Sabtu, 12 Desember 2015

Mesin Rusia akan Tenagai Pesawat Siluman J-31 China

J-31 China
Mesin RD-93 buatan Rusia akan mentenagai pesawat tempur generasi kelima China J-31, pernyataan resmi Rosoboronexport Rusia kepada kantor berita RIA Novosti, Senin.

"J-31 dengan mesin RD-93 Rusia ini dianggap sebagai program ekspor, yang akan mampu bersaing dengan pesawat tempur generasi kelima F-35 Amerika Serikat di pasar regional," kata Kepala Departemen Ekspor Peralatan Angkatan Udara Rosoboronexport Sergey Kornev dalam sebuah wawancara dengan RIA Novosti.

"Program ini ambisius, tapi sangat nyata, terutama mengingat harga F-35 yang terlalu mahal dan juga beberapa masalah terkait pengembangannya," tambah Kornev.

Sergey Kornev, yang memimpin delegasi Rusia di pameran dirgantara China International Aviation & Aerospace Exhibition di Zhuhai (11-16 November), China, mengatakan kepada RIA Novosti bahwa saat ini China tengah mengembangkan dua pesawat tempur generasi kelima, J-20 dan J-31, hal ini menunjukkan potensi tinggi China dalam ilmu dan industri penerbangan.

J-31 terbang pertama kali pada bulan Oktober 2012 dan hingga saat ini baru ada satu prototipe yang diproduksi. Pesawat bermesin ganda ini memiliki beberapa kemiripan dengan pesawat tempur generasi kelima Rusia T-50 atau PAK FA.

Selain J-31, China telah lebih dulu mengembangkan pesawat tempur siluman J-20, yang lepas landas pertama kali pada tahun 2011. J-20 diharapkan akan dioperasikan Angkatan Udara China pada tahun 2017.

Mesin RD-93 bukanlah mesin baru, merupakan varian dari mesin RD-33, yang awalnya dikembangkan untuk pesawat tempur MiG-29. RD-93 dikembangkan oleh Biro Desain Klimov Rusia khusus untuk pesawat tempur FC-1 Xiaolong, yang lebih dikenal di Pakistan sebagai JF-17 Thunder (hasil kerjasama dengan China).

Pesawat tempur generasi kelima saat ini yang sudah operasional di dunia hanyalah F-22 Raptor Amerika Serikat, sedangkan F-35 AS, T-50 Rusia dan J-20 dan J-31 China saat ini masih dalam tahap pengembangan.

Kornev juga menyinggung mengenai problem China yang sering meniru senjata-senjata Rusia, tapi dia juga mengungkapkan bahwa sudah ada solusi untuk itu.

"Masalah (China yang melanggar hak cipta senjata Rusia) ada, tetapi sudah terpecahkan, dan kedua belah pihak mencari penyelesaiannya," kata Sergei Kornev sebelum pameran Airshow China 2014.

Dia mengingatkan kembali sebuah kesepakatan pada tahun 2008 tentang perlindungan hak kekayaan intelektual dalam kerjasama teknis militer kedua negara sebagai contoh yang baik dari kerjasama Rusia-China dalam hal ini.

Pejabat pertahanan Rusia, bagaimanapun, menggarisbawahi bahwa kerjasama teknis militer antara Rusia dan China selalu memiliki hambatan namun selalu pula dapat ditemukan solusinya.

Pada tahun 1992, China membeli pesawat tempur Su-27 dari Rusia. Lima belas tahun kemudian, Beijing meluncurkan pesawat tempur J-11B yang diklaim Moskow sebagai versi tiruan dari Su-27.

BACA JUGA: China Terus Kembangkan Flanker

Rusia juga menuduh China memproduksi kloning dari pesawat tempur Su-33, sistem pertahanan udara S-300, Smerch multiple rocket launcher dan Msta self-propelled howitzer yang kesemuanya itu adalah pelanggaran atas hak kekayaan intelektual Rusia.

Gambar J-31 via foxtrotalpha.jalopnik.com

Anti-Ground Fire System untuk Helikopter


Melepaskan flare
Telah lebih dari beberapa dekade helikopter dan pesawat yang terbang rendah dilengkapi dengan sistem pertahanan diri untuk mendeteksi rudal pencari panas yang mendekat, berikut sistem countermeasures (penanggulangan) otomatis untuk mencegah rudal menghantamnya. Sekarang, sebuah perusahaan Israel sedang mengembangkan sistem serupa untuk mengatasi tembakan musuh dari darat. Sistem baru ini akan sangat bermanfaat seperti untuk helikopter evakuasi medis, yang mana secara rutin terbang di ruang udara yang berbahaya untuk menjemput tentara yang terluka.

Prinsip operasi anti-ground fire system ini sama dengan sistem anti rudal kebanyakan. Yakni dirancang sebagai sistem pertahanan untuk rudal permukaan ke udara yang ditembakkan secara personel (Manpads),  seperti rudal SAM-7 atau Stinger.

Sistem anti rudal baru Israel ini terdiri dari dua komponen. Pertama, ada empat sensor deteksi ultraviolet (berat sekitar 2 kg) dipasang di beberapa area helikopter atau pesawat untuk mendeteksi rudal yang mendekat. Sensor ini terhubung dengan komputer (berat 3-5 kg) dengan perangkat lunak untuk menentukan apakah objek itu memang rudal dan kemana arah tujuannya. Selanjutnya komponen deteksi yang terhubung ke sistem countermeasure baik dengan menggunakan flare dan chaff (strip foil logam) atau laser yang akan membingungkan sistem pencari rudal. Tergantung dari jenis dan modelnya, komponen ini berbobot antara 14-20 kg.

Komputer sistem anti rudal juga dapat mengontrol menara senapan mesin yang dipasang di bagian bawah helikopter atau pesawat guna menghentikan tembakan musuh atau setidaknya mengacaukan rencana mereka. Sensor ini bukan mendeteksi panas, namun mengidentifikasi cahaya dan suara tembakan atau desingan peluru. Detektor semacam ini sebenarnya telah digunakan di darat selama lebih dari satu dekade untuk mendeteksi penembak jitu, dan dinilai sangat efektif.

Baca juga:  Israel akan Pasang Laser Anti Rudal pada Pesawat Sipil

Sistem anti serangan darat ini akan lebih efektif lagi ketika dioperasikan bersama dengan senapan mesin, yaitu untuk memberikan serangan sporadis ke lokasi munculnya serangan di darat. Pesawat atau helikopter terbang cukup cepat sehingga tembakan sporadis senapan mesin ke darat akan sangat membantu setidaknya agar musuh berhenti menembak atau mengacaukan rencana mereka. Dan pada saat penembak musuh di darat sudah "tenang" dan bersiap menembak kembali, helikopter atau pesawat sudah terlalu jauh dari jangkauan senjata mereka.
Sumber :  http://www.artileri.org

Iran Luncurkan Mock-up Pesawat Latih/Serang Ringan

Jet latih tempur Borhan
Mashregh News, sebuah situs berita yang berafiliasi dengan IRGC (Tentara Penjaga Revolusi Islam) Iran, mempublikasikan sebuah gambar buram dari mock-up pesawat latih/serang ringan baru yang dijuluki dengan "Borhan".

Pesawat baru ini merupakan evolusi dari HESA Shafaq, pesawat latih/serang ringan berkecepatan subsonik yang terbuat dari material penyerap radar (fitur siluman) buatan dalam negeri Iran. Shafaq belum pernah dibuat dalam model skala penuh. Gambar-gambar Shafaq bisa Anda lihat di internet.

Baik Shafaq maupun Borhan yang baru, desainnya tampak jelas terinspirasi dari pesawat latih tempur Yakovlev Yak-130 Rusia dengan bagian depan yang hampir sama dan LERX (Leading Edge Root Extensions) yang besar. Hal ini mungkin tidak terlepas dari bantuan Rusia di saat awal pengembangan Shafaq. Melihat ke bagian ekor, ketika Shafaq memiliki dua stabilisator vertikal miring, satu-satunya gambar Borhan ini tampaknya menunjukkan bahwa Borhan hanya memiliki satu ekor tunggal namun besar, menjadikannya tampak sebagai replika tulen dari Yak-130.

Menurut Mashregh News, sistem propulsi Borhan menggunakan satu mesin berkekuatan 15 KN. Kecepatan tertingginya Mach 0,65 (796 km perjam), berat kosong 2.800 kg, muatan sebesar 1.200 kg dan jangkauan 1.800 km.

Yang menarik pada gambar, mock-up Borhan tampak membawa rudal AGM-45 Maverick dan AIM-9 Sidewinder. Namun tidak jelas apakah ini rudal asli atau tiruan untuk mempercantik penampilannya saja.

Yang perlu digarisbawahi, tidak seperti yang dulu kita lihat pesawat tempur siluman F-313 Qaher yang kini tidak jelas kabarnya, Borhan tampaknya memang benar-benar dikembangkan dan lebih dari sekedar mock-up belaka.

Mari kita lihat apakah di masa depan mock-up Borhan ini akan berubah menjadi pesawat seseungguhnya atau tidak.

Gambar: Mashregh New

Kamis, 10 Desember 2015

Amerika Waspadai Sukhoi PAK-FA Rusia?

PAK FA T-50
Pesawat tempur siluman Sukhoi PAK FA atau T-50 merupakan saingan berat pesawat-pesawat tempur generasi kelima Amerika Serikat, seperti F-22 Raptor dan F-35 Joint Strike Fighter. Dalam beberapa hal, pesawat tempur Rusia ini memiliki keunggulan dari dua pesawat siluman AS itu, tapi di sisi lain PAK FA memiliki kekurangan.

Mengutip pernyataan mantan Kepala Intelijen Angkatan Udara AS Letnan Jenderal Dave Deptula kepada laman National Interest: "Dari analisa saya PAK FA memiliki desain yang cukup canggih yang setidaknya sama dengan, atau bahkan sebagian mengatakannya lebih unggul dari pesawat generasi kelima AS. (Pesawat) Itu memiliki kelincahan yang sangat baik melalui kombinasi dari thrust vectoring, all moving tail surfaces (seluruh permukaan ekor bergerak), dan desain aerodinamis yang sangat baik, daripada F-35."

PAK FA lebih dioptimalkan untuk peran superioritas udara, seperti halnya F-22 yang multiperan dan F-35 yang memiliki kemampuan serang tinggi. PAK FA didesain agar terbang lebih cepat dan lebih tinggi untuk memaksimalkan energi peluncuran rudal udara-ke-udara, sehingga mengoptimalkan atau bahkan menambah jangkauan rudal-rudalnya.

"Performa (PAK FA) yang cerdas seperti itu terlihat untuk bersaing dengan Raptor," seorang petinggi militer AS yang memiliki banyak pengalaman dengan pesawat generasi kelima AS mengatakan kepada laman National Interest.

Dua mesin pada PAK FA mampu membuatnya terbang dengan kecepatan supersonik untuk jangka waktu yang lama dan bahkan kecepatannya melebihi Mach 1.5 (1.837 km perjam), sementara kecepatan maksimumnya lebih dari Mach 2. Namun, tidak seperti pesawat generasi kelima AS, PAK FA kurang menekankan fitur siluman, melainkan lebih banyak menekankan pada manuver.

PAK FA menggunakan mesin (ganda) hasil modifikasi dari mesin Su-30 Flanker yang disebut Izdeliye 117 atau AL-41F1, yang menghasilkan daya dorong sekitar 33.000 pon. Mesin ini lebih panas dari pada mesin AL-31 aslinya, namun penggunaan mesin ini hanya untuk sementara karena versi produksi PAK FA akan menggunakan mesin baru Izdeliye 30 yang lebih powerfull.

PAK FA dibekali peralatan avionik yang kuat, yang merupakan evolusi dari karya Sukhoi pada varian-varian Flanker. Menurut Deptula, avionik PAK-FA terindikasi berasal dari avionik Su-35 namun dengan penambahan very high power-aperture X-band multimode AESA radar.

Ada pula indikasi bahwa PAK FA juga dilengkapi dengan radar L-band, yang mampu mendeteksi keberadaan pesawat siluman yang seukuran pesawat tempur. Pun seandainya radar L-band tidak menunjukkan keberadaan pesawat siluman, pilot PAK FA akan menggunakan sensor lainnya pada area tertentu di udara.

Selain radar dan peralatan dukungan elektronik, PAK FA juga dilengkapi dengan sistem pencarian dan pelacakan inframerah.

Deptula mengatakan: "Rusia telah membuat lompatan besar dalam hal kemampuan sensor, namun pesawat-pesawat tempur Amerika masih yang terbaik dalam hal sensor dan data, yang sangat penting untuk perang modern. Pertanyaan sesungguhnya adalah mampukah Rusia mencapai tingkat kemampuan jaringan dan data yang sama dengan F-22 atau F-35. Untuk hal ini, Saya menaruhkan uang untuk Amerika Serikat dan sekutu."

Seorang pejabat tinggi industri pertahanan AS sependapat dengan Deptula. Dalam hal avionik, PAK FA lebih dekat ke Boeing F/A-18E/F Super Hornet atau F-16E/F Block 60 ketimbang F-22 atau F-35. "Sebagian orang mungkin mengklaim bahwa PAK FA adalah pesawat tempur generasi kelima, sebenarnya hanya lebih baik dari generasi 4,5 menurut standar AS," kata pejabat industri pertahanan AS tersebut.

Minimnya sistem pertukaran data pada PAK FA merupakan kelemahan. Strategi AS saat ini sedang mengarah ke pendekatan dimana setiap pesawat terbang atau kapal permukaan akan menjadi sensor bagi pesawat, kapal atau kendaraan bersenjata lainnya. Rudal yang ditembakkan oleh sebuah pesawat mungkin akan dibimbing oleh pesawat atau kendaraan lainnya. Angkatan Laut AS sudah menerapkan sistem yang disebut dengan Naval Integrated Fire Control-Counter Air (NIFC-CA). Angkatan Udara AS juga sedang mengarah ke sana.

"Di masa depan performa aerodinamis akan lebih fokus pada kecepatan, jangkauan dan muatan ketimbang manuver. Dan yang terpenting lagi adalah kemampuan untuk berbagi data dimana akan memberikan keunggulan dalam pengambilan keputusan yang lebih cepat dari lawan," kata Deptula.

Gambar: Vitaly V. Kuzmin / Wiki Common

10 Pesawat Tempur Kapal Induk Terbaik 2014

Pesawat tempur kapal induk termasuk pesawat yang langka. AS adalah negara dengan kekuatan pesawat kapal induk terbesar, hal ini tidak terlepas dari jumlah kapal induknya yang mencapai puluhan. Tidak sulit untuk menyeleksi 10 pesawat tempur kapal induk terbaik di tahun 2014, hal ini karena jenis pesawat yang satu ini memang tidak lebih dari sepuluh. Namun mengurutkan keunggulan dan kemampuan dari 10 pesawat inilah yang merepotkan. Bukan diurutkan berdasarkan kemampuan dan keunggulannya, inilah 10 pesawat tempur kapal induk terbaik di tahun 2014.

1. BAE Sea Harrier FRS.Mk 51
Harrier FRS.Mk 51
Sebuah Sea Harrier lepas landas dari dek penerbangan kapal induk Angkatan Laut India INS Viraat saat latihan multilateral Malabar 2007. Gambar: US Navy
Pada tahun 1979, India mengorder 6 Sea Harrier pertamanya, tiga unit yang pertama tiba di Bandara Dabolim pada tanggal 16 Desember 1983. Kemudian pada bulan November 1985, dalam kontrak yang berbeda India membeli lagi sepuluh unit Sea Harriers. Dengan kontak berikutnya, akhirnya total India membeli 30 Harrier, yang mana 25 unit untuk penggunaan operasional dan 5 unit lainnya (kursi ganda) sebagai pesawat latih. Sea Harrier hingga saat ini masih dioperasikan Angkatan Laut India pada kapal induk tua INS Viraat, meskipun pada akhirnya akan tergantikan oleh Mikoyan MiG-29K buatan Rusia.
2. McDonnell Douglas AF-1 (A-4) Skyhawk
A-4KU Skyhawk
AF-1 Falcão (A-4KU Skyhawk) Brasil onboard di kapal induk São Paulo. Gambar: Navy of Brazil
A-4 milik Brasil tetap menjadi pesawat yang layak digunakan meskipun desainnya cukup kuno. Hingga kini, A-4 tetap menghiasi dek satu-satunya kapal induk São Paulo dari Kelas Clemenceau milik Brasil. Mengingat pembelian besar Brasil atas jet tempur Gripen baru-baru ini, kemungkinan Brasil juga akan meminta pengembangan Gripen khusus angkatan lautnya.

3. Lockheed Martin F-35B/C Lightning II
F-35B Lightning II
F-35B Lightning II mendarat di kapal serbu amfibi USS Wasp. Gambar: US Navy
Sebenarnya F-35 belum layak menempati daftar ini, bukan terkait kemampuannya melainkan karena F-35 memang belum dioperasikan di kapal induk AS. Tetapi karena proses pelatihan F-35 di kapal induk terus dilakukan militer AS secara intensif, dan untuk mencukupi daftar ini agar menjadi sepuluh, maka kami masukkan ke daftar ini.

4. Boeing AV-8B+ Harrier II/EAV-8B Matador
Harrier AV-8B
Tampak bawah Harrier AV-8B. Gambar: Michael Pereckas from Milwaukee, WI, USA
Harrier dilengkapi dengan rudal AMRAAM (Advanced Medium-Range Air-to-Air Missile) dan berbagai rudal udara ke darat. Peran utamanya baru-baru ini adalah sebagai bomber untuk perang close air support di Afghanistan dan Libya. Sayangnya Harrier adalah pesawat tempur AS yang paling berbahaya dalam hal pengoperasiannya, tingkat kecelakaannya tiga kali lipat lebih tinggi F/A-18. Selain AS, pesawat ini juga dioperasikan oleh Angkatan Laut Italia dan Spanyol.

5. Sukhoi Su-33
Su-33
Su-33 onboard pada kapal induk Admiral Kuznetsov Rusia. Gambar: Kremlin.ru
Pesawat yang ditujukan untuk dioperasikan di kapal induk ini adalah turunan dari Su-27 Flanker dengan nama awal sebagai Su-27K. Kemudian pada bulan Agustus 1998 namanya diubah menjadi Su-33 bersamaan dengan dimulainya operasinya di kapal induk Rusia satu-satunya Admiral Kuznetsov. Su-33 dianggap kurang fleksibel dan pilihan senjatanya terbatas akhirnya hanya 24 unit Su-33 yang diproduksi (selain karena kondisi keuangan Rusia yang belum pulih pasca runtuhnya Uni Soviet). Akhirnya pada tahun 2009, Rusia mengganti Su-33 dengan MiG-29K.

6. Shenyang J-15
Shenyang J-15
J-15 lepas landas dari kapal induk China Liaoning
Meski belum matang, Angkatan Laut China mengklaim varian Flanker khusus angkatan laut ini memiliki mesin yang tangguh. Memanfaatkan senjata dan sensor buatan dalam negeri, J-15 dianggap sebagai salah satu pesawat tempur kapal induk canggih, yang sangat bermanuver dan memiliki jangkauan jauh. Dalam beberapa segi, analis menilai J-15 memiliki beberapa keunggulan yang signifikan ketimbang keluarga Hornet, terutama untuk performanya di ketinggian tinggi.

7. McDonnell Douglas F/A-18C/D Hornet
F/A-18C Hornet
Sebuah F/A-18C Hornet meluncur dari dek penerbangan kapal induk USS Kitty Hawk, 17 Agustus 2005. Gambar: US Navy
Pesawat ini sudah berada di senja karirnya. Ketika pertama kali lahir pada tahun 1983, ini adalah pesawat yang sangat canggih dan menjadi pioner fitur-fitur yang kemudian menjadi fitur keharusan bagi pesawat modern saat ini, khususnya pada desain kokpit dan radar multimode. Angkatan Laut dan Korps Marinir AS akan menggantikan F/A-18 Hornet dengan F-35.

8. Dassault Rafale M
Dassault Rafale M
Dassault Rafale Prancis yang ditugaskan pada kapal induk Charles de Gaulle, lepas landas dari kapal induk USS Harry S. Truman (CVN-75) Amerika Serikat dalam sebuah latihan bersama, 14 Januari 2014. Gambar: US Navy
Dassault Rafale termasuk salah satu masterpiece penerbangan. Berdasarkan sebuah uji coba, sistem kontrol penerbangan Rafale sukar ditandingi dalam hal respon dan presisi (disebutkan lebih unggul dari F-16). Hal ini tentunya menjadi pertimbangan penting terutama untuk sebuah pesawat tempur kapal induk. Dilengkapi dengan SPECTRA, yang sebagian menganggapnya sebagai sistem defensif terbaik di dunia, dan dipandu oleh radar dan senjata berkelas, Rafale adalah salah satu pesawat tempur kapal induk terbaik di dunia.

9. Mikoyan MiG-29K
Mig-29K
MiG-29K saat pameran udara MAKS 2007. Mendemonstrasikan stabilitas saat terbang di kecepatan rendah. Gambar: Oleg Belyakov
Ketika Rusia menggunakan Su-33 untuk beroperasi di kapal induk, banyak yang menganggap keputusan in tidak tepat karena MiG-29 yang lebih kecil menawarkan tingkat fleksibilitas yang lebih tinggi. Dalam hal jangkauan, interface pilot dan kecanggihan, MiG-29K berbeda dari Fulcrum asli dan dianggap sebagai salah satu pesawat angkatan laut yang paling ditakuti karena radar canggih dan rudal R-77 (AMRAAMSKI).

10. Boeing F/A-18E/F Super Hornet
F/A 18 Super Hornet
Sebuah F/A 18 Super Hornet terbang di atas kapal induk USS Theodore Roosevelt di Teluk Oman, 1 November 2008. Gambar: US Navy
F/A-18E Super Hornet adalah berkursi tunggal sedangkan versi F/A-18F berkursi ganda. Pesawat dua mesin multiperan yang dikembangkan berdasarkan pesawat McDonnell Douglas F/A-18 Hornet ini terbang pertama kali pada tahun 1995. Super Hornet mulai resmi digunakan Angkatan Laut Amerika Serikat pada tahun 1999, menggantikan F-14 Tomcat yang pensiun pada tahun 2006.
Sumber :  http://www.artileri.org