Minggu, 26 Juni 2011

Walikota Singkawang Hadapi Gaib

 
TRIBUN PONTIANAK/MUHAMMAD ARIEF PRAMONO
Walikota Singkawang, Kalimantan Barat (Kalbar), Hasan Karman

WaliKota Singkawang, Kalbar, Hasan Karman, bakal menerima gelar kebangsawanan Kanjeng Raden Aryo (KRA) dari Keraton Surakarta, Jawa Tengah, Minggu (26/06/2011). Bagaimana ceritanya Hasan Karman bisa dianugrahi gelar tersebut?

Ternyata Hasan Karman juga tidak tahu persis apa alasan Keraton Surakarta memberinya gelar kebangsawanan. "Bagaimana (Keraton Surakarta) melihatnya, saya tidak tahu. Selama lebih tiga tahun menjadi walikota, saya bekerja-bekerja saja," ujarnya kepada wartawan, Kamis (23/06/2011).

Meski itu gelar pribadi, namun Hasan Karman menilai, penganugrahan itu tidak lepas dari jabatannya sebagai Walikota Singkawang. "Saya anggap saya menerima gelar ini atas nama Singkawang. Karena apa yang saya lakukan sebagai walikota, tidak akan berhasil tanpa respon masyarakat," katanya.

Hasan Karman mengatakan, gelar itu bukanlah dia yang meminta. Namun pihak keraton yang memberinya. Juga tidak ada imbalan apapun yang dia berikan kepada pihak keraton.

"Saya hanya mengganti biaya pakaian yang saya gunakan. Karena pakaian, termasuk blangkon, selop, dan kerisnya itu menjadi milik saya," ungkap Hasan Karman tanpa menyebutkan nominal uang pengganti perangkat pakaiannya.

Untuk kepentingan pengukuhan gelar itu, rencananya Hasan Karman berangkat ke Surakarta hari ini, Jumat (24/06/2011). Hasan Karman akan ke Surakarta didampingi istrinya Ny Elisabeth Majuyetty dan ketiga anaknya.

Menurut Hasan Karman, paling lambat pada Sabtu pagi, dia sudah harus berada di Keraton Surakarta. Dia sendiri belum tahu seperti apa ritual pengukuhan gelar itu. "Hari Sabtu itu untuk persiapan. Sore dan malamnya, mungkin ada pertemuan-pertemuan," katanya.

Saat pengukuhan, Hasan Karman akan mengenakan pakaian yang telah disediakan oleh Keraton Surakarta. Pakaian ini telah disiapkan, sekitar sebulan lalu. Ada kisah cukup menarik juga dari pakaian yang akan dikenakannya ini.

Hasan Karman menuturkan, pihak keraton sebenarnya menyediakan dua stel pakaian untuknya. Pakaian pertama dibuat setelah diukur sesuai badan pemakainya. Sedangkan pakaian kedua dibuat tanpa mengukur badan pemakainya.

Namun ternyata, pakaian hasil pengukuran badan tidak pas dengan badan Hasan Karman. Yang pas justru yang tanpa pengukuran. "Blangkon saya, jas saya, selop saya, yang sudah disiapkan keraton justru pas. Yang diukur malah tidak pas," ungkapnya.

Bagi keluarga keraton, kenyataan itu dianggap sebagai pertanda bahwa Hasan Karman telah direstui untuk menjadi keluarga Keraton Surakarta. "Keraton ini memang masih menggunakan hal-hal yang gaib. Kental sekali kejawennya. Saya ngikut saja," katanya.

Dari perangkat pakaian itu, Hasan Karman mengaku terharu dengan keris yang juga akan dikenakannya. "Keris itu dirancang khusus. Sarungnya ada gambar naga. Lagi-lagi ini soal gaib, karena setelah saya dilantik nanti, keris itu ada isinya. Jadi saya harus merawatnya," jelasnya.

Setelah gelar KRA dikukuhkan kepadanya, maka Hasan Karman resmi menjadi kerabat Keraton Surakarta dan bakal diundang untuk acara-acara kebesaran keraton. Penganugrahan gelar ini, juga membuat Hasan Karman terpikir untuk mengadakan kerjasama Singkawang-Keraton Surakarta.

Hasan Karman mengatakan, hingga saat ini belum terjalin kerjasama apapun antara Pemerintah Kota Singkawang dengan Keraton Surakarta. "Mungkin nanti akan kita kembangkan dalam bentuk kerjasama budaya," tuturnya.

Istri Hasan Karman, Elisabeth Majuyetty, mengaku sama sekali tidak mengira suaminya akan dianugrahi gelar KRA oleh Keraton Surakarta. "Bagi saya, gelar ini adalah anugrah dari Allah yang maha pengasih," kata wanita yang akrab disapa Emma ini.

Emma mengaku cukup sulit menggambarkan perasaannya, sebelum anugrah itu dikukuhkan kepada suaminya. "Ini surprise bagi saya. Ini bukan hal yang menggembirakan atau membahagiakan, ya surprise aja. Karena ini belum dilaksanakan, seluruh perasaan itu belum saya dapatkan," ungkapnya.

Sebagai pendamping, Emma dana ketiga anaknya akan mengenakan pakaian kebaya khas Indonesia, yang disiapkannya sendiri. "Kalau yang saya pakai itu, jahit sendiri (bukan dari keraton). Kalau anak-anak, menggunakan yang sudah ada," ujarnya.

Meski dia menilai suaminya telah berbuat yang terbaik sebagai Wali Kota maupun kepala rumah tangga, namun Emma berharap ada perubahan yang lebih baik pada diri Hasan Karman, setelah menyandang gelar kebangsawanan dari Keraton Surakarta itu.

Penulis : M Arief Pramono
Editor : Marlen Sitinjak
Sumber : Tribun Pontianak

http://pontianak.tribunnews.com/2011/06/23/walikota-singkawang-hadapi-gaib

Tidak ada komentar:

Posting Komentar