Rabu, 20 November 2013

Seberapa Dekat Hubungan Pemerintah Indonesia-Australia?

Presiden SBY berpelukan dengan PM Kevin Rudd di Canberra pada 2010
Presiden SBY berpelukan dengan PM Kevin Rudd di Canberra pada 2010 (REUTERS)
VIVAnews - Pemerintah Indonesia tengah marah kepada Australia soal skandal penyadapan yang dilakukan Canberra kepada Jakarta. Bagi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, tindakan Australia itu sangat mencederai kemitraan strategis dengan Indonesia sebagai sesama negara demokrasi. Sebagai balasannya, Indonesian saat ini mempertimbangkan untuk mengurangi derajat hubungan dengan Australia.

Kemarahan itu berbeda jauh dari sikap yang dilontarkan pemerintah Indonesia kepada Australia sebelum terbongkarnya skandal penyadapan, yang diungkap media massa dari hasil bocoran mantan kontraktor badan intelijen NSA dari Amerika Serikat, Edward Snowden. Sebelum skandal ini, kedua pemerintah saling melontarkan pujian dan sama-sama menyatakan bahwa Indonesia dan Australia sudah menjalin hubungan yang sangat erat.

Departemen Luar Negeri Australia (DFAT) mengungkapkan bahwa hubungan antarpejabat dan antarpolitisi dari kedua negara sangat bersahabat. Dari 2007 hingga 2012, tercatat 130 kunjungan tingkat tinggi antara pemerintah Australia dan Indonesia. "Ini sama dengan seorang menteri [baik dari Indonesia dan Australia] pasti berkunjung setiap dua pekan," demikian ungkap DFAT dalam Dokumen Strategis mereka mengenai Indonesia.

Pemerintah dari kedua negara setiap rutin menggelar pertemuan. Pemimpin Indonesia dan Australia rutin saling kunjung, baik itu lawatan bilateral maupun menghadiri forum-forum regional seperti KTT Asia Timur dan APEC.

Sejak 2012, menteri luar negeri dan menteri pertahanan dari kedua negara bertemu setiap tahun untuk membicarakan isu-isu bilateral dan regional menyangkut pertahanan, politik, dan diplomasi. Dialog ini disebut sebagai Forum 2+2.

Untuk hubungan keamanan, Indonesia dan Australia telah menyepakati "Perjanjian Lombok" pada 2006. Perjanjian ini menjadi kerangka bagi kedua pemerintah dalam mengembangkan kerjasama bidang keamanan. Lalu pada 2012 Indonesia dan Australia menandatangani Kesepakatan Kerjasama Keamanan pada September 2012. 

Pertemuan rutin tidak hanya melibatkan pejabat antarpemerintah. Indonesia dan Australia pun menggelar forum tahunan dengan menggandeng kalangan akademisi, tokoh masyarakat, jurnalis, dan pengusaha untuk menggelar dialog, yang lokasinya bergantian.

Australia juga rutin memberi program beasiswa dan bantuan pembangunan kepada Indonesia. Pada 2012-2013, Indonesia menerima bantuan pembangunan dari Australia sebesar $541,6 juta. Selain itu juga terdapat forum pertukaran pemuda, yang mempertemukan kaum muda Indonesia dan Australia.

Hubungan ekonomi dan perdagangan kedua negara pun meningkat. Selama periode 2011-2012, volume perdagangan Indonesia dan Australia naik 8,3 persen dari periode sebelumnya menjadi US$14,9 miliar, ungkap Departemen Luar Negeri dan Perdagangan Australia. 

Hubungan erat kedua pemerintah juga dibantu oleh kedekatan personal sejumlah pejabat Indonesia atas Australia. Sedikitnya ada sejumlah pejabat tinggi Indonesia yang menimba ilmu di Negeri Kanguru.

Wakil Presiden Boediono merupakan lulusan University of Western Australia. Selain itu, Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa meraih gelar doktor di Australian National University.

"Kabinet Indonesia terdiri dari sejumlah pejabat yang tahu banyak tentang Australia, yang pernah tinggal di sini selama bertahun-tahun, yang menyukai Australia dan mendukung hubungan dengan Australia," kata Profesor Ross Garnaut dari Universitas Melbourne saat diwawancara stasiun berita ABC Australia.

Presiden Yudhoyono pun berteman akrab dengan mantan PM Australia, Kevin Rudd. Dia menghadiri pelantikan Presiden Yudhoyono untuk kali kedua di Jakarta pada 2009. Lalu, Rudd pun memeluk Yudhoyono sangat erat ketika menyambutnya di Canberra pada Maret 2010.

Bahkan, Yudhoyono pada 10 Maret 2010 diberi kesempatan untuk berpidato di Sidang Khusus Parlemen Australia. Pemimpin kubu oposisi saat itu, yang kini PM Australia, Tony Abbott, bahkan saat itu mengaku tidak sabar mendengar pidato Yudhoyono.

"Pesan saya sangat jelas: Australia dan Indonesia punya masa depan bersama yang gemilang. Kita tidak hanya bertetangga dan berteman, tapi juga mitra strategis. Kita sama-sama untung bila membina hubungan ini dengan baik dan sama-sama rugi bila salah menjalaninya," demikian petikan pidato Yudhoyono saat itu.

"Australia dan Indonesia secara bertahap telah membina hubungan yang khusus," lanjut SBY yang disambut tepuk tangan meriah dari para pejabat Australia, baik pemerintah maupun kubu oposisi.  (umi)
 
http://dunia.news.viva.co.id/news/read/460059-seberapa-dekat-hubungan-pemerintah-indonesia-australia-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar