indonesia ke sini cari batu akik," katanya dengan bahasa Indonesia yang kaku.

Karena banyaknya peminat batu akik asal Indonesia, pihaknya kini juga tengah berburu model-model batu akik khas Indonesia. "Tidak jarang pengunjung yang memakai batu akik kami ambil gambarnya untuk mencontoh model batu akiknya," jelas Jeny.

Saat berkunjung ke Gems Gallery International akhir pekan lalu, KompasTravel sempat bertemu Anwar, warga Tuban, Jawa Timur. Dia mengaku sudah membeli akik berwarna biru, yang dalam sertifikatnya diberi nama Amesty atau Cubic Zirconia seharga 6.500 bath lebih atau setara Rp 2.700.00. "Harganya tidak terlalu mahal, tapi saya yakin modelnya tidak akan ada yang punya di Indonesia," katanya.

Gems Gallery International Bangkok selalu menjadi salah satu destinasi belanja turis mancanegara jika berkunjung ke Thailand. Beragam batu permata yang diklaim berasal dari Thailand disediakan di sana dengan harga di bawah satu juta, hingga ratusan juta.

Di sana, selain berkunjung ke galeri, pengunjung juga bisa melihat karyawan yang sedang memproduksi batu permata menjadi cincin atau akik yang bernilai jutaan rupiah. Sayangnya, di lokasi galery dan tempat pembuatan, pengunjung dilarang mengambil gambar karena alasan tertentu.



Sumber :  http://travel.kompas.com

Senin, 27 April 2015

Video batu akik Martapura

Pemerintah Dinilai Perlu Atur Harga dan Sertifikasi Batu Akik


Batu akik atau batu permata setengah mulia kini tengah digandrungi oleh seluruh lapisan masyarakat di Indonesia. Namun demikian, hingga saat ini belum ada pengaturan dan pengawasan harga batu akik. Akibatnya, pedagang bisa seenaknya memainkan harga batu-batu permata setengah mulia.

Budayawan dan pemerhati batu akik asal Bandung, Abah N'ceh Kasepuhan, menilai, untuk mengontrol harga batu akik, pemerintah harus menunjuk satu lembaga khusus untuk menetapkan harga pasar.

"Harga batu akik per krat perlu ditetapkan," kata N'ceh saat ditemui di Bragastone Festival, Jalan Braga, Kota Bandung, Senin (31/3/2015).

N'ceh menambahkan, lembaga tersebut nantinya bisa melayani pemembuatan sertifikat keaslian batu dengan harga yang terjangkau. Menurut dia, sertifikat akan menentukan harga batu dari kualitasnya.

"Kalau sekarang harga sertifikasi batu akik terbilang mahal. Selain itu agak sulit karena kurangnya titik koordinat pelayanan," tuturnya.

Selain itu, dengan adanya sertifikat asli, harga batu akik bisa tetap bertahan tanpa tergerus waktu atau dengan kata lain bisa diinvestasikan. Keuntungan pun juga bisa didapat oleh pemerintah daerah dari sertifikasi. Jika saja sertifikasi sudah termasuk pajak, Pemerintah daerah pasti mendapatkan peningkatan PAD.

"Tidak masalah kalau kena pajak, kan pemerintah dapat pemasukan. Di internasional juga bisa dapat pasar," ucapnya



Sumber :  http://regional.kompas.com

Tak Jadi Kena PPnBM, Batu Akik Prospektif Diekspor

Kompas.com/Nazar Nurdin 
Sejumlah batu akik berbagai variasi dipamerkan dalam festival batu akik di Kota Semarang, Rabu (25/2/2015). Ada 72 stand dari berbagai wilayah di Indonesia memamerkan produk batu akik beragam koleksi.

Pecinta batu akik bisa berlega hati. Sebab, pemerintah batal mengenakan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) terhadap batu akik.

Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro menegaskan, tahun ini tidak akan ada perluasan objek maupun kenaikan besaran PPnBM. "Pokoknya tidak ada perluasan objek pajak, mau itu terhadap batu akik ataupun batu kali," ujar dia, Jumat (6/3/2015).

Harus diakui, batu akik yang kini sedang ngetren di masyarakat memang sulit untuk dijadikan objek pajak. Salah satu alasan utamanya adalah kendala pendataan dan standar harga batu akik. Sulit menentukan harga asli batu akik karena harga jualnya fluktuatif dan dipengaruhi faktor lain.

Sampai saat ini belum ada standar penetapan harga batu akik. "Selain itu, jual beli batu akik dilakukan oleh pedagang kecil hingga perorangan, sehingga akan menyulitkan Ditjen Pajak memungut pajak hingga pengawasan," tutur Irawan, Direktur Peraturan Perpajakan I Ditjen Pajak Kementerian Keuangan.

Chris Ari Adiyanto, pengusaha dan pedagang batu akik asal Bogor, Jawa Barat, berpendapat, daripada mengenakan pajak, seharusnya pemerintah mendukung pengembangan sentra-sentra penjualan batu akik di berbagai daerah di Indonesia. Sentra batu akik ini bisa menjadi tujuan utama wisata.

Suryo Wiro, pengusaha batu akik Martapura, Kalimantan Selatan mengamini. Semestinya pemerintah bisa mendukung akik lokal agar dikenal sampai ke luar negeri. Maklum, potensi ekspor batu akik cukup prospektif. Apalagi, Indonesia memiliki potensi bebatuan yang luar biasa dan beraneka ragam.

Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan, Nus Nuzulia Ishak, menyatakan, tidak menutup peluang ekspor batu akik. Indikasinya terlihat dari nilai ekspor perhiasan Indonesia yang terus meningkat.

Kondisi ini juga memungkinkan untuk mengekspor batu akik lokal. "Namun, kita perlu meningkatkan kualitas akik dengan menerapkan dan meningkatkan teknologi pengolahannya," ujar Nus.

Sepanjang tahun 2014, total ekspor perhiasan tercatat sebesar 4,65 miliar dollar AS. Angka ini naik 69 persen ketimbang 2013. Singapura menjadi importir terbesar dengan nilai transaksi sebesar 1,01 miliar dollar AS.(Adinda Ade Mustami, Rani Nossar, Rizki Caturini, Yuthi Fatimah)



Sumber :  http://bisniskeuangan.kompas.com

Ada Temuan Batu Akik "Baru" di Gunung Mergi

kompas.com/ syahrul munir 
Bupati Semarang Mundjirin

Demam batu akik membuka peluang bagi siapa saja untuk memburu langsung dari sumbernya, mulai dari sungai, bukit, hingga gunung. Di Kabupaten Semarang, baru-baru ini dikabarkan ada warga yang menemukan batu akik di Bukit Mergi.

Sebuah bukit yang selama ini dikenal sebagi area tambang galian C yang membentang dari wilayah Desa Leyangan hingga Desa Lemah Abang. Kabar penemuan batu akik di Bukit Mergi tersebut juga dibenarkan oleh Bupati Semarang, Mundjirin.

Bahkan menurut Mundjirin, penemuan batu akik di wilayah itu tidak hanya di Bukit Mergi. "Saya sudah dikabari oleh staf saya soal temuan batu akik di Gunung Mergi. Bahkan tidak hanya di sana, ada beberapa tempat lagi yang saya dengar," kata Mundjirin, Selasa (14/4/2015) kemarin.

Namun Mundjirin tak merinci tempat-tempat tersebut. Mundjirin mengaku, sejauh ini perburuan batu akik di wilayahnya belum mengkhawatirkan. "Kan sudah ada Perda nya, mana wilayah yang bisa ditambang mana yang tidak boleh. Menambang harus ada izinnya. Jika perlu, nanti kami perintahkan Satpol untuk menjaganya," imbuh Mundjirin.

Kabar penemuan batu akik di Buki Mergi setidaknya bisa dicek kebenarannya di sejumlah perajin batu akik. Salah satunya Fahrur (35), pemilik kios batu akik "Zahra" di Jalan Yos Sudarso, Blanten, Ungaran Barat.

Kepada Kompas.com dia mengaku baru-baru ini ada mendapat pesanan mengasah batu akik yang berasal dari Bukit Mergi. Oleh penemunnya batu akik itu diberi nama batu "GM" akronim dari Gunung Mergi.

Batu akik GM konon berwarna kuning bening. "Orang itu bilang dapat dari Gunung Mergi. Setelah diasah lalu diberi cincin pengikat jadi dua buah cincin batu akik. Misalnya ada yang berminat, saya bisa mencarikannya," kata Fajar.




 http://regional.kompas.com/

Sabtu, 25 April 2015

Video Fenomena Batu Akik Bergambar

Batu Akik Pun Jadi Bahasan Seminar di Universitas...

KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO 
Pengunjung memilih batu akik yang saat ini sedang banyak digemari, di Jakarta Gems Center, Rawa Bening, Jatinegara, Jakarta, Kamis (15/1/2015). 

Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Gorontalo (UNG) menggelar seminar tentang fenomena batu akik yang ramai dibicarakan di Indonesia. Seminar itu menghadirkan sejumlah narasumber atau pakar di berbagai disiplin ilmu, Kamis (12/3/2015).

Ketua Jurusan Ilmu Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial Farid Th Musa mengatakan, seminar batu akik tidak sekedar dilihat dari fenomena yang menghebohkan warga di Indonesia. Namun, fenomena batu akik itu bisa dimanfaatkan untuk sektor ekonomi demi meningkatkan kesejahteraan warga.

Farid mengusulkan agar pemerintah segera memfasilitasi pendirian UMKM Batu Akik, agar industri ini lebih tertata dan menjadi salah satu pendapatan daerah.

Kegiatan itu dibuka Wakil Gubernur Gorontalo Idris Rahim serta menghadirkan 7 pembicara, yakni Wakil Wali Kota Gorontalo sekaligus Ketua 'Gemstone' Gorontalo Budi Doku.

Kemudian pembicara lainnya Supardi Nani (pakar ekonomi), Intan Manyoe (pakar geologi), Joni Apriyanto (pakar sejarah), Thariq Modanggu (pakar sosiologi agama), Aang Panji Permana (peneliti petrologi) dan Abdul Wahab Nasaru (praktisi sekaligus owner Tariq Gemstone).

Mengambil tema "Batu Akik: Perspektif Sosiologi, Sejarah, Teologi, Sejarah, Ekonomi dan Geologi", seminar ternyata mendapat apresiasi warga karena turut diikuti sekitar seribu peserta yang terdiri dari pengrajin akik, penambang, penggemar batu akik dan kalangan mahasiswa.

Viktor Musa, salah satu pengusaha Batu Akik di Gorontalo menyambut positif kegiatan yang dilaksanakan Jurusan Sosiologi, karena apa yang menjadi fenomena saat ini memerlukan kajian dari berbagai macam sisi agar memiliki manfaat penting.

"Diharapkan fenomena batu akik ini memiliki keberlangsungan lama dan bernilai tambah bagi industri batu akik di Indonesia," ujarnya.

Menurutnya fenomena batu akik bisa dijual dengan berbagai motif, serta memiliki keindahan tersendiri jika sudah diolah dengan baik.






Sumber : http://regional.kompas.com

Dialog Batu Akik, dari Pakar Arkeologi Hingga Ulama Dihadirkan

KOMPAS. com/Suddin Syamsuddin 
Dialog tentang demam batu akik, dengan tema 'Fenomena Demam Batu Mulia, dari Sisi Manfaat dan Mudarat', di Kedai Andalusia, Jalan Jenderal Sudirman, Kelurahan Bumi Harapan, Kecamatan Bacukiki Barat, Kota Parepare, Sabtu (28/2/2015).

Demam batu akik, di sejumlah daerah seolah membius warga. Untuk mencerahkan pola pikir para pencinta batu akik, di Kota Parepare, Sulawesi Selatan, diadakan dialog tentang batu akik. Dialog itu menghadirkan pakar arkeologi dan ulama.

Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (Kahmi) Kota Parepare, menggelar dialog tentang demam batu akik, dengan tema 'Fenomena Demam Batu Mulia, dari Sisi Manfaat dan Mudarat', di Kedai Andalusia, Jalan Jenderal Sudirman, Kelurahan Bumi Harapan, Kecamatan Bacukiki Barat, Kota Parepare, Sabtu (28/2/2015).

"Acara ini digelar untuk memberikan pencerahan kepada para penggemar dan kolektor batu akik, agar tidak menyalah artikan batu mereka," kata pantia dialog, Rahman Saleh.

Dalam dialog, pakar arkeologi Universitas Hasanuddin (Unhas), Iwan Sumantri, menjelaskan ciri batu akik agar tidak tertipu oleh banyaknya penjual palsu.

"Ciri-ciri batu mulia atau yang sekarag diistilakan batu akik sangat sederhana, dilihat dari kaca pembesar ada mempunyai serat. Tidak mudah tergores oleh kuku. Dan kemudian jika dibakar tidak berkeriput," kata Iwan.

Sementara pimpinan Pondok Pesantren DDI Kota Parepare, KH. Dr. Halim menjelaskan, batu akik dari sisi manfaat dan mudaratnya.

Kata Halim, dari sisi mudarat, demam batu akik adalah jika kolektor atau penggemar batu akik mempunyai pikiran mistis, atau dalam Islam syirik.

"Sementara dari sisi manfaat, selain indah jika dipakai, demam batu akik ini bisa menjadi lapangan pekerjaan bagi para pengangguran. Bayangkan dulunya batu itu dijual hanya Rp 200.000 per kubik untuk bahan bangunan, sekarang ada yang dinilai Rp 1.500.000 itu hanya satu bongkahan batu," ucap Halim.



Sumber : http://regional.kompas.com

Ledakan Batu Akik


Belakangan batu akik tiba-tiba jadi primadona. Harga jual dari pertambangan rakyat melonjak 500 persen. Di sentra penjualan batu akik terbesar se-Asia Tenggara, Pasar Rawa Bening, Jakarta Timur, pedagang meraup untung hingga 400 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Suara desing mesin gerinda terdengar sepanjang hari di sudut Kota Aceh. Suara itu berasal dari ratusan batu alam yang sedang dipotong atau diasah di rumah-rumah warga.
Demikian gambaran ledakan batu akik di "Negeri Serambi Mekkah". Penggemar batu akik seperti idocrase dan giok terus tumbuh. Hampir di semua pusat pertokoan, pasar tradisional, dan modern ada tempat pengasahan dan penjualan batu alam.
Geriap batu akik juga terdengar di Kota Martapura, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan. Di sini akik bahkan sempat mendunia karena penemuan intan di Pendulangan Cempaka, Sungai Tiung, Desa Pumpung, Cempaka, pada 1965. Meski menghasilkan akik sejak 1960-an, batu-batu mulia baru digandrungi sekitar dua tahun terakhir.
Sebelumnya, batu akik dari pendulangan tradisional Cempaka tidak mampu mengimbangi kebesaran intan trisakti yang tersohor hingga ke luar negeri. Banyak jenis batu alam dari pendulangan intan tradisional, antara lain kecubung, fosil, amparan, badar besi, pirit, kelulut, dan merah borneo.
Oleh para perajin, bongkahan batu dibelah-belah dan digosok dengan cara tradisional sehingga menghasilkan batu-batu yang indah dengan beragam corak. "Petambang mendapatkan bongkahan batu itu paling tidak di kedalaman 20 meter," kata Muhammad Aini (45), perajin perhiasan dan batu permata di Desa Pumpung, Cempaka, Kota Banjarbaru.
Selain batu aceh dan batu martapura, jenis batu akik yang sedang naik daun adalah batu bacan dari Pulau Bacan, Maluku Utara. Konon, bacan menjadi primadona karena dipakai oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Presiden Amerika Serikat Barack Obama.
Batu bacan terdiri dari dua jenis, yakni bacan doko dan bacan palamea. Bacan doko umumnya berwarna hijau tua dan bacan palamea berwarna kebiruan. Nama doko dan palamea merupakan nama desa di Pulau Bacan tempat diambilnya batu-batu itu.

Harga melambung
Harga jual batu akik sangat bergantung pada warna, tingkat kejernihan, ukuran, dan kekerasan batu. Batu bacan dengan berat 5 gram dijual Rp 3 juta-Rp 5 juta per butir. Fadly Sabban, warga Ambon, bahkan bisa menjual batu bacan seberat 20 gram dengan harga Rp 30 juta-Rp 50 juta per butir. Batu bacan kini menjadi batu termahal yang dilirik oleh pasar Taiwan hingga Jepang.
Ketua Gabungan Pecinta Batu Alam (GaPBA) Aceh Nasrul Sufi mendata jumlah penggemar batu akik terus meningkat. Pada 2011, penggemar batu akik hanya sekitar 30 orang dan kini 50.000 orang. Harga batu aceh pun melonjak drastis dibandingkan tahun lalu.
Pengusaha batu akik, Muhammad Syukur (33), menuturkan, setahun lalu harga bahan mentah idocrase kualitas super dari petambangnya berkisar Rp 400.000 per kilogram. Kini harganya bisa Rp 100 juta-an per kg. GaPBA Aceh mencatat, pebisnis batu akik melonjak hingga 15.000 orang di seluruh Aceh.
Fenomena batu akik terjadi ketika warga menemukan bahan mentah batu alam jenis idocrase di Betung, Kabupaten Nagan Raya, pada 2013. Idocrase kemudian menang dalam Indonesian Gemstones Competition and Exhibition 2013 dan 2014 di Jakarta.
Melihat ledakan permintaan, GaPBA Aceh membangun Sentra Kerajinan Batu Alam Aceh di Ulee Lheue, Banda Aceh, pada November 2014 dengan perputaran uang mencapai Rp 250 juta per hari. "Keuntungan yang didapat para pebisnis itu 20-30 persen per hari dari semua perputaran uang tersebut," ujar Nasrul.
Geliat batu akik juga kentara di Pasar Rawa Bening, Jakarta Timur, yang dihuni 1.400 pedagang akik. Ketua Dewan Pembina Asosiasi Pedagang Pasar Rawa Bening Tanwir Lubis menyebut kenaikan omzet hingga 400 persen dibandingkan tahun lalu. Omzet pedagang grosiran kecil, seperti Kios Batavia, mencapai Rp 20 juta per hari.
"Tren batu akik meledak lagi karena munculnya batu alam Indonesia. Batu bacan, bengkulu, aceh, dan lampung. Dulu orang enggak perhatian. Saya keliling seluruh daerah dan memang setiap daerah ada potensi batu akik," kata Tanwir.

Fenomena sesaat
Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh, Mukhlis Yunus, mencermati ledakan batu aceh ini sebagai fenomena sesaat layaknya fenomena ikan louhan, tanaman anthurium, bunga euphorbia, beberapa tahun lalu di Indonesia. "Hanya saja, karena benda mati, fenomena batu alam kemungkinan bisa bertahan cukup lama," katanya.
Mukhlis mengimbau, masyarakat bersikap wajar dalam menyikapi ledakan batu akik. Sebab, hingga kini, batu akik belum memiliki standar harga di pasaran. Selain itu, batu tersebut belum memiliki sertifikasi yang bisa menjaga harga dan keasliannya.
Kondisi itu bisa memicu perubahan yang tidak bisa diprediksi, yakni bisa terus melonjak ataupun jatuh secara tiba-tiba. "Untuk itu, batu alam belum bisa menjadi investasi jangka panjang seperti emas," tuturnya.
Demi keaslian batu akik, pemilik Laboratorium Tasbih Scientific Gemological Laboratory di Pasar Rawa Bening, Yani Abdul Majid, mengimbau pencinta batu akik untuk membuat sertifikasi batu. Setiap hari, Tasbih Gems Lab mengeluarkan 20-30 sertifikasi batu yang antara lain berisi tentang asal-usul batu. "Kalau bingung tentang keaslian batu, saya biasanya akan e-mail guru ahli batu di India serta London," katanya.
Direktur Wahana Lingkungan Hidup Indonesia Aceh Muhammad Nur menilai, musim batu aceh turut mengancam kelestarian alam di lokasi sumber bahan batu, seperti di Nagan Raya dan Aceh Tengah.
"Situasi itu bisa memicu masyarakat melakukan penambangan secara masif tanpa memikirkan dampak buruk terhadap lingkungan," ujarnya. Apalagi merujuk data GaPBA Aceh, ada sekitar 1.000 pencari batu dalam sehari di Nagan Raya dan Aceh Tengah.
Ledakan batu akik yang terbentuk dari aktivitas magma ini memang menggiurkan. Harga yang melambung tinggi membuat orang terlena. Boleh saja jatuh cinta pada kecantikan akik, asal tidak kecanduan lalu menyesal kemudian. (WKM/SF/DRI/JUM/FRN)


Sumber :  http://bisniskeuangan.kompas.com

Jumat, 24 April 2015

Penampakan Batu Akik Bergambar Nyi Roro Kidul Seharga Rp 5 Miliar




Penampakan Batu Akik Bergambar Nyi Roro Kidul Seharga Rp 5 Miliar

Warga Wonosobo baru-baru ini dihebohkan dengan kemunculan sebuah batu akik bergambar Ratu Pantai Selatan, Nyi Roro Kidul. Hebatnya, batu asli dan cantik ini memiliki harga yang cukup fantastis dan hampir sama dengan harga sebuah rumah mewah yaitu Rp 5 Miliar. Batu asli Wonosobo ini bisa dilihat di Pameran Pesta Batu di Pasar Kita Pamulang Kota Tangerang Selatan.

Krisna adalah si empunya dari batu cantik ini. Sepintas, batu milik Krisna ini hanyalah sebuah batu yang memiliki warna-warna cantik di dalamnya, namun jika dilihat secara seksama, perpaduan warna-warna alam tersebut ternyata menyerupai sosok Nyi Roro Kidul yang tengah menari.

Krisna yang juga merupakan seorang seniman melihat keindahan batu yang dimilikinya pun akhirnya menorehkan pada sebuah kanvas. Ia melukis sosok Nyi Roro Kidul di atas kanvas berukuran 10 R yang kemudian lukisan tersebut ia pajang tepat di depan stand-nya.
"Saya melukis ini setelah saya melihat batu Nyi Roro Kidul ini," ungkapnya sembari membandingkan batu Rp 5 miliarnya dengan lukisan hasil tangannya.

Krisna mengaku, awalnya mendapatkan bongkahan batu gambar Wonosobo ini pada 1995. Dia membelinya dari Pasar Jati Waringin, yang kemudian dia bawa pulang karena warnanya menarik. Namun saat dilihat, perpaduan warna seperti membentuk sosok. Kemudian dia buktikan dengan gosokan dan memotong batu seperti gantulan kalung.

"Ini gambar asli dari alam. Tidak saya lukis, gambar, apalagi pahat. Silahkan saja pegang," ujarnya sembari menunjukan lebih dekat.

Keaslian batu milik Krisna ini pun dibuktikan dengan hasil uji sky gemonological laboratory pada tahun ini. Setelah diuji selama 11 jam, akhirnya batu bergambar Nyi Roro Kidul itu bersertifikat keaslian lengkap dengan pengakuan kalau batu tersebut asli Indonesia.

Demam Batu Akik Kurangi Kegiatan Sabung Ayam di Nunukan

KOMPAS.COM/PUTRA PRIMA PERDANA 
Batu akik red baron atau keladen asal Pacitan, Jawa Timur.

Selain bisa memberdayakan perekonomian masyarakat, demam batu akik ternyata juga mempengaruhi angka tindak pidana ringan. Hal ini diungkapkan Kapolres Nunukan AKBP Christian Tory dalam pameran batu akik yang diselenggarakan Polres Nunukan di pasar batu akik Tanah Merah di Jalan Nusantara selama 4 hari ke depan.

Menurut Christian, pesona batu akik mampu membuat intensitas sabung ayam di Kabupaten Nunukan menurun drastis.

“Ternyata yang hobi sabung ayam rupanya mulai beralih ke sini ke hobi batu akik. Sekarang kegiatan sabung ayam mulai berkurang. Dulunya, lokasi Tanah Merah ini sepi, sekarang ramai sampai jam 11 malam," jelasnya.

Chritian mengakui banyak anggota Polres Nunukan yang punya hobi mengoleksi batu akik. Namun pihaknya menegaskan tidak akan mewajibkan anggota kepolisian menggunakan batu akik.

Kapolres yang memakai 3 batu akik di jarinya dari jenis kecubung tersebut mengaku akan menindak tegas anggotanya yang meninggalkan tugasnya sebagai polisi hanya demi batu akik.

“Silakan menyalurkan hobi tapi jangan lupa dengan tanggung jawab kita. Laksanakan dulu tugasnya, baru kalau ada waktu santai silakan. Kita tidak akan mewajibkan anggota pakai batu akik.” Imbuhnya.

Selain sebagai penyaluran hobi terhadap batu akik, pameran batu mulia ini juga bertujuan untuk menghimpun pehobi batu akik ke dalam sebuah komunitas yang bisa dijadikan mitra dalam menjaga Kamtibmas.

“Nantinya kita bisa kerja sama dengan komunitas tersebut menjadi mitra polisi sebagai penjaga kamtibmas," tandasnya



Sumber :  http://regional.kompas.com

Demam Akik "Menyerang" Warga Bireuen Aceh

Kompas.com/Desi Safnita Saifan 
Warga Kabupaten Bireuen, Aceh, saat ini terkena demam batu akik.

Demam batu akik "mewabah" di hampir seluruh wilayah di Indonesia. Salah satunya di Kabupaten Bireuen, Aceh. Begitu banyak perajin batu yang belakangan ini diserbu pembeli.

Dari pengamatan Kompas.com, Rabu (7/1/2015), puluhan pengrajin membuka lapak mereka dengan aneka batu di Langgar Square. Mereka menjual berbagai bentuk batu, dari yang berupa bongkahan besar hingga yang sudah dipotong kecil-kecil.

Menurut salah seorang perajin batu akik, Amir, belakangan ini minat pembeli terhadap batu akik cukup tinggi. ”Memang peminat batu akik di Bireuen tinggi sejak puluhan tahun lalu. Tapi seiring banyaknya jenis yang diperjual belikan, transaksi batu akikpun terdongkrak naik,” jelas Amir.

Diakuinya beberapa bulan terakhir jenis batu giok dan solar merupakanya yang paling dicari. Pelanggan tak sungkan merogoh kantong cukup dalam hanya untuk sebuah batu seukuran kelereng.

Sementara itu Saifan, seorang pengagum batu akik mengakui awalnya ia hanya sekedar suka memakai batu akik sebagai pemanis cincin yang diikat dari perak. Namun lama kelamaan seiring booming-nya batu jenis ini, ia pun menggilai dan mengoleksi aneka jenis batu tersebut.

”Hampir setiap hari saya menyempatkan diri datang ke gang ini atau beberapa tempat yang dijadikan lokasi pengrajin batu giok ini,” jelasnya.

Sementara itu, Bupati Bireuen, Ruslan M.Daud, mengakui bahwa batu alam dari sungai di Kabupaten Bireuen tersebut cukup indah dan langka ditemukan di daerah lain. Tak jarang untuk cinderamata ia juga memanfaatkan batu giok dimaksud untuk cinderamata para tamu maupun saat ia bertandang ke daerah lainnya.

”Bukan dilihat dari harganya namun ciri khas batu ini perlu kita perkenalkan kepada daerah lain agar potensi daerah kita tergali,” jelasnya.



Sumber : http://bisniskeuangan.kompas.com

Demam Batu Akik Berpotensi Merusak Alam

 Koleksi batu akik

Minat warga terhadap batu akik yang digunakan sebagai perhiasan semakin lama semakin meluas. Namun, pemanfaatan batu tersebut berpotensi merusak kelestarian alam jika dilakukan secara masif.

Pejabat sementara Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Lampung Firman Sponada mengatakan itu di Bandar Lampung, Selasa (24/2/2015). Menurut dia, batu alam beberapa di antaranya didapatkan dengan cara ditambang. ”Sebagian batu mungkin ada yang didapatkan di permukaan. Namun, pasti ada batu yang didapatkan dengan cara ditambang. Sistem penambangan ini yang harus diwaspadai,” ujarnya.

Menurut Firman, pencarian batu berpotensi merusak lingkungan jika dilakukan dalam skala besar. Saat ini, penggalian batu masih dilakukan dalam skala rumahan. Tetapi, tidak tertutup kemungkinan muncul industri batu akik jika tren pada batu alam itu terus meningkat.

Terlebih lagi, dari sekian banyak lahan yang digali, hanya sebagian kecil yang dapat dimanfaatkan sebagai perhiasan. Firman mencontohkan, penggalian lahan seluas 5 meter persegi mungkin hanya menghasilkan sebongkah batu akik. ”Penggaliannya luas, hasil yang digali sedikit, sedangkan sisanya dibiarkan begitu saja. Itu jelas sudah merusak bentang alam,” ujarnya.

Firman mengatakan, sampai saat ini, memang belum ada kerusakan, tetapi potensi kerusakan tetap ada. Bagaimanapun aktivitas penggalian itu dapat mengubah bentang alam, dapat juga mengganggu produktivitas sumber-sumber mata air. Parahnya lagi kalau nekat menebang pohon demi mendapatkan bebatuan di bawahnya.

Saat ini, lanjut Firman, masyarakat memang merasakan dampak positif penggalian batu akik karena ekonomi masyarakat kembali menggeliat. Namun, masyarakat juga harus diberi informasi mengenai dampak kerusakan alam jika hal itu dilakukan secara besar-besaran dan tanpa pengawasan.

Secara terpisah, Kepala Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Lampung Taufik Hidayat membenarkan adanya potensi kerusakan lingkungan jika penggalian batu akik dilakukan secara besar-besar. ”Namun, sejauh pengamatan kami, hingga saat ini penggalian batu akik di Lampung masih dalam kapasitas industri rumahan,” katanya.

Guna mencegah kerusakan lingkungan karena penggalian batu akik, Taufik meyakinkan tidak akan ada penggalian batu berskala besar di dekat sumber mata air. Ia berharap demam batu akik hanya satu tahun hingga dua tahun agar potensi kerusakan lingkungan tak meluas.

Di Lampung, demam batu akik membuat sejumlah warga gemar mencari bahan bebatuan di sejumlah tempat. Batu akik khas Lampung yang saat ini naik daun ialah batu bunggur dari daerah Tanjung Bintang, Kabupaten Lampung Selatan, dan anggur api dari Way Kanan.

Dalam pameran batu akik di Lampung beberapa pekan lalu, Bupati Way Kanan Bustami Zainudin mengajak warga datang ke Way Kanan untuk menggali batu sepuas-puasnya. (GER)



Sumber :  http://regional.kompas.com

Kamis, 23 April 2015

Video 6 Cara Mudah Bedakan Batu Akik Asli Atau Palsu.

Batu Akik dari Seluruh Nusantara Dipamerkan di TMII

Bongkahan batu panca warna asal Raja Ampat, Papua Barat yang ditampilkan pada pameran batu akik, di Balai Panjang Museum Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, Sabtu (18/4/2015)

Berbagai jenis batu akik mulai dari yang berbentuk bongkahan hingga yang telah berbentuk cincin dipamerkan di Balai Panjang Museum Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, Sabtu (18/4/2015).

Asal daerah batu yang dipamerkan juga beraneka ragam, mulai dari Aceh, Pacitan, hingga Papua. Berdasarkan pantauan, jenis Giok Aceh dibanderol seharga Rp 100.000 untuk tiga buah batu yang masih berbentuk bongkahan, sedangkan yang berbentuk cincin dijual dengan beraneka ragam, harga termahal Rp 500.000.

"Kalau ini yang paling gede gopek (Rp 500.000)," ujar penjual batu Giok Aceh, Fuad.

Selain batu Giok Aceh, ada pula batu Pancawarna yang berasal dari Raja Ampat, Papua Barat. Batu jenis ini dibanderol seharga Rp 5 juta untuk yang masih berbentuk bongkahan, sedangkan yang berbentuk cincin dibanderol dengan harga termahal mencapai Rp 2,5 juta.

"Masih bisa ditawar kok," ujar pedagang batu, Edward.

Pameran batu akik ini diselenggarakan oleh Himpunan Masyarakat Peduli Indonesia (HMP-Indonesia). Rencananya, malam ini, pembina HMP-Indonesia Hutomo Mandala Putra alias Tommy Soeharto akan memaparkan konsepsi pemberdayaan industri batu akik agar menjadi industri rumah tangga yang terfokus pada pengemasan, penjualan dan high promotion dengan sistem pemasaran di dunia.



http://megapolitan.kompas.com

Bengkulu Berencana Patenkan Akik "Red Rafflesia"

Batu akik red rafflesia koleksi pribadi (Foto: Atma Yuda)

Tingginya tingkat penjualan batu akik asal Bengkulu yang populer dinamai "red rafflesia" mendorong pemerintah setempat untuk mematenkan batuan tersebut.

"Red rafflesia ini diketahui beberapa kali memenangkan kontes batu akik Nusantara hingga menjadi incaran dan buruan para pencinta akik, bahkan banyak yang datang langsung dari luar Bengkulu mencari batuan itu," kata Gubernur Bengkulu Junaidi Hamsyah, Jumat (13/2/2015).

Junaidi mengatakan, red rafflesia memiliki warna khas layaknya bunga raflesia. Ada juga yang berwarna merah. Tingginya pengiriman batu akik jenis ini ke luar Bengkulu ditakutkan memberi jalan bagi pihak lain untuk lebih dahulu mengklaim atau mematenkannya.

Dia menyebutkan, mematenkan batu akik ini harus melalui Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kanwil Kemenkumham).

Gubernur mengimbau agar Dinas Koperasi UKM, Perindustrian, dan Perdagangan Provinsi Bengkulu lebih jeli dalam membaca peluang, terlebih dalam rangka menggeliatkan industri kecil melalui potensi lokal.

Menurut dia, batu akik tidak hanya dapat dijadikan sebagai batu cincin, tetapi juga dijadikan benda lain, seperti tasbih, sehingga manfaatnya akan lebih terasa. "Perajin batu akik juga diminta kreatif, tidak saja menjadikan akik sebagai cincin, tetapi sudah ada yang membuat miniatur keris, tasbih, tempat lampu, dan lainnya," tambahnya.

Bahkan, Gubernur juga berencana menganggarkan pembelian mesin pembuatan biji tasbih dari batu akik dan mesin sejenisnya untuk mendorong perkembangan industri kreatif batu akik.

Sebelumnya, Bupati Bengkulu Utara Imron Rosyadi melaporkan, lebih dari 150 ton batuan akik ke luar dari daerahnya sepanjang 2014, tanpa dapat dikontrol oleh pemda karena belum memiliki aturan.



Sumber :  http://regional.kompas.com

"Pink Lebong", Generasi Terbaru Akik dari Bengkulu

Cincin akik Pink Lebong

Setelah membawa nama Bengkulu melambung di beberapa kontes batu akik nasional melalui red rafflesia dan yellow rafflesia, daerah ini kembali memperkenalkan batuan baru, yakni pink lebong atau rubby lebong.

Batu akik ini dapat ditemui di Kabupaten Lebong yang diambil para penambang emas di Desa Tambang Sawah, Kecamatan Pingan Belapis, Kabupaten Lebong.

Maryono, salah seorang kolektor akik menyebut, batu pink lebong itu sebenarnya telah lama ditemukan oleh para penambang emas tradisional. "Batu itu didapat dari lubang-lubang tambang emas di dalam tanah. Ia berdekatan dengan urat emas, tetapi baru sekitar dua bulan ini laris sejak demam akik mewabah," kata Maryono, Kamis (26/3/2015).

Jika masih berbentuk bahan mentah, batu akik pink lebong dijual seharga Rp 600.000 hingga Rp 1.000.000 per kilogram. Jika telah menjadi batu cincin, gelang, atau liontin, maka harganya bisa mencapai jutaan rupiah.



Bahan baku akik pink Lebong yang belum diolah
Sejak demam batu akik mewabah, pesanan pun meningkat, para pengepul akik memasarkan batuan tersebut hingga Pulau Jawa, tetapi dalam jumlah kecil. "Pesanan belum banyak, baru sebatas puluhan kilogram karena batu akik ini belum begitu populer seperti red rafflesia atau yellow rafflesia," kata Maryono.

Hal senada juga disampaikan pencinta akik lainnya, Arafik Tresno. Menurut Arafik, kemunculan akik pink lebong tergolong menarik perhatian para kolektor. Harganya pun saat ini masih relatif murah bila dibandingkan dengan batuan lain asal Bengkulu yang telah memiliki nama.

Meski menyukai batu akik, Arafik dan Maryono berharap para pencari batu akik tak merusak hutan lindung dan lingkungan karena mayoritas batuan tersebut didapat dari Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS).


Sumber :  http://regional.kompas.com

Rabu, 22 April 2015

Video Cara pembuatan batu cincin dari awal sampe akhir

Pameran Batu Akik di Galeria Mal Yogyakarta

Sekitar 50 pedagang batu akik dan batu permata berpartisipasi dalam pameran yang digelar mulai tanggal 1-5 April 2015 tersebut.

Pameran batu akik tidak hanya digelar di stan-stan sederhana, namun saat ini sudah merambah ke mal-mal sehingga mampu menjaring peminat dari golongan menangah ke atas.

Batu giok, batu solar, indocrase dari Aceh menjadi primadona dalam pameran setelah adanya penemuan 20 ton batu giok di Nagan, Aceh.
 Salah satu pedagang batu mulia menunjukkan batu bahan atau rough yang tembus dan berwarna menarik saat terkena sinar lampu senter.

Walikota Yogyakarta Haryadi Suyuti yang juga mengoleksi berbagai batu mulia mengamati batu Bacan asal Maluku Utara yang tengah naik daun di pasaran.


Sumber : http://news.detik.com


Di Batu Lavender ini, Ada Gambar Mirip Lumba-lumba


Lukisan alam yang terdapat dalam batu akik memang beragam, mulai dari motif yang mirip hewan, tumbuhan dan pemandangan. Ada juga batu dengan guratan motif mirip lumba-lumba.

Gambar lumba-lumba itu tergambar di batu bewarna ungu dan cokelat berjenis Lavender Motif. Sekilas memang terlihat ada seekor lumba-lumba sedang berenang di laut dengan pemandangan langit dan awan di atasnya.

"Ini batu gambar lumba-lumba di laut," ucap si penjual batu, Ipung di pameran batu akik di TMII, Sabtu (18/4/2015).

Batu tersebut dijual Ipung dengan harga Rp 150 ribu. Harga tersebut menurutnya sudah murah bila dibandingkan dengan harga yang ditawarkannya di situs jual beli online.

"Kalau online saya jual ini Rp 800 ribu, nego," ucapnya.

Selain Lavender Motif, Ipung menjual batu Black Opal setinggi 30 cm diameter sekitar 15 cm dengan harga Rp 8 juta. "Paling mahal Black Opal," katanya.

Selain itu ada juga batu Giok Aceh yang dijual 3 butir Rp 100 ribu. Disebut butir karena giok itu sudah dipotong kecil-kecil berukuran 5 cm.

Pameran batu itu digelar dari 15-21 April 2015. Harga batu di pameran ini mulai dari Rp 30 ribu hingga Rp 250 juta. Ada sekitar 20 stand penjual beragam jenis batu akik mulai dari batu kalimaya, kecubung, panca warna, satam



 Sumber : http://news.detik.com

Tren Batu di Sukabumi, Akik Diikat Akar Sulur Jadi Nyeni Seperti Ini


Tak cukup hanya digosok dan dijadikan cincin, batu akik juga diikat akar sulur. Begitulah tren baru dan inovasi di Sukabumi, Jawa Barat. Bagaimana ceritanya?

Akik-akik di foto ini telah beredar di pasaran. Harganya tentu bervariasi. Tergantung kualitas akiknya. Yang standar hanya ikat sulurnya. Jasa mengikat akik dibanderol Rp 20 ribu - Rp 50 ribu.

Permintaan akik iket sulur ini kian hari kian meningkat. Bahkan saat ini barang-barang tersebut sudah masuk mal. Apa yang mendasari tren itu?

"Buat pecinta seni, kesan natural dari batu yang dibalut akar sulur lebih kelihatan," ungkap pedagang di salah satu mal di Sukabumi, Dede (35), kepada detikcom, Senin (20/4/2015).

Di lapak Dede, terlihat berbagai jenis dan ukuran akik berikat sulur. Ada yang berbentuk cincin, gelang, dan kalung. Semuanya diikat dengan akar sulur. Menurut Dede, tidak ada taksiran harga. Hanya saja, harganya harus wajar.

"Harga lebih murah akik berbahan titanium atau platina dibandingkan akar sulur. Banyak yang tertarik iket sulur. Katanya lebih gaul," lanjutnya.

Kekuatan iket sulur, kata Dede, tak perlu diragukan. "Justru tambah kuat jika terkena hujan atau ditenggelamkan air," imbuh pria yang mengaku pernah menjual akik berlafaz Allah seharga Rp 15 juta itu

Di kesempatan terpisah, pengrajin sulur, Sirod (24), akik iket sulur merupakan inovasi. Komunitas pecinta akik sempat terpikir menggunakan rotan, tapi karena kurang fleksibel, rencana itu tak diwujudkan. Akar sulurlah yang kemudian dipilih.

"Awalnya coba-coba, ternyata banyak yang pesan. Pesanan membeludak, kita kewalahan," tutur Sirod yang tergabung dalam Komunitas Barudak Sulur asal Kampung Cijagung, Desa Gde Pangrango, Kecamatan Kadudampit, Kabupaten Sukabumi itu.

Dede dan Sirod berharap akik akan tetap digemari masyarakat. Selain asli Indonesia, batu tersebut memiliki beragam keunggulan: mudah dibentuk dan indah.





Selasa, 21 April 2015

Video Batu Akik Termahal - Inilah 7 Batu Akik Termahal Dan Terpopuler Di Indonesia



Jenis Batu Akik - Inilah 7 Batu Akik Termahal Dan Terpopuler Di Indonesia - Batu cincin terbaik dan paling populer atau terkenal, baik di Indoensia maupun di mancanegara 2015 – Cincin merupakan perhiasan yang sudah dikenal dan dikenakan banyak orang sejak ribuan tahun lalu baik bagi wanita maupun pria. Cincin diletakkan pada jari tangan dan dan melingkar pada bagian jari manis atau jari tengah.

Belakangan ini batu cincin akik/permata telah menjadi buruan banyak orang Secara tradisi biasanya cincin terbuat dari logam mulia, perak atau campuran dari bahan-bahan lain seperti tembaga, perunggu, kuningan krom dan lain-lain. Untuk memperindah tampilan sebuah cincin dilengkapi dengan ukiran dan dihias dengan permata seperti intan, berlian atau batu akik.

Jika selama ini, cincin batu permata banyak digunakan kalangan orang-orang yang sudah dewasa namun belakangan cincin sudah banyak digunakan kalangan muda dan remaja bahkan saat ini cincin dengan batu akik telah menjadi tren dan gaya hidup, sehingga harga batu cincin semakin mahal karena semakin banyaknya peminat dari berbagai kalangan. Berikut ini jenis batu cincin akik populer dan termahal di Indonesia :
1. Batu Bacan
2. Batu cincin Safir
3. Batu Cincin Zamrud
4. Batu Cincin Ruby
5. Batu Topaz
6. Batu Opal (Kalimaya)
7. Batu Sungai Dareh

Begini Batu Gambar Garut 'Princess Syahrini' Sampai Topaz Berharga Ratusan Juta




Batu akik Garut memang sudah mendunia. Selain ijo ohen Garut, ada juga batu gambar yang tengah naik daun. Batu ini memang unik, alam yang memberikan aneka sketsa di batu. Memang gambar itu tak sepenuhnya persis, tapi sketsa yang ada memberikan penafsiran.

Misalnya saja batu gambar yang dijuluki 'Princess Syahrini', batu ini menampilkan sketsa seorang perempuan. Asep Kuswara pemilik Kencana Gemstone mengaku secara tak sengaja mendapatkan sketsa itu.

"Di Garut batu gambar juga naik, apalagi ada di bahan batu bagus. Ini saya beri nama batu gambar 'Princess Syahrini' dan juga ini gambar macan, bahannya dari Ciangel," jelas Asep yang biasa disapa Wa Asep dan puluhan tahun sudah bergelut di bidang akik saat berbincang akhir pekan lalu.

Akik ini dimiliki Asep sejak akhir tahun lalu. Gambar 'Princess Syahrini' dan wajah harimau itu menjadi koleksi pribadinya. Asep dengan bergurau mengaku ingin agar Syahrini memakainya.

"Batu gambar ini asli dari alam, tidak ada rekayasa," terang dia.

Selain batu gambar dan batu corak, ada juga batu lainnya yang menjadi perbincangan. Tak lain batu Topaz Garut berwarna hijau ukuran raksasa. Foto batu ini menyebar di kalangan pecinta akik Garut.

"Ini saya yang punya, beratnya 67 Kg, sudah ditawar kolektor dari Timur Tengah," jelas Asep.

Harga Topaz ini pun tak main-main, nilainya mencapai ratusan juta rupiah. Asep menjelaskan, batu Topaz itu sekarang masih dirawat oleh dia.

"Ini batu Bungbulang, Topaz kualitas super," tutup dia.


http://news.detik.com

Begini Perjuangan para Penambang Akik Garut di Perbukitan di Bungbulang

Akik legendaris dari Garut ditambang dari perbukitan menjulang di Bungbulang, Garut Selatan. Di kemiringan 90 derajat mereka menggali lubang-lubang hingga kedalaman puluhan meter. Batu-batu indah seperti pancawarna hingga hijau Garut berharga jutaan rupiah ditemukan.




Batu itu berharga jutaan rupiah perkilogramnya. Tak mudah menambang batu itu. Menurut seorang praktisi akik Garut, Hilman Firmansyah, para penambang ini bahkan mesti berhari-hari menginap dan menggali.

Para penambang biasanya sudah ditunggu para tengkulak akik. Pancawarna dan hijau Garut super atau yang sudah kristal yang banyak dicari.

Lokasi tambang akik biasanya jauh dari jalan atau desa terdekat. Butuh berjam-jam untuk ke lokasi. Naik turun bukit juga mesti dilakoni hingga sampai di titik penambangan.

Para pencari akik ini biasanya bekerja pada pemilik lahan, atau ada juga yang menambang dengan sistem berbagi persen dari uang yang didapat dari penjualan.

Sumber :  http://news.detik.com

Ketika Batu Akik Menjadi Berkah Bagi Warga Bima, Tak Ada Lagi Tawuran

Fenomena batu akik di Indonesia menimbulkan banyak hal positif. Salah satunya adalah mengurangi tindakan negatif di masyarakat.


Di Kelurahan Dara, Kecamatan Asakota, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB), dampak positif dari maraknya batu akik sungguh terasa. Mereka yang biasanya tawuran dan berkelahi antar kampung, kini disibukkan dengan mencari dan mengasah batu akik.

"Sudah 2 bulan ini ndak ada lagi tawuran dan kelahi," kata Ketua RW 03, Kelurahan Dara, Zufrin di kediamannya, Kelurahan Dara, Bima, NTB, Kamis (9/4/2015).

Zufrin mengatakan, selama ini pemuda di Kampung Dara kerap berkelahi. Perkelahian biasanya dipicu oleh masalah sepele, seperti senggolan saat bertemu di jalan, dan keributan kecil. Namun setelah batu akik marak, mereka menghabiskan waktu luang untuk mencari batu akik.

"Sekarang mereka sibuk ke gunung cari batu. Mereka jual juga. Ya bagus jadi terarah ke hal positif," ujarnya.

Kabupaten Bima memang dipenuhi berbagai jenis batuan. Sebelum batu akik marak, mereka tidak mempedulikan keberadaan batu-batu itu. Di Bima, batu akik marak sejak sekitar 4 bulan yang lalu.

Saat ini batu yang tengah marak di Bima adalah batu akik naga sui. Batu jenis itu laris manis dan tinggi harganya.

"Kalau ada bongkahan 1 ton sekalipun, pasti laku semua," ujarnya.


Sumber :  http://news.detik.com

Senin, 20 April 2015

Video & Penjelasan Cara Mengetahui Batu Bacan Asli atau Palsu





Cara Mengetahui Batu Bacan Asli atau Palsu

Batu bacan saat ini menjadi salah satu jenis batu mulia favorit para kolektor. Awalnya, batu bacan dihasilkan di Pulau Kasiruta. Tetapi, batu ini lebih dikenal dengan sebutan batu bacan karena Pulau Bacan lah tempat batu ini diperdagangkan.

Karakteristik batu bacan sangat menarik. Sebab, serat batu yang banyak secara perlahan akan membuat batu bacan menjadi lebih bersih atau bening dan mengkristal dalam waktu yang cukup lama dengan sendirinya.

Bukan hanya itu, batu bacan pun mampu untuk menyerap senyawa lain di dekatnya. Misal, batu bacan dilekatkan dengan tali pengikat berbahan emas, maka lama kelamaan bahan emas tersebut akan diserap oleh batu bacan sehingga bagian dalam batu akan bintik-bintik emas.

Dengan keistimeswaan tersebut, batu bacan sangat digandrungi banyak orang dan saat ini harganya terbilang sangat mahal, yaitu ada yang mencapai sekitar ratusan juta rupiah. Untuk itu, jika ingin membeli batu bacan, Anda harus berhati-hati. Jangan sampai batu bacan yang dibeli itu palsu. Lantas bagaimana cara mengetahui batu bacan palsu atau tidak?

Dikutip dari situs resmi pariwisata Indonesia, Indonesia Travel pada hari Rabu (10/12/2014), cara paling mudah untuk melihat apakah batu bacan yang sudah memproses secara alami akan terlihat mengkilat dan keras ketika sudah diasah. Selain itu, usahakan juga hindari batu bacan "mati", yaitu batu bacan yang telah dibentuk menjadi mata kalung atau mata cincin. Sebab, jika sudah dibentuk dikhawatirkan proses alami pada batu tidak lagi berjalan.

Selain itu, beberapa cara lain untuk mengetahui batu bacan asli atau palsu adalah sebagai berikut:
1. Gesekkan pada kaca. Batu bacan asli dapat menggores kaca ketika digesekkan.

2. Bakar. Saat dibakar, permukaan batu bacan asli akan terlihat seperti minyak dan akan hilang ketika dibersihkan. Sedangkan batu bacan palsu akan meninggalkan bekas yang tidak bisa dihilangkan.

3. Ditimbang. Timbang dua batu bacan dengan ukuran yang sama. Batu bacan yang lebih ringan kemungkinan besar adalah batu bacan palsu.

4. Disenter. Saat disenter, batu bacan yang terkena cahaya akan terlihat serat-serat khas yang tidak mungkin ada pada batu bacan palsu.

5. Perhatikan perubahan batu. Batu bacan yang asli lama kelamaan akan berubah warna. Dari hitam, batu bacan akan berubah menjadi hijau dan seterusnya hingga menjadi batu yang berwarna bening.

Batu Bacan: Batu Mulia Istimewa dari Maluku Utara


Dari sekian banyak kekayaan alam yang dihadirkan di Maluku Utara, adalah bacan sebuah nama pulau, nama kerajaan, sekaligus juga nama batu mulia yang telah melambungkan namanya ke mancanegara. Untuk yang terakhir itu, bacan sebagai nama jenis batu mulia telah tersohor hingga ke luar negeri bukan hanya di masa sekarang melainkan sejak abad pertengahan dimana kawasan ini menjadi pusat rempah-rempah dunia.

Meski pamor batu bacan menguat beberapa tahun belakangan di kalangan peminat batu mulia namun sebenarnya orang di kawasan empat kerajaan Maluku (Terante, Tidore, Jailolo, dan Bacan) sudah mengetahui jauh sebelumnya. Nama pulau penghasil batu bacan sendiri adalah Pulau Kasiruta. Akan tetapi, penisbahan nama bacan diawali dari tempat pertama kali batu itu diperdagangkan, yaitu Pulau Bacan yang tidak seberapa jauh jaraknya dari Pulau Kasiruta.

 

Batu bacan merupakan 'batu hidup' karena kemampuannya berproses menjadi lebih indah secara alami ataupun cukup dengan mengenakannya setiap hari dalam bentuk cincin, kalung, ataupun kepala sabuk. Batu bacan dengan inklusi atau serat batu yang banyak secara perlahan akan berubah menjadi lebih bersih (bening) dan mengkristal dalam waktu bertahun-tahun.

Sebagai contoh, batu bacan warna hitam secara bertahap mampu berubah menjadi hijau. Tidak cukup berproses sampai di situ, berikutnya batu ini masih bisa berubah lagi dalam proses 'pembersihan' sehingga menjadi hijau bening seperti air. Untuk mempercepat proses tersebut  biasanya pemilik batu bacan akan terus-menerus memakainya hingga berubah warnanya.

Tidak hanya mampu 'hidup' berubah warna secara alami, batu bacan juga untuk beberapa jenis dapat menyerap senyawa lain dari bahan yang melekatinya. Seperti sebutir batu bacan hijau doko yang dilekatkan dengan tali pengikat berbahan emas mampu menyerap bahan emas tersebut sehingga bagian dalam batunya muncul bintik-bintik emas.
Kemampuan batu bacan yang berubah warna secara alami dan mencerap bahan melekatinya itulah yang membuat pecinta batu mulia di luar negeri dari China, Arab, dan Eropa tercengang dan kagum terhadapnya. Selain itu, batu bacan juga memiliki tingkat kekerasan batu 7,5 skala Mohs seperti batu jamrud dan melebihi batu giok. Dengan keistimewaan dan keunggulan batu bacan itulah banyak pecinta batu mulia dari luar negeri memburunya sejak tahun 1994. Di Indonesia sendiri batu ini baru popular belakangan sejak 2005 dimana sekarang harganya sangat mahal serta kurang logis bagi orang awam.
Batu bacan  
Penambangan batu bacan sendiri di Pulau Kasiruta tidaklah mudah karena perlu penggalian tanah hingga lebih dari 10 meter. Penambang batunya perlu mencari di tanah terdalam demi mencari urat-urat galur batu bacan. Meski lebih identik dengan warna hijau, batu bacan sebenarnya memiliki ragam warna lain seperti kuning tua, kuning muda, merah, putih bening, putih susu, coklat kemerahan, keunguan, coklat, bahkan juga beragam warna lainnya hingga 9 macam.
Batu bacan diketahui telah menjadi perhiasan hampir setiap warga sejak masa empat kesultanan (Ternate, Tidore, Jailolo, dan Bacan) di Maluku Utara, baik itu oleh pria maupun wanita. Bahkan, batu bacan terbaik menjadi penghias mahkota para sultan yang masih ada hingga saat ini seperti pada mahkota Kesultanan Ternate. Sering pula batu ini menjadi hadiah bagi tamu yang menyambangi pulau-pulau di Maluku. Tahun 1960 saat Presiden Soekarno berkunjung ke Pulau Bacan dihadiahi warga di sana berupa batu bacan. Presiden SBY juga sempat menghadiahi Presiden Amerika Serikat, yaitu Barrack Obama berupa cincin batu bacan saat berkunjung ke Indonesia.
Apabila Anda menyambangi Ternate, Tidore, Jailolo, atau pun Pulau Bacan maka pastikan mendapatkannya untuk sebuah cenderamata. Akan tetapi, perlu kecermatan memilih atau mintalah saran orang yang memahaminya terkait keasliannya. Hindari pula membeli batu bacan 'mati' yang dibentuk jadi mata kalung atau mata cincin dimana terkadang batu tersebut tidak akan proses lagi.
Batu bacan
Sebagai panduan singkat bahwa jenis batu bacan berkualitas yang umum dikenal dan beredar di pasaran ada dua, yaitu bacan doko dan bacan palamea. Bacan doko kebanyakan berwarna hijau tua sedangkan bacan Palamea berwarna hijau muda kebiruan. Nama palamea dan doko sendiri diambil dari nama desa di Pulau Kasiruta. Kedua desa tersebut memiliki deposit batu bacan cukup banyak selain di desa Imbu Imbu dan Desa Besori. Batu bacan sendiri merupakan jenis batu krisokola yang kebanyakan berwarna hijau kebiruan. Kekerasan awal batu ini berkisar antara 3-4 pada skala Mohs. Batu Bacan berkualitas adalah yang telah mengalami proses silisifikasi sehingga kekerasannya mencapai 7 pada skala Mohs. Batu bacan yang sudah memproses alami akan terlihat mengkilat dan keras ketika sudah diasah. (Him | www.indonesia.travel)

Kota-kota penghasil batu cincin di Indonesia

Akhir-akhir ini, popularitas batu akik alias batu cincin memang sedang melejit tinggi. Bahkan beberapa media elektronik dan internet pernah meliput batu akik yang harganya sampai milyaran rupiah. Buat yang masih awam dengan batu alam pasti tercengang ya. Tapi buat kolektor, mereka tak akan berpikir panjang untuk membeli kalau memang bentuk, tekstur dan pola warna yang terpancar ekslusif, unik, langka, dan spesial.

Biar tambah informasi, yuk ikuti liputan dari Pegipegi untuk menelusuri kota-kota penghasil batu cincin berwarna-warni tersebut

Tanjung Bintang, Lampung Selatan


foto: masgiri.com

Ada kabar yang mengatakan kalau batu akik bungur Tanjung Bintang merupaan batu mulia berkualitas nomer wahid di dunia. Kenyataan ini pun membuat banyak kolektor berburu hingga ke pedalaman. Warnanya yang menarik, yaitu ungu bening menjadikannya sebagai primadona. Batu yang kemudian familiar dengan sebuatan Kecubung Bungur ini pun harganya selangit, mulai dari Rp250.000 hingga 1 milyar.

Wonogiri, Jawa Tengah


foto: nogososro-sabukinten.blogspot.com

Fire opal atau disebut juga dengan batu akik barjad api merupakan produk batu mulia khas Wonogiri. Dengan dimasukannya dalam batu akik berkualitas, para penambang pun rela naik ke perbukitan untuk mencarinya. Ciri khas yang bisa ditemukan tentu saja kemampuannya memantulkan dan membiaskan cahaya berwarna merah yang terlihat seperti kobaran api. Unik sekali ‘kan?

Bireuen, Aceh




foto: batugiokaceh.com

Bicara batu akik tidak akan lepas dari Bireuen. Tempat ini sudah dikenal selama puluhan tahun sebagai penghasil batu akik dari Sumatra. Giok Aceh menjadi jenis batu mulia yang paling fenomenal karena terlihat begitu unik. Tidak heran kalau banyak pecinta batu giok yang rela melanglangbuana ke Negeri Serambi Mekkah untuk mendapatkannya secara langsung.

Purbalingga, Jawa Tengah



foto: lalaku.tk

Sejak diwajibkannya para pegawai memakai batu akik, geliat industri kecil seputaran batu mulia makin bergairah. Jenis yang paling banyak dijumpai di Purbalingga adalah batuan jenis Nogo Sui dengan bentuknya yang unik. Kini, semakin banyak masyarakat yang tertarik mengoleksi, memakai, dan menambang batu mulia ini sehingga industri kecil pun semakin berkembang.

Solok Selatan, Sumatra Barat


foto: jenisbatuakik.clairblog.com

Bahan mentah batu cincin yang paling populer di Solok Selatan berwarna hijau terang dengan motif totol lumut pada bagian dalam batuan. Batu ini juga dikenal dengan sebutan idocrase yang banyak ditemukan di Sungai Dareh. Gaungnya makin populer ketika tersiar kabar kalau Presiden Barack Obama juga memakainya. Tidak heran kalau banyak orang makin penasaran dan berburu kesana.

Pacitan, Jawa Timur




foto: batusakti.com

Sejak ditemukan batu kalsedon, Pacitan diserbu penambang yang tertarik mendapatkannya karena batu ini dikategorikan punya kualitas sangat baik. Dengan warna cukup beragam, mulai dari hijau, jingga, putih, abu-abu, biru keabu-abuan, coklat tua, coklat muda, kuning, biru, dan merah membuat kota Pacitan banyak dipadati pendatang dari luar kota yang ingin mengadu nasih mendapatkan batu mulia ini.

Kasiruta, Maluku Utara


foto: bukalapak.com

Siapa sih yang belum pernah mendengar batu bacan? Harganya bahkan membuat mata tercengang karena bisa sampai jutaan rupiah. Warnanya yang hijau, biru, dan kemerahan. Harganya pun sangat fantastis. Satu kilogram saja bisa dihargai puluhan hingga ratusan juta rupiah. Biarpun harganya cukup mahal, ini tidak menyurutkan kolektor untuk terus memburunya.

Garut, Jawa Barat

Jenis Pancawarna khas Garut juga menjadi buruan kolektor batu akik. Perpaduan 5 warna yang tersimpan dalam batuan, yaitu putih, biru, coklat, hijau, dan merah menjadikannya terlihat begitu istimewa. Tidak heran kalau banyak orang yang tertarik untuk memilikinya. Bahkan, konon batu ini banyak diincar oleh bangsawan di kerajaan jaman dulu untuk meningkatkan kharisma agar disegani masyarakat luas.

Well, saat masih dalam bentuk batuan, mungkin teksturnya tidak beraturan dan terihat biasa saja ya. Namun saat sudah dihaluskan, dipoles dan disematkan dalam sebuah cincin, keindahannya pun langsung terpancar. Bagaimana? Kalian tertarik juga untuk mengoleksi batu cantik ini?

Sumber :  http://www.pegipegi.com


Minggu, 19 April 2015

Cerita-cerita dari Lokasi Penggalian Akik Garut, dari Antre Sampai Potong Kambing

Batu akik dari Garut sudah mendunia. Tak sedikit kolektor dari luar negeri yang juga berburu keindahan batu Ijo Garut hingga Pancawarna Edong. Tapi tahukah, bahwa batu-batu indah itu umumnya berasal dari kawasan Bungbulang, Garut selatan.

Para pemburu akik menembus hutan hingga sampai di kawasan perbukitan yang memiliki jejak batu indah. Tak mudah untuk menemukan batu itu, bahkan para penambang bisa sampai menggali hingga kedalaman 100 meter.

"Jangan salah, mereka itu di lokasi tambang sudah ditunggui para pembeli. Bahkan sampai mengambil nomor antrean," terang praktisi akik Garut, Asep Kuswara yang ditemui akhir pekan lalu di Garut.

Untuk mencapai lokasi pun tak mudah, dari parkir mobil terakhir harus berjalan hingga 2 Km dengan kontur turun naik bukit. "Saya pernah dua hari dua malam nginep nungguin batu," terang pria yang memiliki usaha Kencana Gemstone di Jl Sudirman, Garut ini.

Membeli dari penambang akan lebih murah dibanding membeli dari para tengkulak. Harga di tengkulak bisa berbeda mencapai puluhan juta rupiah.

Sebagai informasi, harga bahan batu akik kualitas super pun mencapai ratusan juta rupiah. Seperti pengakuan dari Yudi Nugraha, pemilik usaha Lasminingrat Gemstone. Tapi bagi Yudi, nilai itu tak seberapa ketika akiknya memenangi lomba.

"Akik Garut itu nomor satu, dari bahan serat kayu yang jadi fosil. Nggak ada yang ngalahin," aku dia.

Tapi cerita punya cerita, biasanya para penambang melakukan sesuatu ritual sebelum menambang di lokasi baru. Mulai dari potong kambing, sampai menaruh buah-buahan di lokasi.

"Ah, tapi itu juga nanti dimakan sama tukang galinya," tegas Asep diiringi derai tawa.

Percaya tak percaya, cerita soal di luar kuasa manusia memang selalu ada dalam urusan perbatuan. "Tetap saja, urusan batu urusan Tuhan. Memang ada cerita soal batu yang begini begitu, tapi kita tetap percaya Allah yang menciptakan batu," tegas Asep menutup ceritanya.

http://news.detik.com