Sabtu, 08 Februari 2014

Perang Pesawat Tanpa Awak di Asia Tenggara

Pesawat udara nir-awak (puna) Wulung sukses menjalani uji coba di Pangkalan Udara Halim Perdanakusumah, Jakarta, Kamis 11 Oktober 2012. Pesawat yang dikembangkan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) itu berhasil unjuk kemampuan di langit Halim.

Bahkan, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono kepincut dengan karya anak bangsa itu. SBY yang baru mendarat di Halim--setelah melawat ke Yogyakarta--menyempatkan diri melihat aksi Wulung. "Saya senang, sampaikan selamat kepada yang membuat, peneliti, dan yang mendesain ini," kata SBY saat berbincang dengan peneliti BPPT.

Saking senangnya, SBY yang hanya singgah sekitar sepuluh menit berjanji akan memperhatikan pengembangan pesawat tanpa awak buatan dalam negeri itu. "Masih ada dana pengembangannya? Nanti saya on top-kan pengembangannya," ujar SBY.

Rasa bangga juga ditunjukkan Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro. Usai uji coba itu, Purnomo menggelar jumpa pers. Dia mengatakan, pesawat ini akan terus dikembangkan, dan diupayakan oleh produsen dalam negeri, misalnya PT Dirgantara Indonesia. Sehingga, memajukan industri pertahanan dalam negeri. "Sesuai amanat UU Industri Pertahanan," kata dia.

Selain untuk keperluan sipil, wahana itu juga akan digunakan untuk kepentingan militer Indonesia. Dalam pengembangan selanjutnya, pesawat ini kelak dipersenjatai. Sehingga, bisa dikirim ke medan perang jika dibutuhkan. "Bahkan fungsinya dapat menggantikan pesawat tempur yang disebut dengan Unmaned Combat Aerial Vehicle," kata Purnomo.

Purnomo berharap, pengembangan puna disesuaikan dengan kebutuhan TNI Angkatan Udara. Sebab, dia menginginkan puna ini diproyeksikan ke dalam skuadron TNI AU. "Untuk sementara ini skuadron yang akan kita bangun memang untuk pengintaian atau pengamatan wilayah (surveillance)," ujarnya.

Kritik

Tak semua puas dengan Puna Wulung ini. Kritik justru datang dari Menteri Riset dan Teknologi, Gusti Muhammad Hatta. Menurut dia, suara pesawat Wulung itu terlalu bising. "Seharusnya pesawat nir awak tidak mengeluarkan suara. Bisa-bisa ditembak musuh kalau pesawat nir awak kita suaranya seperti itu," kata Gusti dalam keterangan tertulisnya.

Untuk itu, dia berharap BPPT dan Kementerian Pertahanan bisa lebih baik lagi mengembangkan pesawat itu jika memang ditujukan sebagai alat utama sistem persenjataan (alutsista) TNI.

"Awalnya, pesawat tanpa awak memang diprioritaskan untuk keperluan sipil seperti memantau wilayah di Indonesia. Namun dalam perkembangannya, pesawat tersebut bisa dijadikan sebagai alat utama sistem persenjataan TNI. Untuk itu pesawat ini harus canggih. Saya yakin BPPT bisa membuatnya," Menristek menambahkan.

Selain suara, Menristek juga mengkritik bahan dasar badan pesawat yang terbuat dari serat fiber. Ia berharap bisa diganti dengan bahan dasar lain yang lebih kuat. "Layaknya pesawat intai tanpa awak milik negara lain," ujarnya.

Di balik kritiknya itu, Gusti mengaku tetap bangga dan siap mempromosikan pesawat tanpa awak tersebut, tahun depan. “Dan saya berharap teknologi untuk pesawat intai tadi tidak menggunakan teknologi dari negara lain,” tambahnya.

Lima puna

Wulung bukan satu-satunya puna yang dikembangkan BPPT. Sejak 2002, BPPT telah membuat lima puna. Selain Wulung, BPPT telah membuat Puna Sriti, Puna Alap-alap, Puna Gagak, dan Puna Pelatuk. BPPT mengembangkan puna itu mulai 2002. Biaya yang dikeluarkan untuk membuat lima pesawat ini sekitar Rp 6 miliar hingga Rp 8 miliar.

Puna Sriti. Difungsikan untuk pengintaian. Puna Sriti bisa melihat ke depan sejauh 60-75 kilometer. Rentang sayapnya 2,988 meter. Memiliki bobot 8,5 kilogram. Kecepatan jelajahnya mencapai 30 knot. Endurance atau kemampuan terbangnya mencapai 1 jam. Sriti bisa terbang sejauh 5 mil dengan ketinggian maksimal 3.000 kaki.

Puna Alap-alap. Difungsikan untuk pengintai. Rentang sayapnya 3,51 meter. Beratnya 18 kilogram. Kecepatan jelajah mencapai 55 knot. Mampu terbang selama 5 jam dengan jangkauan 140 kilometer. Ketinggian maksimumnya 7.000 kaki. Pesawat ini dilengkapi dengan kamera video.

Puna Gagak. Memiliki rentang sayap 6,916 meter. Beratnya 120 kilogram. Kecepatan jelajahnya 52-69 knot. mampu terbang selama 4 jam dengan jangkauan maksimal 73 kilometer. Sedangkan ketinggian terbang maksimum mencapai 8.000 kaki. Pesawat dilengkapi kamera video.

Puna Pelatuk. Memiliki rentang sayap 6,916 meter. Berat 120 kilogram. Kecepatan jelajahnya mencapai 52 hingga 69 knot. Bisa terbang selama 4 jam dengan jangkauan maksimal 73 kilometer. Pesawat ini bisa terbang dengan ketinggian maksimum 8.000 kaki. Pesawat dilengkapi kamera video.

Puna Wulung. Terbuat dari bahan komposit Rentang sayapnya mencapai 6,360 meter. Panjang badan mencapai 4,32 meter, dan tingginya 11,32 meter. Berat 120 kilogram. Puna Wulung bermesin 2 tak. Untuk mendapatkan tenaga yang optimal, bahan bakar yang dipilih adalah jenis pertamax.

Wulung mampu terbang selama 4 jam tanpa henti. Jarak tempuh maksimalnya 70 kilometer, dengan kecepatan jelajah 52 hingga 69 knot. Pesawat bisa dikendalikan dengan jarak 73 kilometer dari remote control. Puna Wulung mampu terbang hingga ketinggian 12 ribu kaki. Namun, hingga sat iniyang sudah diuji baru pada ketinggian 8 ribu kaki.

ASEAN berlomba

Negara-negara di Asia Tenggara (ASEAN) memang lagi getol memperkuat armada militernya. Mulai dengan senjata ringan hingga berat. Pesawat udara tanpa awak menjadi salah satu yang gencar dikembangkan oleh sejumlah negara di kawasan ASEAN.

Malaysia misalnya. Negeri jiran ini mengembangkan pesawat udara tanpa awaknya melalui Unmanned Systems Technology (UST), yang didirikan pada 2007. Tugasnya, khusus untuk menarik segala sumber daya untuk mengembangkan pesawat udara tanpa awak.

Malaysia telah menemukan momentumnya. Melalui UST, Malaysia berhasil mengembangkan pesawat udara tanpa awak dan sukses mengembangkan produksi dalam negerinya, baik untuk kepentingan sipil maupun militer. Bahkan, Malaysia saat ini telah menawarkan beberapa produk pesawat tanpa awak produksinya.

Produk yang telah ditelorkan oleh UST antara lain pesawat tanpa awak bersayap dan berbaling-baling menyerupai helikopter. Pesawat yang bersayap antara lain Aludra, Aludra SR-08, dan Aludra SR-12. Sedangkan yang menyerupai helikopter adalah Intisar 300 dan Intisar 400.

Produk utama yang dihasilkan UTS adalah Aludra. Pesawat ini memiliki berat 200 kilogram. Muatan maksimal yang bisa diangkut seberat 25 kilogram. Struktur bahan terbuat dari kaca, serat karbon, busa, dan epoxy. Pesawat ini memiliki panjang 14 kaki, rentang sayap 20 kaki. Aludra mampu melaju dengan kecepatan 220 kilometer per jam dengan durasi 3 jam.

Malaysia juga terkenal maju dalam bidang pembuatan pesawat tanpa awak ini. Sebab, mereka telah menjalin kerja sama dengan berbagai negara untuk mengembangkan teknologi ini, seperti Australia.

Berikutnya adalah Singapura. Wilayah negara boleh kecil. Penduduknya juga sedikit. Namun, Singapura tak mau kalah memperkuat armada pesawat tanpa awaknya. Pertengahan tahun ini, negara di Selat Malaka ini telah membeli satu skuadron pesawat tanpa awak dari Israel, Heron 1. Singapura harus mengeluarkan US$ 6 juta untuk satu unit Heron.

Heron 1 memiliki lebar sayap 16,6 meter, berat 1,2 ton, dan mampu membawa 250 kilogram beban. Pesawat ini mampu terbang selama 50 jam (tergantung beban yang dibawa).

Kecepatan jelajahnya sampai 100 kilometer per jam. mampu terbang setinggi 10 kilometer (32.000 kaki). Heron dapat dilengkapi dengan kamera yang bisa untuk melihat pada siang-malam atau radar pencarian angkatan laut. Kemampuan Pesawat ini mirip dengan pesawat Predator milik Amerika Serikat.

Armada ini didatangkan untuk menggantikan 40 pesawat udara tanpa awak Searcher yang telah digunakan selama satu dekade. Singapura juga telah memarkir 60 lebih pesawat tanpa awak Scout. Dalam segi ukuran, berat, dan kinerja, jenis Scout masih di bawah Searcher. 

Singapura juga melibatkan National University of Singapura (NUS) untuk mengembangkan pesawat tanpa awak GremLion. Pesawat tanpa awak ini didesain mirip dengan helikopter dan mampu mengemban tugas khusus.

Vietnam tak mau kalah. Awal 2012 ini, negara yang pernah dilanda perang saudara pada 18 tahun ini menjalin kerja sama dengan Rusia untuk mengembangkan pesawat tanpa awak. Vietnam merogoh anggaran sebesar US$10 juta untuk program alih teknologi ini. Rusia-Vietnam akan membuat pesawat tanpa awak versi kecil Irkut 200. Berat pesawat yang dibuat ini mencapai 100 kilogram.

Sementara itu, negara-negara lain juga sama. Thailand mengembangkan The Aerostar. Thailan juga dikabarkan membeli sejumlah pesawat tanpa awak dari Israel. Langkah yang sama juga dilakukan Filipina.(np)
http://militaryanalysisonline.blogspot.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar