Kamis, 19 November 2009

Pendapat Pakar Gempa dari Puslit Goteknologi-LIPI Dr.Danny Hilman Natawidjaja

Pendapat Pakar Gempa dari Puslit Goteknologi-LIPI Dr.Danny Hilman Natawidjaja mengenai gempa yang terjadi di Padang Sumatera Bagian Barat


Berikut ini beberapa artikel dari berbagai media massa mengenai pendapat atau penjelasan Pakar Gempa dari Puslit Goteknologi-LIPI Dr.Danny Hilman Natawidjaja yang banyak berkiprah di kegempaan terutama yang terjadi di Sumatera .
Pada 4 Desember 2007 Dr.Danny Hilman Natawidjaja mengemukakan pendapat pada korannias.wordpress.com “GEMPA BESAR ANCAM PADANG dan SUMATERA”!! Berikut kami sampaikan intisari artikelnya :
Pada Desember 2007 isu mengenai bencana gempa kian santer, beberapa diantaranya tidak menyertakan data yang mendukung pernyataan tersebut. Lain halnya dengan Dr.Danny Hilman Natawidjaja, dalam Seminar Geoteknologi “Kontribusi Ilmu Kebumian dalam Pembangunan Berkelanjutan” di Bandung pada senin (3/12) menyatakan bahwa terdapat potensi gempa berkekuatan 9 SR di Mentawai Sumatera Barat juga berpotensi menimbulkan gelombang tsunami setinggi 4 sampai tujuh meter, diperkirakan guncangan gempa akan menggetarkan Bengkulu dan provinsi lainnya. Prediksi itu disampaikan beliau setelah mempelajari siklus gempa selama ini yang mengguncang Mentawai Sumbar.
Sumber gempa itu sendiri diduga di bawah Pulau Mentawai dengan kedalaman antara 20-30 kilometer. Perkiraan itu, kata Danny, terbukti dari saat gempa besar di kawasan Kepulauan Mentawai pada 12 September 2007 dengan kekuatan 8,4 SR. Gempa itu terjadi setelah rentetan gempa besar di Aceh dan Nias pada tahun 2004 dan 2005.
“Yang menjadi pertanyaan apakah ancaman dari rentetan gempa-gempa ini sudah berakhir? Kita semua berharap demikian, tapi data dan praduga ilmiah menunjukkan sebaliknya. Gempa raksasa yang “bertapa” sejak terakhir bangun di tahun 1797 dan 1833 ternyata belum sepenuhnya terusik,” jelasnya.
Hal ini terlihat dari hasil “plotting” dari gempa-gempa yang sudah terjadi dan tampaknya baru melepaskan akumulasi energi yang terkumpul di bagian pinggirannya saja. Gempa yang bermula dari kakinya di ujung selatan, sekarang ini terlihat menyebar dan mengepung bagian badan dan kepala “sang raksasa”, yakni di bawah Pulau Siberut, Sipora dan Pagai. “Bidang sumber gempa di Mentawai itu 12-15 derajat yang setiap tahunnya terjadi pergeseran 5 centimeter. Untuk gempa antara tahun 1797-1833 telah terjadi pergeseran 10 meter. Setiap dihajar gempa, maka pergeseran itu akan turun,” jelasnya.
Pada 9 Desember 2008 Dr.Danny Hilman Natawidjaja mengemukakan pendapat pada Kompas.com “ Gempa Raksasa Masih Menghantui Sumatera” Berikut kami sampaikan intisari artikelnya :
Dr Danny Hilman menyatakan bahwa gempa dengan kekuatan 8,9 SR karena adanya pengumpulan energi di bawah Pulau Mentawai Perkiraan tersebut merupakan hasil penelitian terakhir dengan menggabungkan pengukuran pergerakan lempeng dengan peralatan GPS (global positioning system), pola pertumbuhan terumbu karang, catatan sejarah geologi kawasan tersebut, dan citra radar satelit. Dari hasil mengukur pola pertumbuhan karang di sekitar Mentawai, Danny dan peneliti lain dari California Institute of Technology (Caltech) mengetahui bahwa gempa raksasa pernah terjadi di lokasi yang sama tahun 1797 dan 1883.
Sebelumnya telah terjadi gempa besar di Mentawai tahun 2007 dengan skala 8,5. Namun, hasil pengukuran memperlihatkan bahwa gempa tersebut baru melepaskan 25 persen energi dibandingkan gempa raksasa yang terjadi tahun 1883. Artinya, masih ada tiga perempat energi yang belum dilepaskan.Kapan tepatnya sisa energi akan dilepaskan, belum dapat diprediksi oleh ilmuan manapun, namun melihat pola siklusnya, Danny memprediksi akan terjadi dalam waktu dekat. Pelepasan energi yang tersimpan dapat secara berangsur-angsur, namun sejarah yang tercatat dengan baik di antara lapisan terumbu karang juga dengan jelas memperlihatkan bahwa gempa besar terjadi secara berulang.
Pada 1 Oktober 2009 Dr.Danny Hilman Natawidjaja mengemukakan pendapat padaKompas.com “Pusat Gempa Padang Bukan di Zona Subduksi” Berikut kami sampaikan intisari artikelnya :
Dr Danny Hilman Natawidjaya menyatakan bahwa gempa berkekuatan 7,6 SR yang memorakporandakan Kota Padang dan Pariaman pada Rabu (30/9), tidak berpusat di zona subduksi lempeng tektonik Indo-Australia dan Eurasia, melainkan pusatnya patahan di kerak yang menunjam di bawah Kota Padang dan pusat gempa tersebut kemungkinan di ujung patahan jauh di bawah dasar laut. Hal ini menjelaskan mengapa gempa sebesar itu tidak sampai memicu gelombang besar. Karena pergerakannya dominan horisontal tidak vertikal dan lepasnya lebih dalam sehingga tidak men-create tsunami.

Meski demikian, Danny mengatakan, pihaknya mendapat laporan adanya tsunami kecil setinggi 20 sentimeter yang terukur di pantai barat Padang. Menurutnya, data memang menunjukkan ada sedikit pergerakan vertikal saat gempa terjadi, patahan-patahan seperti itu sulit dideteksi karena sangat dalam dan tidak tampak dari luar. Untuk mendeteksinya perlu radar yang bisa mendeteksi lapisan-lapisan tanah sangat dalam. Selama ini pihaknya fokus mengantisipasi dampak kegempaan di zona subduksi segmen Mentawai yang sudah mengumpulkan energi sangat besar untuk dilepaskan dan paling rawan menimbulkan tsunami.
Pada 1 Oktober 2009 Dr.Danny Hilman Natawidjaja mengemukakan pendapat padaKompas.com “ Waspadai Gempa Mentawai, Ini Baru Pemicunya” Berikut kami sampaikan intisari artikelnya:
Secara umum, gempa ini akan membuat segmen subduksi menjadi lebih rawan. (Sebagai gambaran saja) Kalau seharusnya gempa utama terjadi 10 tahun lagi, mungkin bisa jadi 5 tahun lagi, gempa yang terjadi di Padang tersebut tidak mengurangi potensi pelepasan energi di segmen Mentawai, tapi malah bisa memicu pelepasan energi lebih cepat. “Malah membuat zona utama lebih tegang karena ‘dipukul’ dari samping”, potensi pelepasan energi di segmen Mentawai sebenarnya sudah berkurang, yakni saat terjadi gempa Bengkulu pada 12 September 2007. Gempa tersebut berpusat di kantung ‘energi’ yang sama dan mengurangi sekitar sepertiganya. Sejarah mencatat, gempa yang berpusat di sana pernah terjadi tahun 1650 dan 1833, saat ini segmen Mentawai sudah memasuki siklus 200 tahunan. (AR-Nda)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar