Kamis, 28 April 2011

Bimbo 40 Tahun Bernyanyi

Tahun ini Bimbo genap 40 tahun bernyanyi. Lagu-lagu seniman bersaudara asal Bandung ini menemani berlapis generasi di Tanah Air. Lagu Bimbo tumbuh seiring perjalanan hidup awaknya: Samsudin (65), Acil Darmawan (64), Jaka Purnama (60), dan Iin Parlina (52). Mereka bersenandung tentang cinta. Bercanda dalam lagu, mulai soal kumis, tangan, mata, sampai calon mertua atau membuat satire sosial. Tetapi, Bimbo juga bicara tentang Tuhan lewat lagu Tuhan.

Dalam perjalanan kreatif, Bimbo didukung sejumlah seniman, seperti Iwan Abdulrachman yang banyak menulis lagu, seperti Melati dari Jayagiri sampai Flamboyan. Juga penyair Taufiq Ismail yang puisinya dilagukan Bimbo, seperti Dengan Puisi, Rindu Rasul, sampai Sajadah Panjang. Mereka memberi warna tersendiri pada khazanah musik pop negeri ini lewat lagu berlirik puitis, bernuansa religius.

Bimbo tengah menyiapkan konser 40 tahun, yang kalau tidak ada aral melintang direncanakan berlangsung di Jakarta, 22 Agustus mendatang. Mereka juga akan merilis album pop serta menerbitkan buku 40 tahun Bimbo. Kompas menemui Sam, juga menghubungi Acil, Jaka, dan Iin secara terpisah.

Apa arti Bimbo dalam hidup Anda?

Bimbo itu hanya setetes air. Bukan sesuatu yang luar biasa, tetapi hanya setetes. Tetapi, semoga orang mendengar bahwa kita memang bukan apa-apa di bawah Tuhan. Meski hanya setetes, mudah-mudahan Bimbo bisa mencerahkan. Kami ingin memberi warna.

Misalnya?

Lagu Tuhan atau Rindu Rasul itu lagu yang membuka persahabatan, persaudaraan. Bahwa kita hidup tidak tersekat-sekat. Kami berharap Bimbo terus menetes dan menghilangkan sekat-sekat itu.

Bagaimana Anda menggambarkan perjalanan 40 tahun Bimbo?

Kami seperti air yang mengalir. Di depan ada batu, kami belok ke kiri atau kanan. Kami tidak pernah punya cita-cita yang menggelegar ingin jadi ini itu. Kami tak merasa sebagai apa-apa. Tetapi, kami percaya ada yang mendorong: Gusti Allah.

Konkretnya?

Misalnya, waktu kami ketemu Bang Taufiq (Ismail) itu mengalir begitu saja. Dia itu the right man at the right position. Kami diperkenalkan oleh Pak Ramadhan (KH). Begitu ketemu, langsung kami minta. Dia tanya buat kapan. Kami bilang buat besok. Dia kaget, tapi dibikinkan dan bagus.

(Bimbo saat itu sedang menyiapkan album Qasidah tahun 1975 yang antara lain memuat lagu Rindu Rasul)

Masih membuat lagu?

Lima tahun terakhir ini kami terus kumpulin lagu. Semua lagu Bimbo kami rekam ulang. Saya tak mau kasus Remaco terulang lagi. Dulu, barang (lagu) milik kami, tapi hak edar milik mereka. Sekarang dengan merekam sendiri, barang dan hak edar jadi milik kami.

Berapa terekam?

Baru 120 lagu, tapi duit sudah habis he-he.... Iin sampai protes. ’Rekaman terus, rekaman terus, kapan jadinya’. Tapi kami harus merekam karena yang mahal itu voice, suara. Ini yang bikin Allah. Kalau kami sudah dikubur, kami tak bisa nyanyi lagi. Dengan rekaman ini, kami walau sudah dikubur, nanti suatu saat bisa nyanyi dengan anak cucu. Seperti Natalie Cole nyanyi bersama ayahnya Nat "King" Cole.

Bagaimana awal dari perjalanan Bimbo?

Ada fakta yang sifatnya tak sengaja. Saya yang kebetulan anak sulung suka menyanyi dan adik-adik saya ikut nyanyi. Saya dan Acil dulu (pertengahan 1950-an) adalah pengagum Sam Saimun. Menjelang akhir 1950-an Elvis masuk. Kami masih remaja dan terkontaminasi. Jadi dari gaya seriosa kayak Pavarotti itu kami kena rock kayak Elvis.

Aneka Nada ke Bimbo

Pada akhir 1950-an, ketika masih SMA, Sam membentuk band The Alulas. Band ini berubah nama menjadi Aneka Nada di mana Sam dan Acil menjadi vokalis. Sam juga mengasuh Aneka Nada Yunior yang antara lain didukung Jaka dan Iwan Abdulrachman, teman sebangku Jaka di SMP.

Tahun 1962 Guntur Soekarnoputra bergabung. Mereka kebetulan sama-sama kuliah di Institut Teknologi Bandung (ITB). Tahun 1965 Aneka Nada bubar. Sam melatih adik-adiknya, yaitu Yani, Tina dan Iin, untuk bernyanyi dalam trio Yanti Bersaudara. Trio ini populer pada paruh kedua era 1960-an dengan lagu seperti Abunawas.

Ketika Yanti Bersaudara berjaya, Aneka Nada bubar. Sam dan Acil vakum. Iin, Yani, dan Tina menggagas untuk memberi hadiah gitar kepada ketiga kakaknya. Mereka memesan tiga gitar pada pembuat gitar terkenal di Bandung, yaitu Oen Peng Hok, di bilangan Jalan Kopo.

"Kami menyisihkan honor untuk beli tiga gitar. Itu pun dengan cara nyicil karena untuk ukuran saat itu termasuk mahal. Kami memberikan gitar itu dengan perasaan terharu," kenang Iin Parlina.

Jaka Purnama yang saat itu berumur 20 tahun mengenang gitar Peng Hok itu sebagai pemacu semangat. Sejak itu tiga bersaudara anak-anak pasangan Dajat Hardjakusumah dan Oeken Kenran itu berlatih.

"Gitar itu sangat berharga karena kami dulu cuma pinjem-pinjem saja. Gitar itu menjadi penyemangat. Kami mulai berlatih mainin lagu-lagu Latin," kenang Jaka.

Mengapa lagu Latin?

"Lagu-lagu Latin itu dekat-dekat dengan tembang Sunda. Lagu Latin banyak pakai perkusi. Tembang Sunda kebetulan pakai gendang. Kedekatannya juga pada nada minor yang dominan. (Jaka lalu melantunkan lirik lagu Historia de un Amor: ’Ya no estás más a mi lado, corazón.). Nah, lagu itu dan Besame Mucho kan mirip Bubuy Bulan ha-ha...."

Itu cikal bakal Bimbo. Pada Maret 1967 tiga bersaudara itu tampil di TVRI. Mereka belum punya nama. Saat itulah lahir nama Trio Los Bimbos yang kemudian berubah menjadi Trio Bimbo.

Melati dari Singapura

Trio Bimbo pernah dikontrak selama tiga bulan untuk bernyanyi di Ming Court Hotel di bilangan Orchard, Singapura. Sebelum pulang ke Indonesia, Bimbo merekam album di perusahaan rekaman Polydor, Singapura, 1970.

Rekaman di Kinetex Studio itu melibatkan seniman jazz Maryono pada flute dan saksofon, serta Mulyono pada piano. Kebetulan keduanya juga dikontrak main di Singapura. Album memuat 12 lagu antara lain Melati dari Jayagiri, Flamboyan gubahan Iwan Abdulrachman.

"Bimbo waktu itu sebenarnya mau bubar. Acil dan Jaka harus pulang menyelesaikan kuliah. Saya sendiri sudah lulus (Jurusan Seni Rupa ITB). Terus kami bikin album buat kenang-kenangan. Eh, gak tahunya meledak," tutur Sam.

"Waktu mulai take vocal (perekaman suara), operator kaget karena kami bernyanyi sangat keras. Kami sampai harus berdiri satu meter dari mikrofon. Itu karena kami terbiasa bernyanyi di hotel tanpa mikrofon," kenang Jaka.

Itu merupakan album pertama Trio Bimbo. Piringan hitam hanya dicetak terbatas. Itu merupakan pintu masuk Trio Bimbo ke belantika musik Indonesia.

Tante Sun

"Batu zamrud berlian dan kerikil/ Emas hingga besi beton bisnisnya/ Cukong-cukong dan tauke/ Direktur dan makelar/ Tekuk lutut karena Tante Sun"

Lagu-lagu Bimbo kadang lahir karena terpepet waktu, misalnya Kumis dan Tante Sun tahun 1977.

"Dari Bandung kami kadang cuma bawa lima lagu. Yang lain, enam atau tujuh lagu kami bikin di studio. Kami menyebutnya sebagai lagu penggembira. Itu antara lain lagu Tante Sun."

"Jaka sudah bikin melodi, tetapi belum ada liriknya. Saya tulis di studio. Waktu itu di Jakarta sedang heboh arisan call. Terus saya ingat ibu-ibu pejabat yang berbisnis."

Tante Sun sempat menjadi pembicaraan di masyarakat.

"Tapi lucunya, saya dengar-dengar Pak Domo suka bersiul lagu Tante Sun. Mungkin karena dia suka golf."

Pak Domo yang disebut Sam adalah Laksamana Sudomo yang saat lagu itu populer menjabat sebagai Kas Kopkamtib. Dalam lagu, digambarkan Tante Sun yang "... pergi bermain golf hingga datangnya siang/ T’rus ke salon untuk mandi susu."

Lain lagi dengan proses membuat lagu berlirik religius, termasuk lagu kasidah. "Proses pembuatan lagu normal. Tetapi, lirik tak bisa main-main. Kasidah itu sulit, kalau salah bisa fatal."

Acil Menatap Indonesia

"Kutatap wajahmu, lagu kunyanyikan. Bagai daun jatuh bertebaran."

Itu lagu cinta Bimbo Kutatap Wajahmu yang dilantunkan Acil. Kakek dari tiga cucu itu masih nyanyi dengan suara baritonnya yang mantap itu. Ia juga "vokal" menatap Indonesia lewat Bandung Spirit, sebuah lembaga swadaya masyarakat yang bergerak di bidang kemasyarakatan dan budaya.

Mengapa Bandung Spirit?

Perubahan yang ada di negeri ini membuat saya gelisah. Tahun 2000, kami berdialog dengan 60 akademisi di Bandung. Kami membicarakan Indonesia ke depan nanti akan seperti apa. Kami melihat potensi konflik. Apakah persoalan-persoalan itu bisa dijawab. Kesimpulannya, kami lalu membikin lembaga swadaya masyarakat. Kami menggunakan koridor independen, bukan lembaga cari duit.

Apa yang membuat gelisah?

Makin ke sini, kami melihat reformasi itu bukannya kebablasan, tapi dibablaskan. Saya tidak melihat pemimpin bangsa ini yang melihat bahwa bangsa ini sedang dalam krisis. Kita kehilangan kejujuran. Bangsa ini tak lagi punya daya lawan. Kami ingin rakyat mendapatkan kembali daya lawan terhadap masalah-masalah besar itu.

Separah apa?

Bangsa ini seperti telah kehilangan kecerdasan. Maksudnya kita kehilangan intelektualitas, rasionalitas, moral, spiritual, nasionalisme. Segalanya.

Nasionalisme?

Ya. Kami suka bercanda, Bung Karno dan Bung Hatta dulu berjuang pakai proposal enggak? Perangai dan budi pekerti kita telah berubah. Kami harus berbuat sesuatu meski itu sangat kecil. (XAR)

Lagu dan Lukisan

Sam menggelar pameran lukisan Dua dalam Satu Aksi di Bentara Budaya Jakarta pada 3-12 Mei lalu. Kakek seorang cucu ini menampilkan karya tahun 1963-2007 dengan empat tema utama: kaligrafi, wayang, masalah sosial, dan abstrak.

Bentuk kaligrafi karya Sam menyerupai perpaduan gaya Naskhi dan Kufi, dengan anatomi huruf yang dibangun dari garis, pemadatan warna, atau tekstur. Isi kaligrafi berupa doa, petikan ayat Al Quran atau kalimat Syahadat.

Abstraksi lahir dari stilasi atau deformasi bentuk pemandangan alam. Masalah sosial masuk dalam lukisan sebagai respons Sam terhadap berbagai problem kehidupan, seperti musibah banjir di Jakarta baru-baru ini.

Secara umum, karya-karya Sam bertolak dari corak abstraksi gaya Bandung tahun 1970-an. Jejak "formalisme" kala itu menuntun selera estetisnya sampai sekarang.

Apa persamaan antara melukis dan bermusik?

Melukis dan bermusik sama-sama berangkat dari problem kehidupan. Sumbernya dari berita di koran yang saya baca setiap pagi, yang direnungkan, kemudian dituangkan dalam karya. Bedanya, perenungan dalam lukisan diterjemahkan dalam bahasa visual, sedangkan pada musik berwujud dalam kata dan nada yang dinyanyikan.

Masih ada waktu untuk melukis?

Sebagian besar waktu saya untuk Bimbo. Kalau ada kesempatan, saya melukis. Tapi, sering sekali, lagi enak-enak gambar, tiba-tiba harus mengurus musik. Makanya, kadang, satu lukisan saja tidak beres-beres dalam tiga bulan. Saya kurang produktif, tapi saya berkarya dengan bebas, tanpa bergantung pada pasar. 


http://www.kompas.com/kompas-cetak/0705/13/persona/3523170.htm

Tidak ada komentar:

Posting Komentar