Minggu, 08 Mei 2011

Sisi Gelap Perdagangan Senjata

AK-47 sering disebut sebagai senapan pembawa kebebasan. Sebuah julukan yang semu, karena kebebasan itu harus direbut dengan mengorbankan ribuan nyawa, termasuk anak-anak. Sialnya lagi, orang yang mengatasnamakan kebebasan terkadang tidak lebih baik dari orang yang digantikannya.

Ketika dunia merayakan hancurnya Soviet sebagai pertanda berakhirnya perang dingin, tidak ada yang menduga bahwa saat itu juga sebuah lembaran perang baru dibuka. Benua hitam yang memang sudah terkoyak-koyak oleh aksi kudeta, perebutan sumber daya alam, dan konflik lainnya semakin membara akibat mengalirnya AK-47 surplus dari negara-negara eks Pakta Warsawa. Boleh dibilang, berbagai kasus genosida yang marak pada dasawarsa 90’an, sebagian besar diakibatkan oleh banjir AK-47 ke Afrika.


(foto: http://abyssofintention.files.wordpress.com)

Liberia
Siapa yang tidak kenal Charles Taylor? Dialah warlord pertama yang merintis penggunaan anak-anak sebagai tentara. Boleh dibilang, Taylor adalah orang yang sudah kehilangan hati nurani. Bagaimana tidak, banyak anak direbut paksa dari keluarganya pada umur yang masih belia, dilatih menjadi tentara, dan dicekoki doktrin agar tak kenal takut untuk membunuh. Tujuannya hanya satu, Taylor menginginkan tampuk kepresidenan agar dapat menguasai tambang berlian Liberia demi kepentingannya sendiri. Laporan Dewan Kemananan PBB melaporkan, Taylor bisa memperoleh US$ 125 juta setahunnya dari perdagangan blood diamond. Bahkan Taylor menciptakan unit elit Small Boys Unit yang sepenuhnya terdiri dari anak-anak, dan mempersenjatai mereka dengan AK-47. Bayangkan, dalam umur yang sangat belia, anak-anak ini melawan kodratnya sebagai anak-anak dan sudah berani membunuh bahkan memperkosa wanita yang lebih tua umurnya. Dalam kesaksian Jamie Menutis, ofisial dari U.S. Resettlement Office, Department of State yang mengurusi masalah pengungsi: “Anak-anak ini dikorbankan di barisan depan untuk melindungi Taylor dalam perjalanannya menuju Monrovia ….dalam waktu senggang, mereka bisa bermain dengan mobil-mobilan layaknya anak biasa. Detik berikutnya, mereka sudah menembakkan AK-47 tanpa berkedip. Ini adalah pengalaman yang mengerikan.” Bahkan ketika Taylor berhasil disingkirkan, banyak tentara anak-anak yang terlibat mengalami kesukaran ketika harus direhabilitasi. Budaya yang mereka kenal hanya budaya kekerasan, karena mereka belum sempat mencicipi kasih sayang orang tuanya.

Tentu, pihak yang paling layak dipersalahkan dalam situasi ini adalah para pedagang senjata yang hanya mementingkan gemerincing uang yang memenuhi pundi-pundinya sendiri. Cukup dengan US$ 10-50, sepucuk AK-47 sudah bisa diperoleh, lengkap dengan magasen dan 30 butir peluru. Setidaknya ada trio pedagang senjata yang malang melintang di Afrika. Ada Gus Kouen-Hoven dari Belanda yang menggunakan kedok sebagai pengelola Hotel Africa di Monrovia, ibukota Liberia . Selain itu, ada pula Victor Bout, yang memiliki spesialisasi mendatangkan persenjataan dari Uni Soviet, khususnya AK-47. Dan terakhir, ada Leonid Minin, warga negara Ukraina yang menjual AK dengan balasan hak konsesi kayu bagi perusahaannya Exotic Tropical Timber Enterprise. Dari ketiganya, hanya Victor Bout yang berhasil diringkus di Thailand pada 5 Maret 2008, ketika berusaha menjual senjata kepada para pemberontak Muslim di Thailand Selatan.


(foto: http://www.higherportal.net)

Negara juga terlibat?
Namun sebenarnya kesalahan aliran AK-47 ke Afrika tidak bisa sepenuhnya ditimpakan ke para pedagang senjata. Dalam beberapa kasus, penjualan AK-47 ini dapat berlangsung karena adanya jaminan dari pemerintahan sebuah negara yang sah. Ambil contoh Rwanda . Dalam kasus genosida suku Tutsi oleh pasukan AB Rwanda yang didominasi suku Hutu, AK-47 pegang peranan besar dalam membantai wanita dan anak-anak. Sementara itu, gerakan perlawanan suku Hutu yang dikulminasikan dalam Rwandan Popular Front (RPF) yang dipimpin oleh Mayor Paul Kagame, mencari suplai senjata dari luar negeri. Kebetulan, pabrikan Rumania , AIMS, berniat menjual suplai AK-47 buatannya untuk menyelamatkan perusahaan dari krisis keuangan. Kongsi antara AIMS dan RPF bisa terjadi karena upaya dari broker yang tak lain adalah Boutros-Boutros Ghali, yang saat itu adalah menteri keuangan Mesir. Pengiriman senjata ini dijamin menggunakan L/C (Letter of Credit) yang dikeluarkan oleh Bank Perancis, kemungkinan BNP Paribas. Penjualan AIMS AK-47 ini terhitung melanggar aturan, mengingat penjualan dilakukan oleh negara kepada satu kelompok bersenjata di luar pemerintahan yang sah. Walaupun (mungkin) dilakukan untuk suatu tujuan yang benar, penjualan ini tetap saja melanggar etika perdagangan senjata, apalagi senjata sangat mudah disalahgunakan.

Akhir cerita, RPF bisa menghentikan Genosida, sementara Boutros-Boutros Gali menjadi Sekjen PBB yang keenam pada Januari 1992. Sepintas, RPF memang tampil layaknya pahlawan. Namun di balik permukaan, ada pula teori yang menyatakan bahwa RPF lah yang menembak jatuh pesawat yang membawa presiden Rwanda dan Burundi , yang kemudian meletuskan genosida. Sementara , AS bermain di balik layar, karena diam-diam AS ingin mengurangi pengaruh Prancis di Afrika yang terkenal dekat dengan suku Tutsi. Biarpun Uwak Sam tahu bahwa terjadi genosida, AS tetap bergeming tanpa mau mengirim pasukan. Bahkan , AS juga tutup mata ketika Kagame balik membantai suku Tutsi, seperti yang lazimnya terjadi pada despot Afrika. Padahal pada saat yang bersamaan, ketika Farrah Aidid sukses menguasai Somalia , AS langsung cawe-cawe, termasuk mengirimkan pasukan elit Delta Force ke sana .

Demikianlah, keberadaan AK-47 rupanya memainkan peranan penting dalam pertaruhan, pertarungan, dan perebutan kekuasaan di bumi hitam ini. Dengan sejumlah dana yang terhitung kecil, seseorang bisa membentuk dan mempersenjatai satu pasukan dengan AK-47 dan merebut satu negara tanpa bantuan persenjataan canggih seperti tank atau jet tempur. Sesungguhnya, bukan nuklir yang menjadi ancaman utama perdamaian. Proliferasi nuklir, betapapun sulit, bisa berhasil karena seluruh negara mau menyatukan suara dalam forum PBB dan IAEA. Sementara, peperangan di negara dunia ketiga yang menggunakan senjata murah seperti AK-47, lebih banyak terlupakan atau sengaja dilupakan oleh negara adikuasa. Entah karena dianggap kurang strategis, atau justru karena banyak kepentingan yang bermain. Padahal, perang skala kecil inilah yang lebih dampaknya terasa langsung dan menimbulkan penderitaan bagi jutaan manusia. Sungguh, inilah ironi.

http://arc.web.id/artikel/57-hankam/71-sisi-gelap-perdagangan-senjata.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar