Kamis, 01 Maret 2012

Darah Baru Java Jazz Festival

PETER F. Gonta terkaget-kaget dengan pertanyaan seorang wartawan, yang menanyakan bagaimana sebenarnya komiten sponsorship atas penyelenggaraan Java Jazz Festival (JJF).

Mengapa mesti kembali dengan nikotin, tanya si wartawan, setelah sebelumnya JJF sudah cukup nyaman dengan misi mulianya seperti "go green".

Tapi tak kalah tangkasnya, Peter Gonta yang juga
pendiri festival jazz yang tercatat terbesar di dunia itu meningkahi dengan jawaban, "Kalau tak ada rokok di belakang kami, mungkin kami tidak akan menjual tiket murah untuk menonton bintang besar macam Herbie Hancock, Al Jerraeu atau Pat Matheny," kata Peter Gonta yang lantas disambut tepuk tangan riuh.

Suasana itu terlihat saat berlangsung press conference, bertempat di Airman Cafe Hotel Sultan Jakarta, Kamis (15/12). Acara ini disamping menginformasi artis pendukung utama Java Jazz 2012, juga memperkenalkan sponsor barunya, yakni PT Djarum dengan brand-nya Djarum Super Mild.

JJF akan kembali digelar tanggal 2,3,4 Maret 2011 mendatang. Ini adalah perhelatan ke 8 setelah 2 tahun terakhir berpindah tempat yakni dari Jakarta Convention Center (JCC) Senayan berpindah ke Jakarta International Expo (JIExpo) Kemayoran Jakarta.

Tahun 2009 adalah puncak kepadatan yang luar biasa di arena JCC, dimana orang menjadi sangat tidak nyaman menonton ragam musik yang disediakan. Saat itu orang sudah tidak lagi bisa berlalu lalang dengan bebas karena tempat untuk itu tidak lagi tersedia, setiap jengkal ruang tak tersisa ruang kosong.

Maka tahun 2010 diusulkan untuk berpindah di arena PRJ Kemayoran, Jakarta. Namun di arena yang baru ini pun panitia, yakni Java Festival Production seakan kembali dari nol lagi, karena pada penyelenggaraannya terlalu banyak kekurangan di sana-sini.

Dari masalah ketersediaan makanan minuman yang dikoordinasi oleh salah satu sponsor sampai pada kecurigaan adanya "jaming" dari layanan operator yang menjadi sponsor.

Terlebih tahun lalu, terlihat saat Wapres Boediono ikut menonton, sehinga pengamanan super ketat di arena pertunjukan menjadi sangat merampas hak kenyamanan pengnonton lain.

Harga khusus

Pada saat jumpa pers, dihadapan lebih dari 100 wartawan dalam dan luar negeri, Peter F. Gonta menjelaskan suka dukanya mendatangkan para musisi legenda jazz di tahun 2012 seperti Herbie Hancock, Al Jerreau, Pat Matteny serta Bobby McFerrin, karena baru pada tahun inilah mereka baru bersedia tampil.

Itulah nama-nama yang pajang sebagai "magnet", sehingga mereka ditempatkan di spesial pertunjukan yang mengharuskan penonton lain merogok kocek lagi untuk bisa meyaksikan para legenda itu.

"Tahun ini ada harga khusus, untuk menonton Pat Matteny cuma menambah Rp 100 ribu, demikian juga untuk Al Jereau dan Bobby McFerin. Tapi untuk Herbie Hancock Rp 250 ribu. Kami rasa itu harga sangat terjangkau untuk bisa menonton bintang besar," kata Peter Gonta.

Sebagai sebuah festival besar di dunia, "Djarum Super Mild Jakarta International Java Jazz Festival 2012" menjadi begitu penting di peta jazz internasional. Tahun 2011 saja, acara ini mampu menyedot penonton lebih dari 106 ribu orang.

Sehingga pada tahun ke dua penyelengaraan JJF yakni tahun 2006, pemegang otorita yang menaungi negara penyelenggara sebuah festival jazz yakni IJFO (International Jazz Festival Organization) merekomendasi Peter Gonta untuk masuk ke organisasi ini. "Java Jazz sudah memenuhi kelayakan untuk bisa disejajarkan dengan festival jazz dunia lainnya," kata Fritz Thom, Presiden IJFO.

Ini sebuah cerita lama, yang kembali diulas kembali Peter Gonta pada acara jumpa pers terkait JJF 2012, bahwa awalnya adalah niat baiknya untuk mengembalikan citra buruk tentang Indonesia. "Bahwa negara kita begitu terkenal dengan kekerasan semacam terorisme, tapi toh tetap bisa membuat sebuah acara musik yang penuh kedamaian," kata Peter.

Bahwa sekarang, kata Peter Gonta, orang tidak perlu lagi ke Singapura atau negara lain untuk menyaksikan sebuah festival jazz, karena di Jakarta sudah tersedia Java Jazz dengan segenap keriuhan dan kedamainnya.

Jadi, kini JJF sudah memiliki darah baru, untuk mendongkrak kembali semangat untuk menciptakan tontonan yang bermutu atas nama satu kata "Jazz". (Bambang Isti/CN 25)

http://www.suaramerdeka.com/v1/index.php/read/layar/2011/12/21/892/Darah-Baru-Java-Jazz-Festival-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar