Minggu, 25 September 2011

Armada Laut Cina yang Kembali


"Tapi misi kapal perang Xuzhou bukan sekedar misi kemanusiaan. Jika pemerintahan-pemerintahan demokratis muncul di antara padang pasir bangsa-bangsa otokrasi Timur Tengah, mereka tidak akan lagi menjadi sekutu barat. Mereka akan mencari sekutu-sekutu baru, dan Xuzhou berada di sana untuk menunjukkan benderanya."

Hampir 600 tahun telah berlalu sejak kapal-kapal perang Cina berlabuh di pantai-pantai Afrika. Namun kini mereka kembali.

Pada abad 15 Dinasti Ming Cina mengirim armada terbesar dalam sejarah ke Samudra Hindia di bawah komando Laksamana Zheng He (Cheng Ho). Menyingkirkan semua musuh, menghancurkan para perompak dan menarik upeti dari para penguasa dan mengirimkan misi hingga ke Arab dan Kenya.

(Dengan armada yang sangat besar tersebut memang Cheng Ho bisa melakukan misi militer. Namun di Indonesia, ia hanya "berani" menjalankan misi perdamaian. Tentu ia menyadari kekuatan bangsa Indonesia kala itu. Majapahit adalah negara maritim superpower dengan kapal-kapal bermeriam api-nya. Sisa-sisa kerajaan Majapahit setelah kedatangan Cheng Ho bahkan berhasil mengusir Portugis dari Jawa dan orang-orang Maluku mengusirnya dari Ternate. Padahal kala itu Portugis adalah superpower laut baru. Terlebih lagi Cheng Ho juga menyadari, orang-orang Indonesia pula yang pernah mengalahkan tentara Mongol, bangsa yang pernah menjajah Cina)

Dan kemudian, seperti saat mereka datang, kapal-kapal itu menghilang begitu saja. Dan mereka baru kembali setelah tahun 2008. Sekali lagi para perompak mengganggu kapal-kapal Cina, kali ini para perampok Somalia di Teluk Aden. Dan kapal-kapal Cina datang untuk menghancurkan mereka.

Namun sejarah tidak pernah benar-benar berulang dengan sendirinya. Pada abad 15 Cina tidak banyak mengenal Afrika. Kini Cina adalah mitra dagang Afrika terbesar. Ratusan ribu pekerja Cina bekerja di sana, di semua sektor. Dari perminyakan, industri baja, hingga pertanian dan sektor keuangan.

Bulan lalu, Cina melakukan langkah baru, jauh di atas apa yang terjadi 6 abad yang lalu.

Saat Libya diguncang oleh revolusi dan perang saudara, Cina mengirimkan kapal fregat Xuzhou seberat 4.000 ton, untuk mengawal kepulangan 30.000 warga negara Cina dari Libya. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, kapal perang Cina berlayar di Laut Mediterania.

Tapi misi kapal perang Xuzhou bukan sekedar misi kemanusiaan. Jika pemerintahan-pemerintahan demokratis muncul di antara padang pasir bangsa-bangsa otokrasi Timur Tengah, mereka tidak akan lagi menjadi sekutu barat. Mereka akan mencari sekutu-sekutu baru, dan Xuzhou berada di sana untuk menunjukkan benderanya.

Dan jika, para diktator peenguasa Arab itu tetap bertahan, mereka juga akan mencari teman baru, karena mereka tahu bahwa kini Amerika Cs telah mengabaikan mereka. Untuk mereka pun, Xuzhou berada di sana untuk menunjukkan benderanya.

Maka pemenang terbesar dari Revolusi Melati di Libya mungkin saja adalah Cina.

Beberapa dekade sejak saat ini, pelayaran Xuzhous mungkin akan menjadi simbol dari perubahan kekuatan global, dari Barat ke Timur.

Namun sebagaimana sebuah perubahan arah sejarah, konsekuensinya membutuhkan waktu bertahun-tahun. Amerika saat ini memiliki 11 kapal induk yang menguasai seluruh penjuru dunia. Inggris memiliki 2 kapal induk. Perancis dan Rusia masing-masing memiliki 1 kapal induk. Cina belum memiliki satu pun.

Cina memang telah mengembangkan kekuatan kapal selam dan peluru kendali anti-kapal dan akan membuat Amerika mengalami kerugian besar jika berani melakukan konflik dengan Cina di Selat Taiwan. Namun Cina tidak bisa berharap menang perang laut melawan Amerika di perairannya sendiri. Barat masih menguasai laut, namun Xuzhou mungkin menjadi simbol perubahan kekuatan di masa mendatang.

Minggu lalu Cina mengumumkan kenaikan anggaran militernya sebesar 12,7% menjadi $95 miliar.

Menurut sumber-sumber militer dan politik Cina, Cina kemungkinan besar akan meluncurkan kapal induk pertamanya tahun ini, setahun lebih cepat dari perkiraan para analis militer. AL Cina telah membangun armada kapalnya dengan gencar sejak tahun 2001 dan berencana mengganti semua kapal kunonya dekade ini. Pada tahun 2009 berhasil meluncurkan kapal selam nuklir pertamanya dan kini tengah membangun pangkalan kapal selam modern di Hainan.

Pada bulan Januari lalu Cina memperkenalkan pesawat tempur siluman pertamanya, dan musim semi ini diperkirakan kapal induk pertama Cina mulai beroperasi. Pada tahun 2020 diperkirakan Cina telah memiliki 3 kapal induk konvensional dan 2 kapal induk nuklir.

Dan sementara angkatan laut Cina tumbuh pesat, kekuatan barat justru mengalami kemerosotan. Kedodoran mengatasi anggaran belanjanya akibat krisis keuangan namun ketakutan dengan ketidak puasan rakyatnya sendiri, pemerintahan-perintahan barat dengan bernafsu menatap anggaran pertahanannya.

AL Amerika saat ini memiliki 285 kapal perang, lebih kecil dari kebutuhan sebanyak 313 kapal. Dan dengan anggaran militer yang masih belum mendapat persetujuan Congress, kemungkinan besar akan terjadi pengurangan anggaran militernya.

Inggris masih menjadi kekuatan laut nomor 2 terbesar di dunia dan telah berencana mengganti kapal-kapal induknya. Namun dengan masalah keuangan yang lebih parah dari Amerika, khususnya karena oposisi masyarakat, Inggris kemungkinan akan menghentikan operasi kapal-kapal induknya sebelum kapal induk yang baru mulai dibuat.

Ada banyak cerita menarik mengenai ambruknya kekuatan laut Inggris ini. Misalnya saja kabar mengenai kapal amphibi Amerika yang akan berlayar di Sungai Thames untuk melindungi kota London selama Olimpiade tahun 2012 mendatang. Cerita menarik lainnya adalah kemungkinan Inggris hanya mengoperasikan 1 kapal induk baru, dan menyatukan angkatan lautnya dengan angkatan laut Perancis.

Dalam beberapa bulan terakhir rakyat Eropa telah belajar mengenai apa yang bisa terjadi jika negara-negara merdeka menyatukan mata uang mereka. Kita seharusnya tidak mengulangi pengalaman itu dengan angkatan laut.

Ketika krisis Libya terus memburuk, Amerika dan Inggris mempertimbangkan untuk menerapkan zona larangan terbang di atas Libya agar pesawat dan helikopter Qadaffi tidak bisa digunakan untuk membantai rakyatnya sendiri. Namun untuk menerapkan larangan itu memerlukan sebuah pertempuran. Sebanyak 50 battere rudal SAM 6 Libya yang ditempatkan di sepanjang pantai Libya harus dihancurkan. Namun Rusia dan Cina menolak rencana tersebut dan angkatan laut barat menjadi tidak berarti kehadirannya di lepas pantai Libya.

Dalam kasus Libya, pesawat-pesawat NATO yang berbasis di Cyprus bisa melakukan operasi udara bersama pesawat-pesawat Amerika di kapal induk USS Enterprise. Namun kita tidak bisa memastikan bahwa semua krisis akan berada pada jarak tempuh pesawat-pesawat terbang barat.

Berbagi kapal induk tanpa berbagi kebijakan adalah sebuah rencana yang membahayakan. Barat harus menghadari 2 realitas. Pertama adalah tantangan berbentuk kekuatan non-negara: gerakan politik, terorisme, bajak laut, yang semakin besar. Kedua adalah kekuatan dan kemakmuran telah mulai berpaling dari Barat ke Timur. Revolusi Industri dimulai di Inggris memancarkan energi yang membuat Eropa Barat menjadi kekuatan dominan dunia pada abad 19. Setelah Amerika tumbuh industrinya, ia mengambil alih Eropa Barat, dan kini Asia Timut tengah tumbuh menjadi kekuatan ekonomi baru.

Proses ini di luar kemampuan siapapun untuk menghentikannya. Namun Barat bisa mendapatkan keuntungan dari proses itu daripada menjadikannya sebagai proses yang menghancurkan. Yaitu jika Barat bisa membujuk Cina untuk menggunakan kekuatannya untuk perdamaian seperti menghancurkan bajak laut, mengevakuasi pengungsi dll. Namun jika Barat gagal melakukan hal itu, kehancuran akan terjadi sebagaimana terjadinya perubahan tata dunia di masa lalu.

Para penguasa Dinasti Ming akhirnya menyadari bahwa misi armada Cheng Ho sangatlah mahal biayanya. Sebagaimana pemerintah barat yang mengurangi anggaran angkatan lautnya, kaisar Cina pun akhirnya membubarkan armada besarnya dan meninggalkan catatannya dalam sejarah. Ketika uang menjadi sulit diperolah, ekonomi harus diciptakan. Armada besar itu tampak hanya menjadi beban daripada keuntungan yang diberikannya.

Lalu apa yang terjadi kemudian? Dalam waktu 75 tahun, pelaut-pelaut Portugis memasuki Samudra Hindia dari Atlantik. 20 tahun kemudian kapal-kapal itu mendarat di Cina. Eropa, pelan namun pasti, menguasai perdagangan Asia Timur. Majapahit, Cina dan sisanya hanya tinggal sejarah.

Ada satu pelajaran di sini. Barat tidak seharusnya dengan mudah mengendorkan kekuatan lautnya. Jika tidak, maka barat akan melihat kapal-kapal perang Cina -lah yang akan berlayar di Sungai Thames.


Ref:
"How long until a Chinese aircraft carrier sails up the Thames?"; Ian Morris – Daily Mail March 6, 2011.

http://www.kaskus.us/showthread.php?t=7419245

Tidak ada komentar:

Posting Komentar